Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
119


__ADS_3

“Aku masih tidak percaya kakak ipar.” Ucap Kenzo.


Alvino yang melihat Kenzo masih tidak mempercayai apa yang dia katakan pun hanya mengangkat bahunya, “Terserah padamu jika mau percaya atau pun tidak. Itu semua keputusanmu. Yang terpenting aku sudah mengatakan kenyataannya padamu. Untuk apa aku membohongi. Jika masih tidak percaya buktikan saja sendiri.” Ujar Alvino.


Freya yang mendengar ucapan sang suami kini yang mulanya ragu menjadi percaya bahwa sang suami tidak sedang mengada-ngada tapi memang apa yang dia katakan adalah kebenaram, “Kenzo walaupun apa yang kakak iparmu itu katakan benar dan kenyataannya. Kau tetap tidak boleh besar kepala. Orang tua pihak perempuan itu selalu menginginkan yang terbaik untuk putrinya dan mungkin kau adalah pria yang mereka inginkan untuk menjadi pendamping putri mereka. Namun tetap saja agar harga dirimu tidak jatuh dan kau merasa pantas untuk bisa mendampingi Irma maka kau harus memperjuangkannya sendiri. Kakak akan selalu mendukung apa pun keputusanmu. Kau ingin kami melamar Irma untukmu akan segera kami lakukan karena memang Irma juga gadis baik yang bisa mendampingimu.” Ucap Freya.


“Aku mengerti apa yang kau maksud kak. Aku janji bahwa apa yang sudah aku katakan dan minta kepadamu hari ini tidak akan pernah aku sesali. Aku sudah memilihnya untuk menjadi istriku maka hal itu tidak akan ku sesali. Aku akan menerima baik dan buruknya istriku. Aku akan menjaganya dengan baik dan aku juga akan memastikan bahwa aku pantas bersanding dengannya yang seorang putri tunggal dari keluarga berada.” Ujar Kenzo.


Freya pun tersenyum, “Kakak bangga padamu. Sekarang kakak ingin bertanya, kapan kau ingin kami melamarnya untukmu?” tanya Freya serius.


“Aku ingin secepatnya kak. Aku dan Kak Ris hanya beda 15 hari doang lahirnya maka jika bisa aku pun ingin pernikahanku dan dirinya hanya berbeda 15 hari. Tapi tanggal pernikahan kak Ris sepertinya belum di tentukan. Jadi lebih baik tentukan saja dulu tanggal pernikahan kak Ris sebelum melamarnya.” Ucap Kenzo.


“Tapi dia belum lulus kuliah loh.” Ujar Freya.


Kenzo pun tertawa, “Aku tahu itu kak. Aku tidak bisa menunggu jika dia harus lulus kuliah dulu. Aku akan mendampinginya menyelesaikan kuliahnya saat dia sudah resmi jadi istriku.” Ucap Kenzo.


“Wah, sepertinya ada yang ingin memecahkan rekor kita sayang. Kita menikah hanya sebulan dari kau wisuda tapi dia berencana ingin menikahi seorang gadis sebelum gadis itu lulus kuliah.” Ujar Alvino tertawa.

__ADS_1


“Sudahlah. Biarkan saja. Baiklah. Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu. Kakak percaya padamu bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu katakan hari ini. Baiklah. Kita akan menunggu keputusan tanggal pernikahan Friska dan Rezky yang kemungkinan besar akan segera di putuskan karena calon adik iparku yang satu itu juga sudah tidak sabaran untuk cepat-cepat menikah. Dasar memang para lelaki tidak memiliki sifat sabaran.” Ucap Freya.


Alvino dan Kenzo pun tertawa mendengar ucapan Freya, “Kami bukan tidak sabaran sayang. Hanya saja kami tidak ingin ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.” Ujar Alvino mencoba membela diri.


“Iya in aja deh agar senang.” Ucap Freya. Pada akhirnya pembahasan itu di akhiri dengan tawa dari ketiganya sehingga membuat anak-anak Freya dan Alvino yang baru saja selesai dari ruang olahraga mereka heran dengan tingkah kedua orang tua mereka dan paman mereka itu.


