
Setelah makan dan minum obat Friska kembali istirahat dan kini Freya dan Alvino sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, “Bagaimana sudah lumayan mendingan?” tanya Alvino.
Freya pun mengangguk, “Tinggal istirahat saja. Sepertinya dia kelelahan.” Ucap Freya lalu menyandarkan tubuhnya di dada sang suami.
Alvino pun membalas dengan memeluk istrinya itu. Sekitar 15 menit Freya bermanja di dada suaminya itu sampai ada yang membunyikan bel apartemen, “Sudah biar aku saja.” ucap Alvino segera bangkit dari sofa dan menuju pintu apartemen.
Begitu Alvino membukanya langsung saja masuk kelima anaknya itu yang di belakangnya ada mami Sinta, “Bunda, kami datang!” ucap Azwa ceria lalu langsung berlari menuju Freya yang sedang duduk di sofa. Freya pun segera menyambut putri kecilnya itu yang sedang berlari menuju arahnya.
Alvino yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan segera menutup kembali pintu apartemen, “Bagaimana keadaan adikmu nak?” tanya mami Sinta duduk di sofa.
“Alhamdulillah mih sudah mendingan. Dia hanya kelelahan saja sehingga suhu tubuhnya naik.” Jawab Freya.
Mami Sinta pun mengangguk, “Syukurlah jika begitu nak. Mami sempat khawatir tadi begitu mendengar dari para bibi yang mengatakan kau terburu-buru kesini karena adikmu sedang sakit.” Ucap mami Sinta.
“Gak usah berlebihan juga mih.” Ujar Alvino. Mami Sinta yang mendengar ucapan putranya itu hanya mendelik saja.
Frisya yang di kamarnya mendengar suasana ribut di luar segera keluar dan dia tersenyum begitu mengetahui ternyata keponakannya yang datang, “Mami!” panggil Azwa dan Azlan. Seperti biasa hanya dua orang keponakannya itu yang ramah tiga lainnya bintang satu sangat tidak ramah dan hanya menatapnya dengan tatapan cuek saja.
Frisya pun tersenyum lalu segera menyalami mami Sinta dan mencium pipi keponakannya itu dan seperti biasa tiga orang yang bermuka datar yang sangat tidak ramah bintang satu menolak ciumannya, “Jangan mencium kami mami.” ucap Azlen, Anand dan Anind bersaman hingga membuat Frisya menghela nafas berat. Mami Sinta, Freya dan Alvino hanya tersenyum melihat itu karena seperti biasa itu adalah pemandangan yang sudah sering mereka lihat. Mami Sinta saja bingung dengan ketiga cucunya itu.
“Bunda, apa aku bisa melihat mami?” izin Azlen sambil berdiri.
__ADS_1
Freya pun mengangguk, “Boleh tapi jangan ganggu mami jika sedang tidur. Okay boy!” ucap Freya. Azlen pun segera mengangguk.
Azlen pun setelah mendapat izin dari bundanya segera menuju kamar Friska yang ternyata Anand dan Anind pun ikut pada akhirnya Azwa dan Azlan pun juga ikut.
“Kak, aku melihat aura pemimpin di tubuh putra esmu itu kak. Lihatlah setelah dia berdiri empat saudaranya yang lain langsung mengikutinya. Bahkan Anand kalah aura-nya dengan Azlen kak.” Ucap Frisya masih menatap kelima keponakannya itu yang satu per satu masuk ke kamar Friska.
Freya dan Alvino pun menyadari itu namun tetap saja bagi mereka putra dan putri mereka sama tidak ada yang berbeda. Mereka memperlakukannya dengan sama karena setiap anak mereka memiliki kemampuan di bidang masing-masing.
“Mami juga bisa kan nak melihat adikmu itu?” izin mami Sinta.
Freya pun mengangguk, “Tentu saja bisa mih.” Jawab Freya. Mami Sinta pun segera menuju kamar Friska menyusul kelima cucunya yang sudah lebih dulu kesana. Begitu dia tiba di kamar Friska dia kaget dengan ke lima keponakannya yang mengelilingi Friska yang kini sedang bersandar.
