
Sepeninggal Alvino, kini tinggallah Freya dan Friska yang ada dalam ruangan keluarga itu, “Dek, kau mau minum apa?” tanya Freya memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka.
Friska menggeleng, “Aku gak mau minum apapun kak, kakak pasti sudah tahu tujuanku datang kesini dan alasanku menghindari kakak beberapa hari ini. Aku datang kesini untuk menanyakan alasan kakak melakukan itu kepadaku.” Ucap Friska.
Freya pun mengangguk, “Baiklah jika memang kau ingin tahu alasannya, kita bicarakan di tempat lain. Ayo!” ajak Freya berdiri menuju lift di rumahnya yang diikuti oleh Friska dari belakang. Freya segera menekan lantai empat. Friska yang melihat itu mengerti bahwa kakaknya ingin mengajaknya bicara di lantai atas rumah ini.
Tidak lama mereka tiba dan keluar lalu segera menuju balkon lantai empat itu dan duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana sebagai tempat santai, “Kau ingin tahu apa?” tanya Freya.
Friska duduk dan meletakkan tas yang berisi gaun di meja di hadapannya dengan kakaknya, “Aku ingin tahu apa alasan kakak memberikan gaun ini kepadaku? Kakak bahkan sampai berbohong padaku? Kakak juga bahkan sampai membeli gaun yang lumayan mirip dengan itu kepada yang lain hanya agar aku tidak mengetahuinya. Aku ingin tahu apa alasannya? Apa kakak juga ikut dalam rencana mami Sinta?” tanya Friska.
Freya menghela nafasnya, “Kakak akui kau cukup cepat memahami semuanya. Kakak memang membantu mami memberikan gaun itu kepadamu bukan karena kakak ikut dalam rencana mami Sinta dan mami Jasmin atau kakak menyetujui rencana mereka hanya saja kakak memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa melaksanakan rencana mereka. Kakak tahu ini akan menyakitimu dan maaf jika memang apa yang kakak lakukan ini menyakitimu. Kakak tidak ada niat sama sekali menyakitimu karena kakak tahu perasaan tidak bisa dipaksakan. Kakak hanya memberi kesempatan selain itu juga kakak hanya bersedia membantu mami memberikan gaun itu kepadamu. Kasihan mami Jasmin yang sudah menyiapkannya dengan sepenuh hatinya. Maafkan kakak! Tapi percayalah semua pilihan ada ditanganmu. Kakak tidak akan memaksa sama sekali atau ikut campur pada keputusanmu.” Ucap Freya.
“Kak, aku tidak marah padamu. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menyakitiku hanya saja aku sempat kecewa saat menyadari bahwa kau menipuku kak. Seandainya saja kau langsung mengatakan padaku bahwa itu adalah gaun dari mami Jasmin yang sempat aku tolak dari mami Sinta aku pasti tetap akan menerimanya, aku akan selalu menuruti permintaanmu.” Ucap Friska.
Freya yang mendengar itu pun terharu, “Maafkan kakak! Kakak janji ini untuk pertama dan terakhir kalinya kakak membantu mereka. Kakak menyerahkan semua keputusan padamu. Maaf yaa!” ucap Freya segera memeluk adiknya.
Friska pun mengangguk, “Kak, kau tidak ingin tahu apa alasanku menolak gaun itu dari mami Sinta?” tanya Friska.
__ADS_1
Freya menggeleng, “Kakak tidak akan bertanya karena kau pun punya privasi untuk itu. Tapi jika kau mau berbagi cerita dengan kakak tentu saja kakak senang.” Ucap Freya masih memeluk adiknya.
“Aku sudah tahu rencana mereka yang ingin menjodohkanku kak. Selain itu juga anak mami Jasmin itu adalah dosen bahasa inggrisku saat aku semester enam.” Ucap Friska.
Freya diam saja hanya mengelus kepala adiknya itu menunggu adiknya melanjutkan ceritanya, “Kakak ingat kan, aku pernah bercerita ada dosen bahasa inggris yang menolak proposalku? Dia dosen itu kak, dia adalah orang yang membuatku setengah mati. Di saat teman-temanku yang lain sudah selesai aku masih saja belum yang ternyata dia hanya mengerjaiku, dia hanya ingin menyusahkanku.” Lanjut Friska.
