
Sementara di kediaman Freya, Kiana yang tiba-tiba saja merasa mual dan tidak enak badan sejak dia bangun pagi. Bahkan untuk sekedar bangun pun dia enggan. Freya pun membiarkan saja adiknya itu bermalas-malasan di kamarnya. Tapi sebelum dia pergi ke klinik dia berpesan kepada para ART-nya untuk membangunkan Kiana jika sudah siang tetap belum juga bangun. Kiana hanya tidur-tiduran saja di kamarnya sambil berpikir ada apa dengan dirinya.
Zean yang menghubungi Kiana tapi tidak di jawab oleh istrinya itu pun memberanikan diri untuk menghubungi Freya karena dia tahu bahwa Kiana tinggal di kediaman Freya.
Drt … drt … drt …
Freya yang sibuk dengan dokumen klinik pun segera melihat ponselnya dan terkejut begitu melihat bahwa Zean yang menelponnya. Dia pun segera menjawab panggilan itu.
“Halo, Assalamu’alaikum Zean! Ada apa?” tanya Freya.
“Wa’alaikumsalam kakak ipar. Aku hanya ingin menanyakan istriku.” Ucap Zean dari seberang.
“Istrimu? Kiana? Dia ada di rumah dek. Kakak meninggalkan dia di rumah. Emang gak bisa di hubungi ponselnya?” tanya Freya.
“Gak di jawab kak. Aku khawatir dia kenapa-kenapa.” Ucap Zean.
“Ahh tenang saja. Kakak akan segera menghubungi orang rumah. Kau tenang saja.” ucap Freya. Lalu tidak lama setelah itu sambungan telepon di antara mereka pun terputus satu sama lain.
Freya segera beralih menelpon rumah dan ternyata Kiana belum juga bangun padahal itu sudah pukul sembilan lewat.
“Kenapa dia bangun telat begini? Ini bukan Kiana? Apa dia sakit?” tanya Freya pada dirinya sendiri sambil melihat jam dinding di ruangannya itu.
Freya pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah tapi dia menyelesaikan dulu dokumen yang harus dia periksa. Freya memang terakhir dia masuk hari ini karena besok dia harus sudah berada di kediaman orang tuanya untuk pernikahan Friska.
***
Di kediaman Freya, kini Kiana baru saja bangun dari tidurnya dan dia mengecek ponselnya yang ternyata banyak panggilan dan chat dari suaminya itu. Kiana pun menggosok matanya dan segera menelpon suaminya itu. Dia tahu saat ini pasti suaminya itu sangat khawatir karena dia tidak menjawab panggilannya.
Tidak lama panggilan mereka pun langsung tersambung dan Zean langsung mengubahnya ke panggilan video, “Sayang, kamu gak apa-apa kan? Kok gak jawab panggilan dariku.” Ucap Zean begitu tersambung.
“Maaf boo. Aku ketiduran. Ini baru saja bangun sehingga tidak mendengar suara ponsel. Maaf yaa sudah membuatmu khawatir.” Ucap Kiana merasa bersalah.
Zean terlihat menggeleng, “Gak apa-apa sayang. Aku hanya khawatir saja tadi. Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Tapi syukurlah kau baik-baik saja. Ya sudah kamu sarapan dulu. Kamu pasti belum makan. Kak Reya sudah mengatakan kau belum makan.” Ucap Zean.
“Boo menelpon kak Reya?” tanya Kiana.
Zean mengangguk, “Aku khawatir sayang. Kau tidak menjawab teleponku dan ternyata kau hanya ketiduran. Aku akan pulang malam nanti. Kamu sana makan dulu. Aku masih harus rapat sedikit.” Ucap Zean lembut.
Kiana pun mengangguk lalu tidak lama panggilan mereka pun terputus bersamaan dengan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya yang dia duga itu pasti salah satu ART kakaknya yang di perintahkan untuk mengeceknya.
Kiana pun bangun dari ranjang segera menuju pintu, “Aku sudah bangun bi. Katakan saja kepada kakak untuk tidak mengkhawatirkan aku.” Ucap Kiana sebelum bi Wati itu sempat bicara.
