Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
177


__ADS_3

“Mas!”


“Hum.” Sahut Rezky menatap istrinya itu dengan tatapan yang penuh dengan makna.


“Apa ki--” pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakan.


Rezky mengangguk, “Apa kamu lupa?” tanya Rezky.


Friska menggeleng, “Aku hanya ingin memastikannya mas.” Ujar Friska.


Rezky pun tersenyum lalu dia mengangguk dan segera turun dari ranjang dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek saja hinggga Friska yang melihatnya segera menutup matanya. Dia tidak sanggup melihat suaminya itu seperti itu. Sungguh ini tidak aman untuk hati dan jantungnya. Dia tidak bisa melakukannya. Dia malu.


Rezky yang melihat istrinya menutup mata pun kembali tersenyum lalu segera berjalan ke sisi ranjang istrinya, “Aaa.. mau di bawa kemana suamiku?” teriak Friska karena tiba-tiba saja suaminya itu mengangkat tubuhnya.


“Tentu saja mandi sayang. Kita harus bersuci agar bisa sholat subuh. Kita sudah melewatkan waktu tajahud.” Jawab Rezky menurunkan istrinya itu di kamar mandi.


“Mas, keluar dulu. Aku mau mandi sendiri.” Usir Friska.


Rezky menggeleng, “Mas tidak akan keluar sayang. Kita mandi bersama. Gak usah malu. Kita sudah saling melihat dan saling memiliki satu sama lain.” Ucap Rezky mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Friska menahan selimutnya erat.


“Kenapa di tahan sayang. Kita mau mandi loh.” Ujar Rezky tersenyum.


“Aku tahu mas. Tapi aku masih belum siap jika harus mandi bersama. Aku tidak siap.” Ucap Friska.


Rezky pun tertawa lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut, “Apa yang membuatmu malu pada suami sendiri sayang. Sudah, kita mandi bersama saja sayang. Menghemat waktu dan juga sunah rasul.” Ucap Rezky.


Friska yang mendengar itu pun mendelik ke arah suaminya itu, “Dasar, Mas pintar yaa memanfaatkan waktu dengan baik. Hum, hebat.” Ucap Friska.


Rezky pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu lalu melepas selimut istrinya dan pada akhirnya mereka pun mandi bersama. Walaupun Friska pada awalnya canggung dan malu akhirnya tidak lagi malu karena suaminya itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Selepas mandi bersama sudah pasti mereka melakukan sholat bersama lalu membaca Al-Qur’an bersama. Setelah menyelesaikan membaca Qur’an bareng. Rezky tiba-tiba saja berbaring di pangkuan istrinya itu. Friska pun hanya tersenyum dan mengelus rambut suaminya penuh kasih. Mereka bermalas-malasan saja di vila itu sambil menunggu sarapan datang.


“Kita baiknya hari ini jalan-jalan kemana yaa sayang.” ujar Rezky.


Friska menggeleng, “Hum, Riska ikut mas aja deh. Riska gak tahu mau pergi kemana.” Ucap Friska.


Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Kita di vila saja. Lagian daun maple yang mau kita lihat sudah kita lihat tanpa harus pergi jauh. Jadi hari ini kita di rumah saja. Beristirahat. Mas tahu kamu masih lelah dan pasti masih perih. Iya kan.” Ucap Rezky.


“Ish, jangan membahasnya mas. Aku malu.” Ujar Friska menutup wajahnya itu dengan kedua tangannya.


Rezky pun menjadi gemas sendiri jadinya, “Kenapa di tutup sayang. Gak usah malu begitu. Suamimu ini tidak akan mempermalukanmu kok.” ujar Rezky.


Friska hanya mendesis mendengar ucapan suaminya itu, “Jika mas memang tidak ingin menggodaku. Maka kenapa menanyakan pertanyaan yang seperti itu.” ujar Friska. Rezky yang mendengar ucapan istrinya itu pun hanya bisa diam sambil mengangguk-nganggukan kepalanya saja. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk istrinya itu.


