Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
186


__ADS_3

Dua hari kemudian, kini Frisya dan Fazar akan melakukan fitting baju pengantin dan membeli cincin nukah mereka.


Fazar sudah mengajukan cuti kepada Alvino sejak kemarin. Alvino tentu saja segera memberikan cuti kepada asistennya itu. Dia bukanlah bos yang kejam yang tidak punya hati sehingga tetap memperkerjakan bawahannya saat mereka akan menikah atau punya kesibukkan lain.


Frisya yang memang tinggal di kediaman Freya dan Alvino dan saat ini sedang menganggur hanya fokus saja pada persiapan pernikahannya. Dia sudah menunggu kedatangan calon suaminya itu yang akan menjemputnya datang.


Frisya sudah menunggu di teras rumah Freya dan Alvino sambil memscroll beranda media sosial yang dia punya.


Sekitar 10 menit kemudian akhirnya Fazar tiba. Dia segera turun dari mobil dan tersenyum melihat Frisya yang sudah siap. Frisya juga segera menghentikan aktivitasnya dan langsung berdiri menyambut calon suaminya itu.


“Kita pergi sekarang?” tanya Fazar.


Frisya pun mengangguk. Setelah itu mereka pun segera menuju mobil tapi tetap tidak lupa berpamitan kepada pelayan dan penjaga yang ada di kediaman Freya dan Alvino itu.


Setelah itu mobil mereka pun segera melaju menuju butik milik Salwa meninggalkan kediaman Freya dan Alvino.


“Kak, aku mau bicara?” ucap Frisya.


Fazar pun melirik sekilas ke arah calon istrinya itu lalu kembali fokus dengan jalanan di hadapannya, “Bicaralah. Aku bisa mendengarkanmu.” Ucap Fazar.


“Hum, itu setelah kita menikah nanti. Kita akan tinggal di mana?” tanya Frisya hati-hati. Dia tidak ingin menyinggung perasaan calon suaminya itu walaupun biasanya dia sering ceplas ceplos.


Fazar pun tersenyum mendapatkan pertanyaan dari calon istrinya itu, “Hum, semua terserah padamu mau tinggal di mana. Aku akan ikut saja.” jawab Fazar.


“Ck, gak boleh gitu lah. Kehidupan kita nanti itu tentang kita berdua. Masa iya hanya Risya yang memutuskannya sendiri. Kita hidup berdua. Kita sama dan untuk mengambil keputusan maka itu adalah tanggung jawab kita bersama. Jadi kenapa jawaban kakak hanya begitu. Pokoknya kakak harus memberikan jawabannya bukan mengembalikannya begitu kepadaku.” Ucap Frisya.


Fazar pun kembali tersenyum, “Baiklah. Jika memang begitu. Sekarang apa katakan dulu apa kau mau tinggal di kediaman kakak dulu bersama orang tua kakak?” tanya Fazar.


Frisya pun terdiam, “Hum, kenapa tidak. Tapi bagaimana jika Risya melakukan kesalahan dan orang tua kakak tidak menyukainya.” ucap Frisya.


“Maka untuk itulah bagaimana menurutmu? Risya inginnya kita tinggal di mana?” tanya Fazar.


“Aku ingin tinggal di kediaman kita sendiri. Tapi kita tetap akan menjaga ibu dan ayah. Walau bagaimana pun mereka adalah mertuaku. Aku inginnya kita memiliki kediaman seperti kak Reya dan kakak ipar Alvino yang memiliki kediaman tepat di samping kediaman mami Sinta dan papi William sehingga walaupun tinggal terpisah tapi kita tetap bisa mengawasi orang tua kakak. Aku tahu kau adalah anak mereka satu-satunya yang pastinya mereka pasti akan merindukan kakak. Selain itu juga aku tidak mungkin menjauhkanmu dengan orang tuamu kak. Jadi ku pikir itu adalah solusi terbaik. Entah kenapa juga kami yang bersaudara bertiga harus memiliki suami yang anak tunggal semua. Huft takdir memang aneh.” Ucap Frisya.


Fazar pun terkekeh mendengar ucapan calon istrinya itu, “Sepertinya rencanamu itu yang terbaik. Kakak setuju.” Ucap Fazar.


“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Frisya.


