
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, kini Frisya dan Fazar sedang ada di bandara untuk berbulan madu di Eropa lebih tepat nya di kota Paris di kota di mata ada menara Eifell nya . Kota yang di juluki dengan kota romantis.
Sebenarnya bulan madu mereka itu akan di lakukan dua hari lalu keberangkatan mereka tapi mereka menunda nya dan menyelesaikan dulu prosesi ngunduh mantu agar nanti saat sedang menikmati destinasi wisata Negara di Eropa mereka sedikit lebih tenang. Tidak memikirkan bahwa nanti setelah kembali akan sibuk dengan acara ngunduh mantu.
“Jaga diri baik-baik di sana dan jangan lupa setelah kembali bawa cucu untuk mama.” Ucap Mama Najwa memeluk putri nya itu.
Frisya pun tersenyum lalu mengangguk, “Doakan saja mah.” timpal Frisya.
Setelah itu Frisya beralih memeluk papa nya, “Ahh putri kecil papa sekarang sudah jadi istri dan mungkin sebentar lagi akan jadi seorang ibu. Harus dewasa ya.” Ucap papa Khabir.
Frisya pun hanya mengangguk dan memeluk papa nya itu erat. Memang benar bahwa Freya adalah kebanggaan mereka tapi putri bungsu tetap saja jadi kesayangan.
“Papa titip putri kecil papa ya. Jaga dia dengan baik. Dia itu memang ceria tapi kadang jadi anak-anak juga. Dia masih labil nak walaupun umur nya sudah angka dua. Jadi tolong pahami dia.” Ucap papa Khabir kepada Fazar.
Fazar pun mengangguk, “Tentu pah. Aku akan menjaga nya dengan baik.” ucap Fazar.
Setelah sekitar setengah jam berpamitan kepada seluruh keluarga yang ikut mengantar mereka ke Bandara. Akhirnya pesawat dengan logo perusahaan milik Alvino itu lepas landas menuju Negara tujuan Perancis.
Kini di bandara itu juga meninggalkan Kiana dan Zean yang juga akan kembali ke Negara S.
“Jangan lupa menghubungi mama, Kia.” Ucap mama Najwa kepada keponakan nya itu.
Kiana pun tersenyum lalu mengangguk, “Baik mah.” jawab Kiana patuh.
“Awas saja kau lupa menghubungi kami.” ucap mama Najwa.
“Tenang saja mah, aku akan menghubungi selalu.” Balas Kiana.
“Zean, jaga baik putri mama yaa.” Ucap mama Najwa.
“Tentu mah.” jawab Zean.
“Kaak!” ucap Kiana beralih kepada Freya.
Freya tersenyum lalu memeluk adik nya itu, “Jaga diri dengan baik di sana. Jaga keponakanku dengan baik juga.” Ucap Freya mengelus perut adik nya itu.
“Hum, tentu kak.” Jawab Kiana lalu mereka kembali berpelukan.
Setelah sesi pamitan selesai, tidak lama juga pesawat pribadi milik keluarga Zean pun segera lepas landas dan mengudara menuju Negara S di mana. Dua adik Freya itu telah pergi ke tujuan mereka masing-masing. Jika Frisya dan Fazar pergi untuk berbulan madu dan seminggu lagi akan kembali maka berbeda dengan Kiana dan Zean yang kemungkinan akan lama terlihat lagi di Negara ini karena memang Negara S adalah Negara Zean.
***
Dua bulan kemudian, kini Frisya baru saja bangun dari tidur nya dan mengalami mual begitu bangun. Frisya pun segera berlari menuju kamar mandi. Fazar yang melihat itu pun segera turun dari ranjang dan menyusul istri nya itu ke kamar mandi. Fazar segera memijat tengkuk istri nya itu yang sedang memuntahkan cairan bening di westafel.
“Aa pusing.” Ucap Frisya mengeluh.
