Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
101


__ADS_3

Singkat cerita, keesokkan paginya kini tepat pukul 09.00 semua keluarga menuju hotel tempat pesta pernikahan Kiana dan Zean. Begitu tiba di hotel mereka langsung di sambut dengan ramah karena memang penerima tamu mengenal siapa mereka.


Seluruh keluarga masuk ke dalam dan segera duduk di tempat yang sudah di sediakan, “Bunda, mau melihat mama.” Ucap Azlen berbisik di telinga Freya dengan nada datarnya.


Freya pun tersenyum dan mengusap kepala putranya itu yang memang memiliki ekspresi datar. Entah kenapa dia memiliki putra yang sangat dingin seperti Azlen itu padahal dia dan Alvino gak terlalu dingin-dingin amat.


“Baiklah, ayo kita temui mama Kia. Bunda juga mau melihatnya.” Ajak Freya berdiri tapi di tahan oleh Alvino.


“Mau kemana sayang?” tanya Alvino pura-pura tidak tahu padahal dia sudah mendengarnya.


“Mau melihat Kia by. Ayo!” ajak Freya menggandeng lengan putranya itu.


Ternyata anaknya yang lain juga mengikutinya dan Azlen. Freya pun hanya tersenyum lalu meminta ke empat anaknya yang lain untuk jalan lebih dulu. Anand, Anind dan Azwa pun menurut sementara Azlan segera memegang jari tangan Freya sebelah kanan karena Azlen berada di sebelah kiri Freya. Freya yang melihat itu pun tersenyum lalu menggandeng kedua putra kembarnya itu mengikuti ketiga anaknya yang berjalan di depan dengan Azwa di gandengan oleh Anand dan Anind.


Tidak lama mereka tiba di kamar Kiana. Freya langsung mengetuk saja dan begitu di izinkan baru masuk. Dia tersenyum melihat Kiana yang sudah cantik dengan gaun mewahnya dan ada Zean juga di sana dengan tuxedo nya.


“Mama sangat cantik.” Puji Azwa seperti biasa tidak bisa menyembunyikan kegembiaraannya jika bersama keluarganya.


Kiana pun tersenyum lalu segera merentangkan tangannya seolah meminta para keponakannya itu memeluknya. Azwa segera berlari lebih dulu dan memeluk Kiana dan di susul oleh yang lainnya.


Freya tersenyum melihat itu, “Sudah cukup yaa sayang nanti gaun mama Kia berantakan.” Ucap Freya setelah sekitar satu menitan anak-anaknya itu memeluk Kiana.


Anak-anaknya pun menurut, “Papa Zean juga tampan dengan pakaian itu. Papa dan mama seperti raja dan ratu.” Ucap Azwa tersenyum.

__ADS_1


Zean yang mendengar ucapan keponakan paling kecil istrinya itu tersenyum lalu dia segera mendekati Azwa dan menggendongnya, “Kamu juga sangat cantik sayang. Papa ingin memiliki putri seperti dirimu.” Ucap Zean.


“Aku memang cantik papa. Aku ini adalah putri bunda dan ayah yang paling cantik. Begitu kata orang-orang namun bagiku kak Anind paling cantik. Dia adalah kakak terbaikku.” Ucap Azwa menunjuk Anind.


Anind yang di tunjuk pun tersenyum, “Kau ini kenapa narsis sekali. Kenapa kau ikut sifat ayah yang narsis.” Ucap Anind mendekati adiknya yang ada dalam pelukan Zean.


Zean dan Azwa pun tersenyum, “Aku ini adalah putri ayah kak makanya aku mewarisi sifatnya.” Ujar Azwa.


Zean yang mendengar itu pun tersenyum begitu juga dengan Freya, “Kamu cantik juga kak Anind.” Ucap Zean.


“Terima kasih pah. Aku cantik karena mewarisi kecantikan yang di miliki oleh bunda dan adikku ini mengapa dia paling cantik karena dia mewarisi kecantikan bunda dan juga kecantikan yang aku miliki. Jadi dia double pah.” Ucap Anind tersenyum.


Zean dan Kiana pun tersenyum mendengar hal itu. Zean bisa melihat tidak ada sifat iri dalam persaudaraan mereka. Alvino dan Freya patut di acungi jempol terkait pola asuh yang mereka terapkan. Sepertinya dia dan Kiana harus belajar belajar dari mereka cara mendidik anak nanti.