“Untuk hal itu nanti kita pikirkan lagi. Sekarang kita fokus dulu ke pernikahan kita. Okay?” ucap Fazar. Frisya pun mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama mereka tiba di butik Salwa, mereka segera turun dan di sambut oleh Salwa langsung karena memang dia tahu saudari kakak iparnya itu akan datang.


“Ayo, masuk calon pengantin.” Sambut Salwa.


“Ahh kak Salwa bisa aja.” Ucap Frisya.


Mereka segera masuk ke ruangan fitting di mana di sana sudah ada beberapa gaun, kebaya dan tuxedo yang sudah di siapkan untuk Frisya dan Fazar.


“Ini semua adalah koleksi terbaru di butik kakak ini dek. Semoga kau menyukainya. Menurut kakak sih ini semua sesuai seleramu tapi pilihlah yang terbaik.” Ucap Salwa.


Frisya pun mengangguk dan segera melihat lima buah gaun dan tiga buah kebaya yang sama-sama indahnya.


“Lakukan fitting dulu dek agar kita bisa memastikan mana yang terbaik untukmu.” Usul Salwa.

__ADS_1


Frisya pun mengangguk dan dia segera ke ruang fitting mencoba gaun pengantin, “Fazar, kau juga cobalah tuxedo untukmu.” Ucap Salwa kepada Fazar.


“Sebentar kak. Nanti saja.” tolak Fazar lembut.


Salwa pun mengangguk mengerti, “Ah baiklah. Aku mengerti. Kamu pasti ingin ikut memilih gaun yang akan di pakai Frisya. Huft, kenapa aku lupa bahwa semua laki-laki itu ingin calon istri mereka memakai pilihan yang sesuai dengan keinginan mereka.” ucap Salwa menepuk keningnya.


Fazar yang melihat itu pun hanya tersenyum saja. Tidak lama Frisya keluar dengan gaun di tubuhnya. Sangat cantik.


Frisya menatap Salwa dan Fazar yang melihatnya dengan tatapan terpesona. Salwa segera mendekati Frisya, “Sangat pas. Cantik di tubuhmu dek.” ucap Salwa lau melirik ke arah Fazar yang masih memandangi calon istrinya itu.


“Bukankah begitu Fazar?” tanya Salwa tersenyum.


Fazar pun mengangguk, “Iya, kamu sangat cantik dengan gaun itu.” jawab Fazar tersenyum.


“Hum, walaupun begitu, kamu tetap harus mencoba gaun yang lain dek baru putuskan mau ambil yang mana.” Ucap Salwa.


Frisya pun mengangguk. Dia mencoba kelima gaun dan tiga kebaya itu bergantian hingga membuatnya cukup lelah karena harus bolak balik bertukar pakaian. Akhirnya setelah satu jam Frisya dan Fazar memutuskan untuk membeli dua gaun yaitu gaun pertama dan gaun ketiga yang di coba dan membeli satu kebaya yang di coba terakhir. Fazar juga memilih dua tuxedo yang akan dia pakai.


“Bagaimana? Apa lelah?” tanya Salwa setelah Fazar dan Frisya selesai memilih.


Frisya dan Fazar pun mengangguk, “Memang seperti itu saat mempersiapkan pernikahan. Kita akan merasa lelah tapi karena rasa cinta dan kasih sayang di dalamnya membuat kita tidak begitu lelah. Pernikahan kalian masih kurang dua minggu lagi dan kalian masih harus mengambil foto pra wedding. Jadi pasti akan sangat melelahkan.” Ucap Salwa.


“Setelah dari sini apa kalian akan segera ke toko perhiasan?” lanjut Salwa bertanya.


“Iya benar kak.” Jawab Frisya.


Salwa pun mengangguk, “Tetap semangat karena pernikahan memang sesuatu yang membutuhkan effoer lebih. Tapi yakinlah semua akan indah pada waktunya. Saat kalian menikmati proses menuju pernikahan kalian semua akan terasa indah nanti dan kalian akan puas dengan semuanya.” Ucap Salwa.


“Ohiya pakaian kalian akan di kirimkan ke kediaman kakak ipar.” Ucap Salwa yang hanya di angguki oleh Fazar dan Frisya.


