Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
103


__ADS_3

Friska tersenyum mendengar gombalan calon suaminya itu. Namun dia percaya dengan apa yang di ucapkan oleh laki-laki itu karena memang bisa di lihat laki-laki itu benar-benar tulus dengan perkataannya.


Friska sudah memaafkan dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dan dia sudah memutuskan meneriman pria di hadapannya itu sebagai suaminya kelak maka itu berarti dia sudah mempercayakan semuanya kepada laki-laki itu.


“Dek, kamu tidak ingin membalas ungkapan cinta kakak?” tanya Rezky.


Friska pun tersenyum, “Riska akan menjawabnya nanti tidak sekarang.” Ucap Friska.


“Ish kok gitu. Bisa gak sih di maju in sekarang aja itu nantinya? Kakak ingin mendengarnya sekarang bukan nanti tapi gak apalah jika memang kau ingin nanti. Kakak akan mencoba bersabar.” Ucap Rezky.


“Yah kakak memang harus bersabar sampai waktunya tiba.” Timpal Friska. Rezky pun tertawa karena itu. Sepertinya memang benar bahwa dirinya telah jatuh dalam pesona wanita itu hingga sudah tidak bisa bangkit lagi. Sudah terkunci kepada seorang gadis yang bernama Friska Nur Sakila Abraham. Cinta dan kasih sayang itu sudah menjadi milik gadis itu.


***


Kita tinggalkan pasangan calon pengantin itu mari kita beralih kepada pasangan yang saling diam-diaman menyimpan rasa. Frisya mengambil air minum di meja lalu berdiri keluar karena dia ingin menghirup udara segar. Lagian pesta pernikahan Kiana dan Zean tinggal bagian akhir saja. Freya dan Alvino saja sudah memesan kamar di hotel ini untuk mengistirahatkan anak-anak karena memang Freya dan Alvino tidak ingin anak-anak Freya terlalu tersorot kamera.


Frisya sambil membawa sebotol air di tangannya berjalan menuju luar hotel. Dia tidak menyadari di ikuti oleh seseorang dari belakang. Frisya menuju taman yang ada di hotel itu, sebuah taman yang menghadap kolam renang terbuka di sana. Frisya mencari tempat duduk dan setelah menemukan tempat yang tepat dia pun duduk dan membuka air minumnya lalu meneguknya.

__ADS_1


“Kenapa keluar?” tanya seseorang dari belakang Frisya.


Frisya yang mendengar suara yang sangat dia kenal pun menengok ke belakang sekilas lalu kembali melihat ke depan di mana ada kolam renang di sana, “Pengen menghirup udara Negara S saja.” jawab Frisya asal.


“Gak beda kok udaranya dengan Negara kita. Sama aja.” Ujar Fazar lalu duduk di samping Frisya.


“Memang sama saja tapi suasananya tentu saja berbeda.” Balas Frisya.


“Apa yang membuat suasananya berbeda? Bukankah sama aja.” Ujar Fazar.


Frisya yang mendengar itu segera menatap Fazar sekilas, “Kenapa kakak seolah menyindirku. Aku hanya ingin menghirup udara di sini. Kenapa kakak datang mengikutiku dan mempertanyakan apa yang aku lakukan?” ucap Frisya sedikit kesal.


“Emang kenapa harus bingung? Saya tidak melakukan kesalahan kepada anda. Jangan suka menuduh deh.” Ucap Frisya tetap menatap kolam di depannya.


“Saya tidak menuduh dek. Tapi memang benar apa yang saya katakan itu adalah kenyataannya. Coba apa alasan kamu beberapa hari ini diam dan bersikap cuek kepada saya?” tanya Fazar masih dengan menatap gadis di sampingnya itu.


Frisya yang mendengar ucapan Fazar itu sedikit menyunggingkan senyum tipis bahkan Fazar pun tidak menyadarinya. Frisya menatap sekilas ke arah Fazar lalu saat kedua mata mereka beradu, Frisya segera mengalihkan kembali pandangannya ke kolam, “Ayo jawab dek. Tuh beneran kan kamu memang mendiami saya. Buktinya saat ini kamu tidak menjawab apa yang saya tanyakan dan justru memandangi kolam renang itu. Apa kolam renang itu lebih menarik dari pada saya?” ucap Fazar di akhir kalimatnya dengan suara rendah.