“Baik non. Akan kami sampaikan. Ohiya makanan ada di meja nona.” Ucap bi Wati.
Kiana pun mengangguk, “Terima kasih bi.” Ujar Kiana.
Setelah itu dia segera masuk kembali ke kamar dan segera mengatur ranjang dan segera mandi walaupun entah kenapa dia merasa mual.
Setengah jam kemudian Kiana sudah selesai mandi. Dia tidak memakai apapun perawatannya karena entah kenapa dia merasa mual saat membuka skin carenya itu.
Kiana pun segera keluar dari kamarnya bertepatan dengan Freya yang sudah pulang juga dari klinik.
“Dek, kamu baik-baik saja?” tanya Freya melihat dengan seksama adiknya itu.
Kiana pun mengangguk, “Aku baik-baik saja kak. Aku hanya mual saja dan pengen tiduran saja tadi.” Jawab Kiana menuju meja makan.
Freya pun terdiam mencoba mencerna jawaban yang di berikan oleh Kiana itu. Lalu setelah dia menemukan satu kesimpulan dia pun tersenyum dan segera mendekati Kiana yang mulai mengisi perutnya itu.
Freya pun ikut makan dengan adiknya itu sambil tersenyum, “Ada apa kak? Kenapa kau tersenyum begitu?” tanya Kiana.
Freya menggeleng, “Gak ada. Kakak hanya ingin tersenyum aja. Sudah kau habiskan makananmu itu lalu kita ke klinik atau rumah sakit. Aku tidak ingin Zean nanti protes padaku nanti jika dia melihatmu kurusan.” Ucap Freya.
“Kurusan bagaimana. Berat badanku saja sudah naik tiga kilo. Ehh tunggu kita ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” tanya Kiana.
“Gak ada yang sakit. Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja.” jawab Freya.
“Terus kenapa harus mengajak Kia?” tanya Kiana.
__ADS_1
“Karena itu memang hanya bisa di lakukan dengan adanya dirimu. Jadi jangan bertanya lagi kau akan mengetahuinya nanti. Lebih baik kau makan saja yang banyak.” Ucap Freya.
Kiana pun hanya mengangguk saja dan fokus dengan makanan di hadapannnya walaupun dia penasaran dengan apa yang di maksud oleh kakaknya itu.
***
Singkat cerita, Kini Freya dan Kiana sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit. Freya memilih rumah sakit untuk membawa adiknya itu dari pada ke kliniknya. Walaupun kliniknya juga tidak kalah canggih dengan rumah sakit kelas atas tapi dia tetap membawa Kiana ke rumah sakit F.
Kurang lebih setengah jam perjalanan kini mereka sudah tiba di parkiran rumah sakit, “Kak, emang kita mau ngapain sih kesini?” tanya Kiana melihat Freya yang sudah turun lebih dulu.
“Kau akan tahu nanti.” Ucap Freya membukakan pintu untuk adiknya itu.
Kiana pun menghela nafasnya karena jawaban Freya selalu itu dari tadi. Tidak berubah. Sangat misterius.
Kini Kiana dan Freya pun segera menuju nurse station, “Apa dokter Rina sudah tiba?” tanya Freya.
“Sudah nyonya. Dokter Rina sudah ada di ruangannya.” Jawab perawat yang bertugas di nurse station itu.
Freya pun segera menuju ruangan dokter Rina, “Kak, kau mau apa menemui dokter Rina? Apa kau mau kontrol rahimmu?” tanya Kiana bertanya-tanya untuk apa kakaknya itu harus menemui dokter kandungan.
Freya tidak menjawab pertanyaan Kiana itu dan tetap saja berjalan. Kini mereka tiba di ruangan dokter Rina yang syukurlah mereka langsung bisa masuk karena dokter Rina belum memiliki pasien yang harus dia periksa hari ini. “Assalamu’alaikum dokter.” Salam Freya begitu membuka pintu ruangan dokter Rina itu.
Dokter Rina tersenyum melihat siapa yang datang, “Wa’alaikumsalam pemilik klinik!” goda dokter Rina.
