Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
180


__ADS_3

Keesokkan paginya, selepas sarapan Friska segera membantu suaminya itu memasangkan das di kemeja suaminya, “Kenapa sudah masuk kerja bie? Emang gak lelah? Bukankah sudah mengajukan cuti?” tanya Friska memasangkan jas suaminya itu.


“Apa kamu gak mau aku masuk kerja?” tanya Rezky mengalungkan tangannya di pinggang istrinya itu.


“Bukan aku gak mau kamu masuk kerja bie. Hanya saja kan kita baru saja pulang dan besok juga kita masih harus melakukan ngunduh mantu. Emang gak lelah?” tanya Friska menatap mata suaminya itu setelah memastikan pakaian suaminya sudah rapi.


“Aku tahu apa yang kau khawatirkan sayang. Tapi tenang saja aku hanya cepat kok di kantor. Setelah rapat aku akan segera pulang.” Ucap Rezky.


Friska pun mengangguk, “Baiklah. Jika memang begitu. Hati-hati bie.” Ucap Friska.


Rezky pun mengangguk dan memeluk istrinya itu, “Bie, nanti pakaiannya akan lecek lagi.” Ujar Friska.


Rezky pun tersenyum lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya itu, “Gak apa-apa lecek sayang.” ucap Rezky.


Friska menggeleng, “Ish, gak boleh. Suamiku itu harus tampil rapi untuk ke kantor. Aku gak mau di katai istri yang tidak memperhatikan penampilan suaminya.” Ucap Friska.


Rezky pun kembali tersenyum lalu mengecup bibir istrinya sekilas, “Gak akan ada yang berani mengatakan itu sayang. Sebelum mereka mengatakannya aku akan menutup mulut mereka itu. Jadi jangan khawatirkan apapun. Suamimu ini akan tetap tampil dengan penampilan terbaiknya.” Ucap Rezky.


Friska pun mengangguk, “Tapi ingat bie gak boleh melihat gadis lain.” Ujar Friska posesif.


Rezky pun mengangguk, “Tentu sayang. Istriku sudah sangat cantik, baik, sholelah pokoknya paket lengkap deh. Jadi untuk apa aku harus mencari yang lain sayang. Hanya kau yang ku cintai.” Ucap Rezky.


Friska pun tersenyum senang, “Bie, kamu pergi ke kantor kan. Aku mau pergi dengan Frisya dan Irma hari ini. Mereka mengajakku untuk makan di restoran. Bisa gak?” izin Friska.


Rezky mengangguk, “Hum, aku izinkan. Pergi dengan adik-adikmu kan. Jadi tentu aku akan mengizinkanya. Nanti pulangnya biar bie jemput.” Ucap Rezky.


Frisya pun tersenyum lalu dia mengangguk. Setelah itu mereka segera turun ke lantai bawah di mana di sana banyak yang sibuk untuk persiapan ngunduh mantu besok pagi.


“Mih, Pih aku ke kantor dulu.” Pamit Rezky kepada kedua orang tuanya itu.


“Kamu ini yaa kenapa ke kantor coba.” Ujar mami Jasmin.


“Hanya sebentar mih. Hanya rapat saja. Abis itu aku langsung pulang.” Ucap Rezky.


“Iya jangan lama-lama atau tidak istrimu akan mami--”


“Jangan coba-coba melakukannya mih. Istriku hanya milikku. Jangan aneh-aneh deh.” Potong Rezky.


Mami Jasmin pun tertawa melihat ketakutan di wajah putranya itu, “Ck, mami juga gak akan mungkin ngapa-ngapaian menantu mami itu nak. Mami itu sangat menyayanginya. Sudahlah pergilah dan cepatlah kembali.” Ucap mami Jasmin.


Rezky pun mengangguk dan segera menyalami kedua orang tuanya itu lalu dia dengan di antar oleh sang istri sampai ke depan, “Hati-hati bie di jalan. Jangan ngebut.” Ucap Friska di angguki oleh Rezky. Tidak lama setelah itu mobil Rezky pun melaju meninggalkan kediaman orang tuanya itu.


