Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
189


__ADS_3

Alvino yang mendengar ucapan istrinya itu pun kembali menatap Freya, “Sayang, kau menakutinya. Fazar selesaikan dulu masalahmu itu. Carilah sumber masalah itu dan buktikan bahwa kau tidak bersalah. Aku mendukungmu.” Ujar Alvino.


Fazar pun mengangguk, “Baik tuan. Saya akan melaksanakannya. Hanya saja nyonya saya mohon sebelum saya memulai penyelidikan saya ingin tahu di mana Risya berada.” Ucap Fazar menatap Freya.


Freya pun tersenyum, “Kenapa kau menatapku begitu? Aku tidak tahu di mana adikku berada karena aku pun masih sedang mencarinya.” Ucap Freya.


“Tidak mungkin itu nyonya. Saya yakin anda pasti tahu di mana Risya.” Ucap Fazar.


Freya pun terkekeh, “Apa sekarang kau sedang menuduhku menyembunyikannya. Untuk apa coba?” ucap Freya.


“Bukan itu maksud saya nyonya tapi tidak mungkin nyonya tidak tau di mana dia berada. Saya yakin nyonya pasti tahu.” Ucap Fazar.


Freya pun mengangguk-nganggukan kepalanya, “Hum, lagi-lagi aku kagum dengan instingmu itu. Benar aku tahu di mana dia berada. Tapi aku tidak akan mengatakannya padamu. Hanya satu yang perlu kau tahu dia aman dan baik-baik saja. Seperti apa yang di katakan oleh suamiku maka buktikan saja kau tidak bersalah. Aku jamin jika kau tidak bersalah maka semua mungkin akan baik-baik saja. Aku akan memastikan bahwa adikku baik-baik saja dan aku melindunginya.” Ucap Freya. Alvino yang mendengar ucapan istrinya itu pun tersenyum tipis lalu menatap lekat istrinya itu.


“Terima kasih nyonya sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Saya akan segera membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Saya pamit.” Ucap Fazar lalu dia segera meninggalkan ruang keluarga kediaman Freya dan Alvino itu.


Freya pun hanya menatap kepergian Fazar itu lalu dia segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Alvino yang masih memecahkan teka teki yang ada dan ekspresi yang di tunjukkan istrinya yang tenang.


“Wah, jangan-jangan ini rencana istriku.” Ucap Alvino lalu dia segera menyusul Freya ke lantai dua.


“Sayang! Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Alvino begitu masuk kamar mereka dan Freya sibuk dengan ponselnya itu.


Freya pun melihat ke arah suaminya itu sekilas lalu dia tersenyum, “Menurutmu bagaimana by?” tanya Freya balik.


Alvino pun mendekati istrinya itu dan membawa Freya ke pelukannya, “Kau tega melakukan itu pada adikmu?” ucap Alvino.


Freya pun menatap suaminya itu dan tersenyum, “Kenapa tidak? Aku akan memastikan bahwa adikku itu menikah dengan lelaki setia.” Ucap Freya.


“Jadi benar. Ini rencanamu?” tanya Alvino.


Freya pun hanya tersenyum lalu dia melepas tangan suaminya itu dari pinggangnya, “Aku tidak tahu suamiku hanya saja saat ini aku sedang ingin tahu bagaimana calon adik iparku itu menyelesaikan masalahnya dan membuktikan dirinya tidak bersalah. Kau jangan ikut campur sama sekali.” Ucap Freya.


“Kau tega sayang? Kenapa kau melakukan itu? Rezky tidak kau uji begitu. Kenapa Fazar kau mengujinya seperti itu. Bukankah itu terlihat kau pilih kasih? Kenapa kau tega melakukan itu? Apa karena Fazar bukan seorang CEO dan hanya asistenku saja.” ucap Alvino.


