
Tidak terasa bulan madu seminggu di Kanada sambil menikmati daun maple berguguran sudah berlalu dan kini sudah waktunya pulang.
Rezky dan Friska kini mereka sedang berkemas untuk segera pulang, “Sayang, apa bulan madunya tidak bisa di tambah lagi?” tanya Rezky yang justru berbaring di ranjang dari pada membantu istrinya itu berkemas.
Friska pun menatap suaminya itu, “Apa belum puas juga? Seminggu loh kita di sini.” Ucap Friska.
Rezky tersenyum lalu menarik tangan istrinya itu dan Friska pun kini terjatuh di dada bidang milik suaminya itu, “Belum puas sayang. Waktu seminggu jika di lalui bersamamu itu hanya terasa seperti sehari saja.” ucap Rezky lalu mengecup bibir istrinya itu sekilas.
“Bie jangan mesum deh. Kita sudah mau pulang ini.” ucap Friska lalu berusaha bangkit dari tubuh suaminya itu.
“Kita gak akan ketinggalan pesawat sayang. Jadi kenapa harus terburu-buru.” ucap Rezky.
“Aku tahu Bie tapi apakah kau tidak lelah selalu saja melakukan itu setiap harinya.” Ucap Friska.
Rezky pun tertawa, “Melakukan apa sayang?” goda Rezky.
Friska pun mengalihkan tatapannya ke arah lain karena malu, “Tau ahh terserah. Pokoknya kita pulang. Pernikahan Kenzo tinggal sebentar lagi. Frisya dan Fazar juga akan segera melakukan lamaran resmi.” Ucap Friska.
Rezky pun bangun dari ranjang dan mendekati istrinya itu, “Kita bisa melakukannya untuk terakhir kalinya sayang di sini. Aku tidak bisa menahannya lagi. Pesawat bisa menunggu.” Ucap Rezky menatap istrinya itu.
“Apa tidak bisa di tunda dulu? Lihatlah itu pukul berapa. Kita juga sudah mandi dan bersiap untuk pergi. Masa iya masih melakukan begituan lagi.” ucap Friska.
“Sekali saja sayang. Janji cepat kok.” ucap Rezky.
Friska pun tersenyum lalu mengangguk. Dia mana mungkin menolak keinginan suaminya itu jika memang dia tidak ingin di laknat oleh malaikat. Akhirnya terjadi lagi itu pergumulan antara sepasang suami istri itu dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang memang sedang di tunggu-tunggu.
“Bie, apa sudah di hubungi pihak bandara atas penundaan penerbangan?” tanya Friska sambil menyisir rambutnya itu.
Rezky mengangguk, “Sudah sayang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu lagi. Suamimu ini sudah membereskan semuanya. Kita akan berangkat dua jam lagi.” Ucap Rezky lalu langsung mengambil alih menyisir rambut panjang milik istrinya itu.
“Yah, memang itu tanggung jawabmu bie. Salah sendiri menunda-nunda waktu.” ucap Friska.
Rezky pun hanya tertawa, “Namanya juga tidak bisa di tahan sayang.” ucap Rezky.
“Dasar mesum. Aku baru sadar bahwa aku menikahi pria mesum.” Ucap Friska.
“Tidak apa-apa sayang. Aku hanya mesum padamu saja sayang. Tidak pada yang lain. Aku ini pria baik.” ucap Rezky.
Friska pun hanya mengangguk-nganggukan saja kepalanya dan fokus memakai skin care di wajahnya itu dan dia juga tidak lupa make tipis-tipis.
“Cantik banget sih istriku.” Puji Rezky.
“Jangan memujiku bie. Aku tahu pujianmu itu kadang-kadang ada udang di balik batu.” Ucap Friska. Rezky pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu.
