
Rezky segera menyambut Anand dan Azlen, "Silahkan duduk." ucap Rezky canggung karena tidak tahu harus bagaimana menyambut tamu anak kecil seperti ini karena ini pertama kalinya dia mendapat tamu anak kecil begini.
"Jangan canggung begitu calon papi. Kami datang ke sini hanya ingin memberikan sesuatu titipan dari bunda dan ayah. Jangan menghormati kami karena kami anak kecil yang hanya di tugaskan untuk mengantarkan ini." Ucap Anand lalu menyerahkan map coklat kepada Rezky.
Rezky pun menerimanya, "Apa ini?" tanya Rezky memandangi map coklat itu.
"Calon papi akan mengetahui nanti setelah membukanya. Tapi jangan buka sekarang nanti setelah kami pergi." ucap Azlen.
"Satu pesan yang ingin kami sampaikan. Jangan mencoba mencuri data seseorang tanpa sepengatahuan orang itu dan jangan bertingkah pengecut. Semoga titipan bunda sama ayah bisa membantu calon papi untuk mengatasi masalah yang saat ini menghadapimu." ucap Anand.
"Ohiya satu lagi. Kami sebagai keponakan mami Riska kami berlima keponakannya dengan di wakili oleh kami berdua menyetujui anda bersama mami Riska. Tapi ingat jangan jadi pengecut. Jika tidak maka akan kami cabut restu itu. Okay, selamat siang menjelang sore kami pamit dulu. Kami tidak akan mengganggu waktu calon papi mencari uang." lanjut Anand lalu segera berdiri tapi menatap Hiro sebentar dan tersenyum.
Azlen pun segera berdiri mengikuti abangnya. Dia juga menatap Hiro dan tersenyum, "Kita bertemu lagi paman. Semoga saja hubungan kita akan baik ke depannya. Semoga juga laptopmu akan segera membaik." ucap Azlen lalu keduanya segera keluar.
Rezky segera memberi kode kepada Robi untuk mengantarkan keduanya, "Gak usah di antar paman. Kami bisa pulang sendiri. Kami tidak akan tersesat dan terima kasih sudah menyambut kedatangan kami. Kami pamit." ucap Anand. Lalu kedua putra dingin Freya dan Alvino itu pun segera turun menggunakan lift dan begitu tiba di parkiran keduanya langsung masuk ke mobil bodyguard yang di sediakan Alvino untuk mengantar dan menjemput mereka ke sekolah atau pergi kemanapun itu.
__ADS_1
***
Sementara di ruangan Rezky kini ketiga laki-laki itu menatap map coklat yang diberikan oleh Anand dan Azlen, "Menurut kalian apa isinya?" tanya Rezky menatap dua temannya sekaligus bawahannya itu.
Robi dan Hiro kompak menggeleng tanda mereka gak tahu dan penasaran dengan apa isinya, "Baiklah. Kita buka saja." Ucap Rezky lalu membuka map itu.
Begitu di buka ternyata di sana ada CD dan beberapa foto. Rezky segera membelalakkan matanya begitu melihat foto itu. Foto itu adalah foto hari itu, pakaian dalam foto itu ada pakaian yang dia pakai pada hari itu dan di dalam foto itu juga tertulis tanggal, "Robi segara bawakan ke sini DVD, aku ingin membuka CD ini." ucap Rezky. Robi pun segera melaksanakan tugasnya walau dia penasaran dengan apa yang membuat tuannya itu membelalakkan matanya.
Tidak lama Robi kembali dengan laptop yang ada DVD-nya dan segera menyerahkannya kepada Rezky. Rezky segera menerimanya dan membuka CD itu dan memasukkannya ke dalam laptop.