Freya pun menghentikan aktivitasnya dan berbalik lalu menatap suaminya itu, “Apa seperti itu aku di matamu by? Aku tidak pernah menilai seseorang dari statusnya. Bagiku selama mereka saling mencintai maka aku pasti merestui. Aku hanya ingin memastikan bahwa adikku itu bahagia dengan apa yang dia pilih. Aku sudah bahagia dengan menjadi istrimu dan aku sebagai kakak mereka bertanggung jawab untuk kebahagiaan adik-adikku itu. Jadi jangan menuduhku seperti itu by. Kita sudah hidup bersama beberapa tahun ini. Jadi apa hanya seperti itu aku di mata--”


Cup


“Aku tidak menuduhmu sayang. Aku hanya bertanya dan memastikan saja. Aku tahu istriku adalah orang yang seperti apa. Dia tidak memandang orang lain dari hartanya dan statusnya. Tapi apa alasanmu hingga harus membedakan mereka?” potong Alvino dengan mengecup bibir istrinya itu sekilas.


“Apa kau pikir aku tidak menguji Rezky juga? Jika kau berpikir begitu maka berarti apa yang ku lakukan sungguh sangat mulus hingga suamiku sendiri tidak mengetahuinya.” Ucap Freya sinis.


Alvino pun terdiam mencoba mencerna ucapan istrinya itu lalu seketika matanya membesar begitu menyadari sesuatu. Alvino pun segera membalik tubuh Freya kembali menatapnya.


“Sayang, jangan katakan tragedi bandara dan foto Rezky dan gadis masa kecilnya bocor kepada Friska itu ulahmu?” ucap Alvino.


Freya pun kembali tersenyum, “Menurut suamiku ini bagaimana?” tanya Freya balik.


Alvino pun hanya mengeleng-gelengkan kepalanya tanda dia merasa di bodohi oleh istrinya itu karena tidak menyadari apa yang terjadi selama ini. Kenapa saat itu hal ini tidak dia pikirkan. Pantas saja istrinya itu saat itu lumayan tenang walaupun suaranya terdengar kaget ternyata itu akting yang sangat mumpuni.

__ADS_1


“Kau hebat sayang. Aku bahkan tidak sadar bahwa kau yang melakukan itu.” ucap Alvino.


“Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini by. Aku sudah merencanakan itu semua. Apa kau pikir perusahaan Rezky bisa dengan mudah goyah hanya karena satu proyek saja. Aku saat itu hanya membuatnya untuk pergi ke Negara J karena aku memang sudah merencanakan hal itu untuknya di sana.”


“Kau membuat adikmu sedih sayang dan Rezky pun pusing menjelaskannya.” Ucap Rezky.


Freya pun hanya tersenyum kembali, “Itu memang rencana yang kuinginkan. Rezky pusing menjelaskan semuanya. Aku tidak mungkin semuda itu merestui siapa saja yang menikahi adikku.” Ucap Freya.


“Lalu kenapa Zean dan Irma tidak kau uji seperti itu?” tanya Alvino lagi. Dia penasaran apa hanya adik calon adik kandungnya saja yang di uji atau tidak.


Freya kembali tersenyum, “Kata siapa aku tidak menguji mereka. Bukankah saat Zean menikah dengan Kiana saat itu aku tidak setuju pada awalnya. Itu adalah bentuk ujian dariku untuknya. Kita juga bahkan mengujinya saat dia tidak bisa menghubungi orang tuanya. Bukankah itu juga ujian untuk Zean. Lalu untuk Irma, kenapa harus mengujinya jika dia adalah adik yang ku sukai. Lagi pula gadis itu sudah penuh dengan ujian hidup. Sudah cukup dia sakit-sakitan. Aku masih punya kasih sayang untuk tidak menambah penderitaannya.” Ujar Freya.


Alvino pun tersenyum lalu memeluk Freya itu, “Jadi sampai kapan kau akan menguji Fazar? Aku ingin tahu. Jangan sembunyikan rencana ini dariku sayang. Kau sudah bermain sendiri tanpa mengajakku. Aku bahkan harus pusing menyuruh orang untuk menekan berita hari ini. Kau menambah pekerjaanku.” Ucap Alvino.


“Itu memang sengaja aku lakukan karena suamiku ini terkadang dia akan keceplosan. Jadi awas saja ya mas jika kau keceplosan.” Ancam Freya.


“Janji. Aku tidak akan keceplosan sayang. Aku pastikan hal itu. Aku tidak mungkin keceplosan. Aku akan mengikuti arus rencana yang kau buat itu. Tapi jangan keterlaluan juga menguji sayang. Dia itu adalah asisten kepercayaanku.” Ucap Alvino.