Friska setelah suaminya pergi dia pun segera masuk kembali dan mendekati mertuanya itu, “Mih, Pih apa yang bisa Riska bantu?” tanya Friska.


Mami Jasmin dan papi Harry pun saling berpandangan dan kemudian mereka tersenyum dan menggeleng, “Emang apa nak yang bisa kami mintai tolong padamu. Ini ada ngunduh mantumu. Tidak mungkin kau pengantin bekerja. Kamu istirahat saja. Kami yakin kamu pasti lelah.” Ucap papi Harry.


Friska pun tersenyum malu mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Walaupun papi Harry tidak secara spesifik mengatakan rasa lelahnya itu dalam hal apa tapi dia mengerti apa maksud di balik perkataan ayah mertuanya itu, “Pih, kamu membuat menantu kita malu dengan perkataanmu itu.” ujar mami Jasmin.


Papi Harry pun tertawa, “Kan memang benar itu kan Mih. Kita juga begitu saat baru menikah. Kita sukanya di kamar saja memadu kasih.” Ujar papi Harry.


“Papi!!” ucap Friska yang langsung di tanggapi dengan tawa oleh papi Harry.


Sementara Friska menyembunyikan wajahnya dalam pelukan mami Jasmin, “Sudah pih. Jangan mengganggu menantuku. Sayang, kamu mau istirahat saja. Wanita butuh tenaga lebih untuk melakukan aktivitasnya.” Ucap mami Jasmin.


“Mami sama aja kan. Perkataan mami itu sama aja denganku.” ujar papi Harry.


Friska tersenyum, “Mih, Pih sebenarnya Riska hari ini di ajak oleh Frisya dan Irma makan di restoran. Mereka ingin membicarakan hal penting katanya.” Ucap Friska.


“Ouh begitu. Ya sudah jam berapa perginya?” tanya mami Jasmin.


“Jam sembilan Mih. Jadi apa boleh Riska pergi? Riska sudah izin juga tadi sama kak Rezky.” Ucap Friska.


“Hum, ya sudah boleh dong nak. Lagian kamu perginya sama adik-adik kamu kan. Jadi mana mungkin mami dan papi tidak memperbolehkan. Asal kamu pulang lagi ke sini.” Ucap mami Jasmin di angguki oleh papi Harry.


“Ish, tentu saja Riska pulang kesini lagi Mih. Ini kan rumah Riska juga. Kediaman suami Riska. Masa iya Riska pergi ke tempat lain.” Ucap Friska.


Mami Jasmin dan papi Harry pun tersenyum, “Ya sudah jika memang begitu. Ayo sana kamu siap-siap saja.” ucap mami Jasmin.


Friska pun mengangguk lalu dia segera berlari menuju kamar suaminya itu untuk bersiap. Sementara papi Harry dan mami Jasmin yang melihat itu tersenyum, “Putra kita sepertinya sangat ganas pih. Dia membuat menantu kita itu kelelahan sementara dirinya justru terlihat bugar.” Ucap mami Jasmin.


“Kan itu normal mih bagi setiap pasangan yang sudah menikah. Mereka memang seperti itu kan. Kita juga begitu.” Ucap papi Harry.


“Aku harap usaha putra kita itu segera membuahkan hasil pih. Aku ingin memeluk cucu secepatnya.” Ucap mami Jasmin.


“Jika pun belum mami harus bersabar. Semua itu tergantung rezeki dari Allah. Kita hanya boleh berusaha untuk semuanya tetap yang di atas yang menentukan. Mami tidak boleh berubah jika nanti menantu kita belum juga hamil. Tapi semoga saja dia segera hamil agar ketakutan papi itu tidak terwujud.” Ucap papi Harry.


Mami Jasmin yang mendengar ucapan suaminya itu pun mendesis, “Ck, papi aku ini menyayanginya dengan tulus. Mau dia dengan cepat memberiku cucu atau tidak. Tapi aku berharap semoga saja dia segera hamil.” Ucap mami Jasmin. Papi Harry pun hanya mengangguk saja.


Sementara di atas Friska segera mandi dan begitu dia melepas pakaiannya dia mengusap perut ratanya itu, “Aku ingin segera hamil. Semoga saja usaha kami tidak menghianati hasil. Aku tahu mami Jasmin sangat ingin memeluk cucu. Aku tidak boleh mengecewakannya.” ucap Friska tersenyum.