__ADS_1


Frisya yang mendengar itu ingin tertawa tapi di tahannya, “Kak, Risya gak punya tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan kakak karena Risya tidak merasa menjauhi kakak ataupun bersikap cuek kepada kakak.” Ucap Frisya lembut.


“Kamu mencoba berbohong dek. Saya tahu apa alasan kamu menjauhi saya tapi kamu mencoba untuk bersikap bahwa semuanya baik-baik saja. Saya tahu saya gak co--”


“Jangan bicara sembarangan kak. Aku bukan gadis seperti itu, aku bukan gadis yang melihat seseorang dari kekayaannya.” Potong Frisya tegas. Ekspresi wajahnya berubah dia menatap kolam itu dengan kesal.


Fazar yang menyadari dia telah salah bicara pun hanya bisa menghela nafasnya. Bukannya hubungan mereka membaik jusru memburuk, “Maaf dek!” ucap Fazar lirih.


Frisya tetap diam saja, dia masih malas menanggapi Fazar yang menganggapnya sebagai gadis yang gila harta. Munafik Frisya jika mengatakan dia menyukai uang namun uang juga bukan segalanya. Dia tidak akan menjual cintanya hanya demi uang. Dia ingin memiliki seseorang yang dia cintai dan mencintainya sama seperti kakaknya. Dia juga ingin hidup bahagia dengan takdirnya.


“Dek, maaf jika aku salah bicara. Aku tidak bermaksud begitu hanya saja aku memang sudah sadar diri.” Ucap Fazar merasa bersalah.


“Aku tidak suka di anggap seperti itu kak. Emang apa yang aku miliki jika harus menganggap orang lain rendah. Aku ini adalah putri mama Najwa dan papa Khabir. Aku beruntung karena menjadi adik kak Reya yang memiliki suami pengusaha. Hanya itu saja yang membuatku seperti ini karena memiliki kakak seperti kak Reya. Lalu kenapa semua orang menganggap bahwa aku akan menilai seseorang dari kekayaannya. Aku bukan gadis yang berasal dari keluarga kaya kak. Jika kau mengerti aku maka kau tidak akan pernah mengatakan hal itu. Jujur saja aku kecewa padamu jika aku dalam pikiranku adalah orang yang seperti itu.” ucap Frisya hendak berdiri.


Fazar yang mendengarkan penuturan gadis yang dia cintai dalam diam itu menjadi semakin merasa bersalah. Dia menahan lengan Frisya yang hendak berdiri, “Maaf dek. Maafkan kakak yang salah bicara. Sungguh kakak tidak bermaksud begitu.” Ucap Fazar.


Frisya yang terlanjur kecewa dan kesal dia tetap pergi dan segera mencari taxi pulang ke hotel kakak iparnya. Fazar yang melihat itu segera menyusulnya menggunakan mobil. Freya dan Alvino yang juga keluar dari hotel mereka melihat Frisya masuk ke taxi dan di susul oleh Fazar di mobil segera menatap suaminya seolah bertanya apa yang sedang terjadi tapi Alvino juga hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu, “Hubby telpon Fazar. Dia harus memastikan Frisya sampai dengan selamat. Ini bukan Negara kita. Aku takut jika dia--”

__ADS_1


“Sudah jangan khawatirkan apapun. Aku percaya kepada Fazar yang tidak akan mungkin membiarkan adik iparku itu kenapa-kenapa. Kau kan tahu bahwa Fazar itu yang menjaga adikmu selama ini. Sama sepertiku yang tidak akan membiarkan gadis yang dia cintai terluka maka aku yakin hal itu juga yang akan di lakukan Fazar. Tanpa aku memintanya dia pasti akan memastikan keamanan adikmu itu. jangan khawatir. Sudah lebih baik ayo kita pulang juga.” Ucap Alvino lalu mengajak istri dan anaknya itu ke mobil.


__ADS_2