
Keesokkan paginya, seperti perjanjian semalam bahwa hari ini Fazar akan mengajak Frisya bertemu dengan kedua orang tuanya. Fazar pun pagi itu tepat jam 08.30 sudah berada di parkiran apartemen Frisya datang menjemput gadis itu.
Sementara Frisya di dalam apartemen setelah sarapan tadi dia langsung masuk ke kamar untuk bersiap pergi dan begitu Fazar mengatakan dia ada di bawah. Frisya pun segera keluar dari kamarnya dengan penampilan yang siap pergi menemui calon mertua.
Friska yang berada di ruang keluarga melihat penampilan adiknya itu pun bertanya-tanya, “Mau kemana dek? Kok udah siap aja?” tanya Friska karena dia memang tidak tahu menahu bahwa hari ini adiknya itu akan pergi menemui orang tua Fazar sebab Frisya sendiri memang tidak mengatakan apapun tentang ini semalam.
Frisya yang mendapat pertanyaan dari kakak keduanya itu pun tersenyum, “Mau keluar kak bareng kak Fazar.” Jawab Frisya cengesan.
“Keluar? Kok sepagi ini?” tanya Friska menatap jam dinding yang ada di ruangan itu.
Frisya pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk mencari alasan tepat apa yang harus dia berikan kepada kakak keduanya itu agar tidak curiga. Frisya bukan ingin menyembunyikan hal ini dari keluarganya hanya saja dia belum siap jika kakak keduanya itu akan membuat kehebohan nanti. Dia akan mengatakan ini jika nanti sudah bertemu dan berkenalan langsung dengan orang tua Fazar.
“Ayo katakan ada apa. Kau menyembunyikan sesuatu yaa?” ucap Friska menebak.
Frisya menggeleng, “Ish gak ada kak Ris. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu dan dari keluarga kita. Gak ada manfaatnya sama sekali untukku. Sudahlah aku mau pamit pergi dulu. Kasihan kak Fazar sudah menunggu di bawah. Kak Ris baik-baik yaa di sini.” Ucap Frisya lalu segera memeluk kakak keduanya itu dan mencium punggung tangan Friska untuk berpamitan.
Friska pun hanya bisa menghela nafas melihat punggung adiknya itu yang menghilang di balik pintu, “Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku. Masa iya sepagi ini sudah mau jalan-jalan. Ahh apa jangan-jangan kak Fazar akan membawanya menemui keluarganya. Ya sepertinya seperti itu. Baiklah kita tunggu saja Frisya mengatakannya sendiri. Aku yakin dia hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk menceritakan hal ini. Semoga saja apa yang mereka rencanakan semuanya berjalan lancar. Aamiin.” Ucap Friska lalu segera menuju kamarnya untuk bersantai ria menikmati weekendnya.
Sementara di bawah, Frisya tersenyum melihat Fazar yang sudah menunggunya. Frisya segera mendekati pria itu, “Maaf lama. Ohiya apa kakak sudah lama tiba?” tanya Frisya.
Fazar menggeleng, “Baru kok. Kakak juga baru tiba dek. Emm, kita berangkat sekarang?” tanya Fazar.
__ADS_1
Frisya pun mengangguk lalu Fazar membukakan pintu untuk gadis yang dia cintai itu tapi Frisya tidak hendak masuk karena ada mobil yang dia kenal masuk ke halaman apartemen, “Kak Rezky!“ ucap Frisya begitu Rezky keluar dari mobilnya.
Rezky pun tersenyum lalu mengangguk, “Kamu mau kemana calon adik ipar?” tanya Rezky.
“Kami mau--”
“Kami mau jalan-jalan sebentar kak.” Potong Frisya.
Fazar pun mengangguk, “Yah, kami mau jalan-jalan sebentar.” Ucap Fazar membenarkan ucapan Frisya. Dia yakin Frisya pasti punya alasan sendiri sehingga tidak mengatakan alasan sebenarnya kemana tujuan mereka pergi hari ini.
Rezky pun mengangguk saja, “Ohiya kalau calon kakak ipar mau apa kesini? Apa mau mengajak kak Ris jalan-jalan juga?” tanya Frisya.
