
Kini Frisya dan Fazar sedang dalam perjalanan menuju apartemen. Frisya segera pulang begitu selesai makan kue dan berbincang dengan orang tua Fazar, “Wah, orang tuamu sangat baik dan asyik yaa kak, aku sampai di beri kue begini.” Ucap Frisya sambil memegang tas berisi kue di tangannya. Yah, ibu Yulia memberikan dia kue sebelum pergi bahkan kedua orang tua Fazar itu mengatakan untuk datang lagi kesana.
“Kamu menyukainya dek?” tanya Fazar hati-hati.
Frisya segera mengangguk, “Tentu saja aku menyukainya kak. Siapa coba yang gak suka mendapat kue gratis begini mana sangat lezat lagi.” Ucap Frisya.
Fazar yang mendengar jawaban Frisya tersenyum pasalnya bukan itu maksud pertanyaannya, “Syukurlah jika kau suka. Ohiya maaf ya dek atas perkataan ibu dan ayah tadi.” Ucap Fazar.
“Emm gak masalah kok, aku tahu itu hanya candaan. Tenang kak, aku tidak akan menjadi istrimu.” Ucap Frisya.
Fazar yang mendengar itu seolah ingin mengatakan bahwa harapan terbesarnya adalah menjadi suami gadis itu, “Hahahh, saya tau juga kok kau hanya bercanda.” Ucap Fazar tertawa miris, sambil dalam batinnya berkata, “Padahal aku sangat berharap itu bukan candaanmu dek.” Batinnya.
Sekitar 20 menit kemudian, kini mobil itu memasuki parkiran apartemen. Frisya segera turun tidak lupa dia membawa barang yang dia beli tadi dan tentu saja tas kue pemberian ibu Yulia tidak terlupakan, “Terima kasih kak sudah mengantarku. Hati-hati di jalan pulangnya.” Ucap Frisya lalu segera berlalu masuk ke apartemen.
Fazar hanya tersenyum sambil memandangi Frisya hingga menghilang di balik pintu apartemen itu, “Kau sangat lucu dek.” Ucap Fazar sebelum dia menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen itu.
***
Frisya masuk ke apartemen sambil bernyanyi ria hingga membuat Friska yang sedang menonton tv menatap adiknya itu, “Dek, kau darimana saja ini sudah membawa barang segitu banyak.” Ucap Friska segera berdiri dan membantu adiknya membawa barang belanjaannya.
“Biasa kak, aku belanja camilan. Ohiya ini kue buatan seseorang untukku. Eehh jika kak Ris suka makanlah.” Ucap Frisya memberikan tas kue untuk Friska.
Friska pun menerimanya dan membuka tas kue itu, “Wah, kau dapat dari mana ini dek? Kau beli dimana?” tanya Friska langsung menyomot kue itu.
“Ada deh, ada yang memberikannya untukku. Aku tidak beli ya kak.” Ucap Frisya.
__ADS_1
“Lalu siapa yang memberikannya kepadamu? Apa pacarmu?” tanya Friska.
“Iss kak Ris jangan menuduh deh. Itu-itu di beri oleh ibunya kak Fazar.” Ucap Frisya segera duduk di sofa.
“Kak Fazar? Maksudmu asisten Fazar? Kok bisa?” tanya Friska tidak percaya.
“Ya bisalah, orang aku dari rumah kak Fazar.” Jawab Frisya enteng yang justru membuat Friska makin tidak percaya.
“Kamu dari rumah asisten Fazar? Kok bisa dek?” tanya Friska kaget.
“Jangan bilang kau punya hubungan dengan asisten Fazar?” lanjut Friska.
Frisya pun menghela nafasnya, “Yah gak lah kak, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kak Fazar. Jangan main tuduh sembarangan deh.” Ujar Friska.
“Huh, aku itu tadi tidak sengaja ketemu dengan kak Fazar saat di minimarket dengan kosan-nya Disa lalu kak Fazar menawarkan untuk mengantarku ke apartemen tapi karena nantinya dia akan putar balik ke rumahnya jadi aku memutuskan untuk ikut dengan kak Fazar pulang ke rumahnya dulu yang ternyata hanya dekat dari kosannya Disa lalu setelah dari rumahnya baru di antarkan kesini. Jadi otomatis aku ketemu dengan orang tuannya kak Fazar kak.” Jelas Frisya.
