
Friska setelah di periksa oleh dokter Fiona, dia tidak langsung pulang dan lebih memilih untuk tetap di klinik menunggu suami nya nanti dan mereka pulang bersama-sama ke kediaman mereka. Lagi pula dia masih tetap harus menyelesaikan laporan di hadapan nya itu walaupun mood nya agak kurang baik karena pengaruh kehamilan.
“Ayo kita pulang.” ajak Rezky saat setelah makan siang. Rezky ke sini. Rezky memang memutuskan untuk pulang karena mereka harus siap-siap untuk ke kediaman mama Najwa dan papa Khabir untuk pernikahan Frisya dan Fazar besok.
Friska pun mengangguk lalu dia segera meraih tas nya dan mereka pun segera keluar sambil bergandengan tangan satu sama lain, “Apa gak perlu izin dari kakak ipar dulu?” tanya Rezky kepada sang istri.
“Kakak sudah tahu kok. Dia mungkin juga sudah pulang karena masih harus menyiapkan seragam untuk keluarga nya dan juga adik Mark dan Clemira yang masih jadi tanggung jawab nya.” Ucap Friska.
Rezky pun mengangguk mengerti. Mereka segera menuju parkiran dan benar saja mobil milik Freya sudah tidak ada di sana yang menandakan bahwa Freya sudah pulang.
Rezky dan Friska pun tidak lama segera meninggalkan area klinik itu. Mereka segera pulang ke kediaman mereka.
“Sayang, kapan kita akan memberitahu mami dan papi?” tanya Rezky saat mereka dalam perjalanan.
Friska pun segera menatap suami nya itu dengan tersenyum, “Sekarang aja.” Jawab Friska.
Rezky pun mengangguk, “Hum, baiklah kita akan memberi tahu mereka. Nanti setelah kita ke rumah mama dan papa kita akan memberi tahu mereka juga.” Ucap Rezky.
Friska pun mengangguk setuju. Dia mana mungkin tidak setuju dengan hal itu. Lagi pula untuk apa menyembunyikan berita bahagia seperti ini dari mertua dan orang tua nya.
Mereka pun hanya memarkirkan saja mobil di kediaman mereka lalu segera menuju pintu yang menghubungkan dua kediaman itu mereka sudah berada di kediaman mami Jasmin dan papi Harry.
Mereka segera di sambut oleh pelayan mami Jasmin, “Mami sama papi ada gak bi?” tanya Rezky.
“Ada den. Tuan dan nyonya sedang ada di taman belakang.” Jawab salah satu pelayan yang menyambut mereka itu.
Rezky dan Friska pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu segera menuju taman belakang yang di maksud oleh pelayan itu.
Rezky dan Friska tersenyum melihat mami Jasmin dan papi Harry yang sedang menikmati udara siang itu sambil memandangi bunga di sana.
“Hum, pih, mih, kenapa di sini? Ini siang hari loh. Kenapa di sini.” Ucap Rezky.
Mami Jasmin dan papi Harry yang mendengar itu pun segera melihat ke arah putra dan menantu mereka, “Kalian di sini. Ayo duduk nak.” ucap mami Jasmin seperti biasa hanya menantu nya itu yang dia sambut. Rezky seperti anak tiri saja yang sudah tidak lagi di pedulikan oleh orang tua nya.
“Mih, apa aku bukan anakmu lagi?” tanya Rezky kepada mami nya itu.
Mami Jasmin pun menatap sang putra lalu dia tersenyum, “Mami tahu kau jealous tapi itu memang sengaja karena memang sekarang mami lebih menyayangi menantu mama ini dari pada kamu. Kamu itu sudah tidka masuk daftar lagi.” Ucap mami Jasmin.
Rezky pun hanya bisa mendesis sementara Friska dan papi Harry hanya tersenyum melihat hal itu.
“Ohiya kenapa kalian siang hari begini sudah pulang nak?” tanya papi Harry.
“Itu pih. Kami akan ke rumah mama dan papa hari ini karena pernikahan Risya dia majukan besok.” Jawab Friska.
“Besok?” tanya mami Jasmin kaget.
Friska pun mengangguk, “Iya mih. Itu permintaan dari kak Fazar. Dia ingin segera menikahi Risya agar tidak ada lagi masalah seperti kemarin terjadi dan seluruh keluarga pun setuju dan memutuskan pesta pernikahan akan di lakukan besok.” Jawab Friska.
“Wah, jika begini mami harus menelpon butik. Mami belum menyiapkan pakaian untuk ke pesta pernikahan adikmu itu nak.” ucap mami Jasmin.
__ADS_1
“Sudah lah gak apa-apa mih.” Ucap Friska.
“Jadi jam berapa kalian akan berangkat ke sana?” tanya papi Harry.
“Mungkin ba’da asar pih.” Jawab Rezky.