***


Tepat seperempat lagi pukul sembilan kini mobil Irma dengan Frisya di dalamnya sudah tiba di kediaman mami Jasmin dan papi Harry itu. Mereka segera di persilahkan masuk oleh pengawal karena langsung mengenali bahwa itu adalah keluarga dari nona muda mereka.


Mami Jasmin yang melihat kedatangan Frisya dan Irma pun segera menyambut kedua gadis itu dengan ramah, “Assalamu’alaikum tante!” salam keduanya bersamaan.


“Wa’alaikumsalam nak. Ayo masuk. Friska sedang ada di kamarnya. Kalian duduk dulu.” Ucap mami Jasmin.

__ADS_1


“Terima kasih tante.” Ucap Frisya lalu keduanya segera duduk di sofa yang ada di sana. Mami Jasmin segera meminta pelayan untuk membuatkan minum untuk kedua saudari menantunya itu.


“Tunggu sebentar ya. Friska masih di kamarnya. Mami panggilin.” Ucap mami Jasmin.


“Gak usah tante. Kak Ris akan segera keluar kok.” tahan Frisya.


“Panggil mami jangan tante dong. Kita adalah keluarga sekarang.” Ucap mami Jasmin yang di angguki kedua gadis itu bersamaan.


Tidak lama Friska turun bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan minuman untuk Frisya dan Irma, “Sudah lama kalian datang?” tanya Friska.


“Belum kok.” ucap Frisya.


“Kami baru saja tiba kak Ris.” Ucap Irma.


“Riska mami tinggal dulu yaa.” Ucap mami Jasmin segera meninggalkan tiga gadis itu ahh bukan menantunya itu sudah tidak gadis lagi.


“Kalian habiskan dulu minumannya baru kita berangkat.” Ujar Friska.


“Baik kak.” Ucap keduanya bersamaan.


Friska pun tersenyum, “Kalian sangat kompak yaa. Apa kepergianku seminggu membuat kalian kompak begitu.” Ucap Friska.


“Hey, jangan cemburu yaa kak.” Ucap Frisya tersenyum.


“Kak Ris rumah mertuamu bagus juga. Sama mewahnya dengan kediaman Irma, kediaman mami Sinta dan kediaman orang tuanya kak Salwa juga.” Ucap Frisya.


“Kau ini ya dek.” ucap Friska. Frisya pun hanya tersenyum.


Lalu tidak lama setelah itu mereka pun segera berangkat untuk ke tempat tujuan mereka hari ini. Ketiga wanita itu segera pamit kepada mami Jasmin karena papi Harry dia sibuk di ruang kerjanya.


“Irma bawa supir yaa?” tanya Friska.


Irma pun mengangguk, “Iya kak, aku tidak di bolehin orang mami, papi dan kak Kenzo untuk menyetir sendiri padahal aku punya sim. Tapi entahlah mereka sangat posesif.” Ucap Irma.


“Gak apa-apa di posesifin asal gak berlebih. Mereka posesif itu tandanya mereka sayang kepada kita.” Ucap Friska lalu ketika gadis itu segera masuk ke mobil. Lalu tidak lama setelah itu mobil pun segera melaju meninggalkan kediaman mertua Friska itu.


“Kita bukannya ke restoran? Kenapa ini jalannya beda?” tanya Friska yang menyadari jalan mereka berbeda.


“Kita mengubah tempat perjanjiannya kak. Kita mau ke mall sekarang sekalian nonton juga. Ada film baru yang sedang tayang di bioskop sekarang. Jadi kita harus kesana.” Ucap Frisya.


“Yah kok kalian gak bilang. Suamiku tahu aku hanya makan saja ke restoran. Kenapa ini jadi begini. Kalian ini ya nakal.” Ucap Friska yang hanya di balas dengan cengesan oleh kedua gadis di hadapannya itu. Friska pun segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada suaminya.


“Ribet ya Irma ketika punya suami. Kemana-mana harus izin.” Ucap Frisya.


