Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
83


__ADS_3

Sementara di bumi belahan yang lain, kini Kiana sedang bersama ibu mertuanya, “Nak, kau suka yang mana temanya?” tanya mommy Vania memperlihatkan teman resepsi pernikahan anak dan menantunya itu yang akan dilakukan tiga hari lagi.


“Emm, Kia gak terlalu mengerti dengan hal yang seperti ini mom. Kia ikut pilihan mommy saja.” ujar Kiana.


Mommy Vania pun tersenyum lalu menatap menantunya itu, “Hey, ini adalah pesta pernikahan kalian. Jadi kau harus memilihnya sendiri. Ayo!” ucap mommy Vania.


Kiana pun mengangguk lalu dia segera memilih yang menurutnya bagus, “Emm, okay kalau begitu kita pilih yang ini saja. Ini canti dan elegan. Mommy sependapat denganmu.” Ucap mommy Vania tersenyum lalu dia segera mengirimkan pilihannya itu kepada WO.


Kiana pun tersenyum, “Mom, apa aku bisa memasak sesuatu untuk makan siang nanti?” tanya Kiana hati-hati karena dia sudah dua hari di sini tapi ibu mertuanya itu tidak mengizinkannya melakukan apapun.


“Kamu sungguh ingin memasak?” bukannya menjawab pertanyaan menantunya itu, mommy Vania justru bertanya balik.


Kiana pun mengangguk dengan cepat, “Apa boleh mom?” tanya Kiana lagi.


Mommy Vania pun mengangguk, “Baiklah. Kalau begitu hari ini ayo kita memasak bersama. Mommy juga sudah lama gak ke dapur. Jadi mari kita eksekusi dapur hari ini.” ucap mommy Vania berdiri dengan semangat dan segera menggandeng Kiana menuju dapur. Untuk pertama kalinya dia merasa memiliki putri lagi. Dia bahagia bisa memasak dengan menantunya karena ini adalah bagian dari impiannya.


Kiana pun segera mengikuti ibu mertuanya itu dan mereka segera memasuki dapur. Para maid di sana segera berkumpul menyambut kedua nyonya mereka itu, “Emm,, kami akan memasak untuk makan siang. Jadi kali ini kalian tidak di izinkan masuk ke dapur karena aku dan menantuku ini ingin mengeksekusi dapur.” Ujar mommy Vania tersenyum menatap menantunya.

__ADS_1


Para maid itu mengangguk menuruti perintah dari nyonya besar mereka dan seperti permintaan mommy Vania para maid itu segera pergi meninggalkan dapur.


“Aku sayang! Mari kita eksekusi dapur ini. mommy sangat semangat ini karena akhirnya impian mommy memasak dengan menantu mommy hari ini akan terwujud.” Ucap mommy Vania.


Kiana pun mengangguk, “Ini juga impian Kia, Mom. Terimah kasih sudah menerima Kia.” Ucap Kiana tersenyum.


“Hey, jangan mengatakan itu. Kami tidak menerimamu nak namun kedatanganmu adalah berkat untuk kami dan putra kami yang dingin itu. Jadi jangan mengatakan sesuatu yang seperti merendahkan dirimu di hadapan kami karena mommy tidak bisa menerima itu. Kamu bukan hanya menantu tapi juga putri kami.” Ujar mommy Vania.


Kiana terharu mendengar hal itu, dia memeluk ibu mertuanya itu. Kiana seperti memeluk mama Najwa dan Freya saat memeluk mommy Vania. Ada sosok keibuan dari pelukan itu. Mommy Vania itu pun membalas pelukan menantunya itu dengan penuh kasih.


Setelah momen mengharukan itu terjadi kedua wanita berbeda generasi itu pun segera memulai acara memasak mereka. Keduanya fokus dengan makan siang yang akan mereka buat. Akhirnya tepat sebelum zuhur makanan itu sudah siap semua dan kedua wanita itu tersenyum melihat hidangan yang selesai mereka buat.