“Aku juga tidak akan sekejam itu by.” Balas Freya.


Alvino pun tersenyum, “Tunggu dulu, sekarang katakan padaku apa benar gadis itu adalah suruhanmu?” tanya Alvino.


Freya menggeleng, “Ini memang rencanaku tapi bukan aku yang menjalankannya mas. Aku hanya menunggu laporan saja dari orang-orangku. Mereka yang melakukannya. Itu di lakukan hanya untuk menguji Fazar saja.” ucap Freya.


“Tapi kejadiannya kapan sayang?” tanya Alvino.


“Hum, semalam. Fazar tidak menyadarinya karena mereka menggunakan obat penghapus ingatan. Foto itu di buat semalam.” Ucap Freya.


“Lalu kenapa kau tadi menelponku dengan nada khawatir begitu sayang hingga aku pun meminta mereka untuk mempercepat penyelidikannya. Tidak tahunya ini adalah rencana istriku. Aku di bodohi oleh istriku. Wahh sayang sepertinya kau hebat sekali dalam berakting. Aku harus belajar darimu.” Ujar Alvino.


Freya pun hanya tersenyum saja, “Sudahlah. Sekarang hubby pastikan saja bahwa kau tidak akan keceplosan akan rencana yang sudah ku buat ini. Awas saja jika sampai bocor ya by. Aku tidak akan memaafkanmu.” Ucap Freya mengancam suaminya itu.


Alvino pun mengangguk, “Tenang sayang. Suamimu ini tidak akan keceplosan.” Ujar Alvino.


“Ohiya by. Apa kamu sudah menjadwalkan liburan kita bareng Hanna dan kak Lio?” tanya Freya.


Alvino mengangguk, “Hum, kita akan liburan ke Swiss tapi nanti saat anak-anak libur sekolah.” Jawab Alvino.


Freya pun mengangguk saja tanda dia mengerti.


***


Di sisi lain, Fazar pun mulai mencari tahu semuanya. Dia menyelidikinya hingga menemukan sesuatu yang ternyata memang sudah di sediakan oleh anak buah suruhan Freya agar Fazar itu segera menemukan semuanya. Memang Freya yang merencanakannya tapi dia juga yang membantu Fazar untuk menyelesaikan masalahnya itu. Sungguh definisi dari kita untuk kita dan oleh kita. Definisi demokrasi.


Fazar pun akhirnya menemukan alamat rumah gadis yang ada di gambar bersamanya itu. Sekitar 10 menit saja di perjalanan akhirnya Fazar menemukan sebuah rumah sakit jiwa.


Fazar keluar dan kini dia menjadi ragu untuk menemukan gadis itu, “Apa iya dia bekerja di sini? Gak mungkin.” Ucap Fazar. Tapi setelah berpikir lumayan panjang akhirnya Fazar pun memutuskan untuk masuk ke sana.


Fazar segera menuju meja recepsionist, “Apa di sini ada yang bernama Elena?” tanya Fazar.

__ADS_1


“Elena? Ada tuan. Itu dia--” tunjuk recepsionis itu kepada salah satu perawat yang sedang menyuapi salah satu pasien yang duduk di kursi roda.


Fazar pun mengangguk, “Terima kasih.” Ucap Fazar.


“Siapa dia? Apa itu pacar Elena? Wah beruntung sekali Elena. Pria itu sangat tampan.” Gumam recepsionis itu iri.


Fazar segera mendekati Elena itu, “Apa ini benar nona Elena?” tanya Fazar.


Elena pun menoleh dan seketika dia tersenyum melihat Fazar, “Ada apa mencari saya tuan?” tanya Elena.


“Saya ingin bicara denganmu.” Ucap Fazar setelah melihat wajah gadis itu yang memang wajah gadis yang berada di gambar dengannya.


Elena pun mengangguk, “Baik tuan. Tunggu sebentar. Saya masih harus mengantar pasien ini dulu kembali ke ruangannya. Tuan bisa menunggu saya di taman rumah sakit. Saya akan menemui anda di sana.” Ucap Elena.