Fazar pun yang mendengar itu segera meggendong istri nya menuju ranjang dan menurunkan nya di ranjang dengan lembut, “Aa akan panggilkan dokter ya.” Ucap Fazar khawatir karena istri nya itu baru kali ini saat bangun tidur langsung mual dan muntah begitu.
Frisya menggeleng, “Itu masih sangat pagi aa. Lihat lah itu baru pukul setengah lima. Dokter mana yang mau di panggil di jam begini. Sudah gak apa-apa. Lebih baik kita siap-siap saja sholat.” Ucap Frisya mencoba bangun tapi dia merasakan pusing luar biasa.
Frisya mencoba mengingat tanggal menstruasi nya dan baru sadar bahwa tanggal kedatangan tamu nya itu sudah lewat sebulan lebih. Dia pun mulai menghubungkan kepingan pikiran nya hingga dia menemukan satu kesimpulan yang pasti butuh di uji.
“Sayang kamu memikirkan apa?” tanya Fazar.
Frisya tersenyum, “Aa ini baru dugaanku saja dan semoga saja dugaanku itu benar. Minta saja kepada bibi untuk membelikan aku tespeck.” Ucap Frisya.
“Tespeck? Apa kamu hamil sayang?” tanya Fazar dengan membelalakkan mata nya karena pikiran nya itu mengambil satu kesimpulan.
__ADS_1
“Itu baru dugaan aa. Aku sudah telat sebulan lebih. Aku baru menyadari hal itu.” ucap Frisya.
“Ahh ini berita bahagia sayang. Aa yakin kau hamil. Semoga saya yaa Allah.” Ucap Fazar lalu mengusap perut istri nya itu.
Frisya pun tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh suami nya itu dan tentu saja dia juga mengaminkan harapan suami nya itu. Semoga saja seperti dugaan mereka. Semoga tidak meleset dan dia memang sedang berbadan dua saat ini.
Setelah itu Frisya dan Fazar pun segera melaksanakan sholat subuh berjamaah dan dalam sujud terakhir mereka itu mereka berdoa semoga apa yang mereka duga itu kenyataan.
Kini Fazar turun ke lantai bawah dengan semangat empat lima dan meminta ART di kediaman nya itu untuk ke apotik untuk membelikan tespeck kepada istri nya.
Ohiya, Fazar dan Frisya juga mengikuti jejek yang di lakukan oleh Freya dan Friska yang memilih kediaman di dekat mertua mereka. Yah, Fazar yang menyiapkan kediaman ini untuk nya. Fazar menyiapkan hal itu saat Frisya mengunjungi kediaman orang tua nya setelah mereka lamaran dan saat itu Frisya mengatakan bahwa dia ingin memiliki kediaman tepat di samping mertua nya seperti Freya. Akhirnya Fazar merealisasikannya dan sebulan yang lalu mereka pindah kesini setelah pembangunan nya selesai. Dan seperti kediaman kedua kakak nya juga yang memiliki penghubung maka hal itu pun di buat agar kediaman orang tua Fazar dan kediaman mereka saling terhubung satu sama lain.
“Sayang, ini tespeck-nya.” Ucap Fazar segera memberikan tespeck kepada sang istri yang masih bolak balik ke kamar mandi itu karena mual yang melanda nya.
Frisya pun menerima dua buah tespeck itu dari suami nya lalu dia segera menuju kamar mandi untuk mengecek nya. Sekitar sepuluh menit dia berada di kamar mandi itu dan akhir nya keluar dengan wajah tersenyum.
“Bagaimana?” tanya Fazar melihat istri nya itu yang keluar dari kamar mandi.
Frisya mengangguk, “Positif aa.” Ucap Frisya menunjukkan dua buah tespeck di tangan nya itu yang ada dua garis yang sangat kentara bukan samar.
Fazar pun sangat senang dan menggendong istri nya itu, “Terima kasih sayang. Aku akan menjadi ayah.” ucap Fazar.
