Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
52


__ADS_3

Kenzo yang pusing memikirkan permintaan papanya pun memilih keluar dan meninggalkan kakaknya bersama sang papa. Dia bingung apa yang harus di lakukan. Dia tahu menikah itu butuh persiapan dan tidak bisa di lakukan dengan tergesa-gesa begini apalagi dia tahu kakaknya itu tidak dekat dengan pria manapun lalu siapakan pria yang bisa memenuhi permintaan papanya itu. Dia tidak ingin memaksa kakaknya tapi dia juga tahu bagaimana perasaan kakaknya itu saat ini. Dia yakin kakaknya itu sedang bimbang antara harus menikah atau tidak tapi dia yakin kakaknya pasti akan memilih menikah dan menuruti permintaan papa mereka hanya saja kakaknya itu sama bingungnya dengannya siapa yang akan menikahinya.


Kenzo menutup pintu ruang perawatan papanya itu dengan pelan dan menatap Freya dan Alvino di sana serta dua orang pria yang tidak dia kenali. Freya segera mendekati Kenzo, “Bagaimana? Apa yang di katakan paman?” tanya Freya.


Kenzo menatap kakaknya dan tanpa bisa menatap air matanya lagi dia langsung meneteskan air matanya dan segera memeluk kakaknya itu, “Kak, papa sepertinya akan segera pergi. Aku sedang berusaha mengikhlaskan hal itu jika memang sudah waktunya papa pergi. Kasihan juga dia tersiksa terus dengan penyakitnya. Hanya saja papa meminta sesuatu yang tidak bisa aku dan kak Kia lakukan.” Ucap Kenzo dalam pelukan Freya.


Alvino yang melihat istrinya di peluk oleh Kenzo sebenarnya ingin marah karena biarpun Kenzo adalah adik istrinya tetap saja gak boleh namun Alvino menahan keinginan itu karena dia tahu Kenzo sedang sedih dan sedang meluapkan kesedihannya. Freya melepas pelukan adiknya itu karena dia juga tahu suaminya itu pasti sedang terbakar cemburu saat ini. Freya segera menghapus air mata di pipi Kenzo, “Jangan menangis. Sekarang katakan kepada kakak apa yang di minta paman. Kita akan carikan solusinya dengan baik.” ucap Freya segera membawa Kenzo untuk duduk.


“Sulit kak solusinya karena aku saja bingung bagaimana memenuhi itu. Kak Kia saja juga sama bingungnya denganku.” Ucap Kenzo menunduk.


“Kenzo katakan saja apa yang di minta paman.” Ucap Alvino.


“Papa ingin sebelum dia pergi, dia ingin menjadi wali nikah kak Kia. Dia ingin melihat kak Kia menikah sedangkan kita tahu kak Kia gak memiliki kekasih sama sekali. Jadi bagaimana mungkin pernikahan terjadi tanpa adanya mempelai pria.” Ucap Kenzo menjelaskan.


Alvino dan Freya pun terdiam mendengar itu, mereka tidak menyangka ini yang akan menjadi permintaan terakhir paman Vian, “Kita akan mendapatkannya Zo. Kita akan menemukan lelaki baik untuk kakakmu.” Ucap mama Najwa tiba-tiba sudah di sana.

__ADS_1


Semua orang di sana pun segera menatap kearah sumber suara, “Mama!”panggil Kenzo. Mama Najwa pun mendekati Kenzo dan memeluk keponakannya itu.


“Jangan menangis Zo. Kita harus bisa menemukan siapa yang bersedia menikahi kakakmu. Waktu kita tidak banyak.” Ucap Mama Najwa.


“Mah, ini gak mungkin kita lakukan. Aku gak mau Kia menikah dengan orang sembarangan. Mah menikah itu cukup sekali seumur hidup dan aku tidak mau jika Kia--” ucap Freya tidak melanjutkan perkataannya karena dia tidak sanggup mengatakannya. Dalam bayangan saja dia tak mau jika melihat Kiana menikah dengan orang sembarangan apalagi jika itu harus terjadi.


“Tapi sayang ini semua untuk memenuhi permintaan pamanmu.” Ucap mama Najwa. Dia bukan tidak setuju dengan ucapan putrinya hanya saja sepertinya ini adalah pilihan yang terbaik untuk semuanya.


