Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
14


__ADS_3

Sementara di sisi Frisya begitu dia datang sudah ada empat orang pria di sana menunggu, "Assalamu'alaikum semuanya! Apa aku terlambat lagi?" sapanya.


"Wa'alaikumsalam!" jawab ke empat laki-laki itu bersamaan.


Frisya yang mendengar hal itu terkekeh, "Kompaknya. Emm maaf yaa Risya terlambat. Entah kenapa jika kegiatan seperti ini Risya selalu saja terlambat padahal Risya tidak suka terlambat jika itu penting." ujar Frisya segera duduk.


"Sudahlah gak apa-apa kok." balas Fazar tersenyum. Doni dan Jery yang mendengar hal itu hanya tersenyum saling menatap.


"Ehh, kak Fazar lusa aku akan mulai masuk kerja kan? Apa ada yang harus aku bawa atau persiapkan sebelumnya begitu?" Tanya Frisya menatap Fazar.


"Emm,, gak ada kok dek. Kau tidak perlu membawa apapun karena di sana sudah tersedia." jawab Fazar.


"Dek? Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian yang tidak kami ketahui?" Tanya Doni kepo yang di angguki oleh Jery.


Frisya hanya menatap kedua orang itu sinis, "Dasar kepo." ucap Frisya.


"Hem, jangan katakan kalian sedang menjalin hubungan secara diam-diam karena takut kami meminta pajak jadian pada kalian." ujar Jery.


Frisya hanya menghela nafasnya kasar, "Huh, kalian ini yaa memang sangat cerewet dan satu lagi kenapa harus menunggu kami jadian jika memang kalian ingin di traktir. Katakan saja aku tidak akan keberatan mentraktir kalian. Perlu kalian tahu kami tidak memiliki hubungan apapun dan aku akan tetap mentraktir kalian. Katakan saja kalian mau di traktir apa." ucap Frisya.


"Yah, kami pikir kalian memiliki hubungan." ucap Jery kecewa.


"Hey, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau terlihat kecewa?" tanya Frisya bingung.


"Tentu saja kami kecewa. Kami itu adalah pendukung kalian tahu." timpal Doni.

__ADS_1


"Dasar aneh kalian." ucap Frisya sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah jangan ribut lebih baik kita mulai." lerai El yang tadi hanya diam saja. El memang dingin dan pendiam orangnya. Dia jarang ngomong tapi tetap saja dia memiliki kepedulian yang tinggi jika terkait orang di dekatnya.


"Tau tuh kak El, Jery sama Doni aneh." timpal Frisya.


El yang mendengar itu hanya menatap Fazar yang dari tadi diam saja memandang Frisya bicara. Dia memang tahu laki-laki yang hanya terpaut usia dua tahun di atasnya itu memiliki perasaan kepada Frisya.


Sementara Fazar dari tadi hanya diam saja mendengar apa yang di ucapkan oleh Frisya. Dia semakin yakin untuk menyembunyikan perasaannya agar nanti tidak ada yang mengetahuinya. Biarlah dia mencintai gadis itu dalam diam dan melindunginya dari jauh.


***


Tidak terasa kini sudah hari senin kembali seperti perkataan orang-orang bahwa hari senin itu adalah hari yang paling menyebalkan bagaimana tidak kita yang dua hari terbiasa bersantai dan bermalas-malasan di kasur harus di paksa bangun pagi pada hari senin demi melakukan aktivitas baik ke sekolah, ke kantor atau ke manapun hingga membuat banyak orang membenci hari senin sama halnya dengan yang terjadi kepada Friska dan Frisya.


“Pagi!” sapa Friska melihat sang adik yang masih dengan ekspresi malasnya.


“Pagi kak!” balas Frisya.


“Kak, kenapa sih cepat bangat udah senin aja. Ahh aku membenci hari senin.” Ucap Frisya segera duduk di meja makan di apartemen itu.


“Huh, emang sejak kapan juga kau menyukai hari senin. Kau itu selalu saja mengeluh jika hari senin. Aku tidak pernah mendengarmu mengatakan sesuatu yang baik jika hari senin.” Timpal Friska.