Papi Harry dan mami Jasmin pun mengangguk, “Eehh apa maksud kalian datang? Kalian tidak datang tanpa tujuan kan?” tanya mami Jasmin kemudian.
Friska dan Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Mami benar. Kami datang ke sini ingin memberitahu sesuatu yang penting.” ucap Rezky.
“Apa itu?” tanya mami Jasmin menatap sang menantu.
Friska memandang Rezky hingga mereka saling memandang satu sama lain, “Ada apa sebenar nya?” tanya mami Jasmin penasaran menatap putra dan menantu nya itu.
Friska pun tersenyum lalu mengambil sesuatu dari dalam tas yang dia bawa lalu mengambil tangan ibu mertua nya itu, “Mami akan jadi seorang nenek.” Ucap Friska meletakkan foto hasil USG itu di tangan mertua nya.
Mami Jasmin langsung melihat hasil USG itu lalu menatap Friska dengan tatapan terharu lalu segera memeluk menantu nya itu, “Terima kasih nak. Ini hadiah terbaik. Terima kasih. Ohiya sudah berapa minggu?” tanya mami Jasmin lalu mengusap perut rata menantu nya itu.
“Enam minggu mih.” Jawab Friska.
Sementara papi Harry menatap putra nya lalu menepuk bahu putra nya itu, “Selamat boy. Kau akan jadi seorang ayah. Papi senang mendengar nya.” Ucap papi Harry.
Rezky pun mengangguk, “Terima kasih pih. Selamat juga untuk papi akan jadi seorang kakek.” timpal Rezky memeluk papi nya itu.
“Rezky, jaga menantu dan cucu mami dengan baik.” ucap Mami Jasmin seperti biasa menunjukkan sifat posesif nya itu.
“Itu sudah pasti aku lakukan mih tanpa di minta. Istriku itu mengandung anakku dan pasti aku akan menjaga nya.” Ucap Rezky.
“Nak, apa ada sesuatu yang kau rasakan? Sesuatu yang kurang srek begitu?” tanya mami Jasmin menatap menantu nya itu.
Friska menggeleng, “Riska belum merasakan mual sama sekali mih. Hanya saja mood Riska kurang bagus hingga kadang-kadang kesal menatap kak Rezky.” Ucap Friska.
Mami Jasmin pun mengangguk mengerti, “Ingat Rezky kau harus bisa memahami mood istrimu. Jangan membuat nya kesal atau jika tidak mami pun akan membuat mu pusing nanti.” Ucap mami Jasmin.
“Iya mih.” Jawab Rezky tersenyum.
Friska pun hanya tersenyum melihat suami nya itu yang di beri wejangan sangat banyak oleh mertua nya. Kadang-kadang dia merasa kasihan juga dengan suami nya itu yang di perlakukan seperti anak tiri sejak ada diri nya.
“Maaf ya bie jika kau merasa mami dan papi tidak memperhatikanmu lagi.” Ucap Friska saat mereka sudah kembali ke kediaman mereka sendiri setelah cukup lama bicara dan mendengarkan wejangan daru mami Jasmin dan papi Harry itu.
Rezky segera menggeleng, “Hey, kenapa kau memikirkan hal itu sayang. Aku gak marah kok sayang. Aku juga gak cemburu hanya biasa aku itu ingin membuat drama saja. Aku senang mami dan papi menyayangimu. Lagi pula untuk apa aku cemburu yang mereka sayangi itu adalah istriku.” Ucap Rezky lalu memeluk Friska erat dari belakang.
Friska pun tersenyum, “Bie, kita libur dulu ya.” Ucap Friska lalu segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu kediaman mereka itu dengan di ikuti oleh Rezk dari belakang.
“Libur? Libur apa ini?” tanya Rezky ingin memastikan sesuatu.
“Hum, aku yakin bie ngerti libur apa yang ku maksud. Dia masih sangat kecil. Aku takut jika kita se--”
Cup
__ADS_1
Rezky segera mengecup bibir istri nya itu agar tidak melanjutkan perkataan nya, “Aku tentu mengerti sayang. Aku juga tidak ingin anak kita kenapa-kenapa. Walau pun hasratku memang sedang meluap saat ini tapi aku akan menahan nya demi anak kita. Aku akan jadi daddy yang siaga.” Ucap Rezky dengan tawa di wajah nya.
Friska pun mengangguk, “Terima kasih bie sudah mengerti aku. Jika kandungan ku sudah cukup kuat untuk melakukan hubungan itu maka kita akan melakukan nya. Jadi untuk beberapa bulan ke depan kau harus puasa dulu.” Ucap Friska.
Rezky pun mengangguk tersenyum dan membawa istri nya itu ke pelukan nya. Dia sangat menyayangi istri nya itu dan apapun akan dia lakukan untuk kebaikan semua nya.