Siapa juga yang tidak ingin melakukan hubungan itu jika baru pertama kali merasakannya. Semua orang pasti akan ketagihan tersendiri apalagi melakukannya dengan istri sendiri. Sudah tentu tidak ada ketakutan sama sekali. Hanya ada kenikmatan saja. Jadi untuk itu lah Rezky ingin mengulangi terus menerus. Selain itu juga dia ingin segera memiliki anak kecil yang nantinya akan memanggilnya dengan sebutan ayah, papa, papi, daddy atau apalah itu yang pastinya dia sangat menginginkan akan ada merengek ketika dia tiba dari kantor. Yah, itu impiannya ingin merasakan bagaimana itu yang di rasakan oleh Alvino. Tidak harus lima orang anak tapi setidaknya ada yang menyambutnya ketika pulang.
***
Sementara di belahan benua yang lain, kini Frisya sibuk dengan persyaratan wisudanya yang akan di lakukan dua minggu lagi. Laporannya sudah di terima. Dia sudah menemuhi tugas akhir profesinya itu. Bahkan yudisium untuk profesinya seminggu lagi sehingga untuk itu dia harus segera melakukan pendaftaran untuk semuanya.
“Disa, apa punyamu sudah semua?” tanya Frisya saat mereka berada di gedung fakultas jurusan mereka itu.
“Hum, aku sudah membawa semuanya tadi. Aku bahkan sampai di bantu oleh abang El memeriksanya.” Jawab Disa.
“Hum, begini nih yang akan menikah.” Ucap Frisya.
“Jangan meledekku. Bukankah kau juga sama. Kau juga sudah di lamar hanya saja kau yang menunda lamaran resmimu itu.” timpal Disa.
“Hey, aku masih menunggu kakakku pulang. Lagian pernikahan kakak sepupuku juga belum selesai masa iya aku sudah mengadakan lamaran lagi. Selain itu juga keluarga kak Fazar setuju-setuju aja.” Ucap Frisya.
“Berarti kita sama dong.” Ucap Disa.
“Beda. Kau setelah yudisium dua hari kemudian pernikahanmu sedangkan aku baru akan melakukan lamaran setelah yudisium. Jadi kita berbeda.” Ucap Frisya tidak mau kalah.
“Ya terserah padamu saja. Dasar gak mau kalah padahal sama aja kan.” Ujar Disa.
Tidak lama setelah perdebatan mereka pun segera melakukan pendaftaran dan menyelesaikan semuanya. Begitu keluar dari fakultas, Disa sudah di jemput oleh El.
“Wah, ternyata sudah di tungguin ya.” Ucap Frisya.
Disa pun tersenyum lalu mereka segera mendekati mobil milik El, “Wah, abang apa mau menjemput calon istri.” Goda Frisya.
El pun hanya tersenyum, “Jangan menggoda kamu Risya.” Ucap Disa malu.
“Abang El lihatlah sahabatku ini malu. Dasar!” ucap Frisya.
“Jika kamu sudah tahu dia malu kenapa kau menggodanya Ris. Kau ini.” ucap El.
“Aku suka aja bang menggodanya.” Timpal Frisya.
El pun mengangguk, “Ya sudah jika begitu ya Ris. Kami masih harus ke percetakan undangan.” Ucap El.
Frisya pun mengangguk, “Hum, hati-hati. Ohiya undangan pertama harus untukku.” Ucap Frisya yang di balas oleh El dan Disa dengan jari keduanya membentuk ok.
Tidak lama mobil El dan Disa pun segera meninggalkan gedung fakultas itu dan Frisya pun segera menuju di mana sepeda motornya terparkir. Saat dia menaiki sepeda motornya ponselnya berdering dan ternyata itu panggilan dari Fazar.
Frisya pun tersenyum lalu segera menggeser ikon hijau di ponselnya itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga, “Halo, Assalamu’alaikum kak.” Salam Frisya.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam dek. Kamu sudah selesai mendaftarnya?” tanya Fazar dari seberang.
“Emm sudah kak. Ini sudah mau pulang tapi kakak kemudian menelpon.” Jawab Frisya.
“Ya sudah kamu tunggu saja di sana. Aku akan segera ke sana menjemputmu.” Ucap Fazar.
“Ee’eehh gak usah kak. Aku pulang sendiri saja. Aku mau ketemu Irma hari ini. Jadi jangan mengikutiku. Kakak fokus saja bekerja.” Ucap Frisya.