***


Kita ke belahan bumi yang lain, di perusahaan cabang yang di pimpin oleh Kenzo kini di sana ada pelaksanaan ujian untuk mahasiswa magang itu. Kenzo sendiri jadi pengawasnya saat mahasiswa magang itu menyelesaikan ujian mereka.


Irma yang juga ada di sana entah kenapa menjadi gugup sendiri karena di jaga oleh calon suaminya.


Ting

__ADS_1


Irma pun melihat pesan yang masuk ke ponselnya itu yang ternyata dari Kenzo. Irma melihat Kenzo sebentar lalu segera membuka pesan yang di kirimkan oleh calon suaminya itu, “Semangat. Jangan gugup karena aku.” Begitu isi pesan dari Kenzo itu.


Irma pun tersenyum lalu kembali menatap Kenzo dan mereka tersenyum bersamaan. Setelah itu Irma pun fokus dengan dengan apa yang dia lakukan. Dia mengerjakan semuanya dengan baik. Dia tidak terganggu lagi dengan keberadaan Kenzo yang ada di sana. Kenzo yang melihat itu pun tersenyum. Dia bangga calon istrinya itu sangat hebat.


Waktu tiga jam yang mereka berikan untuk mahasiswa magang itu akhirnya selesai. Semua segera menyerahkan hasil kerja mereka dan langsung di periksa oleh tim yang sudah di tugaskan oleh Kenzo. Dia tidak ikut memeriksa karena memang tidak ingin di curigai nanti.


Setelah di periksa akhirnya nilai mereka pun keluar dan segera di umumkan. Semuanya puas dengan nilai yang mereka dapatkan. Tidak ada yang protes satu pun karena mereka memang tahu bahwa Irma itu sebenarnya cerdas hanya di sembunyikan saja kecerdasannya.


“Sayang, sudah kan? Senang dengan hasilnya?” tanya Kenzo yang berjalan berdua dengan Irma.


Irma yang mendapat pertanyaan dari Kenzo itu pun mengangguk, “Hum, aku sangat menyukainya.” jawab Irma lalu kembali melihat hasil pekerjaannya itu yang mendapat poin paling tinggi berkat kerja kerasnya sendiri karena tim penilaian tadi sudah di sumpah untuk tidak pilih kasih satu sama lain. Tetap memperlakukan Irma sebagai mahasiswa magang bukan sebagai calon istri dari Kenzo.


“Syukurlah jika memang kau menyukainya sayang. Kita sudah bisa cuti sekarang. Tapi kita ke ruanganku sebentar dulu yaa. Bantu aku sebentar untuk memeriksa beberapa berkas di sana.” Ujar Kenzo. Irma pun mengangguk mengiyakan.


***


Sementara di sisi lain, kini Frisya saat ini setelah dari konsultasi laporan akhirnya itu. Tinggal beberapa saja yang perlu di perbaiki. Frisya menuju klinik kakaknya. Entah ada apa kesana dia. Hanya saja dia ingin pergi saja.


Frisya segera memarkirkan sepeda motornya di parkiran yang sudah di sediakan klinik itu. Setelah itu dia segera masuk ke dalam dengan membawa laporannya itu. Dia segera di sambut dengan ramah oleh para pekerja di sana karena memang sudah mengenalnya sebagai adik dari pemilik klinik ini.


“Nyonya Freya ada di ruangannya nona.” Ujar perawat yang bertemu dengan Frisya. Frisya pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu segera menuju ruangan kakaknya itu.


Seperti biasa pasti dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk dan baru masuk begitu di persilahkan masuk oleh orang di dalam.


“Assalamu’alaikum kakak cantikku.” Salam Frisya membuka pintu ruangan itu dengan hebohnya.


Freya yang memang tidak melihat siapa yang datang begitu mendengar suara langsung mengenali siapa yang masuk. Freya tersenyum lalu memandang adiknya itu, “Wa’alaikumsalam. Ada apa adikku. Kenapa kau terlihat sangat senang dan heboh begitu hari ini. Apa semua urusanmu sudah selesai?” tebak Freya.