Frisya pun mengangguk, “Iya aa. Aku juga akan jadi ibu.” Timpal Frisya.
“Kita harus ke dokter untuk memastikan nya sayang. Aku ingin melihat perkembangan anakku itu dan kita juga akan meminta obat untuk meredakan mual mu.” Ucap Fazar.
Frisya pun mengangguk lalu mereka segera bersiap menuju ke dokter.
“Ee’ehh tunggu dulu aa. Bagaimana dengan pekerjaan mas? Apa kakak ipar mengizinkanmu terlambat?” tanya Frisya.
Frisya pun mengangguk lalu dia segera bersiap untuk pergi. Fazar juga begitu dia pun segera bersiap untuk pergi.
Tidak lama kini mereka sudah siap untuk berangkat, “Kita periksa di klinik kakak saja.” ucap Frisya.
Fazar pun mengangguk, “Hum, baiklah.” Ucap Fazar segera melajukan mobil menuju klinik kakak ipar nya itu.
Sekitar kurang lebih dua puluh menit akhir nya mereka tiba di klinik Freya itu. Fazar segera memarkirkan mobil nya lalu mereka segera menuju tempat dokter Fiona berada karena memang berhubung juga dokter Fiona baru saja tiba, “Seperti nya kita akan jadi pasien pertama di klinik kakak ini hari ini.” ucap Frisya begitu turun dari mobil.
Fazar pun tersenyum lalu mereka segera masuk ke dalam klinik sambil bergandengan tangan satu sama lain. Mereka segera menuju ruangan dokter Fiona.
“Silahkan masuk!” ucap dokter Fiona dari dalam saat ada yang mengetuk pintu ruangan nya itu. Dia mengira bahwa yang datang itu adalah teman-teman bidan karena ini masih pagi. Dia saja baru datang dan bahkan kini masih sedang memeriksa laporan di meja nya. Jadi tidak mungkin itu pasien yang masuk tapi tebakan nya salah.
“Nona Risya?” ucap dokter Fiona.
Frisya dan Fazar pun segera masuk dan tersenyum, “Silahkan duduk tuan, nona.” Ucap dokter Fiona ramah.
Fazar dan Frisya pun segera duduk, “Maaf dokter kami datang di waktu pagi sekali begini bahkan dokter seperti nya belum siap untuk menerima pasien.” Ucap Frisya.
“Ahh bukan seperti itu nona. Hanya saja ahh untuk apa juga saya berbohong. Tebakan anda benar.” ucap dokter Fiona lalu segera duduk di tempat duduk nya itu.
“Ohiya apa ada yang bisa saya bantu nona?” tanya dokter Fiona.
“Saya ingin memeriksa kandungan dokter. Kami ingin memastikan kehamilan.” Ucap Frisya.
Dokter Fiona pun mengangguk dan seketika dia baru teringat bahwa dua bulan lalu juga dia baru saja menerima pasien di jam pagi begini dan itu adalah adik pemilik klinik ini. Kali ini juga sama.
“Apa dokter memikirkan kedatangan kami yang lebih awal?” tebak Frisya.
__ADS_1
Dokter Fiona pun tersenyum karena apa yang dia pikirkan itu terbaca oleh Frisya.
“Mau langsung USG atau mau mengecek pakai tespeck dulu?” tanya dokter Fiona.
“Langsung USG saja dok. Saya sudah memakai tespeck tadi pagi dan hasil nya positif hanya saja kami lebih ingin memastikan nya agar yakin.” Ucap Frisya.
Dokter Fiona pun mengangguk mengerti lalu segera meminta Frisya untuk ke ruangan pemeriksaan. Frisya segera menurut dan dia segera berbaring di bed yang ada di sana dan tidak lama pemeriksaan pun di mulai.
Dokter Fiona tersenyum melihat apa yang di tunjukkan oleh layar monitor di hadapan nya itu lalu tidak lama dokter Fiona segera menyelesaikan USG nya.
