
Kenzo yang mendapat pertanyaan dari mami Calista itu tersenyum padahal ketiga orang di hadapannya itu tegang menanti jawaban yang akan di berikan Kenzo.
“Munafik Kenzo jika menyangkal hal itu. Jujur saja Kenzo pun ingin memiliki istri seperti kak Reya. Dia adalah idaman kami. Dia adalah gadis yang bisa membuat seseorang mudah mengaguminya dan jatuh cinta padanya. Kenzo saja jika bukan adik dari kak Reya mungkin sudah menikahinya. Namun untuk mendapatkan gadis seperti kak Reya hanya bisa di lakukan oleh orang-orang hebat dan hanya kak Vino yang sanggup melakukan itu. Perjuangan kak Vino untuk mendapatkan kak Reya bukanlah satu hal yang mudah.”
“Kami para adik kak Reya pernah merasa kehilangan saat kak Reya menikah. Kami sempat berpikir bahwa kami akan kehilangan kasih sayang seorang kakak karena kak Reya sudah menemukan jodohnya dan memiliki keluarga baru. Tapi ternyata hal itu tidak menghalangi kak Reya untuk tetap memperhatikan kami. Kak Reya terlalu sempurna walaupun mungkin di dunia ini tidak ada yang sempurna namun bagi kami adik-adiknya dia sangat sempurna dan hanya kak Vino yang pantas jadi pendampingnya. Jadi keinginan untuk memiliki istri seperti kak Reya tentu saja ada tapi kami sadar bahwa kami bukan kak Vino yang bisa menunggu kak Reya.” jawab Kenzo.
“Mami sama papi jangan khawatir. Walaupun aku pernah menginginkan gadis seperti kak Reya tapi Irma adalah gadis unik untukku. Dia adalah takdirku. Aku akan menjaga putri kalian dengan baik.” lanjut Kenzo.
Mami Calista dan papi Baskara pun tersenyum, “Terima kasih nak.” ucap papi Baskara.
__ADS_1
“Jangan berterima kasih. Kenzo yang beruntung di terima dalam keluarga ini dan mami sama papi bersedia mempercayai Kenzo menjaga permata yang sangat kalian cintai dan sayangi.” Ujar Kenzo menatap Irma yang juga menatapnya terharu.
Setelah berbincang menghabiskan waktu hampir 15 menit itu akhirnya Kenzo pamit pulang dan akan datang besok sebagai mempelai laki-laki, “Kakak hati-hati pulangnya.” Ucap Irma mengantar Kenzo pulang.
Kenzo pun tersenyum lalu mengusap kepala Irma yang di tutupi hijab itu dengan lembut, “Kamu juga jaga dirimu dengan baik.” ucap Kenzo lalu dia segera naik ke mobil dan melajukan mobilnya. Irma melambaikan tangan kepada Kenzo sampai mobil Kenzo menghilang dari pandangannya.
Setelah memastikan bahwa Kenzo sudah pulang baru lah Irma masuk ke dalam dan menemui kedua orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga, “Nak, duduklah. Kami ingin bicara denganmu.” Ucap mami Calista meminta putri mereka itu duduk.
Mami Calista dan papi Baskara saling menatap satu sama lain, “Nak, kau itu adalah putri kami. Putri tunggal kami. Apa kau yakin akan menerima Kenzo? Maksudnya apa kau sudah yakin menerimanya menjadi suamimu? Kau tidak terpaksa kan menerimanya hanya karena kami menyukainya? Apa keputusan menerima lamarannya ini memang berasal dari hatimu?” tanya mami Calista.
__ADS_1
Irma yang mendengar pertanyaan segitu banyaknya yang di ajukan oleh maminya itu tersenyum. Dia tahu kedua orang tuanya itu sangat mengkhawatirkannya, “Jangan tersenyum nak dan jawab pertanyaan yang mamimu berikan. Jika memang kau tidak menginginkan hal ini dan hanya terpaksa melakukannya demi kami seperti yang sudah sudah kau lakukan maka kau bisa membatalkannya. Kamu jangan lagi memikirkan harga diri kita yang akan jatuh karena membatalkan lamaran ini. Kami tidak peduli lagi dengan hal itu tapi kebahagiaanmu adalah yang paling penting dan menjadi prioritas kami.” ujar papi Baskara.