Freya pun tertawa lalu mengangguk, “Ya sudah jika begitu. Kamu duduklah. Ada perlu apa datang ke klinik kakak tiba-tiba begini tanpa pemberitahuan sebelumnya lagi.” Ucap Freya.


Frisya segera duduk di sofa yang ada di sana lalu kemudian dia mengangkat bahunya, “Risya juga gak tahu kenapa datang ke sini. Tidak punya tujuan sama sekali. Hanya ingin datang saja saat tadi selepas dari ruangan dosen.” Ucap Frisya.


“Bukan ada temanmu. Kenapa gak jalan-jalan dulu dengannya.” ucap Freya lalu segera mendekati adiknya itu ke sofa.


“Dia sibuk kak. Dia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan abang El.” Jawab Frisya. Yah, El dan Disa memang akan menikah. El ternyata mudah jatuh cinta kepada Disa hingga memutuskan untuk menikahinya.


Freya pun mengangguk mengerti. Dia tidak bertanya lagi karena memang tidak tahu hubungan teman adiknya itu.


“Terus kamu mau apa dong datang ke sini jika tidak punya tujuan begini.” Ucap Freya menatapa adiknya itu.


“Mungkin aku tiduran saja di sini atau apa lah. Terserah. Jika pulang aku bosan. Mau pulang ke apartemen juga kakak gak izinkan. Jadi lebih baik aku ke sini saja menunggu kakak dan kita pulang bareng nanti.” Ucap Frisya.


Freya pun tersenyum lalu menganggu, “Kakak itu bukan tidak mengizinkanmu tinggal di apartemen hanya saja kakak gak mau kau tinggal sendiri di sana. Tunggu saja Clemira dia akan segera pindah ke sana dan kalian tinggal bareng. Tapi nanti setelah Friska kembali dan dia pindahan.” Ucap Freya.


“Emang kak Ris mau pindah ke mana kak? Apa dia akan ikut suaminya?” tanya Frisya hati-hati. Jujur saja dia sedih jika harus tinggal terpisah dengan kakak keduanya itu karena memang sudah dari kecil selalu berdua tidak pernah berpisah. Tapi kini mereka harus terpisah karena kehidupan pribadi kakaknya yang sudah menemukan pasangannya sendiri.


Freya menatap adiknya yang berubah sendu itu. Dia sangat tahu bahwa Friska dan Frisya sangat dekat satu sama lain melebihi kedekatannya dengan kedua adiknya itu, “Hey, kamu tidak boleh sedih dong. Kamu kan memang sudah tahu bahwa kalian tidak bisa terus bersama. Suatu saat pasti akan terpisah. Jadi jangan sedih dong. Lagian juga setelah ini kamu mungkin akan menikah dan memiliki kehidupan pribadimu sendiri. Jadi tetap semangat dan jangan sedih.” Ucap Freya menenangkan adiknya itu.


Frisya pun mengangguk dan tersenyum, “Baik lah kak. Aku mengerti apa yang kau ucapkan. Tapi tetap saja aku sedih kak. Namun tenang saja aku juga tidak mungkin menahannya untuk pindah. Aku mengerti bahwa dia sudah milik suaminya sekarang.” Ucap Frisya.


Freya kembali mengangguk, “Hum, itu kamu tahu. Jadi tetap semangat ya dek. Jangan sedih lagi. Semua itu sudah di atur.” Ucap Freya lalu dia berdiri dan kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


“Dari pada kamu sedih. Tolong dong bantu kakak mengerjakan ini.” pinta Freya.


Frisya pun berdiri dan mendekat ke meja kerja kakak sulungnya itu dan segera membantu kakaknya mengerjakan beberapa dokumen klinik itu. Kedua kakak beradik yang memiliki jarak usia 10 tahun itu pun serius dengan apa yang mereka kerjakan.


“Setelah ini selesai kita ke kantor kakak iparmu yaa. Kakak harus melihat sesuatu di sana.” Ujar Freya saat mereka tinggal memeriksa berkas terakhir saja.