“Hmm, jika begitu. Ayo kita siap-siap untuk ke kediaman mama.” Ucap Friska berdiri dari duduk nya.
Rezky pun segera ikut berdiri dan mereka segera menuju kamar mereka untuk menyiapkan apa saja yang akan mereka bawa nanti.
***
Jika di sisi Friska dan Rezky mereka sedang berbahagia atas kehamilan maka tidak jauh berbeda juga dengan yang terjadi di kediaman Kiana dan Zean yang kini kandungan Kiana itu sudah menginjak usia kehamilan 4 bulan. Baby pump nya pun mulai kelihatan saat dia sedang mandi tapi jika sedang memakai pakaian apalagi pakaian longgar maka belum terlihat sama sekali.
“Boo, kita akan berangkat jam berapa ke kediaman mama Najwa dan papa Khabir?” tanya Kiana berbaring di lengan suami nya itu yang setengah jam yang lalu baru saja tiba di kediaman itu baru saja kembali dari Negara S.
“Hum, kita akan berangkat ba’da ashar saja yaa sayang.” ucap Zean.
Kiana pun mengangguk, “Hum, baiklah. Ohiya, kita pergi nya sama-sama aja bareng Riska dan suami nya. Aku sudah menghubungi mereka dan dia mengatakan akan berangkat ba’da ashar juga.” Ucap Kiana.
Zean pun mengangguk, “Sayang, ayo tidur. Aku pengen tidur memelukmu. Aku rindu padamu.” Ucap Zean memeluk istri nya itu.
“Masa sih? Kita LDR tiga hari lalu loh boo.” Ucap Kiana. Memang Zean itu baru berangkat tiga hari lalu karena perusahaan yang membutuhkan diri nya dan hari ini dia kembali lagi. Zean memang tidak ingin meninggalkan istri nya itu sendiri tapi jika di bawa bolak balik juga tidak boleh sampai kandungan istri nya itu cukup bulan dan di izinkan dokter untuk naik pesawat.
“Iya sayang. Aku beneran rindu.” Ucap Zean mencium ceruk leher istri nya itu.
“Jika rindu ya rindu saja boo.” Ucap Kiana.
Zean yang mendengar ucapan sang istri itu pun membuka mata nya dan menatap mata Kiana dalam, “Aku kemarin sudah menemui dokter Rina dan kata nya aman.” Ucap Kiana jujur bercampur malu mengatakan hal itu. Tapi setelah dia pikir lagi untuk apa malu itu adalah suami nya dan sudah cukup suami nya itu berpuasa dan libur selama hampir dua bulan ini.
“Beneran boleh?” tanya Zean dengan tatapan mata yang sudah menunjukkan hasrat nya.
Kiana mengangguk, “Lakukan lah suami ku.” Ucap Kiana mengalungkan tangan nya itu itu di leher suami nya itu.
Zean pun tersenyum lalu segera mencium kening dan seluruh wajah istri nya itu dengan lembut. Zean walaupun sudah di ambang hasrat nya tapi dia masih ingat untuk tetap memperlakukan istri nya itu dengan lembut. Kini dia akan berbuka puasa setelah cukup lama menahan nya demi anak mereka. Dan setelah di izinkan dia tidak akan melewatkan kesempatan itu sama sekali. Akhirnya di siang hari itu Zean dan Kiana saling bertukar peluh satu sama lain.
Zean melakukan nya dengan sangat lembut karena tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada calon anak mereka. Tapi walaupun lembut tetap terasa nikmat surga dunia itu.
Kini Zean menatap Kiana yang masih terlelap itu, “Hum, cantik sekali istriku ini.” ucap Zean lalu mengecup bibir istri nya yang sedang tertidur karena lelah dengan aktivitas mereka yang lumayan menguras tenaga.
Zean mengusap perut istri nya yang mulai terlihat, “Sehat-sehat anak daddy di sana yaa.” Ucap Zean.
Kiana pun akhirnya terganggu dengan apa yang di lakukan suami nya itu. Dia pun membuka mata nya perlahan dan menatap sang suami yang juga tersenyum menatap nya.
“Jam berapa itu boo?” tanya Kiana dengan suara khas bangun tidur.
“Masih setengah jam lagi waktu ashar sayang.” jawab Zean.
“Kita belum bersuci boo.” Ucap Kiana yang memang mengingat bahwa dia dan sang suami belum bersuci setelah tadi melakukan hubungan itu. Bahkan saat ini tubuh mereka masih polos hanya di tutupi oleh selimut saja.
__ADS_1
Zean pun tersenyum lalu dia segera turun dan menggendong Kiana menuju kamar mandi dan mereka pun mandi bersama. Hanya mandi saja tidak ada yang lain yang terjadi karena mereka ingat bahwa mereka harus pergi ke kediaman mama Najwa dan papa Khabir ba’da ashar nanti.