“Kan memang begitu dek. Sebelum menikah pun kita memang sering izin kan dari orang tua kita. Nah, setelah menikah izinnya pada suami. Tetap sama saja kan.” Ucap Friska.


Sekitar 20 menit saja mereka sudah tiba di mall terbesar di kota itu yang berhubung juga mall itu milik Alvino. Memang usaha Alvino itu ada di mana-mana dan hampir di semua bidang industri.


Tidak lama setelah itu mereka pun segera turun dan masuk lalu tidak lupa belanja tentu saja. Friska belanja satu kemeja untuk suaminya sementara Frisya dan Irma mereka juga ikut membeli kemeja untuk pasangan masing-masing. Lalu untuk mereka sendiri ketiganya kompak membeli tas samaan.


Setelah itu tentu saja mereka melanjutkan kegiatan mereka untuk menonton, “Emm, biar aku yang antri untuk tiketnya.” Ucap Frisya.


“Kalau begitu kita kak Ris ayo membeli cola dan popcorn. Itu adalah ritual nonton bioskop bukan.” Ucap Irma. Friska pun hanya menurut saja.


Tidak lama setelah itu mereka pun segera masuk ke dalam bioskop karena berhubung waktu pemutaran filmnya pun akan segera di mulai.


Kurang lebih dua jam mereka menonton film romance yang berakhir sedih itu karena pemeran utama pria meninggal, “Kasihan banget kak yang jadi istrinya. Di tinggal meninggal.” Ucap Irma begitu mereka selesai menonton.


Friska dan Frisya pun yang mendengar ucapan Irma hanya saling memandang dan tersenyum, “Itu hanya film dek. Kenapa di pikirkan. Kita hanya di minta untuk mengambil pengalaman dari sana. Kita tidak boleh menyia-nyiakan orang yang ada untuk kita karena kita tidak sampai waktu kita hidup. Kita di minta untuk lebih menghargai orang lain.” Ucap Friska.


“Sudah jangan bahas film lagi. Sekarang katakan kita kemana dulu. Apa kita segera pulang atau bagaimana?” tanya Frisya.


“Sepertinya kita makan siang dulu. Waktu makan siang itu terbaik.” Ucap Friska.


“Kita makan di restoran di bawah saja.” ucap Irma yang di angguki oleh Friska dan Frisya.


Mereka segera turun ke lantai dasar dan keluar dari mall lalu menuju restoran yang ada di sana. Mereka memilih ruang privat karena tidak ingin di ganggu.


Begitu tiba di restoran itu mereka pun segera memesan makanan, “Kak Ris, aku mau menanyakan sesuatu.” ucap Irma. Frisya yang mendengar ucapan Irma itu pun hanya tersenyum saja karena dia sudah tahu apa yang akan di tanyakan oleh calon kakak iparnya itu.


“Apa yang ingin kamu tanyakan dek? Katakan saja?” tanya Friska.


“Kakak jangan kaget nanti jika pertanyaannya aneh.” Ucap Frisya sebelum Irma bertanya. Irma pun tersenyum menatap Frisya sementara Friska menjadi penasaran.


“Kak, apa ada gaya khusus yang di rekomendasikan agar cepat hamil?” tanya Irma.


Friska yang mendengar pertanyaan Irma pun kaget bukan main. Jika dia sedang minum mungkin dia memuncratkan air itu karena saking kagetnya akan pertanyaan yang di ajukan oleh calon adik iparnya itu yang sangat jauh dari pemikirannya itu karena dia pikir Irma hanya akan mengajukan pertanyaan yang biasa saja. Ini tentang gaya agar cepat hamil. Itu berarti gaya hubungan intim kan.


“Aish, pertanyaanmu itu loh dek. Sangat membuat kakak kaget setengah mati. Kenapa menanyakan itu coba.” Ucap Friska.


“Sudah ku katakan bukan kak. Kau jangan kaget nanti jika dia mengajukan pertanyaan. Aku sudah mengatakannya. Dia itu memang aneh. Mengajukan pertanyaan yang super bin ajaib. Aku saja sampai pusing memikirkan pertanyaannya yang super aneh itu. Kemarin saja dia meminta resep penyubur kandungan dariku.” Ucap Frisya.