“Begitu yaa. Hum, baiklah. Kamu hati-hati di jalan.” Ucap Fazar.
Frisya pun mengangguk, “Hum.” Jawabnya. Setelah itu sambungan telepon mereka pun berakhir.
Frisya segera menghidupkan motornya dan tidak lama sepeda motornya pun melaju meninggalkan gedung fakultasnya itu. Dia segera menuju restoran yang menjadi tempat untuk dia bertemu dengan Irma calon kakak iparnya itu yang ternyata dia tua beberapa bulan dari Irma.
Sekitar 15 menit saja dia sudah tiba di restoran yang mereka pilih untuk jadi tempat bertemu berdua. Frisya segera memarkirkan sepeda motornya lalu setelah itu Frisya segera masuk dan di tuntun ke ruangan VIP restoran itu yang memang sudah di booking oleh Irma sebelumnya. Ternyata Frisya datang lebih awal.
Frisya pun segera mengirimkan pesan kepada Irma yang ternyata sedang dalam perjalanan juga, “Apa anda mau memesan nona?” tanya pelayan.
Frisya menggeleng, “Hum, belum dulu. Saya akan menunggu saudari saya dulu baru nanti akan memesan sama-sama.” ucap Frisya menolak. Pelayan itu pun mengangguk dan berlalu dari sana meninggalkan Frisya sendiri.
Frisya sambil menunggu Irma datang, dia segera melihat media sosial miliknya.
“Aku sudah lama ternyata gak update di media sosial.” Ujar Frisya.
Frisya pun mengarahkan kameranya di sudut ruangan yang terdapat bunga lalu segera mengupload gambar itu ke media sosial miliknya dan memberinya caption yang lumayan dramatis.
“Hahahahh,, mereka pasti akan mengira aku patah hati padahal nggak. Biarkan saja mereka netink sendiri.” Ucap Frisya tertawa.
“Assalamu’alaikum kak. Kenapa kau tertawa begitu? Apa yang lucu?” tanya Irma yang ternyata sudah tiba.
Frisya pun menutup mulutnya dan memperlihatkan postingannya itu kepada Irma, “Ouh God kak. Kau membuat mereka over thingking sendiri. Padahal kau baik-baik saja bahkan sedang tertawa-tawa.” Ucap Irma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia bingung dengan apa yang di lakukan oleh Frisya itu.
“Biarkan saja. Aku memang sengaja membuat mereka berpikir begitu.” Ucap Frisya.
Irma pun hanya menarik nafas saja, “Kak, kenapa belum memesan apapun?” tanya Irma.
“Aku menunggumu.” Balas Frisya.
“Ya sudah ayo kita pesan.” Ucap Irma lalu segera memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka.
“Kamu mau bicara apa sehingga harus berdua begini dan sampai memesan ruang privat begini lagi?” tanya Frisya sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya itu akan alasan Irma memintanya bertemu.
“Aku tahu kau pasti bertanya-tanya kak. Hanya saja aku ingin berkonsultasi padamu dan menanyakan apa ada rekomendasi obat penyubur kandungan. Kau tahu kan kak aku ini memiliki penyakit. Aku takut jika penyakit yang ku derita membuatku tidak bisa ha--”
“Sstts, jangan bicara sembarangan. Hamil atau tidak itu adalah takdir dari Allah. Itu merupakan hadiah yang di berikan oleh Allah untuk pasangan suami istri yang sudah menikah. Hadiah sekaligus ujian. Kenapa di sebut ujian karena Allah ingin melihat apa kita mampu mendidik anak kita dengan baik dan benar atau tidak. Jadi jangan bicara sembarangan. Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Jika memang kau belum hamil nanti itu berarti kamu dan kak Kenzo masih di minta untuk pacaran dulu. Aku yakin juga kak Kenzo pasti tidak akan mempermasalahkan hal ini. Dia itu mencintaimu dan pastinya sudah memikirkan hal ini sebelum memustuskan memilihmu untuk jadi istrinya. Jadi usahakan saja dulu yang terbaik.” Ucap Frisya panjang lebar.