Friska yang bicara dengan kelima keponakannya tersenyum menyambut kedatangan mami Sinta, “Mih!” ucap Friska mengulurkan tangannya untuk menyalami mami Sinta.
Friska menggeleng, “Gak kok mih. Aku memang gak tidur aja. Aku ingin bangun menemui mereka tapi aku merasa lemah saja. Jadi menunggu mereka saja masuk menjengukku dengan mengandalkan firasatku ternyata benar mereka masuk ke kamarku.” Ucap Friska menatap kelima keponakannya itu.
Azlen menggenggam tangan Friska erat sambil menatap aunty-nya itu yang memang dia panggil mami. Dia tahu apa yang terjadi pada maminya itu. Menurut bundanya maminya itu sakit karena kelelahan tapi dia percaya selain lelah dia juga tahu bahwa perasaan maminya itu sedang sakit saat ini sehingga membuat daya tahan tubuhnya lemah dan sakit seperti ini. Azlen menatap Anand dan Anind karena memang kedua kakaknya itu juga sudah tahu kejadian semalam. Yah, Azlen memasang kamera tersembunyi di tas yang selalu Friska bawa begitu dia mencurigai bahwa maminya itu sedang di incar oleh seseorang. Awalnya dia meletakkan kamera itu untuk melindungi maminya dari orang jahat tapi sepertinya orang yang menyelidiki maminya bukan orang jahat melainkan orang yang menyukainya.
Sementara di luar saat Frisya hendak ke kamar Friska tiba-tiba ada yang membunyikan bel, “Siapa lagi itu?” tanya Alvino sambil menatap pintu apartemen.
“Biar aku saja yang melihatnya kakak ipar.” Ucap Frisya segera berbalik menuju pintu apartemen dan segera membukanya.
__ADS_1
Frisya pun segera menunduk hormat melihat siapa yang datang, “Nyonya Jasmin, tuan Harry dan tuan Rezky. Silahkan masuk!” ucap Frisya ramah mempersilahkan ketiga orang itu masuk.
Alvino dan Freya yang melihat kedatangan tiga orang itu pun segera berdiri dan menyambut mereka, “Silahkan duduk tuan, nyonya, Rezky.” Ucap Alvino.
Ketiga orang itu pun mengangguk lalu mereka segera duduk sementara Freya segera menyusul adiknya menuju dapur untuk membuatkan minuman kepada tamunya, “Kak, kenapa mereka datang? Apa karena kak Ris?” tanya Frisya.
Freya yang mendapat pertanyaan dari adiknya menghela nafas, “Sudahlah kita terima saja tamu dulu terkait tujuan mereka kemari biar itu jadi urusan belakang.” Ucap Freya.
Frisya pun mengangguk lalu segera menyelesaikan menyiram jus dan mulai mengisi gelas, “Menurut kakak mereka tahu dari mana?” ucap Frisya.
Freya menatap adiknya itu, “Menurutmu tahu dari siapa? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini dek.” Ucap Freya segera mengambil baki yang sudah terisi jus itu dan membawanya yang segera di ikuti oleh Frisya dengan camilan di tangannya.
Freya segera menghidangkannya, “Silahkan di minum. Maaf seadanya.” Ucap Freya.
“Ahh kau sudah repot nak. Kedatangan kami kesini hanya ingin menjenguk adikmu saja. Kami mendengar dia sakit.” Ucap mami Jasmin.
Freya pun mengangguk, “Iya benar nyonya dia sakit tapi alhamdulillah tidak parah hanya kelelahan saja.” ujar Freya.
“Syukurlah jika begitu. Apa kami bisa menjenguknya nak?” tanya mami Jasmin.
Freya segera menatap suaminya lalu menatap kembali tamunya itu, “Tentu boleh nyonya. Saya akan kesana dulu.” Ucap Freya lalu segera berlalu meninggalkan mereka di sana dan segera menuju kamar adiknya. Frisya ternyata sudah di sana dan sudah mengatakan semuanya. Frisya pun segera membantu Friska memakai hijab karena memang tadi dia tidak memakai hijab. Mami Sinta sudah keluar bergantian dengan Freya yang masuk.
__ADS_1
“Kak, kenapa mereka datang?” ucap Friska.