
Fazar menatap dalam mata gadis di hadapannya itu seolah ingin membaca pikiran gadis itu apa saat ini sedang berkata jujur atau tidak tapi sial dia tidak bisa membacanya sedikit pun, “Jika memang begitu kamu lebih baik saya antar.” Ucap Fazar.
Frisya yang mendengar itu pun menatap Fazar, “Kak, kenapa kau memaksaku. Aku sudah mengatakan bukan bahwa aku bisa sendiri. Aku tidak suka di paksa kak. Biarkan aku sendiri. Jika memang kakak tidak juga mengerti dengan apa yang aku katakan lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Aku akan berhenti jadi vokalis di sini. Aku mohon kak jangan memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku ini sangat keras kepala kak bahkan mungkin melebihi keras kepalanya kak Reya sebagai anak pertama.” Ujar Frisya.
Fazar yang mendengar itu pun menghela nafasnya kasar, “Baiklah jika memang begitu. Maaf sudah memaksamu.” Ucap Fazar akhirnya mengalah walau dia yakin gadis di hadapannya ini sedang mencoba menghindarinya tapi dengan cara halus. Fazar penasaran kenapa gadis itu melakukannya.
Frisya pun segera menghidupkan sepeda motornya dan segera melajukannya meninggalkan parkiran restoran itu. Fazar yang melihat gadis itu sudah pergi dia juga segera ke mobil dan langsung melajukannya juga meninggalkan restoran itu. Tujuannya satu dia bukan langsung pulang melainkan mengikuti gadis itu walau Frisya menolak untuk di antar tapi setidaknya dia harus memastikan bahwa gadis itu pulang dengan selamat sampai tujuan seperti yang sudah dia lakukan beberapa tahun terakhir ini. Sepertinya dia akan kembali menjadi menjadi pengagum diam-diam saja yang selalu melindungi gadis itu tanpa di ketahui daripada seperti saat ini memperjuangkan gadis itu dengan terang-terangan namun justru di cuekin.
Frisya yang di depan sebenarnya tahu bahwa dia di ikuti dan sudah dia pastikan bahwa yang mengikutinya itu adalah Fazar dari plat nomor mobil itu, “Maafkan aku kak melakukan ini padamu. Aku tidak bermaksud untuk menghindarimu hanya saja aku ingin fokus dengan studiku. Aku sudah berusaha dengan sangat keras agar kehadiranmu dalam hidupku tidak menggangguku tapi ternyata kau sudah masuk ke dalam hatiku yang sudah menggangguku. Maaf jika harus menghindarimu karena sepertinya ini cara terbaik yang bisa aku lakukan agar perasaan itu tidak semakin tumbuh di hatiku. Aku takut jika kau memiliki perasaan itu akan membuatku sakit. Maafkan keegoisanku.” Batin Frisya.
__ADS_1
Fazar di belakang tetap setia mengikuti gadis di depannya itu sambil terus memikirkan alasan kenapa gadis itu menghindarinya, “Apa nyonya Freya melarangnya?” gumam Fazar lalu kemudian dia menggeleng karena tidak mungkin nyonya bosnya itu melakukan hal seperti itu. Dia sangat mengenal bahwa nyonya bosnya tidak pernah membeda-bedakan orang dari stutus sosialnya. Tapi kini dia bingung dan semakin di pikirkan justru semakin menambah kebingungannya.
Tidak lama Frisya sudah tiba di apartemen, dia segera memarkirkan sepeda motornya di tempat biasa dia selalu memarkirkan sepeda motornya itu. Dia segera turun dari motornya dan segera mengambil tasnya dan masuk ke dalam gedung apartemen tapi sebelum dia masuk di melihat ke luar jalan untuk memastikan apa mobil Fazar masih mengikutinya atau tidak. Dia tersenyum mendapati mobil itu ada di luar. Frisya segera masuk ke dalam dan Fazar yang melihat itu pun segera memutar balik mobilnya untuk segera pulang ke rumahnya yang terpenting dia sudah memastikan bahwa gadis yang dia cintai itu sudah tiba di apartemen dengan selamat.
***
Di sisi lain di sebuah rumah dua lantai, kini ada pasangan suami istri yang masih saja canggung satu sama lain walau sudah tinggal serumah dan hanya berdua beberapa hari namun tetap saja keduanya masih canggung. Yah, mereka adalah pasangan suami istri baru kita Kiana dan Zean. Kiana dan Zean memang sudah beberapa hari ini pindah ke sini dan keduanya hanya tinggal berdua karena Kiana yang tidak mau memanggil asisten rumah tangga untuk membantunya membersihkan rumah padahal Zean sudah menawarkan karena tidak ingin istrinya itu kelelahan namun di tolak oleh Kiana. Zean pun akhirnya hanya bisa menurut saja karena yang terpenting itu istrinya nyaman.
Zean yang di panggil segera menatap ke arah istrinya dan segera meletakkan ponselnya yang memang dia sedang membaca email dari perusahaannya yang dia kelola di Negara S, “Iya ada apa dek? Apa kau butuh bantuan?” tanya Zean lembut.
__ADS_1
“I-itu bisakah kakak membantuku mengeringkan rambutku?” tanya Kiana menahan kegugupannya karena ini untuk kedua kalinya suaminya itu akan melihat rambutnya setelah yang pertama tidak sengaja itu. Kiana juga menahan malu jika nanti suaminya menolak tapi dia hanya tidak ingin hubungan mereka ini akan renggang hanya karena ketidakpengertiannya. Dia paham suaminya itu hanya berusaha menahan saja kebutuhan biologisnya dengan alasan tidak ingin memaksanya. Maka untuk itu sepertinya dia yang harus memulainya agar sang suami tidak canggung.
Zean yang mendengar tawaran itu pun seketika gugup karena ini pertama kalinya istrinya itu memintanya mengeringkan rambutnya yang sudah pasti itu berarti dia akan melihat rambut cantik istrinya itu yang di tutupi oleh hijab. Dia segera berdiri dan turun dari ranjang mendekati istrinya, “Emang boleh?” tanya Zean.
Kiana tersenyum lalu mengangguk, “Jika kakak bersedia maka tentu saja boleh.” Ucap Kiana mencoba menekan kegugupannya dan rasa malunya. Lagian yang dia goda adalah suaminya sendiri laki-laki yang sudah halal untuknya jadi kenapa harus malu.
Zean yang mendengar izin dari istrinya tersenyum lalu segera memeluk istrinya itu dari belakang, “Kakak tahu kenapa kau melakukan ini. Ayo sini balik tatap kakak, kamu yakin melakukan ini? Kakak tidak ingin memaksamu tapi kau juga tahu nafsu itu tidak bisa di tahan jika kau sudah memberinya jalan.” Ujar Zean mengecup kening istrinya itu lembut. Dia sudah bisa membaca apa maksud istrinya itu tapi sekali lagi dia tidak ingin menjadi suami yang egois. Jika boleh jujur dia saat ini sangat bahagia melihat istrinya itu memulai semuanya. Suami di mana coba yang tidak akan senang jika istrinya sudah memberi lampu hijau untuk hubungan mereka.
Kiana menatap suaminya lalu mengangguk, “Aku yakin kak. Tapi jika kakak tidak menginginkannya maka tidak masalah. Sudahlah aku akan mengeringkan rambutku sendiri.” Ucap Kiana lalu dia segera berbalik menghadap cermin lagi dan meraih hair dryer tapi langsung di rebut oleh sang suami.
__ADS_1
“Biar kakak saja.”