Setelah itu mereka segera pamit pergi untuk ke toko perhiasan. Sekitar 10 menit saja dalam perjalanan mereka sudah tiba di toko perhiasan yang menjadi langganan Freya.


Begitu mereka tiba sudah langsung di sambut oleh manager toko itu dan melayani mereka, “Apa ini nona Frisya dan tuan Fazar?” tanya manager toko itu.


Frisya dan Fazar pun mengangguk, “Benar pak.” Jawab keduanya.


Manager itu pun tersenyum, “Nyonya Freya sudah menghubungi kami tadi katanya adiknya akan datang untuk melihat cincin pernikahan. Kami sudah menyiapkan beberapa pilihan. Apa tuan dan nona akan melihatnya sekarang?” tanya manager itu.


Frisya dan Fazar pun kembali mengangguk. Manager itu pun segera meminta karyawan untuk mengambilkan beberapa cincin nikah yang sudah mereka siapkan atas pesanan Freya tadi saat di telepon.


Kini di hadapan Frisya dan Fazar ada lima pasang cincin nikah yang cantik dan mewah. Frisya yakin bahwa harga dari cincin nikah itu tidak ada yang hanya satu digit pasti yang paling simple dua digit.


“Ayo sayang pilihlah yang kamu suka.” Ucap Fazar kepada Frisya.


Frisya pun mengangguk lalu mulai memilih. Dia mencoba yang paling simple dengan berlian bening di atasnya yang ternyata itu sangat pas di jarinya, “Kak, ini cantik dan simple. Aku menyukai ini. Ambil ini saja.” ucap Frisya sambil memperlihatkan cincin itu di jarinya yang memang terlihat sangat cantik.


“Cantik. Tapi ini lebih bagus sayang.” ucap Fazar menunjuk cincin berlian mewah dan besar di atasnya.


“Memang cantik tapi tidak bisa di pakai sehari-hari kak. Bukankah cincin nikah itu untuk di pakai sehari-hari. Aku pilih ini saja.” ucap Frisya yang memang sudah jatuh cinta dengan cincin pilihannya itu.


Fazar pun tersenyum, “Baiklah. Kita ambil yang itu. Tapi setidaknya cobalah yang itu juga sayang.” ucap Fazar.


Frisya pun mengangguk dan mencoba cincin berlian pilihan Fazar itu dan lagi-lagi sangat pas di jarinya, “Cantik tapi berat kak. Ini hanya di pakai saat akan ke pesta atau acara apa begitu. Intinya bukan untuk di pakai sehari-hari maka bolehlah di ambil yang ini.” ucap Frisya lalu melepas dua buah cincin di jarinya itu.

__ADS_1


Fazar pun mengangguk, “Ya sudah. Yakin nih mau ambil yang itu saja?” tanya Fazar memastikan.


Frisya pun mengangguk yakin, “Yakin seratus persen kak. Itu yang terbaik.” Ucap Frisya.


Fazar pun tersenyum lalu segera meminta manager toko perhiasan itu untuk membayar cincin yang menjadi pilihan calon istrinya itu. Tapi tanpa Frisya tahu Fazar tetap membeli cincin pilihannya itu. Akan dia jadikan itu mahar untuk calon istrinya itu.


Fazar segera menyelesaikan semua pembayaran dan segera menerima barang belanjaannya itu. Setelah semua selesai. Urusan fitting dan pembelian cincin pernikahan hari ini selesai. Mereka segera kembali.


“Kita mau kemana kak?” tanya Frisya saat mereka sudah berada di mobil.


“Hum, kita makan dulu deh.” Ucap Fazar.


Frisya pun mengangguk, “Kita makan di restoran Italia ya kak. Aku ingin makan makanan dari Italia.” Ucap Frisya tersenyum menatap Fazar.


Fazar pun mengangguk, “Baiklah. Sesuai keinginan tuan putri. Kita ke restoran Italia di mana nih?” tanya Fazar.


“Hum, restoran Italia dekat kediaman kakak aja. Sekalian juga aku mau mengunjungi calon mertuaku. Aku tidak sempat menyapa mereka dengan sopan karena saking sibuknya aku dengan wisudaku. Jadi hari ini aku mau menyapa mereka dengan baik sebagai calon menantu.” Ucap Frisya.


