
Siang harinya Freya tiba bersama dengan Frisya di mobil Freya. Para anak-anak Freya juga ikut dengan mereka. Begitu Freya memarkirkan mobilnya para anak-anak segera turun dan langsung berlari menuju papa Khabir yang sudah berdiri menyambut kelima cucunya itu. Seperti biasa hanya Azwa dan Azlan yang segera berlari sementara tiga orang yang lain tetap berjalan cuek.
“Kakek Azwa rindu.” Ucap Azwa menciumi pipi kakeknya itu.
“Azlan juga rindu kek.” Timpal Azlan.
Papa Khabir pun menciumi wajah kedua cucunya itu yang memiliki sifat hangat yang lumayan dari pada ketiga cucunya yang lain. Papa Khabir segera menggendong cucu terakhirnya itu, cucu yang hampir membuatnya kehilangan putri sulungnya. Cucu yang lahir tidak di rencanakan. Cucu yang membuat Freya harus bertaruh nyawa. Tapi papa Khabir tidak menyalahkan cucunya itu karena lihatlah cucunya itu sangat cantik dan sangat cerdas. Selain itu juga Freya-nya masih di beri kesehatan dan kini bisa bersamanya.
“Kek!” ucap Azlen, Anind, dan Anand segera menyalami kakek mereka itu.
Papa Khabir pun tersenyum menyambut ketiga cucunya yang memiliki sifat dingin lebih besar dari sifat hangat mereka, “Kek, nenek di mana?” tanya Azlen karena tidak melihat neneknya.
“Nenek sudah tentu di dalam.” Ucap Azlan lalu dia segera berlari masuk ke dalam sebelum mendapat amukan dari saudara kembarnya itu.
Azlen pun segera mengikuti kakak kembarnya beda sepuluh menit itu masuk ke dalam menemui neneknya. Azwa pun segera turun dari gendongan sang kakek dan segera ikut dengan Anind yang langsung menggandengnya masuk ke dalam bersama abang sulungnya.
Freya dan Frisya segera menyalami papa mereka begitu anak-anak sudah masuk ke dalam, “Pah, apa Riska sudah tiba?” tanya Freya setelah menyalami papanya.
Papa Khabir pun mengangguk, “Sudah nak. Dia mungkin ada di kamarnya.” Jawab papa Khabir.
__ADS_1
“Tapi kok sepeda motornya gak ada di parkiran pah?” tanya Freya yang memang tidak melihat sepeda motor adiknya itu.
“Ahh masih di pakai oleh Zein nak.” jawab papa Khabir.
Freya pun mengangguk mengerti mendengar jawaban papanya itu lalu segera masuk ke dalam menuju dapur karena memang beberapa barang yang dia beli sudah di bawa ke dapur sementara yang lain di letakkan dalam kamarnya.
Freya segera menemui mamanya, “Apa semuanya sudah siap mah? Pelaminannya seperti sedikit lagi akan selesai.” Ucap Freya yang memang melihat tenda sudah terpasang dan pelaminan juga sudah berdiri tinggal menghias bunganya saja.
Mama Najwa mengangguk, “Semua sudah siap nak. Tinggal membuat dua macam kue lagi. Urusan makanan semua sudah siap.” Ucap mama Najwa.
Freya pun mengangguk, “Kalau begitu biar Reya yang membuat brownis itu. Ohiya mah di mana anak-anak?” tanya Freya begitu tidak melihat satu pun anaknya di dapur itu padahal di depan tadi dia tahu kelima anaknya itu menemui mama Najwa.
Mama Najwa tersenyum, “Jangan khawatir nak, mereka memang sudah dari sini menemui mama tapi setelah itu mereka izin ke rumah paman kecilmu. Mereka menemui Nino dan Nina.” Ucap Mama Najwa.
“Risya? Ouh dia ada--” ucap Freya melihat ke belakang.
“Aku di sini mah. Ada apa mencariku? Apa rindu padaku?” tanya Frisya yang segera berlari menuju mamanya dan memeluk mamanya itu.