“Wah, akhirnya selesai juga. Sekarang kita tinggal menunggu mereka datang. Sebelum itu mari kita bersih-bersih dulu dari bau rempah-rempah ini.” ucap mommy Vania di angguki oleh Kiana. Kedua wanita berbeda generasi itu pun segera menuju kamar masing-masing untuk segera membersihkan diri.


Tidak lama setelah itu, Zean dan Daddy Rafael pulang dan masuk ke mansion itu tepat sekitar 10 menit mommy Vania dan Kiana masuk ke kamar untuk mandi, “Kok, sepi?” tanya daddy Rafael.


“Mungkin mereka di kamar dad.” Ucap Zean segera menuju kamarnya. Daddy Rafael pun segera menuju kamarnya juga.

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam kamar, Zean mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dia tersenyum mendengar itu karena itu berarti sang istri sedang mandi saat ini. Zean pun segera duduk di sofa yang ada dalam kamar mereka sambil memainkan ponselnya tapi sebelum itu dia melepas jasnya terlebih dahulu.


Sekitar lima menit kemudian, Kiana keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Kiana yang tidak menyadari bahwa sang suami ada di kamar pun berjalan santai saja di kamar itu hingga membuat Zean yang menatap istrinya itu hanya bisa menelan ludah kasar. Dia pun berdiri dan mendekati sang istri, “Kau menggodaku sayang.” bisik Zean di telinga sang istri.


Kiana yang memang tidak mengetahui suaminya pun kaget, “Kak, kau sudah pulang?” tanya Kiana layak orang bodoh berbalik menatap suaminya itu.


Zean pun mengangguk dan memeluk pinggang istrinya agar dekat dengannya. Pandangannya menurun ke bawah di bagian dada sang istri yang menggoda imannya, “Sayang, kau menggodaku.” Ulang Zean.


Kiana yang sadar akan hal itu pun segera menutup bagian atas tubuhnya itu dengan tangannya dan mendorong suaminya, “Gak ada yang menggodamu suamiku. Salah sendiri tergoda. Sudah ahh Kia mau ganti baju dulu.” Ucap Kiana menuju walk in closet.


Zean mengikuti istrinya itu menuju walk in closet dan memeluk istrinya dari belakang saat Kiana mengambil pakaian, “Kau mungkin benar tidak menggodaku tapi suamimu ini tergoda sayang. Aku tidak bisa menahannya.” Bisik Zean sensual di telinga sang istri sambil tangannya yang tadinya di perut Kiana mulai naik ke atas dan meremas kedua bukit milik sang istri yang di tutupi handuk itu.


Kiana pun menggelinjang geli lalu dia melepas tangan suaminya itu dari kedua bukitnya, “Salah sendiri menundanya. Maka hari ini maaf Kia gak bisa. Kita harus segera makan siang bersama mommy dan daddy. Sudah Kia mau ganti pakaian dulu.” Ucap Kiana segera keluar dari kungkungan suaminya itu.


Zean pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Yah, dia memang menunda menyentuh istrinya itu, sampai sekarang mereka belum saling memiliki satu sama lain secara utuh karena belum terjadi penyatuan batin antara keduanya. Zean bukan tidak menginginkan istrinya itu hanya saja dia ingin menundanya sampai resepsi pernikahan mereka agar tetap terkesan sebagai malam pertama pernikahan.


Kiana sudah memberinya izin dan lampu hijau untuk suaminya itu tapi Zean sendiri yang ingin menundanya dan sepertinya dia menyesalinya, “Aku menyesalinya sayang. Ayo kita lakukan saja. Aku tidak tahan.” Ucap Zean segera keluar walk in closet dan mendapati Kiana tertawa serta sudah selesai berganti pakaian.

__ADS_1


“Sayang, kenapa pakaiannya sudah di pakai?” tanya Zean memeluk istrinya itu.


__ADS_2