
Freya yang merasa tujuannya datang ke kantor Kenzo sudah selesai pun segera pamit pulang karena memang masih memiliki urusan lain yang tidak kalah penting. Dia datang ke kantor Kenzo hanya dengan dua tujuan. Tujuan pertama yaitu untuk mengetahui dengan jelas perasaan adiknya itu dan juga melihat langsung seperti apa sosok gadis yang di sukai oleh adiknya itu. Lalu tujuan kedua yaitu untuk memberitahukan lamaran Friska yang akan di adakan malam ini.
Freya segera pamit lalu dia keluar dengan di antar oleh Kenzo. Freya berhenti di depan meja sekretaris lalu menatap Irma yang sedang berdiri sambil menunduk itu. Freya tersenyum lalu dia melangkah kembali menuju lift, “Sampai sini saja Kenzo. Kakak bisa pulang sendiri kamu lanjutkan saja pekerjaanmu dan jangan lupakan rencanamu. Kakak menunggu kabar baik darimu.” Ucap Freya lalu segera menutup pintu lift begitu mendapatkan anggukan dari adiknya itu.
Kenzo segera berbalik kembali menuju ruangannya dan tiba di meja sekretaris di mana ada Grey dan Irma di sana dia berhenti, “Irma, bisa kamu ikut saya malam ini?” tanya Kenzo menatap gadis itu.
Irma yang di sebut namanya pun segera menatap Kenzo, “Kemana pak?” tanya Irma.
“Saya ingin menghadiri lamaran saudara saya. Jadi maukah kamu menemani saya mala mini?” tanya Kenzo.
Irma yang mendapat tawaran itu kaget begitu pun dengan Grey yang mendengarnya dia juga tidak kalah kaget. Irma segera menatap Grey seolah meminta bantu untuk menjawab apa dan Grey tersenyum sambil mengangguk meminta Irma untuk menyetujuinya saja, “Emm, saya akan meminta izin dulu kepada orang tua saya pak.” Ucap Irma.
Kenzo pun mengangguk, “Saya tunggu kabar baiknya. Ohiya saya saja yang meminta izin. Sini biar saya yang bicara dengan orang tuamu untuk meminta izin mengajakmu.” Ucap Kenzo menjulurkan tangannya seolah meminta ponsel Irma agar bisa menelpon orang tua Irma.
__ADS_1
Irma segera menggeleng dengan cepat, “Ahh gak usah pak. Biar saya sendiri saja.” tolak Irma. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Kenzo bicara dengan papi atau maminya. Nantinya semuanya akan berantakan, identitasnya yang selama ini dia tutupi akan terbongkar nanti.
Kenzo pun mengangguk, “Baiklah. Tapi kamu harus pastikan mereka mengizinkanmu ikut karena saya tidak menerima penolakan. Ohiya jika kau berubah pikiran atau nanti kedua orang tuamu tidak percaya pada perkataanmu dan tidak mengizinkanmu maka kamu bisa memanggil saya biar saya sendiri yang meminta izin untuk mengajakmu.” Ucap Kenzo lalu segera masuk kembali menuju ruangannya meninggalkan Irma yang mengelus dadanya karena tidak percaya dengan apa yang di minta oleh Kenzo itu serta Grey yang tersenyum karena dia sudah menduga sesuatu. Sepertinya akan ada hubungan antara Irma dan pak direkturnya itu.
Irma segera mendudukan tubuhnya di kursinya, “Kak, kira-kira apa yang terjadi pada pak Dirut sehingga dia meminta hal seperti itu? Kenapa coba harus aku yang di minta untuk menemaninya ke lamaran saudaranya itu. Kan bisa saja dia mengajak yang lain.” Ujar Irma.