“Seperti tidak sama kau saja. Kau juga jika bukan tugasmu membuat sarapan hari ini aku yakin kau masih bermalas-malasan di kamarmu.” Balas Frisya.


Seketika kedua kakak beradik itu tertawa karena menyadari bahwa mereka saling meledek satu sama lain padahal sama saja, “Itu bukti bahwa kita memang memiliki darah yang sama.” Ujar Friska.

__ADS_1


“Kau benar tapi kak Reya berbeda dengan kita kak. Kakak kita yang satu itu justru bersemangat jika hari senin katanya jika kita mengawali weekday dengan semangat maka semua hari yang di lalui seminggu itu akan selalu baik. Aku sampai hafal semua kalimatnya.” Ucap Frisya.


“Yah kau benar. Entah kenapa kak Reya sangat menyukai hari senin.” Timpal Friska.


“Sudahlah jangan bicarakan kak Reya karena dia berbeda dengan kita. Lebih baik kita sarapan karena aku harus cepat ke tempat praktikku hari ini.” Ucap Frisya.


“Huh, padahal dari tadi kamu yang mengajak bicara.” Balas Friska.


Lalu kedua kakak beradik itu segera menikmati sarapan itu dengan hikmat, setelah selesai mereka segera bersiap-siap menuju tempat tujuan masing-masing.


“Kak Ris sepertinya hari ini sampai sabtu aku akan lama balik ke apartemen karena aku harus ke kantor kakak ipar untuk bekerja di sana selama seminggu ini.” Ucap Frisya saat mereka akan berangkat.


“Kakak tahu, aku sudah mendengarnya dari kak Reya. Hmm,, aku hanya penasaran kenapa kau bisa bekerja dengan kak Fazar. Apa kau menyukainya?” Tanya Friska menggoda.


“Jangan mencoba menggodaku kak Ris. Kau tahu bahwa aku tidak suka memiliki hutang budi dengan orang lain. Dia sudah membantuku jadi aku harus membantunya juga selain itu juga aku sedikit tidaknya bisa belajar bisnis darinya jadi hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan perasaan.” Ujar Frisya.


Friska pun mengangguk, “Tapi perlu kau ingat cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Aku gak apa-apa kok jika kau menikah lebih dulu.” Ucap Friska.


Frisya langsung menggeleng, “Jangan mengatakan sesuatu yang sudah kau tahu kak Ris. Kau tahu bahwa aku tidak menyukai hal itu dan jika pun nanti sudah ada yang melamarku atau akan menikahiku maka aku tetap akan menikah setelah dirimu. Aku ini anak terakhir maka aku harus menjadi terakhir. Jadi cepatlah temukan pasanganmu kak Ris.” Balas Frisya.


“Huh, aku masih nyaman sendiri. Aku pasti akan menikah jika sudah menemukan yang tepat.” Ujar Friska.


“Terserah padamu saja karena aku juga memang belum berpikiran untuk menikah. Sudahlah aku berangkat dulu!” pamit Frisya lalu dia segera melajukan mobilnya tapi sebelum pergi dia menyalami Friska walau mereka hanya terpaut dua tahun tetap saja sikap saling menghormati di antara mereka sudah diajarkan sejak kecil. Jadi mereka saling menghormati satu sama lain.


Friska yang di tinggalkan di parkiran hanya menggeleng saja dan seketika dia mengingat seseorang, “Sebenarnya aku juga memiliki seseorang yang aku sukai dek walau dia menyebalkan tapi aku menyukainya hanya saja aku tidak tahu apa perasaan ini akan terbalas atau tidak. Ahh bisa jadi juga dia sudah memiliki istri, siapa juga yang tidak ingin menjadi istri seorang seperti dia. Lagian aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya sejak terakhir kali. Aku mungkin hanya bisa mengubur perasaanku ini hingga saat ada seseorang yang menggantinya.” Gumam Friska lalu setelah itu dia segera melajukan mobilnya menuju klinik.

__ADS_1


__ADS_2