“Kenapa bertanya lagi. Tentu saja orang tua pasti akan merindukan anaknya. Apalagi jika anak itu adalah kalian.” ucap mama Najwa.
__ADS_1
Frisya dan Freya pun tersenyum mendengar ucapan mamanya itu karena memang benar mama Najwa dan papa Khabir itu adalah sosok orang tua yang bijaksana yang tidak pernah membeda-bedakan mereka. Terlebih papa Khabir walaupun dia tidak memiliki anak laki-laki tapi dia tidak pernah iri atau marah kepada putri-putrinya. Papa Khabir dan Mama Najwa justru sangat bangga dengan ketiga putrinya itu. Kenapa juga orang tua yang tidak bangga jika semua anaknya sukses dan memiliki usaha mereka sendiri.
“Mah, apa Riska ada di kamarnya?” tanya Freya.
“Iya kak, Kak Ris ada di kamarnya. Aku baru dari kamarnya.” Bukan mama Najwa yang menjawab tapi Frisya.
Freya pun mengangguk mengerti mendengar jawaban adiknya itu, “Apa kau sudah memberikannya?” tanya Freya.
Frisya pun segera mengangguk, “Aku sudah memberikannya kak. Dia mungkin sedang mencobanya.” Ucap Frisya.
“Kalau memang begitu. Bukankah kita harus melihatnya.” Ucap Freya yang langsung di angguki oleh Frisya lalu kedua kakak beradik yang memiliki perbedaan usia 10 tahun itu segera berjalan cepat menuju kamar Friska. Mama Najwa pun segera mengikuti kedua putrinya itu dengan tersenyum melihat tingkah Freya dan Frisya. Menurut mama Najwa Frisya gak masalah bertingkah seperti itu tapi Freya sepertinya dia sudah tidak cocok lagi mengingat bagaimana sifat tegasnya jika berada dengan semua adiknya. Selain itu juga Freya sudah memiliki lima orang anak yang cerdasnya minta ampun. Tapi mama Najwa tetap senang melihat Freya yang kadang bersikap manja seperti itu. Karena dia juga ingin melihat putri sulungnya itu bermanja-manja dengan mereka.
Freya dan Frisya segera mengetuk pintu, “Masuk saja kak, dek.“ ucap Friska dari dalam seperti bisa membaca bahwa yang mengetuk pintu itu adalah saudaranya.
Freya dan Frisya pun segera membuka pintu, “Kok tahu kami yang datang?” tanya Frisya.
“Emang siapa lagi yang mengetuk pintu kamarku dengan keras begitu jika bukan kakak dan kau.” Ucap Friska. Frisya yang mendengar ucapan Friska kakaknya itu hanya bisa cengesan.
Sementara Freya dia hanya tersenyum lalu segera duduk di ranjang adik keduanya itu di mana di sana dia melihat ada kebaya dan juga perhiasan yang sudah dia tahu dari siapa barang itu, “Kak, aku menyukai kebaya ini. Tapi mama ingin aku memakai kebaya dari kak Rezky.” Ucap Friska setelah mencoba kebaya yang di bawa oleh Freya itu.
__ADS_1
“Mama benar dek. pakai saja pemberian dari keluarga Rezky. Mereka sudah membuatnya jauh-jauh hari, kakak sudah mengonfirmasi hal ini. Kita tidak boleh mengecewakan mereka. Lagian kakak yakin kebaya yang di berikan oleh calon mertuamu itu bukan kebaya kaleng-kaleng, pasti harga bahannya mahal. Kita tidak boleh mengecewakan mereka. Kasihan kan. Jika mereka ingin melihatmu memakai kebaya pesanan mereka di hari lamaran tapi kenyataannya tidak kau pakai. Mungkin mereka bisa memaklumi bahwa kau lebih memiliki kebaya yang kami beli dari pada pemberian mereka. Tapi tetap saja hati mereka tidak ikhlas menerimanya. Tidak apa kita berkorban untuk sebuah kebaikan bersama dek. Lagian kakak juga yakin pasti kebaya yang mereka berikan itu sudah sepasang dengan milik Rezky. Jadi pakailah pemberian mereka.” ucap Freya.
“Ahh baiklah.”