Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
55


__ADS_3

Zean setelah dikenalkan kepada papa Vian dan papa Vian menerimanya dengan baik bahkan pria yang tengah sakit itu tersenyum senang terpancar dari raut wajahnya. Setelah Zean berkenalan dengan seluruh keluarga kini dia berusaha menghubungi orang tuanya namun entah kenapa nomor keduanya tidak aktif. Zean bahkan menghubungi asisten daddynya namun sama saja tidak di angkat. Dia juga bahkan menelpon telepon rumah namun tidak ada yang menjawab.


Alvino yang menyadari kegelisahan Zean pun mendekat dan menepuk bahu laki-laki itu yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya, “Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Alvino.


Zean menggeleng, “Hanya saja nomor mom dan dad gak aktif kak. Aku sudah menghubungi asisten daddy bahkan telepon rumah namun semuanya gak ada yang tersambung.” Ucap Zean.


Alvino tersenyum, “Tenanglah dan coba nanti. Saat ini kita harus mempersiapkan pernikahan kalian. Walau di lakukan di rumah sakit namun tetap saja harus bagus. Ini memang hanya akad nikah saja namun tetap harus tercatat. Jadi aku butuh dokumen identitasmu.” Ucap Alvino.


Zean pun mengangguk, “Erlan sedang mengurusnya kak. Aku sudah memintanya melakukan itu.” ucap Zean.


“Baiklah jika begitu.” Ucap Alvino yang kini dia sibuk mempersiapkan dokumen Kiana. Dia meminta Kenzo melakukan itu sekaligus juga mengambilkan dokumen papa Vian yang akan menjadi wali nikah untuk putrinya itu.


Freya dia sibuk menghubungi pihak butik dan salon Salwa, “Kia kamu lebih baik melakukan sedikit perawatan di salon kak Salwa. Aku sudah menghubunginya.” Ucap Freya kepada adiknya.

__ADS_1


Kiana menatap kakaknya, “Gak usah menolak ini untukmu. Kakak tahu pernikahan ini dadakan namun tetap saja ini pernikahan adikku dan aku tidak ingin pernikahannya tidak berkesan.” Ucap Freya.


Kiana pun tersenyum seolah mengucap terima kasih begitu juga papa Vian yang senang Freya selalu menganggap anaknya adalah adik padahal hanyalah adik sepupu, “Terima kasih nak Reya.” Ucap papa Vian menatap Freya.


Freya pun tersenyum lalu menggenggam tangan papa Vian, “Paman, bagiku Kiana adalah adikku sama dengan Friska, Frisya, Kenzo, Clemira dan Mark bahkan kedua adik kecilku Nino dan Nina. Mereka adalah adikku, aku akan memastikan mereka selalu bahagia. Jadi jangan mengucapkan terima kasih kepadaku paman.” Ucap Freya.


Papa Vian pun tersenyum lalu mengangguk, “Khabir, kau sangat hebat memiliki putri seperti Freya.” Ucap papa Vian menatap papa Khabir.


“Kau benar aku memang hebat dan beruntung memilikinya tapi itu bukan lagi keberuntunganku sejak dia menikah. Dia adalah milik suaminya dan keluarga suaminya. Namun aku tetap bangga memilikinya.” Ujar papa Khabir.


Papa Khabir pun tersenyum mendengar ucapan putrinya itu lalu membalas pelukan Freya. Jujur saja dia merindukan bagaimana putri pertamanya itu mengomelinya jika lupa minum obat. Jujur saja dia rindu masa kecil putrinya itu yang selalu bermanja di pangkuannya. Freya adalah putri sulungnya, seorang anak yang lahir yang mengubah statusnya dari seorang suami menjadi ayah. Freya adalah putri sulungnya yang pertama kali memberinya gelar ayah. Freya yang pertama kali menyebutnya papa maka untuk itulah dia pasti merindukan putri kecilnya itu yang kini sudah tidak kecil lagi karena dia juga sudah jadi seorang istri, seorang ibu dari lima orang anak dan juga kakak yang bertanggung jawab untuk semua adik-adiknya hingga membuat Freya tidak memiliki waktu untuk kedua orang tuanya. Papa Khabir kadang rindu dengan sikap manja putri sulungnya itu yang memang sangat jarang dia perlihatkan karena dia sadar akan statusnya sebagai kakak yang harus menjadi contoh untuk adik-adiknya. Memang itulah nasib dan takdir menjadi anak pertama.