Irma tersenyum tanpa terasa air matanya jatuh saking terharunya dengan mami dan papinya. Irma segera mendekati kedua orang tuanya itu dan memeluk mereka, “Irma gak terpaksa melakukan ini mih, pih. Irma menerima lamaran ini karena memang Irma menginginkannya. Irma ingin menjadi istri dari kak Kenzo. Laki-laki pertama yang Irma lihat dan tatap menimbulkan sebuah getaran yang Irma tidak mengerti sebelumnya tapi kini Irma mengerti getaran apa itu. Irma mencintai kak Kenzo. Dia adalah calon suami impian Irma selama ini seolah-olah Allah mengabulkan doa yang Irma panjatkan.”
“Irma sangat senang ternyata perasaan Irma bersambut walaupun Irma masih juga minder dan takut karena tidak mungkin pria sehat seperti kak Kenzo akan memilih Irma gadis penyakitan untuk jadi istrinya. Namun takdir lagi-lagi sangat baik kepada Irma. Dia mendekatkan Irma kepada kak Kenzo dan hingga kini besok ada lamarannya. Jadi kenapa masih bertanya apa Irma terpaksa melakukan ini atau tidak. Irma juga ingin bahagia dan itu adalah kak Kenzo. Irma tidak terpaksa menerimanya hanya karena mami dan papi menyukainya. Itu memang menjadi poin penting pertimbangan Irma juga karena kalian merestuinya tapi poin utama Irma menerima lamaran ini karena Irma mencintainya dan keluarganya sangat baik memperlakukan Irma. Irma seperti menemukan suasana baru dan keluarga baru ketika bersama mereka. Irma merasa jadi orang biasa dan normal seperti orang kebanyakan. Irma benar-benar bahagia dengan lamaran ini pih, mih.” Ucap Irma dalam pelukan kedua orang tuanya.
Mami Calista dan papi Baskara yang mendengar hal itu pun tersenyum dan mengusap air mata di pipi putri mereka, “Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus bahagia nak. Bahagia sudah datang dan kau harus menyambutnya. Kami senang jika memang kau tidak terpaksa menerima ini dan apa yang terjadi memang keinginan hatimu. Kami bangga putri kami sudah dewasa sudah bisa memutuskan apa yang dia inginkan. Maafkan kami yang mengekangmu selama ini nak.” ujar papi Baskara.
Irma menggeleng, “Irma senang kalian melakukan itu kepada Irma. Mungkin dulu iya Irma sedih atas semua larangan itu namun ketiga Irma pasrah menerimanya semua itu tidak lagi terasa berat dan justru menyenangkan. Selain itu juga dengan semua penjagaan yang kalian lakukan akhirnya Irma bisa menemukan calon suami seperti kak Kenzo. Irma sangat bahagia dan berterima kasih atas semua pengekangan dan penjagaan yang kalian lakukan kepada Irma.” Ucap Irma tersenyum.
__ADS_1
“Irma justru akan merindukan larangan kalian nanti jika kalian bersikap terbuka dan bebas seperti ini. Irma minta kepada mami dan papi tetap jadilah orang tua Irma yang seperti sebelumnya yang melarang Irma melakukan ini itu karena Irma sudah terbiasa akan hal itu dan jika sehari tanpa larangan kalian Irma akan merindukannya.” Lanjut Irma.
“Kau ini nak. Jangan mengatakan hal yang seperti itu. Kau adalah putri kami dan kami tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Kami akan tetap menjagamu tapi dengan cara lain. Bukan dengan larangan tapi dengan kasih sayang.” ucap mami Calista. Irma pun tersenyum mendengar hal itu lalu dia kembali memeluk kedua orang tua yang sudah menjaganya dengan penuh kasih itu walaupun dengan cara yang salah.