Frisya hanya mengangguk menyetujui saja. Dia tidak membantah sama sekali. Lagian dia juga ingin jalan-jalan mengusir kejenuhannya dari pusing menyusun laporan akhirnya itu.


***


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor Alvino selepas ba’da zuhur. Kedua kakak beradik itu makan siang dan sholat terlebih dahulu baru lah mereka pergi ke kantor Alvino. Mereka menggunakan mobil Freya tentunya.


Sekitar 20 menit saja dalam perjalanan mereka tiba di perusahaan ARYAWIGUNA GROUP. Freya segera menuju parkiran di mana ada mobil suaminya di sana. Dia memarkirkannya tepat di samping mobil suaminya itu.


Setelah itu kedua kakak beradik itu pun segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam perusahaan yang di sambut oleh seluruh karyawan ramah. Bagaimana tidak Freya itu sangat loyal dengan bawahan suaminya.


“Apa tuan Vino ada di ruangannya?” tanya Freya pada recepsionis.


“Iya nyonya. Tuan Vino hari ini tidak memiliki jadwal apapun untuk keluar kantor. Dia berada di ruangannya.” Jawab recepsionis itu ramah.


Freya pun mengangguk dan tersenyum. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada resepsionis itu lalu melangkah menuju lift khusus presdir. Freya dan Frisya segera masuk ke dalam lift.


“Nyonya semakin cantik dan awet muda di usianya yang semakin matang itu.” ucap karyawan A.


“Hum, kau benar. Begitu orang yang bahagia dan sudah memiliki semuanya.” Timpal karyawan B.


“Aku penasaran dengan wajah anak-anak tuan dan nyonya. Mereka sangat menutup privasi anak-anak mereka. Tapi dari yang ku dengar mereka sangat tampan dan cantik.” Ucap karyawan A.


“Tentu saja tampan dan cantik. Orang tuanya juga tampan dan cantik. Masa iya anak-anaknya jelek kan gak mungkin.” Ujar karyawan B lagi.


Begitu lah gosip yang bisa di bicarakan oleh karyawan. Bukan gosip buruk.


Freya dan Frisya kini sudah berada di lantai paling atas gedung itu. Mereka segera keluar lift dan menuju ruangan Alvino, “Kak, kok ada meja di sini?” tanya Frisya yang melihat ada meja di luar ruangan kakak iparnya itu padahal biasanya tidak ada.


“Hum, ini mungkin meja sekretarisnya.” Ucap Freya.


“Kakak ipar punya sekretaris? Bukan kakak ipar tidak pernah suka memiliki sekretaris.” Tanya Frisya terkejut dengan jawaban yang di berikan kakaknya itu.


“Iya tapi kakak iparmu itu baru saja memperkerjakan seorang sekretaris. Itu yang dia katakan.” Jawab Freya.


Freya pun segera mengetuk pintu ruangan suaminya itu dan baru masuk begitu di persilahkan masuk, “Assalamu’alaikum tuan Vino.” ucap Freya tersenyum.


Alvino yang langsung mengenali suara sang istri pun segera melihat ke arah Freya dan tersenyum, “Sayang. Kau datang. Wa’alaikumsalam my Queen. Ayo duduk.” Ucap Alvino.


Freya pun mengangguk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu di ikuti oleh Frisya di belakangnya, “Sayang, aku masih membahas sesuatu dulu yaa.” Ucap Alvino.


“Tentu saja suamiku. Silahkan lanjutkan saja pembahasan kalian. Jangan pedulikan kami di sini.” Ucap Freya.


Alvino pun fokus dengan dua bawahannya itu membahas proyek yang akan mereka lakukan awal bulan depan ini. Sekitar setengah jam akhirnya pembahasan itu selesai.


“Sayang, kenalkan ini sekretaris baruku. Jemi!” ucap Alvino memperkenalkan laki-laki di samping Fazar yang dari tadi melirik ke arah Frisya.

__ADS_1


__ADS_2