Alvino yang juga mendengar ucapan papa Khabir tersenyum dan mendekati papa mertuanya itu, “Pah, dia memang istriku tapi dia tetaplah putrimu. Aku sangat berterima kasih kepada papa dan mama yang sudah mempercayakan putri kebanggaan kalian kepadaku. Aku merasa orang yang paling beruntung.” Ucap Alvino.

__ADS_1


Papa Khabir pun tersenyum lalu melepas pelukan putrinya dan beralih memeluk menantunya, “Papa juga sangat bangga padamu karena sudah menerima dan menjaga putriku dengan sangat baik.” ucap papa Khabir.


Setelah acara haru mengharu itu kini di aula rapat rumah sakit itu sedang di hias dengan cepat karena akad akan di adakan di sana, sebenarnya Kiana mau di ruang perawatan papanya saja karena ruangan itu juga sudah besar tapi Alvino dan Freya tidak setuju dan memilih ruang rapat untuk menjadi tempat akad nikah.


Kiana sudah di minta untuk ke salon dengan di antar oleh supir pribadi Freya sementara Zean dia sibuk menghubungi orang tuanya yang juga kini belum bisa di hubungi. Zean juga memastikan bahwa dokumen pernikahannya cepat terselesaikan. Dia bahkan sampai menghubungi orang negaranya untuk mengurus dokumen di sana agar dokumen pernikahannya tidak memiliki kendala. Dia juga tidak ingin hanya menikah secara agama saja dengan gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Walau ini hanya akad saja tapi harus tercatat secara Negara.


Alvino dan Freya sibuk dengan persiapan pernikahan dadakan itu sementara papa Khabir dan mama Najwa mereka kembali ke rumah terlebih dahulu untuk menjemput nenek Ayesha agar hadir di pernikahan cucu keduanya itu. Kenzo yang kini menjaga papanya di ruang perawatan, “Zo!” panggil papa Vian kepada putranya itu.


Kenzo pun segera menatap papanya dan dia kembali duduk menggenggam tangan papanya, “Zo, tolong jaga kakakmu dengan baik walau dia sudah menikah. Papa bukan tidak mempercayai suaminya hanya saja papa tahu ini adalah pernikahan dadakan dan mereka juga baru bertemu maka tetap saja papa khawatir maka tolong jaga dia baik-baik.” ucap papa Vian. Dia memang di beri tahu semua gak ada yang mereka sembunyikan dari papa Vian terkait pernikahan dan calon yang akan menikahi Kiana.


Kenzo mengangguk yakin, “Pah, kenapa kau sudah berpesan begini. Apa kau mau pergi? Tidak bisakah kau bertahan sedikit lebih lama lagi sampai cucumu lahir nanti.” Ucap Kenzo menahan tangisnya agar tidak jatuh. Dia memang tidak begitu dekat dengan papanya semenjak dia tahu kenapa mamanya meninggal. Dia sudah memaafkan papanya hanya saja dia tidak bisa akrab dengan papanya. Yah, memang anak lelaki sulit akrab dengan papanya.


Papa Vian tersenyum, “Papa sudah bahagia nak walau hanya melihat kakakmu menikah. Papa sudah senang masih di beri waktu sampai kakakmu menikah. Jadi papa tidak ingin meminta apa lagi, papa sudah harus pergi. Kau harus menjaga kakakmu. Papa janji saat pernikahanmu nanti papa akan datang mungkin juga dengan mamamu.” Ucap papa Vian.

__ADS_1


Kenzo yang mendengar itu langsung menangis dan memeluk papanya. Seorang ayah dan anak laki-lakinya itu kini telah berdamai satu sama lain. Semua gundah gulana yang mengekang keduanya kini hilang dan berganti dengan kedamaian.


__ADS_2