“Aku tahu kak. Justru karena itu aku ingin meminta resep obat padamu. Obat penyubur kandungan. Aku tahu kehadiran anak di antara pasangan yang sudah menikah itu adalah berkat tapi aku juga ingin mengusahakan yang terbaik. Aku juga ingin segera memiliki anak dan melahirkan seorang putra yang mirip dengannya. Jadi bisakah memberiku resep obat itu?” ucap Irma memelas.
“Aku malu jika harus ke dokter kandungan kak. Masa iya aku yang belum menikah sudah melakukan promil. Lalu jika bertanya kepada kak Ris juga dia belum pulang.” Ucap Irma.
“Dia akan segera pulang. Mereka mungkin sedang dalam perjalanan saat ini.” ucap Frisya.
“Masih lama lah kak. Ayo katakan saja obatnya.” Ucap Irma.
Frisya pun menghela nafas kasar, “Dasar keras kepala. Baiklah akan aku beritahu tapi kamu tetap harus konsultasi ini kepada kak Ris dulu. Jangan langsung membeli obatnya dan meminumnya. Kamu harus menjanjikan hal itu baru lah aku akan menuliskan obatnya.” Ucap Frisya.
“Aku janji. Terima kasih kak Risya paling cantik.” Ucap Irma tersenyum.
“Dasar kekanak-kanakkan.” Ucap Frisya yang hanya di balas cengesan oleh Irma.
Tidak lama setelah itu pesanan mereka pun segera datang dan keduanya segera makan bersama sambil di penuhi canda tawa, “Pantas saja kak Kenzo jatuh cinta padamu. Kau itu memang tipenya banget.” Batin Frisya tersenyum menatap Irma.
***
Akhirnya setelah menempuh waktu sekitar kurang lebih 19 jam kini Rezky dan Friska tiba di Negara tercinta tepat pukul 10.00 pagi. Rezky segera menghubungi Hiro untuk mengurus semua terkait pesawat pribadi keluarganya itu.
“Ayo sayang kita pulang. Aku lelah.” Ucap Rezky segera menggandeng istrinya itu.
Frisya pun hanya menurut saja dan ikut menuju mobil yang sudah menunggu mereka, “Hey, pengantin baru yang habis bulan madu. Bagaimana bulan madunya apa lezat?” goda Alvino. Yah ternyata yang menjemput mereka adalah Alvino dan Freya.
“Tentu saja lezat suamiku. Kau tidak lihat adikku itu tersenyum malu.” Goda Freya.
“Hahahah, kau benar sayang. Mereka juga kelihatan lelah. Sepertinya mereka menggunakan waktu seminggu di Kanada dengan baik. Tidak melewatkan kesempatan sedikit pun.” Ucap Alvino.
“Ouh ayolah kakak ipar. Jangan menggoda kami begitu. Kalian pasti sudah tahu apa yang kami lakukan jadi jangan menggoda kami begitu.” Ujar Rezky.
Freya dan Alvino pun tertawa, “Baiklah, ayo adikku masuk. Kami berbaik hati menjemput kalian ke sini.” Ucap Freya.
Friska pun menatap kakaknya itu dengan kesal, “Kenapa jadi kalian yang menjemput kami kak. Kalian menjemput kami hanya ingin menggoda kami saja.” ucap Friska lalu naik ke mobil begitu juga dengan Rezky.
“Kami memang sengaja menjemput kalian karena ingin melihat wajah malu-malu milik kalian itu.” ujar Freya.
“Ck, menyebalkan. Jadi kalian sudah merencanakan ini ya.” Ucap Friska mendesis.
“Seperti itu lah.” Ujar Alvino lalu dia segera melajukan mobil meninggalkan bandara itu.
“Kalian akan tinggal di mana Rezky?” tanya Freya.
__ADS_1
“Terserah istriku ini kakak ipar dia maunya tinggal di mana. Mami dan papi ingin kami tinggal di kediaman mereka tapi aku juga tahu dalam satu rumah tidak bisa memiliki dua ratu. Jadi jika Friska ingin kami tinggal di rumah kami sendiri maka aku juga sudah menyiapkan rumah untuk kami sendiri.” Jawab Rezky.