Fazar pun kembali mengangguk, “Ahh, baiklah. Sepertinya itu ide yang baik.” ucap Fazar senang karena calon istrinya itu sangat mengerti keadaannya yang memang sebenarnya ingin mengajak Frisya untuk mengunjungi orang tuanya. Tapi sebelum dia memintanya Frisya sendiri yang sudah mengusulkannya.


Fazar pun segera melajukan mobil menuju restoran yang menjadi tujuan mereka. Begitu tiba di restoran yang menjadi tujuan mereka. Frisya dan Fazar pun segera turun dari mobil dan segera duduk di tempat yang di sediakan. Mereka segera memesan makan khas Italia itu dan menikmatinya.


Sekitar hampir satu jam mereka di sana barulah mereka pergi ke kediaman Fazar.


“Ayo masuk calon istriku!” ucap Fazar membukakan pintu kediamannya itu untuk Frisya.


Frisya pun tersenyum lalu segera masuk ke kediaman calon mertuanya itu, “Ee’ehh nak Risya. Ayo masuk nak. Kenapa tidak bilang mau ke sini!” sambut ibu Yulia ramah dan segera mengandeng calon menantunya itu ke dalam.


“Apa setiap ibu akan melupakan putra mereka saat bertemu dengan calon menantu mereka?” gumam Fazar hanya bisa menghela nafasnya saja karena ibunya itu tidak menyambutnya dan justru membawa calon istrinya masuk.


“Hey, ada apa denganmu nak? Apa kau iri karena ibumu itu lebih memedulikan calon istri ketimbang dirimu?” tanya ayah Yahya mendekati putranya itu.


Fazar pun hanya menatap ayahnya itu dengan tersenyum, “Apa setiap ibu akan melakukan itu kepada anaknya ayah? Tuan Vino juga begitu. Nyonya besar lebih menyayangi nona Freya ketimbang putranya sendiri. Kini aku sendiri merasakannya. Ternyata memang menyedihkan. Huft.” Ucap Fazar.


“Sebenarnya tidak semua mertua seperti itu nak. Biasanya setiap ibu akan merasa kehilangan putra mereka jika saat menikah. Ayah yakin ibumu hanya mencoba mengalihkan kesedihannya itu. Percayalah dia sangat menyayangimu. Selain itu juga kau harus bersyukur karena ibumu menyayangi calon istrimu nak.” ucap ayah Yahya.


Fazar pun menatap ayahnya itu lalu tersenyum, “Aku senang ibu menyayanginya ayah. Aku mencintai ibu, ayah dan dia sama rata walaupun setelah aku menikah mungkin aku akan lebih terlihat lebih menyayanginya ketimbang kalian. Jadi aku harap ayah dan ibu akan memaklumi hal itu. Tapi tenang saja ayah aku akan tetap jadi putra kalian. Aku akan tetap memperhatikan kalian.” ucap Fazar.


“Hey, jangan berpikiran begitu nak. Kami percaya kau bisa melakukannya. Kau pasti bisa menempatkan bagaimana menyayangi kami dan juga istrimu nanti.” Ucap ayah Yahya menepuk bahu putranya bangga.


“Sudah ayo kita kesana.” Ucap ayah Yahya. Fazar pun mengangguk dan segera mendekati Frisya dan ibunya yang sedang berbincang di ruang tengah.


“Ibu, maaf yaa Risya baru hari ini sempat datang ke sini dan menyapa ayah dan ibu.” Ucap Frisya.


“Hey, tidak apa-apa nak. Kami tahu kau sibuk dan kau pasti punya urusan lain yang tidak kalah penting. Kamu datang hari ini saja ibu sudah senang. Ayo katakan kau mau makan apa. Ibu buatkan?” ucap ibu Yulia.


Frisya pun tersenyum, “Apa saja masakan ibu akan Risya makan.” Ucap Frisya. Ibu Yulia pun mengangguk.


“Baiklah kalau begitu. Ibu akan memasakkan untukmu sesuatu yang enak dan lezat.” Ucap ibu Yulia.


“Ibu, Risya juga ikut. Risya ingin belajar memasak.” Ucap Frisya.


Ibu Yulia pun mengangguk lalu kedua wanita beda generasi itu pun segera ke dapur mengeksekusi bahan makanan meninggalkan sepasang ayah dan anak bicara.

__ADS_1


__ADS_2