“Selamat nona Risya dan tuan Fazar. Anda berdua akan memiliki anak kembar. Itu ada dua bulatan kecil yang menandakan bahwa nona Risya hamil kembar. Sudah berusia 9 minggu dan kandungan nya kuat tidak ada masalah yang perlu di khawatirkan.” Jelas dokter Fiona.
“Kembar dokter? Anak kami kembar?” tanya Fazar terharu.
Dokter Fiona mengangguk, “Terima kasih dokter.” Jawab Frisya juga tidak kalah senang karena dia mengandung kembar.
“Terima kasih sayang. Aku akan menjadi ayah dari dua anak.” ucap Fazar menciumi kening Frisya itu lama.
Setelah itu mereka pun berkonsultasi terkait semua nya dan dokter Fiona juga memberikan resep obat pereda mual untuk Friska itu walaupun sebenar nya dia tidak membutuhkan itu karena dia sendiri sudah ahli dalam obat-obatan.
Setelah keluar dari ruangan dokter Fiona itu Fazar terus memandangi hasil USG di tangan nya itu, “Kembar sayang. Aku akan memiliki anak kembar seperti Azlan dan Azlen.” Ucap Fazar.
Frisya pun tersenyum, “Emang aa ingin punya anak yang dingin seperti Azlen?” tanya Frisya.
Fazar pun menggeleng, “Bukan begitu sayang. Tapi kan walaupun mereka dingin tapi mereka menggemaskan sayang. Punya anak kembar itu kita akan memiliki kesulitan tersendiri dalam merawat dan juga dalam membedakan mereka jika kembar identik seperti Azlan dan Azlen.” Ucap Fazar.
“Tapi mereka bisa dengan mudah di bedakan aa. Azlen itu yang sangat dingin.” Ucap Frisya.
“Aku tahu sayang. Tapi tetap saja kadang-kadang aku salah mengenali mereka. Jadi akan jadi challenge tersendiri untuk kita mengenali mereka.” ucap Fazar lalu mengusap perut istri nya itu.
***
Kini Frisya yang memang bekerja di klinik Freya itu pun setelah pemeriksaan tadi langsung saja menuju ruangan nya dan baru saat makan siang dia menuju ruangan kakak sulung nya itu karena Freya memanggil nya ke sana.
Frisya segera mengetuk pintu ruangan kakak sulung nya itu kaget mendapati siapa saja yang berada di sana. Ada kakak sulung nya, ada kakak kedua nya, dan juga Irma.
“Apa di sini ada pertemuan? Kenapa berkumpul di sini.” Ucap Frisya segera bergabung dengan Friska dan Irma yang duduk di sofa di ruangan itu.
“Begitu lah. Irma ke sini karena dia baru saja menyelesaikan skripsi nya dan akan ujian minggu depan.” Ucap Freya.
“Jadi kita di sini untuk merayakan keberhasilan nya.” Ucap Freya.
“Wah selamat Irma.” Ucap Frisya menyalami ipar nya itu
“Terima kasih kak.” Jawab Irma tersenyum.
“Ohiya Risya, tadi kakak lihat ada mobil Fazar terparkir di sini lalu saat kakak bertanya pada apoteker lain menanyakan dirimu mereka mengatakan kau belum datang. Ada di mana kau?” tanya Freya menatap adik nya itu penuh selidik.
“Ck, kakak jangan menatapku begitu. Aku ini anak baik. Tidak mungkin melakukan hal buruk.” Ucap Frisya.
“Lalu kamu ke mana?” tanya Freya lagi.
Frisya pun cengesan, “Kami ke ruang dokter Fiona kak.” Jawab Frisya.
“Dokter Fiona? Ngapain di sana? Jangan katakan kau hamil?” kali ini bukan suara Freya yang terdengar tapi suara bahagia Friska.
Frisya pun tersenyum memandang ketiga wanita di hadapan nya itu lalu dengan perlahan dia mangangguk.
__ADS_1