
Kini di kediaman mama Najwa dan papa Khabir sangat ramai dengan seluruh anggota keluarga yang pada hadir. Di sana terlihat mama Najwa dan papa Khabir yang memberikan selamat kepada Friska dan Rezky atas berita yang mereka bawakan.
“Ingat, jaga cicit nenek dengan baik nak.” ucap nenek Ayesha mengelus perut rata milik Friska.
“Tentu nek. Kami akan menjaga cicitmu ini. Cicit ketujuhmu.” Ucap Friska tersenyum.
“Tujuh? Ya iya Kia juga mengandung. Ohiya Kia cicit nenek padamu baik-baik saja kan?” tanya nenek Ayesha menatap cucu nya yang saat ini sibuk dengan camilan di tangan nya.
“Iya nek. Tenang saja dia baik-baik aja dan dia pun tumbuh dengan sangat baik.” jawab Kiana belebotan karena di mulut nya ada camilan.
“Telan dulu sayang baru bicara.” Ucap Zean kepada sang istri yang hanya di balas dengan cengesan saja.
“Selamat kakak.” Ucap Frisya memeluk Friska.
Friska pun mengangguk dan tersenyum, “Kamu juga akan menikah besok. Jangan menunda lagi yaa agar kita bisa memiliki anak yang seumuran.” Ucap Friska.
Frisya pun tersenyum lalu mengangguk, ”Baiklah. Semoga saja Allah meridhoi. Aku juga memang tidak ingin menunda sama sekali.” Ucap Frisya.
“Irma!” panggil mama Najwa kepada Irma yang terlihat sedang menahan air mata nya itu. Mama Najwa sangat tahu pasti anak itu sedang sedih. Kenzo sudah cerita bahwa anak itu ingin segera hamil juga tapi tamu nya baru saja datang. Dia pasti sangat iri sekarang.
“Irma, ayo sini.” Ucap Mama Najwa.
Irma pun melihat suami nya sekilas lalu dia berdiri, “Ayo Irma. Ingat gak boleh sedih begitu nanti rahmat Allah akan menjauh.” Ucap Freya yang tiba-tiba saja datang dan segera menggandeng adik ipar nya yang dia tahu sedang sedih saat ini.
Freya segera membawa Irma duduk di samping mama Najwa, “Nak, mama tahu kau sedang sedih tapi jangan terlalu di pikirkan. Pernikahan kalian baru saja terjadi. Jadi jika belum hamil maka itu tidak masalah. Yakin lah jika sudah waktu nya nanti maka semua akan terjadi. Berdoa dan berusaha.” Ucap mama Najwa memeluk gadis itu.
Setelah itu nenek Ayesha pun memeluk cucu mantu nya itu yang dia tahu memang sedang menyimpan kesedihan nya sendiri.
Setelah bicara semua dan saling bertemu satu sama lain akhir nya mereka pun segera mencari tempat di mana mereka bisa tinggal. Tidak mungkin mereka tinggal di kediaman mama Najwa dan papa Khabir yang sebagai pusat pesta pernikahan itu. Akhir nya para pasangan anak muda mereka tinggal di kediaman Freya dan Alvino yang ada di sana. Sedangkan untuk para saudara mama Najwa tinggal di kediaman Zein dan Deyana.
***
Kini Kenzo dan Irma sedang berada di kediaman Freya lebih tepat nya di salah satu kamar yang ada di kediaman berlantai dua itu.
Irma duduk di ranjang dengan wajah sedih nya. Sungguh, dia sangat ingin hamil tapi tiga hari lalu tamu nya datang hingga membuat mood nya hancur berantakan. Sungguh sangat berantakan hingga membuat nya semakin kesal dan kesal saja.
“Sayang, apa kamu masih memikirkan kehamilan itu? Jangan begitu dong sayang. Jangan sedih. Jika memang kita belum di beri keturunan itu berarti kita belum di percayai untuk mendapatkan nya. Kenapa harus sedih seperti itu. Kita akan berusaha untuk mendapatkan nya nanti. Seperti yang mama Najwa katakan bahwa kita ini baru saja menikah dan belum hamil adalah hal yang wajar. Kita masih di minta untuk berpacaran dulu. Mempersiapkan diri kita untuk menyambut anak kita kelak.” Ucap Kenzo membujuk istri nya itu.