Friska yang mendengar itu pun mengangguk mengerti, “Terus bagaimana respon orang tuan asisten Fazar saat kau datang kesana?” tanya Friska.
Frisya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan kakaknya itu, “Jangan bertanya yang aneh-aneh deh kak karena respon mereka biasa aja yaa layak menerima tamu biasanya.” Jawab Frisya.
“Yah kakak pikir kau akan di anggap sebagai calon menantu begitu atau kekasih asisten Fazar, kan seru jika mereka salah paham. Ah atau jangan-jangan asisten Fazar sudah punya calon?” ucap Friska.
“Gak, kak Fazar belum memiliki calon. Orang tuanya aja justru menggodaku dengan memanggilku sebagai calon menantu jadi sudah pasti kak Fazar belum memiliki calon.” Ucap Frisya sedikit kesal, entah kenapa.
“Gak usah ngegas juga dek ngomongnya. Siapa tahu aja kan kak Fazar punya calon. Ohiya apa mereka menganggapmu menantu?” tanya Friska memastikan pendengarannya.
__ADS_1
“Iss kak Ris sudah mendengarnya tadi kan tapi aku menganggapnya candaan saja, aku kan biasa bercanda.” Ucap Frisya tertawa.
“Hati-hati loh deh becandanya. Ingat kata itu adalah doa. Siapa tahu aja saat kau bercanda mengatakan jadi menantu mereka atau saat mereka memanggimu menantu saat itu pintu rahmat terbuka dan perkataanmu di ijabah. Siap-siap saja kau berjodoh dengan asisten Fazar.” Ucap Friska.
“Ahh kakak gak asyik masa nakutin sih. Aku bukan gak suka kak Fazar karena pekerjaannya yang hanya seorang asisten hanya saja aneh kan jika aku berjodoh dengan orang yang sudah aku kenal.” Ucap Frisya.
“Ihh asyik tahu dek. Kan sudah saling tahu sifat masing-masing.” Ujar Friska.
Frisya pun mendelik ke arah Friska, “Kak Ris seperti sudah berpengalaman saja. Jika begitu kenapa kak Ris gak menerima saja di comblangkan oleh mami Sinta. Kan kakak juga sudah mengenal tuh dosen itu.” ucap Frisya.
“Is situ beda dek.” Ucap Friska tidak terima.
“Makanya jangan nakut-nakutin aku. Kakak gak mau juga kan berjodoh dengan dosen kakak itu.” ucap Frisya segera berdiri berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Friska yang di tinggalkan Frisya berkata dalam hatinya, “Aku juga bingung dek apa sebenarnya yang diinginkan hatiku.” Batinnya.
Sementar Frisya yang sudah tiba di kamarnya juga bicara dalam batinnya, “Aku hanya ragu kak, aku takut jika aku terbawa perasaan juga. Ingat Risya itu hanya candaan.” Batin Frisya lalu segera meletakkan tasnya dan menuju kamar mandi.
***
Tidak terasa weekday sudah terlewati lagi berganti weekend hari yang paling di sukai oleh sejuta umat karena mereka bisa bermalas-malasan di kasur tanpa harus memikirkan pekerjaan dan tumpukan dokumen yang menunggu di meja meminta untuk di kerjakan.
Seperti orang-orang pada umumnya yang menyukai weekend begitu juga dengan dua gadis yang saat ini sedang bermalas-malasan di kamar mereka. Setelah subuh keduanya sama-sama kembali berbaring berteman dengan ranjang, bantal, dan selimut. Biasanya salah satu di antara mereka akan bangun lebih dulu untuk mempersiapkan sarapan tapi kali ini keduanya sepakat untuk bermalas-malasan dan mereka akan sarapan di restoran di bawah saja. Kedua gadis itu ingin menikmati waktunya di kamar saja karena lelah dengan aktivitas selama weekday. Sekali-kali mereka ingin bersantai saja.
Tapi walau begitu mereka memiliki aktivitas yang akan mereka lakukan hari ini, Friska akan pergi kerumah Freya dan Frisya yang akan memeriksa laporannya apa sudah lengkap atau tidak untuk minggu ini.
__ADS_1