“Apa kamu sangat ingin hamil dek?” tanya Friska menatap Irma.


Irma mengangguk, “Aku ingin cepat hamil kak. Emang kakak tidak?” tanya Irma balik.


Friska menggeleng, “Bukan begitu dek. Kakak juga ingin cepat hamil. Siapa coba pasangan yang sudah menikah tidak ingin hamil. Tapi kan apa Kenzo sudah tahu kau yang ingin cepat hamil? Kalian adalah pasangan nanti. Kamu bicarakan dulu dengan Kenzo. Nanti aku akan mengirimkan buku panduan cepat hamil kepadamu. Aku sudah menerapkannya dengan suamiku. Aku juga berharap untuk cepat hamil. Semoga saja. Kamu bicarakan dulu dengan Kenzo yaa.” Ucap Friska.

__ADS_1


Irma pun mengangguk, “Terima kasih kak Ris. Aku akan membicarakannya dengan kak Kenzo.” ucap Irma senang.


Friska dan Frisya yang melihat kebahagiaan di wajah Irma pun akhirnya ikut senang. Lalu setelah itu pembahasan mereka pun di lanjutkan dengan pembahasan yang lain sambil menikmati makanan mereka itu.


Setelah makan siang bersama, begitu keluar dari restoran itu ternyata mereka sudah di jemput oleh pasangan mereka masing-masing.


“Kok, kalian bisa di sini?” tanya Friska.


“Tentu saja bisa kak Ris. Kami ini menggunakan mobil kesini. Jadi tentu saja bisa.” Ucap Kenzo.


“Ck, kau ini sangat suka bertengkar denganku.” ucap Friska mendesis melirik adik 15 harinya itu.


Kenzo pun hanya tersenyum lalu segera mengajak Irma masuk ke mobil, “Sopir bagaiamana kak?” tanya Irma.


“Sudah aku minta pulang.” Jawab Kenzo. Irma pun segera melihat sekeliling dan menyadari bahwa memang mobil yang mereka gunakan tadi sudah tidak ada di tempat.


“Kita pulang sayang.” ucap Rezky segera membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Friska pun segera menurut dan melihat Frisya dan Fazar, “Kami duluan yaa.” Pamit Friska di angguki oleh Frisya. Rezky juga tidak lupa pamit kepada adik iparnya itu. Lalu tidak lama mobil Rezky dan Friska pun melaju meninggalkan parkiran mall itu. Setelah itu mobil Kenzo dan Irma pun menyusul pergi.


“Kita pulang.” Ujar Fazar.


Frisya pun mengangguk dan dia segera masuk mobil begitu Fazar membukakan pintu mobil. Tidak lama setelah itu mobil mereka pun meluncur meninggalkan parkiran mall itu.


“Kak, aku punya sesuatu untukmu.” Ujar Frisya mengambil paper back dan memberikan kepada Fazar.


“Apa itu?” tanya Fazar fokus menyetir.


“Hmm, nanti kakak buka jika sudah di rumah.” Ucap Frisya.


“Aku belum ke rumah dek. Aku masih harus kembali ke kantor.” Ucap Fazar.


“Lalu jika memang masih mau ke kantor. Lalu kenapa harus menjemput Risya segala coba. Kan nanti putar balik lagi dari rumah kak Reya.” ucap Frisya merasa bersalah.


Fazar pun tersenyum, “Gak apa-apa dek. Lagian itu juga jam istirahat.” Ucap Fazar.


“Ish, tetap saja kan kakak lelah.” Ucap Frisya.


Fazar menggeleng, “Kakak gak lelah dek. Kenapa harus lelah coba.” Ucap Fazar.


Frisya pun menatap Fazar dengan terharu karena bagi Fazar dia adalah nomor satu, “Kak, kenapa kau selalu memprioritaskan aku? Aku suka kau memprioritaskan aku seperti ini kak tapi jangan buat aku juga merasa bersalah. Aku gak mau kau kelelahan.” Ucap Frisya.


“Hey, jangan mellow gini dong. Tenang saja dek. Aku ini tidak keberatan sama sekali.” Ucap Fazar.