“Ahh dokter bisa aja.” Balas Freya.
Dokter Rina pun tertawa, “Duduk nak! Hum, benar kok pemilik klinik atau kami harus memanggilmu nyonya pemilik rumah sakit.” Goda dokter Rina kembali.
“Dokter hentikan.” Ucap Freya.
“Baiklah nak. Kau ada perlu apa datang ke sini? Apa mau mengontrol rahimmu atau bagaimana?” tanya dokter Rina melihat kedua wanita di hadapannya itu.
“Menurut dokter bagaimana?” tanya Freya balik.
Dokter Rina pun tertawa, “Baiklah. Sepertinya kau ingin mengajak saya bermain tebak-tebakkan. Jadi saya tebak apa adikmu ini mengandung?” tanya dokter Rina.
“Kak, siapa yang hamil. Aku hanya mu--” ucap Kiana terpotong lalu mengingat periode bulanannya yang memang sudah lewat.
“Kak, apa kemungkinan aku hamil?” tanya Kiana dengan raut wajah bahagia setelah dia mengingat periode bulanannya.
Freya yang melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Kiana itu tersenyum, “Kita akan memastikannya.” Ucap Freya.
“Mau langsung USG saja atau masih mau melakukan tespeck dulu?” tanya dokter Rina setelah melihat Freya dan Kiana yang selesai bicara.
Freya menatap Kiana, “Hum, langsung USG saja dokter. Saya sudah buang air tadi dan saya malas harus minum air banyak.” Jawab Kiana.
Dokter Rina pun mengangguk mengerti, “Baiklah jika begitu. Ayo kita lakukan.” Ucap dokter Rina segera mengajak Freya dan Kiana menuju ruang pemeriksaan.
Kiana segera berbaring di bed pasien sambil berdoa semoga saja dugaan kakaknya itu benar bahwa dia hamil. Ini akan jadi hadiah untuk kepulangan suaminya itu jika dia beneran hamil.
Dokter Rina pun segera mengoleskan gel ke perut rata Kiana dan tidak lama dia segera mengarahkan alat USG itu ke perut Kiana dan melihat layar monitor. Freya dan Kiana fokus ke layar monitor yang menampilkan rahim Kiana itu.
Dokter Rina tersenyum begitu juga Freya. Sedikit tidaknya Freya bisa membaca USG karena dia sudah pernah hamil 4 kali.
“Selamat nak kau hamil sudah enam minggu.” Ucap dokter Rina.
Kiana pun tersenyum lalu menggenggam jemari Freya yang tersenyum juga. Kiana sungguh sangat bahagia. Jadi dia yang beberapa hari terakhir ini suka makan ini dan itu ternyata itu adalah ngidam.
“Kak, aku hamil. Aku akan punya anak.” ucap Kiana bahagia memeluk Freya begitu selesai di USG.
Freya pun mengangguk tersenyum, “Kau benar dek. Kau hamil. Dia sudah 6 minggu. Azwa akan punya adik.” Ucap Freya membalas pelukan adiknya itu.
Setelah itu dokter Rina segera meresepkan obat untuk Kiana itu dan menjelaskan sedikit terkait makanan yang harus dia konsumsi dan tidak. Setelah itu mereka pulang.
***
Singkat cerita, Kini Freya dan Kiana sudah tiba di kediaman Freya, dengan Kiana yang tersenyum bahagia dan berseri sambil mengelus perut ratanya di mana ada buah hatinya bersama sang suami sedang tumbuh di sana.
__ADS_1
“Itu susumu.” Ucap Freya yang memang mereka singgah sebentar di supermarket untuk membeli susu hamil. Kiana hanya membeli satu karena dia ingin belanja nanti bersama Zean. Freya pun memaklumi hal itu. Dia juga pernah hamil dan tahu akan jadi kebahagiaan tersendiri saat kita belanja bareng suami.
“Kamu harus makan yang banyak mengandung asam folat.” Ucap Freya kepada adiknya itu.
Kiana mengangguk, “Aku tahu kak.” Balas Kiana.