***


Kita tinggalkan Kenzo mari kita beralih menuju pasangan Fazar dan Frisya yang baru saja tiba di kediaman Fazar. Frisya pun turun dan memandangi kediaman di hadapannya itu dengan gugup setelah Fzar membukakan pintu mobil untuknya.


Frisya memandangi kediaman itu dengan dalam. Ini kali kedua dirinya datang ke rumah ini setelah sebelumnya hanya karena tidak di sengaja dan tanpa rencana sedangkan hari ini kedatangannya yaitu akan di kenalkan sebagai calon dari Fazar sehingga entah kenapa dia pun menjadi gugup padahal sebelumnya dia bahkan sempat bercanda dengan kedua orang tua Fazar itu. Tapi kenapa kali ini dia merasa sangat gugup. Apa iya setiap gadis yang ingin menemui calon mertuanya akan meraskaan kegugupan seperti ini.


Frisya pun menatap Fazar dengan cemberut, “Ish apa yang kakak katakan justru membuatku semakin gugup setengah mati. Aku memang sudah pernah ketemu mereka tapi itu berbeda dengan keadaan saat ini. Jika sebelumnya aku datang tanpa sengaja tapi hari ini aku datang sebagai--” ujar Frisya terpotong karena Fazar langsung memotongnya.


“Sebagai calon menantu. Iya kan? Sudah bersikap biasa saja. Ayo kita masuk!” ajak Fazar.


Frisya pun mengangguk lalu menghela nafas terlebih dahulu sebelum mengikuti Fazar masuk, “Assalamu’alaikum ibu ayah. Lihat aku membawa siapa.” Ucap Fazar dengan suara yang lumayan keras.

__ADS_1


“Ish kakak apa-apa an sih. Macam sedang mengumumkan apa saja.” ucap Frisya.


Fazar pun tertawa, “Gak apa-apa dek.” ucap Fazar.


Tidak lama Ibu Yulia dan Ayah Yahya pun keluar, “Ada apa sih nak? Emang kamu membawa sia--” ucap ibu Yulia terhenti begitu melihat siapa yang berdiri di samping sang putra.


“Assalamu’alaikum ibu ayah.” Ucap Frisya penuh hormat.


Ibu Yulia tersenyum lalu segera mendekati Frisya dan memeluknya, “Apa calon menantu ibu datang. Ahh nak kenapa tidak bilang-bilang mau mengajak calon menantu ibu ke rumah. Ayo sayang, duduk dulu. Maaf berantakan karena memang anak bujang ibu ini tidak mengatakan akan membawa calon menantu ibu ke rumah.” Ucap Ibu Yulia segera menggandeng Frisya akrab seperti menggandeng seorang teman yang sering bertemu.


Frisya pun tersenyum, “Gak apa-apa ibu. Ini sudah rapi kok.” ujar Frisya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan keluarga kediaman Fazar itu.


“Kenapa gak bilang-bilang mau mengajaknya ke sini nak? Kami terlihat seperti tidak siap menyambutnya.” Ucap ayah Yahya kepada sang putra dengan suara kecil. Frisya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan oleh ayah Yahya itu kepada Fazar.


“Kamu tunggu di sini ya nak. Ibu mau membuat minum dulu.” Ucap Ibu Yulia berdiri.


“Gak usah bu. Risya gak usah di sambut dengan penuh hormat karena memang Risya datang ke sini sebagai calon menantu yang berharap agar di ridhoi untuk di terima sebagai menantu oleh ibu dan ayah.” Ujar Frisya.

__ADS_1


Ibu Yulia pun kembali duduk dan menatap dalam wajah cantik gadis di hadapannya itu lalu setelah itu memeluknya Freya, “Kami tidak memiliki alasan untuk menolakmu nak. Kau gadis yang baik dan berasal dari keluarga yang baik dan juga dari keluarga yang ekonominya lebih baik dari kami. Kami seharusnya yang merasa sungkan kepadamu nak karena kau bersedia menerima anak kami sebagai pendampingmu.” Ujar ibu Yulia.


__ADS_2