“Tapi aku sangat ingin hamil kak. Aku sudah membaca semua artikel tentang kehamilan. Aku sudah minum obat penyubur kandungan yang di rekomendasikan oleh kak Risya. Kita juga sudah menerapkan gaya yang baik agar bisa cepat hamil saat berhubungan. Tapi kenapa juga belum di beri. Ini pasti karena penyakit yang ku der--” ucapan Irma terhenti karena langsung di bungkam oleh Kenzo dengan ciuman nya. Dia sangat tidak suka istri nya itu membahas penyakit nya dan minder karena hal itu.
“Ingat sayang. Kamu gak sakit. Apa kah kamu akhir-akhir ini masih merasakan sakit? Apa masih membutuhkan obat? Tidak kan. Maka jangan mengatakan hal itu. Aku tidak suka melihatmu menyalahkan dirimu seperti itu. Anak itu adalah berkat sayang. Jika kita belum di beri maka itu berarti kita di minta untuk mempersiapkan diri dulu untuk menyambut berkat dan tanggung jawab besar itu. Jangan terlalu berpikiran jauh apa lagi menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa hamil. Ingat selama wanita masih memiliki rahim di perut nya maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kita akan mengusahakan yang terbaik agar kau bisa hamil. Tapi jangan sekarang sayang. Pernikahan kita baru saja dan seperti kata keluargaku hamil dan tidak itu adalah berkat yang harus kita terima. Jangan menyalahkan dirimu untuk ini. Aku tidak masalah sama sekali jika memang kita tidak memiliki anak. Kita akan hidup berdua dan saling mencintai satu sama lain.” Ucap Kenzo memeluk istri nya itu.
Irma melepas pelukan mereka dan menatap suami nya dengan air mata yang sudah di pipi nya. Kenzo segera mengusap air mata di pipi istri nya itu dan mengecup kedua bola mata milik istri nya itu, “Jangan menangis sayang. Aku tidak suka melihatmu mengeluarkan air mata. Hanya boleh ada tangis kebahagiaan saja. Jangan ada tangis kesedihan. Aku tidak akan rela jika harus ada tangis kesedihan yang keluar dari sudut mata mu indahmu ini. Aku merasa gagal membahagiakanmu sayang. Aku mencintaimu dirimu dalam keadaan apapun. Kehadiran seorang itu adalah bonus dalam hidupku. Aku saat menikahimu sudah siap dengan segala konsekuensi ini. Aku sudah bersiap apa bila nanti kita tidak akan memiliki keturunan. Tapi tentu saja setelah kita berusaha. Munafik juga jika aku tidak iri dan tidak ingin memiliki keturunan dari istri ku dari pernikahan kita ini. Tapi aku tidak memaksa sayang. Kita akan berusaha sebisa mungkin sampai Allah bosan mendengar doa dan harapan kita dan dia segera memberikan kehadiran bayi kecil itu di tengah-tengah rumah tangga kita. Jadi aku mohon jangan sedih lagi ya sayang.” ucap Kenzo mengecup kening istri nya itu lembut.
Irma yang mendengar ucapan suami nya itu pun segera memeluk suami nya yang tentu saja di balas oleh Kenzo dengan pelukan tidak kalah lembut, “Tapi aku tetap ingin memiliki anak kak. Aku ingin memiliki anak yang mirip denganmu.” Ucap Irma.
“Aamiin. Semoga saja Allah mendengar doa dan harapan kita ini sayang. Tapi ingat jangan sedih. Okay. Aku tidak suka melihatmu sedih. Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk itu.” ucap Kenzo. Irma pun mengangguk dalam pelukan suami nya itu tanda dia setuju dengan apa yang di katakan suami nya.
Dia sadar bahwa dia tidak akan bisa memaksa takdir untuk berpihak dan segera mengabulkan permintaan nya. Dia tidak akan bisa melakukan hal itu tapi rasa ingin memiliki anak segera membuat nya sedih di tambah dengan hormone menstruasi nya yang membuat mood nya buruk.
“Maafkan aku kak yang selalu merepotkanmu.” Ucap Irma dalam pelukan suami nya itu.
Kenzo segera menggeleng, “Kamu gak merepotkan sayang. Aku sama sekali tidak repot sayang. Kau itu adalah istriku yang harus aku buat tetap bahagia karena aku sudah menjanjikan hal itu kepada mami dan papi.” Ucap Kenzo kembali melabuhkan kecupan di kening istri nya itu.
__ADS_1
Setelah itu Kenzo segera membawa istri nya itu untuk berbaring agar istri nya itu tidak terlalu memikirkan hal kehamilan yang akan membuat mood nya buruk.
“Bagaimana? Apa dia masih sedih dek?” tanya Freya saat Kenzo keluar dari kamar nya itu setelah memastikan Irma terlelap dalam tidur nya.
