Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
79


__ADS_3

Kembali ke perusahaan Rezky, kini ketiga laki-laki itu sedang berdiskusi apa yang harus mereka lakukan ke depannya dengan bukti rekaman CCTV itu, “Sekarang apa yang akan anda lakukan tuan? Apa anda akan segera menemui nona Friska?” tanya Hiro penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh tuannya itu.


Rezky menghela nafasnya lalu menatap rekaman CCTV di hadapannya kemudian dia menatap dua teman sekaligus dua orang kepercayaannya itu, “Sepertinya aku harus segera membuktikannya kepadanya tapi menunggu dia sembuh dulu. Dia saat ini sedang sakit dan itu di sebabkan oleh kesalahanku. Dan untuk kali ini aku harus menemui untuk meminta bantuan mereka jika ingin rencana ini berhasil. Aku harus mendapatkan restu dulu dari nyonya Freya karena dia adalah kunci dari restu yang akan aku peroleh. Aku hanya butuh dukungannya saja.” ujar Rezky sambil mengangguk-ngangguk meyakinkan diri bahwa apa yang dia pikirkan saat ini akan berhasil jika dia mendapatkan dukungan dari kakak dari gadis yang dia cintai.


Robi dan Hiro yang mendengar itu pun mengangguk saja karena mereka juga hanya bisa membantu melakukan apa yang di rencakan oleh tuan mereka karena ini adalah kehidupan yang nantinya akan di jalani oleh tuan mereka. Selain itu mereka tidak ingin memberikan saran yang nantinya akan membuat tuan mereka itu kecewa dan berakhir sedih nanti.


Setelah itu semua rencana dan pembicaraan mereka selesai mereka pun kembali bekerja. Robi kembali ke ruangannya sementara Hiro juga kembali ke tempatnya yang memang biasa dia bekerja dan mengawasi perusahaan Rezky itu. Dia hanya asisten dari jauh saja dan di panggil ke kantor saat kondisi mendesak.


***


Kita tinggalkan perusahaan Rezky, kita beralih menuju perusahaan cabang yang di pegang oleh Kenzo. Kenzo kini sedang sibuk dengan dokumen dan komputer di hadapannya. Dia menarik nafasnya kasar lalu mengingat papanya. Jujur saja walau dia tidak begitu dekat dengan sang papa dan terkesan marah kepada papanya tapi tetap saja dia juga seorang anak yang pastinya akan merasa kehilangan saat orang tuanya pergi.


Kenzo sadar bahwa dia dalam beberapa hari ini bersikap sangat dingin kepada semua orang bahkan bawahannya seolah takut jika bertemu dengannya. Kenzo segera keluar dari ruangannya itu untuk menghilangkan kepenatan dan juga pemikiran. Dia menatap meja sekretarisnya yang kosong dan hanya melihat seorang gadis yang sibuk menulis, “Ehemm---” Kenzo berdehem.

__ADS_1


Irma yang sedang menulis pun kaget begitu mendengar orang yang berdehem dan kini dia menatap Kenzo yang berdiri, “Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Irma gugup karena entah kenapa seolah perkataannya itu hilang hanya dengan melihat ekspresi dingin laki-laki di hadapannya.


Kenzo menggeleng, “Aku hanya mau membuat kopi saja. Ohiya di mana sekretaris Grey?” tanya Kenzo.


“Ouh kak Grey ah maksud saya sekretaris Grey dia sedang pergi bersama pak Andi untuk melakukan fitting.” Jawab Irma bingung karena yang dia tahu Grey sudah meminta izin sebelumnya kepada pak direkturnya itu.


Kenzo mengangguk saja lalu berjalan menuju tempat pembuatan kopi sambil mengingat bahwa memang sekretarisnya dan ketua HRD itu sudah minta izin kepadanya untuk melakukan fitting pakaian pernikahan mereka, “Kenapa aku bisa menanyakan pertanyaan bodoh begitu? Apa saat ini dengan sedang mengataiku bodoh. Ahh aku tidak bisa menerimanya. Tapi tidak mungkin dia berpikiran seperti itu karena dia itu lugu.” Batin Kenzo.