Singkat cerita, kini pesta pernikahan Kiana dan Zean itu di mulai dengan kedua pengantin segera hadir di pelaminan sambil bergandengan tangan. Freya dan Alvino tersenyum melihat. Mereka bisa melihat cinta di mata Kiana dan Zean untuk satu sama lain. Sepertiya pernikahan dadakan yang terjadi itu adalah hal yang terbaik.


Alvino segera memeluk istrinya dari samping, “Apa kamu bahagia melihat adikmu itu mendapatkan kebahagiaannya?” tanya Alvino. Freya hanya mengangguk. Benar saja dia sangat bahagia saat ini melihat adiknya itu menemukan kebahagiaanya. Tugasnya selanjutnya yaitu memastikan kebahagiaan yang sama untuk adiknya yang lain.


Acara pesta pernikahan itu berlangsung dengan sangat meriah dan lancar. Tidak ada kendala satu pun. Semua keluarga dan para tamu undangan menikmati pesta pernikahan itu dengan bahagia.


“Kenapa menatap bunga itu dengan dalam?” tanya Kenzo kepada Irma. Yah, Irma yang di beri bunga oleh Kiana saat pelemparan bunga.


Irma yang menatap bunga di hadapannya segera menatap Kenzo lalu menggeleng, “Gak kak. Bunga nya sangat cantik.” Ucap Irma.

__ADS_1


“Kamu benar bunga nya sangat cantik namun bagi saya yang lebih cantik adalah orang yang sedang memegang bunga itu saat ini.” ucap Kenzo.


Irma tersenyum mendengar gombalan Kenzo itu, “Ternyata pak Dirut bisa menggombal juga yaa. Saya pikir pak Dirut itu adalah orang yang kaku dan serius.” Ucap Irma tanpa sadar menyatakan apa pendapatnya tentang Kenzo selama ini.


Kenzo yang mendengar apa yang di ucapkan oleh Irma seketika menatap gadis di sampingnya itu, “Jadi seperti itu pendapatmu terkait saya selama ini? Ahh saya gak menyangka kau berpendapat seperti itu tapi gak masalah kau memang belum mengenal saya. Saya juga berpendapat bahwa kau itu gadis misterius karena banyaknya hal yang kau sembunyikan.” Ucap Kenzo.


“Saya gak menyembunyikan apapun terkait sesuatu yang penting. Saya hanya mencoba melindungi diri saya dari hal-hal yang tidak penting. Itu saja.” ucap Irma kembali menatap bunga di tangannya itu.


Kenzo tersenyum, “Kau berbohong dek. Saya tahu semuanya tentangmu.” Ucap Kenzo lalu kembali melihat ke arah kakaknya dan kakak iparnya di pelaminan.


Irma yang mendengar ucapan Kenzo pun menatap pria itu, “Apa dia tahu aku juga memiliki penyakit itu? Apa saja yang sudah dia ketahui tentangku? Apa dia akan berubah pikiran setelah tahu bahwa aku adalah gadis yang penyakitan sama seperti teman-temanku?” batin Irma.


“Jangan memandangi saya seperti itu. Saya tahu saya tampan tapi jangan menatapnya seperti itu juga saya jadi takut.” Ucap Kenzo.


Irma yang mendengar itu pun hanya mendelik saja lalu kembali menatap bunga di hadapannya. Sementara Kenzo tersenyum melihat itu, “Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Tenang saja aku akan tetap mencintaimu. Yah cinta aku akui perasaan yang tumbuh di hatiku ini adalah cinta.” Batin Kenzo tersenyum.


Sementara Friska dan Rezky yang melihat Kenzo dan Irma bicara tersenyum, “Emm kak, menurut kakak apa yang mereka bicarakan?” tanya Friska.


“Siapa?” tanya Rezky.


“Iss Kenzo dan gadis kecil itu.” bisik Friska sedikit kesal.


Rezky yang melihat kekesalan di wajah calon istrinya itu tersenyum, “Mungkin saja mereka membahas masa depan. Sudahlah jangan bicarakan mereka. Lebih baik kita bicarakan masa depan kita saja.” ucap Rezky.

__ADS_1


Friska yang mendengar itu menatap Rezky dengan sinis, “Apa an sih kak? Emang apa yang harus kita bahas?”


__ADS_2