Grey tersenyum mendengar perkataan Irma itu, “Menurutmu kenapa dia melakukan itu jika tidak ada sesuatu. Sejauh yang saya tahu selama saya bekerja menjadi sekretarisnya dari awal dia di percayakan untuk memegang kendali kantor cabang ini baru kali ini dia meminta seseorang untuk menemaninya di acara keluarga. Jadi menurut pendapat saya kau istimewa. Sudahlah jangan pikirkan apapun karena kau harus memikirkan bagaimana caranya agar orang tuamu itu mengizinkanmu pergi dengan pak Dirut nanti. Jika kau tidak bisa mendapatkan izin itu maka kau tahu sendiri konsekuensinya.” Ujar Grey tersenyum.
Irma yang mendengar ucapan Grey pun tiba-tiba melemah. Entah cara apa yang harus dia lakukan agar mendapat izin dari papi dan maminya itu karena selama ini dia tidak pernah di izinkan keluar jika malam karena kondisinya yang tidak memungkinkan tapi sepertinya dia tetap harus melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan izin itu. Dia tidak mau jika nanti identitasnya terbongkar begitu saja. Irma pun duduk mengerjakan laporannya sambil otaknya memikirkan alasan apa yang harus dia buat untuk mendapat izin dari orang tuanya.
Kenzo segera duduk dan tersenyum membaca email yang di kirimkan oleh Anand kepadanya. Sepetinya dia harus belajar dari keponakannya itu agar bisa membobol identitas seseorang yang di lindungi. Yah, walaupun Irma melakukan magang di perusahaan ini tapi tidak ada identitas apapun yang tercantum dalam biodatanya selain namanya dan tanggal lahirnya. Tapi keponakannya itu bisa dengan mudah membobol semuanya dan mengetahui hal yang ingin dia ketahui.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Friska yang baru saja tiba di rumah orang tuanya kaget begitu melihat sudah banyak orang yang bekerja di rumahnya yang sedang memasang tenda seperti akan ada pernikahan saja.
Friska yang hanya bisa kaget dan bercampur bingung pun segera masuk ke dalam rumah dengan segala pertanyaan yang berkerumun di otaknya. Friska segera menemui mamanya yang sedang sibuk dengan semua persiapan di dapur, “Mah, ada apa ini? Kenapa banyak orang dan ada tenda di pasang di depan?” tanya Friska setelah membawa mamanya itu menjauh dari dapur.
Mama Najwa pun tersenyum melihat ekspresi kaget di wajah putri keduanya itu. Dia mengerti dengan ekspresi itu karena memang putrinya itu tidak mengetahui sama sekali terkait rencana ini, “Tentu saja ini lamaranmu nak. Lamaranmu yang akan di laksanakan malam ini.” ucap Mama Najwa lembut.
Friska yang mendengar jawaban mamanya itu pun kaget walau dia sudah menduganya tapi tetap saja dia kaget mendengar itu, “Kok, bisa? Bukankah hanya lamaran biasa saja hanya antara keluarga? Kenaap sudah jadi lamaran resmi?” tanya Friska.
Mama Najwa kembali tersenyum, “Jika kau ingin tahu hal ini maka tanyakan pada kakakmu dan juga calon suamimu itu. Mereka tidak ingin menunda terlalu lama. Jika bisa dilakukan hari ini mengapa harus besok.” Ucap mama Najwa.
“Tapi tetap saja mah. Gak boleh dadakan begini dong. Aku saja yang di lamar gak tahu sama sekali. Ahh kakak kenapa dia tidak mengatakan ini kepadaku dan justru menyembunyikannya. Ahh aku mengerti kenapa aku di minta segera datang. Mah, apa ini tidak terlalu cepat? Kalian bahkan belum mengenalnya lalu lamaran ini sudah lamaran resmi. Aku--”
“Kamu jangan khawatirkan apapun karena kami sudah mengetahuinya sebelumnya. Orang tuanya sudah memberi kode kepada kami sebelumnya. Kami mungkin tidak mengenalnya dengan baik tapi kau pasti mengenalnya dengan baik. Jadi apa yang harus menjadi keraguan kami. Selain itu kakakmu sudah memberikan restunya.” Ujar mama Najwa tersenyum.
__ADS_1
“Tapi mah--”