“Tetap saja aku merasa bersalah kak.” Ucap Frisya.


“Terus bagaimana dong sekarang?” tanya Fazar bingung sendiri. Frisya pun mengangkat bahunya tanda dia juga pusing sendiri.


***


Keesokkan paginya, Kini di kediaman mami Jasmin dan papi Harry sibuk acara ngunduh mantu yang akan di laksanakan pukul sembilan nanti. Friska selepas subuh sudah di rias oleh tim MUA pilihan mertuanya itu. Dia juga sudah memakai pakaian adat mereka begitu juga dengan Rezky yang sudah tampan dengan pakaian adat itu.


Mama Najwa dan papa Khabir yang baru saja tiba di kediaman besannya itu pun segera masuk beserta keluarga besar yang lain. Mereka segera duduk di tempat yang sudah di sediakan.


“Jeng Jasmin aku ingin melihat putriku.” Ucap mama Najwa.


“Dia ada di kamarnya sedang di rias jeng. Sini aku antar.” Ucap mami Jasmin.


Mama Najwa menggeleng, “Gak usah jeng. Tunjukkan saja di mana letak kamarnya.” Tolak mama Najwa karena bagaimana pun besannya itu adalah tuan rumah yang berkewajiban untuk menyambut tamu yang datang.


Mami Jasmin pun menurut dan menunjuk kamar putra dan menantunya itu. Mama Najwa pun segera naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar yang tadi di tunjuk oleh mami Jasmin sebagai kamar di mana putrinya berada.


Rezky segera membukakan pintu dan tersenyum begitu melihat mama Najwa, “Mah!” ujar Rezky lalu menyalami mama Najwa penuh hormat.


“Ayo masuk mah. Riska sedang di rias.” Ucap Rezky.


Mama Najwa pun segera masuk dan melihat putrinya yang sudah di rias itu, “Putri mama cantik deh.” Ucap mama Najwa.


Friska pun tersenyum dan menyalami mamanya itu karena memang dia memang sudah selesai di rias. Tim MUA juga sedang merapikan alat make up mereka lalu pergi keluar.


“Mah, Rezky keluar dulu yaa. Mama silahkan bicara dengan Riska.” Pamit Rezky keluar memberi waktu untuk mama Najwa dan istrinya itu bicara.


“Mah, Riska rindu mama.” Ucap Friska.


Mama Najwa pun tersenyum lalu memeluk putrinya itu, “Sudah melakukannya kan?” tanya mama Najwa.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk, “Doakan saja cucu mama segera hadir di sini. Walaupun anakku nanti bukan cucu pertama untuk mama tapi tetap doakan saja agar aku segera hamil. Mami sangat ingin punya cucu. Aku tidak ingin mengecewakannya sama sekali.” Ucap Friska.


“Mama selalu mendoakan yang terbaik nak. Mama yakin cepat atau lambat kau akan segera hamil. Memang benar cucu darimu bukan cucu pertama untuk mama tapi tetap saja dia cucu kami juga nak.” ucap mama Najwa.


“Terima kasih mah atas doanya. Mama sama papa baik-baik aja kan?” tanya Friska memastikan keadaan mamanya itu.


Mama Najwa mengangguk, “Tentu saja kami sehat nak.” ujar mama Najwa. Friska pun mengangguk tersenyum.


Tidak lama setelah itu acara ngunduh mantu itu pun segera di mulai. Friska dan Rezky segera turun bersamaan dan di sambut dengan ritual. Prosesi adat itu pun berjalan lancar tanpa kendala. Acara ngunduh mantu itu berjalan sangat lancar penuh kebahagiaan. Semua keluarga hadir di sana. Semua keluarga juga tentu tidak lupa untuk mengabadikan momen yang ada. Mereka sangat berbahagia untuk acara ngunduh mantu.


Kebahagiaan ini masih berlanjut karena dua hari lagi pernikahan Kenzo dan Irma. Lalu setelah pernikahan Kenzo dan Irma akan ada lamaran resmi Frisya dan Fazar. Jadi sepertinya pesta tidak akan berhenti. Full pesta. Sepertinya setelah ini mereka akan menghitung pakaian seragam yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2