Kenzo pun mengangguk perlahan lalu dia segera menuju ruang keluarga di sana, “Aku sedih melihat nya seperti itu kak. Aku bisa apa mewujudkan permintaan nya itu. Aku sangat ingin mengabulkan nya tapi jika Allah belum berkehendak aku bisa apa.” Ucap Kenzo mengadu kepada Freya.
Freya pun tersenyum, “Kakak mengerti bagaimana perasaanmu. Kakak juga mengerti bagaimana perasaan Irma. Dia yang sangat ingin memiliki anak maka pasti akan sedih ketika mendengar orang lain hamil apalagi itu adalah bagian dari keluarga nya. Tapi kau harus memastikan mental nya tetap terjaga dek. Itu yang paling penting dari semua nya. Jangan sampai hal ini mempengaruhi mental nya. Kasihan dia. Tapi kakak yakin dia bisa hamil.” Ucap Freya.
Kenzo pun mengangguk, “Aku sudah berusaha untuk menenangkan hati nya itu kak. Semoga saja dia tidak akan sedih lagi. Jujur saja aku lebih sedih melihat nya menyalahkan diri karena belum hamil dari pada kesedihanku ingin memiliki anak. Jujur saja aku juga ingin segera memiliki anak tapi aku tidak memaksa untuk itu.” ucap Kenzo.
Freya pun tersenyum, “Sudah. Jangan di pikirin lagi. Ohiya nanti setelah tamu nya selesai maka berikan obat ini untuk nya. Ini sangat mujarab untuk menyembuhkan gastritis. Semoga saja itu bisa membantu nya dan dia bisa segera hamil. Ingat dek, saat seorang istri sedang terpuruk maka dukungan suami adalah hal yang paling dia inginkan. Memiliki keturunan adalah usaha bersama. Jadi jangan membuat nya merasa hanya berjuang sendiri. Jika kau ingin memiliki keturunan maka lakukan itu dengan penuh tanggung jawab. In Syaa Allah semua nya akan berjalan lancar. Allah pasti akan tersentuh dengan ketulusan kalian.” ucap Freya.
Kenzo pun mengangguk lalu dia segera kembali ke kamar untuk menemani istri nya itu.
“Kenapa dia sayang? Apa Irma masih juga sedih memikirkan kehamilan.” Ucap Alvino yang baru saja dari dapur membuat kopi.
Freya pun mengangguk, “Dia sangat ingin memiliki anak tapi begitu lah.” Ucap Freya.
“Kasihan dia. Tapi apakah memang begitu setiap perempuan sayang. Apa mereka akan sedih jika keinginan mereka tidak terpenuhi?” tanya Alvino.
Freya pun hanya mengangguk, “Setiap wanita apa lagi yang sudah bergelar istri maka memberi keturunan itu adalah menjadi tanggung jawab yang paling besar dan paling menakutkan jika kita tidak bisa mewujudkan nya. Kita pasti akan sedih sendiri dan merasa gagal menjadi seorang wanita jika tidak bisa hamil.” Ucap Freya.
Alvino pun tersenyum lalu membawa Freya ke dalam pelukan nya, “Jadi apakah ini alasan yang membuatmu sedih berhari-hari saat itu. Saat mengetahui bahwa rahimmu sudah di operasi dan kau tidak bisa hamil lagi?” tanya Alvino.
Freya pun mengangguk, “Rahim bagi seorang wanita itu adalah harapan dan kehidupan nya by. Aku tentu saja sedikit kecewa dengan keputusan yang kalian ambil saat itu. Tapi kini aku mengerti bahwa kau melakukan nya untuk kebaikan semua nya. Kau melakukan nya untuk menyelamatkan aku. Namun tetap saja aku juga sedih saat itu mana di tambah juga kau ikut melakukan operasi yang sama.” ucap Freya.
“Aku melakukan itu karena tidak ingin merasa bahwa aku egois. Aku juga ingin ikut berkorban bersama pengorbanan yang kau lakukan untuk melahirkan putri kita ke dunia ini. Lagi pula kita saat itu sudah memiliki lima orang anak dan aku merasa itu sudah cukup untukku. Aku tidak butuh yang lain lagi. Aku hanya ingin memiliki anak darimu saja dan lihat lah anak-anak kita mereka tumbuh dengan baik walaupun sempat ada tragedy yang menimpa putri sulung kita.” Ucap Alvino.
“Sudah. Jangan pikirkan kejadian yang membuat kita sedih itu. Kita harus bersenang-senang. Setelah pernikahan Risya selesai kita akan berlibur. Semua pasti akan baik. Jangan terlalu bersedih karena hal itu.” ucap Freya.