Fazar pun mengangguk dan dia pun segera menuju taman. Sementara Elena dia segera menghubungi seseorang, “Tuan, dia sudah berada di sini? Apa yang harus saya katakan? Saya gak tahu menahu hal ini?” ucap Elena.


“Tenang saja Elena. Bertingkah lah biasa saja. Usahakan senatural mungkin agar dia tidak curiga. Nyonya akan melindungi kita.” Ucap Elena.


“Baiklah tuan. Saya akan melakukannya.” Ucap Elena lalu dia segera mengantar pasiennya itu ke dalam ruangannya dan dia pun segera melangkah menuju taman rumah sakit dan mendekati seorang pria yang semalam dia temui dalam keadaan tidak sadar hanya untuk sebuah perintah.


“Tuan!” ucap Elena.


Fazar pun menoleh, “Duduklah.” Ucap Fazar.


Elena pun mengangguk, “Apa kamu tahu apa yang akan saya bicarakan denganmu?” tanya Fazar.


Elena menggeleng, “Saya gak tahu tuan.” Jawab Elena.


“Kamu gak tahu tapi kamu sepertinya gak kaget dengan kedatangan saya ke sini menemuimu. Kamu bahkan tidak menanyakan siapa nama saya dan langsung saja memanggil saya tuan.” Ucap Fazar dengan tatapan menyelidik.


Elena yang mendengar itu pun terkekeh, “Bagaimana saya tidak kenal asisten dari pengusaha terkenal di Negara ini tuan. Saya sering melihat anda di di televise dan berita bisnis. Jadi sudah tentunya saya memanggil anda dengan tuan. Apa itu salah?” tanya Elena.


Fazar menggeleng, “Baiklah. Saya tidak akan basa basi lagi. Siapa yang sudah menyuruhmu untuk menjebak saya?” tanya Fazar.


“Saya tidak paham dengan apa yang anda tanyakan tuan. Kita saja baru bertemu hari ini lalu bagaimana mungkin anda mengajukan pertanyaan seperti itu.” ucap Elena.


“Jangan berpura-pura tidak tahu. Saya tahu segalanya. Kamu yang menjebak saya hingga berita tentang saya di media sosial berada. Kau tahu apa yang kau lakukan ini membuat calon istri saya menghilang. Saya tidak mau tahu kamu harus menjelaskannya padanya.” ucap Fazar.


“Saya tidak paham dengan apa yang anda bicarakan tuan. Ini adalah pertemuan pertama kita. Jadi tidak mungkin saya menjebak anda apa lagi anda adalah seorang asisten kepercayaan dari penguasaha terkenal. Saya tidak berani melakukan itu tuan kepada anda. Saya tidak mungkin melakukannya. Anda salah besar.” Ucap Elena.


“Tidak mungkin. Ini bukan pertemuan pertama kita.” Ucap Fazar.


“Jika memang ini bukan pertemuan pertama kita lalu apa tuan ingat di mana dan kapan kita bertemu sebelumnya?” tanya Elena.


Fazar pun terdiam seketika karena tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri juga bingung kenapa dia tidak bisa mengingat sama sekali di mana dan kapan dia bertemu gadis itu, “Anda tidak ingat bukan. Jadi tidak mungkin kita pernah bertemu sebelumnya. Anda hanya asal menuduh saja tuan.” Ucap Elena.


“Tidak, saya tidak asal menuduh. Ini adalah dirimu. Kau lah orang yang ada di foto itu. Tidak mungkin salah.” Ucap Fazar.


Elena hanya tersenyum saja lalu dia segera pergi meninggalkan Fazar, “Maaf tuan aku hanya menjalankan perintah. Kau tenang saja kau sudah melewati ujian dari kakak iparmu itu. Kau adalah lekai setia.” Ucap Elena tersenyum. Lalu dia segera mengirim pesan kepada seseorang dan mengatakan semuanya sudah dia lakukan tinggal rencana selanjutnya saja.

__ADS_1


Sementara Fazar yang masih di taman rumah sakit kini jadi pusing sendiri karena tidak mengingat apa yang terjadi padanya hingga tidak ingat sama sekali gadis itu, “Sial, di mana aku pernah bertemu dengannya. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.”


__ADS_2