“Mah, menikah bukan untuk memenuhi permintaan seseorang saja. Gak, aku gak setuju mah. Kiana memang hanya adik sepupuku tapi bagiku semua adik-adikku sama. Aku akan menjadi kakak yang bodoh dan gagal jika membuat salah satu adikku menikah seperti ini. Aku tidak setuju mah.” Ucap Freya menggelengkan kepalanya.


Kiana yang di dalam keluar karena merasa ada sesuatu yang harus dia bicarakan. Dia keluar setelah memastikan papa Vian tidu, “Pokoknya Kiana gak boleh menikah tanpa keinginannya sendiri. Aku gak mau kalian memaksanya menikah.” Ucap Freya bertepatan dengan keluarnya Kiana dari ruang perawatan.


Kiana menatap semua orang yang ada di luar ruangan perawatan papanya itu satu persatu sampai matanya melihat dua pria yang menolongnya tadi. Tatapan mereka sempat saling tertabrak tapi Kiana segera memutusnya dan menatap Freya, “Kak, aku tahu kau sangat menyayangiku. Aku terharu dengan kasih sayang yang kau berikan untukku. Kau tidak pernah membedakan aku dengan adik kandungmu. Aku menyayangimu kak, bagiku kau juga adalah kakakku. Tapi untuk kali ini aku setuju dengan ucapan mama. Aku adalah seorang putri yang memiliki tanggung jawab memenuhi permintaaan papanya, setidaknya dengan melakukan ini aku bisa berbakti kepada papa.” Ucap Kiana bergetar.


Freya segera mendekati adiknya itu dan memegang bahunya, “Gak, ini bukan keinginanmu tapi ini kepasrahanmu. Gak Kia, selama ada aku maka aku tidak akan membiarkan pernikahan seperti ini terjadi. Aku adalah kakakmu dan kau tidak boleh melanggar permintaanku. Aku gak mau Kia kau menikah seperti ini.” ucap Freya.

__ADS_1


“Kak, lalu aku harus apa? Aku tidak mau menjadi seorang putri yang gagal yang tidak bisa memenuhi permintaan papanya. Aku tidak mau menjadi putri yang tidak berbakti.” Ucap Kiana putus asa. Sejujurnya dia juga tidak ingin hal ini tapi dia harus apa.


“Kiana sejak kapan kau menyerah. Ingat jalan berbakti bukan dengan harus memenuhi permintaan orang orang tua untuk menikah begini. Kau bisa berbakti dengan cara lain.” Ucap Freya melepas bahu adiknya karena dia tahu adiknya itu saat ini sedang rapuh hingga keputusannya pun menjadi keputusan pasrah seperti itu.


“Kak!” panggil Kiana melihat Freya menjauh meninggalkan tempat itu. Alvino segera menyusul istrinya.


Mama Najwa segera merangkul bahu keponakannya itu, “Mah, kakak! Dia marah padaku. Aku harus bagaimana mah?” tanya Kiana menangis dalam pelukan mama Najwa.


Mama Najwa pun meneteskan air matanya melihat keponakannya itu menangis, “Katakan apa yang kau inginkan. Apa kau ingin menikah atau tidak?” tanya mama Najwa menatap mata Kiana.


“Mah, kau pasti mengerti tanpa aku mengucapkan apapun. Kau itu mamaku kan. Siapa yang gak mau menikah di usia segini mah? Kak Reya saja menikah di usia 24 tahun dan aku sekarang tapi mama juga tahu siapa pria yang akan menikah denganku? Siapa yang akan menikahiku?” ucap Kiana sedih. Dia sebenarnya iri dengan teman-temannya yang sudah menikah tapi dia hanya bisa menahan itu dan mencoba mengalihkannya dengan bekerja dan bekerja.


Freya yang mendengar itu dari jauh hanya bisa menangis karena ternyata adiknya itu menahan kesedihan sendiri, “Kia!” panggil Freya.


Kiana segera menatap Freya, “Kak.” Ucap Kiana berhambur ke pelukannya.

__ADS_1


“Maaf semuanya sudah ikut campur dalam masalah kalian. Jika kalian setuju saya bersedia menikahinya.”


__ADS_2