“Apa nona Kiana hamil?” tanya Bi Ani yang mendengar pembicaraan Freya dan Kiana itu.
Freya dan Kiana pun tersenyum lalu mengangguk, “Benar bi. Sudah 6 minggu.” Jawab Kiana bahagia.
“Wah, selamat non.” Ucap bi Ani lalu di ikuti oleh bi Wati dan bi Susi juga.
“Pantas saja non akhir-akhir ini sering makan makanan yang aneh dan hanya makanan buatan sendiri. Kami pikir non gak suka makanan buatan kami.” ucap bi Susi.
Kiana pun tertawa, “Maaf yaa bi sudah membuat kalian tersinggung.” Ucap Kiana lalu ketiga ART Freya itu menggeleng.
“Gak apa-apa non. Kami mengerti kok.” ucap bi Wati.
“Ohiya bi. Tolong yaa cukup kita yang tahu. Saya masih mau memberikan kejutan untuk suami saya nanti.” Ucap Kiana.
“Beres non. Semua aman.” Ucap ketiga ART Freya itu kompak. Freya dan Kiana pun tertawa melihat tingkah ART Freya itu.
“Mereka sangat baik kak.” Ucap Kiana begitu ketiga ART itu kembali ke dapur.
“Mereka menyayangimu dek.” ucap Freya.
Kiana pun mengangguk, “Aku tahu itu kak.” Ucap Kiana.
“Apa kamu akan mengatakan kehamilanmu saat Zean tiba nanti?” tanya Freya kemudian.
Kiana pun mengangguk, “Hum, aku mau merencanakan dulu bagaimana nanti aku memberinya kejutan. Ahh aku ke kamar dulu ya kak. Aku mau merencanakan kejutan untuk suamiku itu.” ucap Kiana segera berlalu setelah mendapat persetujuan dari Freya.
Freya pun setelah itu memilih menghubungi mama Najwa untuk menanyakan apa masih ada yang harus dia beli dan bawakan nanti saat pulang.
***
Tepat pukul 20.00 pesawat yang di tumpangi Zean tiba di bandara. Zean tidak menggunakan pesawat pribadinya karena orang tuanya akan menggunakannya nanti untuk menghadiri pernikahan Friska dan Rezky nanti. Zean memilih naik pesawat komersiil.
Kiana di sana sudah menunggu suaminya itu selepas ba’da Isya dengan di temani oleh paman Anton supir keluarga Freya.
Freya dan Alvino beserta anak-anak mereka sudah pulang ke rumah mama Najwa dan papa Khabir selepas ashar tadi.
Kiana yang menunggu suaminya itu tersenyum begitu melihat Zean yang sudah melihatnya dengan tersenyum pula.
“Sudah lama menunggu?” tanya Zean langsung memeluk istrinya itu dan mengecup kening Freya.
“Hum sekitar 30 menitan lah. Tapi tidak masalah. Ayo kita pulang.” Ucap Kiana.
Zean pun mengangguk dan kopernya langsung di ambil alih oleh paman Anton.
“Kenapa tidak menunggu saja di kediaman kakak ipar? Kenapa masih menyusul kesini?” tanya Zean saat mereka sudah di mobil.
“Aku hanya ingin menyusul suamiku saja.” ucap Kiana bahagia.
Zean pun tersenyum lalu mendekap istrinya itu erat, “Aku merindukanmu sayang.” bisik Zean.
“Kia juga merindukanmu boo.” Balas Kiana.
Zean pun tersenyum lalu semakin mengeratkan dekapannya itu, “Sayang, apa saja yang kamu lakukan saat aku pergi?” tanya Zean.
“Hum, bukankah aku selalu cerita. Aku hanya menghabiskan waktuku di rumah kak Reya saja dengan mencoba beberapa resep makanan baru.” Ucap Kiana.
“Ahh aku rindu masakanmu sayang.” ujar Zean.
“Nanti akan Kia buatkan special untuk suami tercinta.” Balas Kiana.
Zean pun terkekeh karena istrinya itu sudah bisa menggombalnya.
__ADS_1
“Sayang, kita mau kemana ini? Ini bukan jalan pulang.”