***
Keesokkan hari nya kini di kediaman mama Najwa dan papa Khabir semua sibuk dengan persiapan akad yang akan di laksanakan beberapa jam ke depan. Akad akan di laksanakan pada pukul 09.00 nanti.
Frisya di kamar nya selepas sholat subuh tadi langsung di make up oleh tim MUA yang sudah biasa merias mereka ketika menikah. Sudah langganan. Mulai dari Freya menikah. Lalu Kiana, Friska, bahkan Irma juga dan kini adalah Frisya karena memang mereka sudah tukang make up handal yang riasan nya pun sesuai dengan apa yang di inginkan oleh pengantin yang akan menikah.
Frisya di kamar nya selama di make up itu dia beristiqfar dan bersholawat untuk mengendalikan kegugupan nya. Frisya pun menjadi bingung sendiri kenapa dia bisa segugup ini padahal pria yang akan menikahi nya adalah pria yang sudah dia kenal dan mereka pun menikah atas dasar saling mencintai satu sama lain. Seharus nya dia tidak segugup ini. Jujur saja kegugupan nya ini melebihi saat dia meracik obat dan menguji nya. Melebihi rasa gugup nya saat maju sidang atau ujian proposal. Ini kegugupan yang berbeda dari beberapa kejadian yang sudah dia jalani.
“Apa kak Reya dan kak Kia lebih gugup dariku saat mereka menikah saat itu. Pasal nya mereka menikah dengan seseorang yang baru saja mereka kenal. Huft, ternyata seperti ini rasa nya akan menikah. Ada aja ujian nya. Pantas saja kadang pernikahan batal padahal akad sudah di depan mata.” Batin Frisya sambil tetap beristiqfar dan bersholawat karena seperti apa yang di katakan Freya saat lamaran ketika gugup maka ucapkan hal itu semua akan baik-baik saja nanti.
“Kak Reya datang lah. Aku butuh dirimu.” Batin Frisya.
Tidak lama setelah permohonan Frisya itu selang satu menit saja tiba-tiba Freya masuk ke kamar nya itu, “Apakah kau gugup dan memohon agar aku segera datang dek?” tanya Freya.
“Kak Reya!” panggil Frisya sambil melihat kakak nya di cermin.
Freya pun tersenyum lalu mendekati adik bungsu nya itu yang di takdirkan melepas masa lajang nya lebih cepat dari yang sudah di rencanakan.
“Kak, aku sangat gugup dan memang benar aku baru saja memohon agar kau segera datang. Apa kah kau mendengar nya?” tanya Frisya.
Freya tersenyum mendengar ucapan adik nya itu, “Kakak bukan mendengar nya tapi sudah menduga nya. Kakak ini bukan seseorang yang bisa mendengar kata hati orang lain. Kakak masih manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan super itu.” ucap Freya.
Frisya pun terkekeh, “Sudah, jangan tertawa nanti riasanmu rusak.” Ucap Freya.
__ADS_1
Frisya pun menurut lalu dia fokus di rias. Jujur saja kedatangan Freya dengan mengajak nya bicara membuat nya sedikit tidak gugup dan teralihkan dari memikirkan akad pernikahan yang akan di lakukan dua jam lagi.
Frisya segera di bantu memakai pakaian adat khusus akad pernikahan tentu saja. Akhirnya setelah cukup memakan waktu yang lama kini Frisya sudah cantik dengan pakaian akad nya itu, “Ahh adik kakak sangat cantik.” ucap Freya.
“Kakaakk!” ucap Frisya manja.
“Kakak tidak menyangka bahwa adik kakak akan melepas maja lajang nya lebih cepat dari yang di rencanakan.” Ucap Freya.
“Itu salah siapa coba. Kakak yang merencanakan semua nya hingga membuat kak Fazar mempercepat pernikahan padahal seharus nya aku masih memiliki waktu sekitar seminggu lagi dengan status lajang.” Ucap Friska.
Freya pun terkekeh, “Maaf dek. Ini di luar rencana kakak. Sudah lah ini memang sudah takdir. Terima saja dengan senang hati. Kakak yakin menikah hari ini atau pun menikah nanti sama saja. Fazar akan menjagamu. Dia laki-laki yang bertanggung jawab. Kakak iparmu sendiri yang memilih nya untuk jadi pasanganmu.” Ucap Freya.
“Aku tahu kakak dan kakak ipar itu adala mak comblang terbaik.” Ucap Frisya.
“Tapi kamu juga menyukai nya bukan. Kakak tahu kau mencintai nya.” Ucap Freya.