Rezky dan Robi juga sama begitu melihat rekaman CCTV itu. Semua percakapan mereka hari itu terekam dengan sangat jelas lalu diakhir video rekaman itu tertulis pesan 'Semangat calon papi. Semoga rekaman ini bisa membantumu. Kami menunggu lamaranmu untuk mami Friska'
Rezky segera terduduk di lantai bukan karena sedih atau apa tapi dia sangat bahagia hingga tulangnya tidak tersambung dan dia juga masih tidak menyangka dengan ini semua. Hiro dan Robi juga sama, "Apa ini hanya pikiranku saja. Jangan-jangan video rekaman ini bukan dari tuan Alvino dan nyonya Freya tapi memang dari kedua putra mereka. Sekarang aku paham arti dari tatapan dan perkataan kedua anak itu tadi. Yah, jadi mereka yang melindungi identitas keluarga mereka dengan ketat. Jadi mereka yang menyebabkan laptopku rusak. Sial!" ucap Hiro.
"Sial apaan kau yang sialan. Coba pikirkan dulu kau saja yang menyembunyikan identitasmu namun mereka mengetahuinya terus bagaimana bisa kau memperoleh data rahasia nona Friska?" ucap Robi.
__ADS_1
Hiro pun terdiam dan berpikir, "Ahh aku paham. Jadi maksudmu aku telah di bodohi oleh mereka selama ini. Aku tahu mereka mengizinkan akses untukku dengan waktu terbatas. Itu berarti mereka sudah tahu dan kenapa kita tidak bisa memulihkan CCTV itu pun karena mereka sudah melindunginya lebih dulu dan membuatnya seolah-olah tidak bisa di pulihkan. Wah mereka sangat hebat. Hari ini aku harus akui telah kalah." Ucap Hiro tidak percaya.
Ting
Sebuah notifikasi masuk si ponsel Hiro dan begitu dia membacanya, "Sialan. Aku benar-benar kalah." ucap Hiro pasrah lalu segera duduk di sofa.
Robi yang penasaran dengan apa yang membuat Hiro pasrah pun segera mengambil ponsel Hiro dan membaca yang tertulis di sana, "Wah, apa mereka memasang kamera tersembunyi di sini? Kenapa mereka bisa tahu apa yang kita bicarakan. Wah parah kita sudah di sadap." ucap Robi setelah membaca pesan itu.
Bagaimana tidak Robi mengatakan tidak di sadap jika bunyi pesan itu, "Terima kasih atas pujianmu paman. Menurutmu kami menang dan kau kalah tapi bagi kami kaulah pemenang. Tapi kami berhasil merusak laptop kesayanganmu. Maaf untuk kesalahan itu tapi kami juga tidak salah kami hanya melindungi identitas kami saja. Harus kami akui analisamu cukup hebat paman walau terlambat menyadarinya. Heheheh. Selamat bekerja paman." Begitulah bunyi pesan itu.
Robi yang masih sibuk mencari kamera yang kemungkinan di pasang untuk menyadap mereka terhenti begitu Rezky bersuara, "Gak usah mencari kamera yang di pasang mereka Robi karena itu percuma. Mereka tidak memasangnya tapi mereka sudah menyadap kamera CCTV itu." Tunjuk Rezky ke kamera CCTV yang berada di ruangannya.
Robi pun menatap kamera CCTV itu lalu tiba-tiba ponsel Hiro berbunyi lagi tanda pesan masuk. Hampir saja ponsel Hiro itu jatuh, "Jangan jadi orang gila paman Robi. Kami bukan orang jahat yang memasang kamera penyadap begitu. Katakan saja kepada calon papi kami bahwa dia benar. Kami sudah menyadap CCTV ruangannya tapi tenang saja kami akan segera keluar. Jangan mencari kamera penyadap aja karena sebentar lagi pekerjaan kalian akan bertambah. Selamat bekerja paman pencari penyadap. Heheheh. " Begitulah isi pesan itu.
Robi yang membacanya hampir saja melempar ponsel Hiro itu namun segera di tahan oleh Hiro karena dia tidak mau ponsel kesayangannya itu jadi korban. Cukup laptop saja. Jangan di tambah lagi.
__ADS_1
Sementara di dalam mobil kedua anak laki-laki itu tertawa karena berhasil mengerjai dua teman Rezky calon papi baru mereka. Setelah itu seperti janji mereka keduanya segera keluar dari menyadap CCTV ruangan Rezky.