Rezky lagi-lagi mengangguk, “Iya saya mau menemuinya. Mami ingin dia datang ke rumah makanya saya datang kesini untuk menjemputnya. Dia ada di atas kan?” tanya Rezky.
Rezky pun tersenyum lalu dia kembali mengangguk, “Ini dadakan. Mami baru mengatakannya tadi dan saya belum sempat memberitahukan padanya.” Ucap Rezky.
“Oh pantas kak Ris biasa aja. Risya yakin saat ini dia pasti sedang ada dalam kamarnya menikmati weekendnya dengan berbaring di ranjang empuknya. Lebih baik calon kakak ipar segera menghubunginya dan mengatakan semuanya.” Ucap Friska.
Rezky pun mengangguk, “Ya sudah kalau begitu Risya dan kak Fazar pamit dulu calon kakak ipar. Kami mau jalan-jalan dulu.” Ujar Frisya lalu dia hendak masuk ke mobil.
Fazar pun berpamitan kepada Rezky itu dan dia pun segera masuk ke mobil dan tidak lama mobil itu segera melaju meninggalkan apartemen menuju tujuan mereka yakni ke rumah Fazar.
__ADS_1
Sementara Rezky yang di tinggalkan di parkiran apartemen segera menelpon Friska sang calon istri, “Halo, Assalamu’alaikum dek!” ucap Rezky begitu sambungan telepon tersambung.
“Wa’alaikumsalam kak. Ada apa pagi-pagi begini menelpon?” tanya Friska dengan tiduran di ranjang seperti tebakan sang adik tadi.
“Dek, kakak ada di bawah.” Ujar Rezky.
“Di bawah? Tunggu, maksudnya di bahwa di mana? Di parkiran apartemenku?” tanya Friska kaget segera bangun dari berlari segera menuju balkon untuk melihat Rezky di parkiran.
Rezky yang mendengar bahwa Friska itu sedang berlari dia segera melihat balkon apartemen itu dan tersenyum begitu melihat Friska berada di sana. Rezky pun segera melambai, “Kok, gak bilang-bilang mau ke sini?” tanya Friska sambil menatap Rezky di bawah sana.
“Maaf dek. Dadakan. Ohiya mami ingin kau ke rumah dek. Dia ingin bicara dengan calon menantunya. Makanya kakak ke sini dadakan karena mami juga dadakan mengatakannya. Maaf yaa dek kakak tidak sempat menghubungimu. Sudah kamu siap-siap dulu. Kakak akan menunggumu.” Ucap Rezky tersenyum dari bawah.
“Ish, seharusnya kakak mengatakannya tadi. Ahh masa iya menemui mami dan papi dalam keadaan begini. Riska itu butuh waktu yang lama bersiap sementara kakak sudah menunggu.” Ucap Friska.
“Gak apa-apa sayang. Kakak akan menunggu di restoran saja sambil minum karena gak mungkin kakak menunggu di apartemenmu akan timbul fitnah nanti. Selain itu kakak juga masih sayang tubuh kakak ini dari kemarahan kakakmu itu.” ucap Rezky tertawa dari bawah sana.
Friska pun ikut tertawa mendengar ucapan calon suaminya itu, “Ternyata masih takut juga sama kakak. Yaa sudah Riska mau siap-siap dulu. Berikan waktu setengah jam. Semoga saja cukup.” Ucap Friska.
“Gak apa-apa dek. Satu jam pun kakak bisa menunggu. Gak usah terburu-buru.” Ucap Rezky dari bawah sana.
Friska pun mengangguk lalu setelah itu sambungan telepon segera terputus. Friska segera masuk ke dalam apartemen kembali tapi sebelum itu Friska dan Rezky saling melambai tangan terlebih dahulu. Rezky juga di bawah segera menuju restoran untuk memesan minum menunggu Friska siap pergi.
__ADS_1
Friska di dalam kamarnya segera menuju lemarinya untuk mencari pakaian yang cocok dia pakai menemui calon mertuanya, “Ahh menyebalkan. Aku tidak pernah pusing begini ketika akan pergi. Tapi kenapa hari ini pusing dengan pakaian yang akan aku gunakan.” Ucap Friska sambil memilah memilih pakaiannya.