Kenzo menatap gadis di hadapannya itu lalu dia pun mengangguk, “Baiklah saya izinkan tapi ingat saya gak suka kopi yang terlalu manis ataupun pahit. Saya tunggu di ruangan saya. Jangan lama membuatnya.” Ucap Kenzo lalu Irma segera mengangguk.


Setelah Irma mengangguk Kenzo segera berbalik menuju ruangannya lalu tiba-tiba berbalik lagi, “Ohiya satu lagi jangan memanggil saya dengan sebutan bapak atau pak karena saya bukan bapakmu dan juga umur saya gak setua itu.” ujar Kenzo dingin lalu kembali berbalik dan segera menuju ruangannya.


Irma yang mendengar ucapan Kenzo pun hanya bisa mengangguk penuh hormat dan begitu Kenzo sudah jauh sekitar 10 meter darinya dia menghela nafas lega sambil mengelus dadanya, “Apa gak bisa bicara dengan normal. Gak dingin kaya gitu. Macam kulkas aja.” Gumam Irma lirih karena takut terdengar oleh Kenzo.

__ADS_1


Setelah itu Irma segera mengukur kopi dan gula dengan perkiraan tidak terlalu manis maupun pahit seperti perkataan Kenzo. Irma memang sering menyiram kopi untuk papinya tapi sudah dengan takaran gula yang dia ketahui yaitu dua sendok. Jadi dia gak akan melakukan kesalahan untuk itu namun kali ini dia harus memperkirakan seperti apa itu kopi tidak terlalu manis ataupun pahit.


Irma memutuskan untuk meletakkan dua sendok teh kopi serta satu sendok makan gula pasir sambil berdoa semoga apa yang dia inginkan sudah seperti itu takarannya dan dia tidak akan melakukan kesalahan. Irma pun segera menyeduh kopi itu lalu tidak lama kini kopi itu sudah jadi dank arena Irma gak suka kopi dia pun gak mencicipinya sama sekali.


Dengan hanya berbekal perkiraan saja, Irma segera mengantar kopi buatannya itu ke ruangan Kenzo. Dia segera mengetuk dan setelah di izinkan masuk barulah dia masuk ke dalam ruangan atasannya itu selama dia magang di sini.


Kenzo menatap gadis yang kini masuk dengan nampan yang terletak gelas kopi di atasnya, “Letakkan saja di sini. Kamu jangan dulu keluar karena saya ingin mencicipi dulu kopi buatanmu dan jika tidak sesuai dengan selera saya maka kau harus membuatnya lagi sampai saya menyukainya.” Ucap Kenzo langsung mengambil gelas kopi itu begitu Irma meletakkannya di meja kerjanya.


Irma pun mengangguk dan berdiri di hadapan Kenzo dengan memegang nampan di tangannya sambil berdoa semoga saja dia tidak melakukan kesalahan dan kopi buatannya itu berhasil agar dia tidak harus mengulang lagi. Selain dia masih memiliki beberapa laporan yang harus dia pelajari, dia juga kasihan jika harus membuang bahan makanan itu dengan sia-sia.


Kenzo segera mencicipinya dengan pelan dan begitu seteguk masuk ke dalam tenggorokannya dia merasakan sesuatu yang berbeda dengan kopi itu, dia pun meneguknya lagi dan lagi. Tepat tiga kali teguk yang sudah masuk ke tenggorokannya dia segera meletakkan kopi itu, “Apa yang kamu letakkan dalam kopi itu?” tanya Kenzo menatap tajam Irma.


Irma yang di tatap tajam oleh Kenzo seketika gugup setengah mati karena takut melakukan kesalahan, “Maaf tuan jika kopinya kurang enak atau manis atau mungkin juga pahit. Saya akan membuatkan yang baru saja untuk anda.” Ujar Irma tidak menjawab pertanyaan Kenzo dan langsung mengambil gelas kopi yang masih setengah itu.

__ADS_1


__ADS_2