Freya pun kini mengerti kenapa adiknya itu melakukan itu, “Baiklah kakak paham. Coba sekarang kakak mau tanya, seandainya putra mami Jasmin bukan dosen itu apa kau akan menerima di comblangkan dengannya?” tanya Freya menatap mata adiknya.
Friska yang di tatap begitu oleh kakaknya berpaling ke arah lain, “Aku gak tahu kak karena sejujurnya aku--” ucap Friska tidak melanjutkan perkataanya.
Freya tersenyum melihat ekspresi adiknya itu seketika dia kembali memeluk adiknya, “Kakak mengerti. Kau menyukainya kan? Dia adalah cinta pertamamu kan?” tanya Freya.
Freya pun tertawa, “Hey, itu adalah hal yang normal jika kau menyukai seseorang. Kakak juga menyukai anak itu.” ucap Freya melihat ke belakang karena jangan sampai suaminya mendengar perkataannya itu, bisa berabe urusannya nanti jika suaminya mendengarnya.
“Kakak lalu aku harus bagaimana sekarang? Apa aku akan menerima saja di comblangkan oleh mereka?” tanya Friska meminta pendapat kakaknya.
“Menurut hatimu bagaimana? Apa kau sudah bisa memaafkan apa yang dia lakukan? Apa kau merasa cocok dengan keluarganya? Selain itu juga satu hal yang perlu kau pastikan yaitu perasaannya padamu. Apa alasan sebenarnya dia melakukan itu kepadamu saat itu.” ucap Freya.
__ADS_1
Friska pun mencerna ucapan kakaknya lalu kemudian mengangguk mengerti, “Aku paham apa yang kau maksud kak. Terima kasih!” ucap Friska memeluk kakaknya itu.
Freya pun hanya tersenyum, “Jadi bagaimana nasib gaun ini? Apa mau di kembalikan?” tanya Freya dengan senyuman menggoda.
Friska pun tersenyum malu, “Aku akan menyimpannya saja kak. Kan kasihan mami Jasmin sudah menyiapkannya.” Ujar Friska.
Freya pun mengangguk, “Kau benar. Sepertinya Frisya, Kiana dan Clemira harus mengucapkan terima kasih kepada mami Jasmin karena dengan memberikanmu gaun ini mereka bisa mendapatkan gaun juga.” Ujar Freya.
Friska yang mendengarnya segera tertawa, “Dek, kakak mau mengatakan sesuatu kepadamu. Ini sebenarnya sangat lucu.” Ucap Freya.
Friska yang sedang tertawa menghentikan tawanya, “Apa itu kak?” tanya Friska penasaran.
“Sebenarnya Rezky pernah ingin di jodohkan dengan kakak.” Ucap Freya.
Friska yang mendengar itu kaget, “Maksudnya bagaimana kak? Kok bisa?” tanya Friska.
Freya mengangguk, “Itu terjadi saat kakak setelah melahirkan Anind kalau gak salah, saat itu kakak pergi menemani mami Sinta ke mall dan di sana kami bertemu dengan mami Jasmin yang baru kembali. Sebagaimana dua teman yang berpisah dan bertemu lagi setelah sekian lama, mami Sinta dan mami Jasmin pun meluapkan rindu mereka. Mami Jasmin pun segera ikut bergabung dengan kami belanja. Singkat cerita saat kami makan di restoran, mami Jasmin seketika mendapat ide ingin menjodohkan kakak dengan putranya karena saat itu memang mami Sinta mengenalkan kakak sebagai putrinya jadi dia mengira kakak adalah anak kedua mami Sinta. Mami Sinta juga yang memang sudah tahu rencana mami Jasmin tidak menjelaskan lebih lanjut bahwa kakak adalah menantunya dan dia justru ingin mengerjai temannya itu.” ucap Freya.
__ADS_1
“Lalu setelah itu apa yang terjadi kak?” tanya Friska penasaran kelanjutannya.