Freya pun mengangguk, “Hum, baiklah jika memang begitu. Riska sekarang semua keputusan ada padamu. Kakak yakin kamu pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk rumah tangga kalian.” Ucap Freya.
***
Kini Rezky dan Friska sudah tiba di kediaman mami Jasmin dan papi Harry setelah menempuh waktu sekitar 20 menit dengan Freya dan Alvino yang mengantar tentu saja.
“Gak mau singgah dulu kakak ipar?” tanya Rezky.
“Lain kali saja deh. Aku dan istriku masih mau ngedate dulu berdua.” jawab Alvino yang hanya di tanggapi senyuman oleh Freya.
“Ahh baiklah jika begitu. Semoga acara kencannya berjalan lancar.” Ucap Rezky yang di balas anggukan oleh Alvino dan tidak lama mobil Alvino pun segera melaju meninggalkan kediaman orang tua Rezky itu.
Setelah Freya dan Alvino pergi, Rezky pun segera menggandeng istrinya itu masuk ke kediaman orang tuanya dan barang bawaan mereka, Rezky sudah meminta tolong kepada bodyguard untuk membawanya ke dalam.
“Rezky, Friska kalian sudah tiba nak? Kenapa gak bilang sudah tiba. Kami bisa menjemput kan.” Ucap Mami Jasmin menyambut kedatangan putra dan menantunya itu. Ahh salah mami Jasmin hanya menyambut menantunya itu karena mami Jasmin langsung menggandeng Friska dari pada Rezky.
Rezky yang melihat Friska sudah di bawah oleh maminya itu pun hanya bisa menghela nafas saja, “Kebiasaan. Aku selalu tidak di anggap jika mami sudah melihat menantunya itu. Menyebalkan. Aku jadi tidak terlihat. Aku tersaingi oleh istriku sendiri.” Ucap Rezky langsung menuju kamarnya.
“Sayang, kamu lapar gak? Mau mami buatkan apa?” tanya mami Jasmin kepada Friska dengan lembut.
“Mami, Riska masih kenyang. Riska gak butuh apapun. Riska hanya ingin mandi dan istirahat saja. Apa boleh?” izin Friska.
Mami Jasmin pun mengangguk, “Ahh baiklah jika memang begitu. Kalian pasti lelah karena menempuh perjalanan yang panjang. Maaf mami yang sangat bersemangat menyambutmu sehingga lupa bahwa kamu juga lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Maaf mami terlalu senang nak.” ucap mami Jasmin.
Friska menggeleng, “Jangan bicara begitu mih. Riska senang kok mami menyambut Riska. Sungguh, hanya saja Riska memang belum mandi dan ingin segera mandi.” Ucap Friska.
Mami Jasmin pun mengangguk, “Mami mengerti nak. Mami tidak menyalahkanmu. Ayo sana istirahatlah.” Ucap mami Jasmin.
Friska pun mengangguk dan menyalami ibu mertuanya itu dan segera pamit menuju kamar suaminya.
“Ahh menantuku semakin cantik saja setelah di perawani oleh putraku. Semoga dia segera hamil dan aku akan segera memiliki cucu yang menggemaskan. Aku akan membuat Sinta iri dengan cucu gemasku. Cucu-cucunya sudah pada besar jadi dia pasti akan iri nanti.” Ujar mami Jasmin tersenyum membayangkannya.
Tok … tok … tok …
“Masuk!” ucap Rezky dari dalam kamar.
Friska pun membuka pintu kamar suaminya itu dengan perlahan, “Assalamu’alaikum.” Ucap Friska lalu segera masuk ke kamar suaminya yang di dominasi warna hitam dan abu-abu itu. Friska segera menutup kamar suaminya itu.
“Wa’alaikumsalam. Ayo duduk sayang. Selamat datang di kamarku.” Ucap Rezky.
“Kenapa gak nungguin Riska dulu sih bie. Kenapa ninggalin Riska.” Protes Friska.
“Kamu lagi bicara dengan mami sayang. Mami itu menyambutmu dengan baik bahkan sampai melupakan menyambut putranya ini.” ucap Rezky.