Frisya yang mendengar ucapan kakak nya itu pun tersenyum malu, “Kakak jangan menggodaku. Jika memang kau sudah mengetahui nya maka gak perlu kau utarakan. Aku sedang malu saat ini.” ucap Frisya.
Freya pun tersenyum dan menurut apa yang di katakan oleh adik nya itu. Dia akan mengentikan pembicaraan akan hal ini.
“Ck, ternyata kak Reya sudah di sini padahal kami cari-cari di depan. Tapi ternyata sedang berada dengan calon pengantin.” Ucap Friska yang masuk dengan Kiana dan Irma di belakang nya.
Freya dan Frisya pun tersenyum, “Dia memanggilku dek. Dia memanggilku dalam batin nya. Jadi mau tak mau aku harus datang karena dia sedang gugup.” Ucap Freya yang mendapat tatapan tajam dari Frisya karena mulut kakak sulung nya itu sangat ember.
“Kamu sangat cantik dek.” ucap Kiana.
“Terima kasih kak Kia. Kakak juga semakin cantik. Apa dia perempuan?” tanya Frisya menyentuh perut Kiana.
“Belum cukup umur dek untuk bisa mengetahui jenis kelamin nya.” Ucap Friska teringat dengan suami nya saat kemarin melakukan pemeriksaan dengan nya.
“Selain itu juga aku dan suamiku sudah memutuskan untuk tidak akan melakukan USG melihat jenis kelamin nya. Biarlah itu jadi kejutan untuk kami nanti yang terpenting dia sehat dan baik-baik saja. Itu yang paling penting.” ucap Kiana.
“Yah, itu memang yang terpenting. Anak perempuan maupun laki-laki sama saja. Mereka memiliki kemampuan dan keunikan mereka sendiri. Aku juga tidak melakukan USG untuk ke empat anakku kecuali si bungsu karena dia adalah hasil request dari Anind.” Ucap Freya tersenyum lalu dia menggenggam tangan Irma seolah menguatkan wanita itu untuk tidak bersedih.
“Kakak benar. Mau laki-laki atau pun perempuan semua sama saja. Tidak ada yang berbeda.” Timpal Friska.
“Tapi tentu saja kak Kia dan kakak ipar Zean pasti tetap memiliki keinginan untuk memiliki anak pertama laki-laki atau perempuan dulu.” Ucap Frisya.
“Itu pertanyaan atau pernyataan dek.” ucap Friska tertawa.
“Ck, maksudku itu kak Kia dan kakak ipar Zean pasti sudah punya keinginan mau punya anak dengan jenis kelamin apa untuk anak pertama.” Ucap Frisya sebal menatap ketiga kakak nya itu yang menertawakan nya.
“Hum, aku dan suamiku sudah membicarakan hal ini. Dia ingin anak pertama kami itu perempuan karena saking ingin nya punya anak secantik Azwa. Sedangkan aku ingin anak pertama kami itu laki-laki karena aku tidak ingin anakku nanti merasakan menjadi kakak sulung perempuan. Aku ingin putriku nanti memiliki abang yang akan melindungi nya.” Ucap Kiana.
“Harapanmu sama dengan harapanku saat aku menikah dek saat itu dek. Aku dan kakak ipar kalian juga sama. Aku ingin punya anak pertama laki-laki dan dia mau anak pertama perempuan. Tapi ternyata Allah lebih mendengar doaku dan permohonanku sehingga membuat Anand lahir lebih dulu.” Ucap Freya.
“Jadi kita akan lihat lagi untuk kak Kia dan kakak ipar Zean. Permohoan dan doa siapa yang di ijabah sama Allah.” Ucap Frisya.
“Ohiya kalau kamu bagaimana Riska? Kamu ingin punya anak pertama laki-laki atau perempuan?” tanya Kiana.
“Hum, kami belum sempat membicarakan hal ini tapi seperti nya aku akan menerima apapun yang di berikan Allah. Mau perempuan atau pun laki-laki yang penting dia sehat.” Ucap Frisya.
“Kami tahu hal itu tapi kami ingin tahu keinginanmu.” Ucap Kiana.
__ADS_1
“Hum, seperti nya anak laki-laki untuk jadi anak pertama itu lebih baik.” ucap Friska.
“Sudah. Jangan bahas tentang ini lagi. Kita fokus saja dengan akad pernikahan Risya.” Ucap Freya dengan terus menggenggam tangan Irma. Irma pun tersenyum menatap Freya. Dia sangat terharu dengan apa yang di lakukan Freya itu. Freya tidak mengizinkan nya untuk sedih. Walau hanya genggaman tangan saja tapi menenangkan hati nya.