Friska pun tersenyum, “Jadi suamiku ini sedang cemburu yaa. Ahh senangnya jika memang suamiku ini sedang cemburu. Aku senang!” ucap Friska tersenyum.
Rezky pun jadi gemas pengen menggigit pipi istrinya itu, “Ayo kita mandi bareng sayang.” ajak Rezky.
“Mandi bareng? Mandi aja kan? Gak ada maksud lagi kan?” tanya Friska memastikan.
“Jika di tambah yang lain bisa gak?” tawar Rezky.
Friska menggeleng, “Gak boleh. Riska lelah bie. Pengen istirahat saja di ranjang empuk itu.” ujat Friska.
Rezky pun terkekeh mendengar kejujuran istrinya itu. Dia juga tahu bahwa istrinya itu sedang lelah dan tidak mungkin melakukannya saat ini. Dia hanya iseng saja. Siapa tahu kan istrinya itu setuju, “Ya sudah mandi bareng saja sayang. Gak ada yang lain. Janji.” ucap Rezky.
Friska pun mengangguk, “Ya sudah jika begitu. Boleh. Awas saja jika aneh-aneh nanti.” Ucap Friska memperingati suaminya itu sebelum mereka masuk ke kamar mandi.
***
Kini Friska dan Rezky sedang makan siang bersama mami Jasmin dan papi Harry di meja makan, “Nak, kapan kalian akan membuat acara ngunduh mantu? Mami dan papi belum menyambut dengan ritual menantu kami ini.” ucap mami Jasmin.
Friska dan Rezky yang mendengar itu pun saling memandang satu sama lain dan mereka baru tersadar melupakan ritual itu, “Apa boleh gak usah ada ngunduh mantu mih?” tanya Friska.
“Kenapa gak ada sayang? Gak boleh. Tetap saja. Mami dan papi sudah mengaturnya sendiri. Ngunduh mantu kalian akan di adakan lusa. Semua sudah siap. Kalian tinggal terima beres saja. Gak boleh ada penolakan.” Ucap mami Jasmin.
“Jika memang mami dan papi sudah memutuskannya sendiri lalu kenapa bertanya kepada kami tadi?” ujar Rezky.
“Bie!!” panggil Friska.
“Hehehhe,, hanya bercanda sayang.” ucap Rezky cengesan.
“Berarti kalian setuju kan? Ngunduh mantunya lusa. Lalu lusanya lagi pernikahan Kenzo. Kami sudah membicarakan ini dengan orang tuamu Riska dan mereka setuju.” Ucap mami Jasmin.
“Jika memang semuanya sudah siap. Tentu Riska harus menerimanya. Jika menolaknya maka Riska akan jadi menantu tidak tahu.” Ucap Friska.
“Hey, jangan katakan itu. Kamu bukan sekedar menantu bagi kami tapi kamu juga putri kami.” ucap papi Harry.
Friska pun tersenyum mengangguk karena mami Jasmin dan papi Harry tetap memperlakukannya dengan baik sebagaimana sebelum dia menikah. Tidak ada yang berubah sama sekali.
“Sayang, apa kamu tidak lelah dan keberatan memakai pakaian adat itu?” tanya Rezky saat mereka sudah berada di kamar kembali.
“Berat sih tapi mau bagaimana lagi mami dan papi sudah menyiapkan ngunduh mantu ini untuk kita. Aku tidak akan mengecewakan mereka.” ucap Friska.
“Kamu pakai gaun dan hijab simple saja sayang. Simple tapi tetap anggun di mataku kamu tetap akan selalu cantik memakai apapun. Tidak perlu memakai pakaian adat itu lagi.” Ucap Rezky.
__ADS_1
Friska tersenyum, “Gak apa-apa bie. Lagian juga itu cantik kok. Aku menyukainya dan aku juga memakainya hanya sebentar saja tidak selama waktu di kediamanku.” Ucap Friska.
“Baiklah jika memang begitu. Tapi jika kau berubah pikiran maka katakan saja. Aku akan mengatakannya kepada mami.” ucap Rezky. Friska pun mengangguk tersenyum.