
Di klinik kini Friska baru saja masuk ke ruangannya setelah tadi melakukan daftar hadir di depan. Kini Friska mendudukkan tubuhnya di kursinya dan mulai membuka dokumen di hadapannya. Dia mencoba memfokuskan dirinya kepada dokumen di hadapannya dan berhenti memikirkan masalah pribadinya, “Aku harus bisa melupakan semuanya.” Gumam Friska mulai membaca dokumen itu. Setelah cukup lama berusaha akhirnya dia bisa fokus.
Setelah memeriksa beberapa dokumen tiba-tiba ada pasien yang masuk akan melahirkan. Friska segera bersiap menuju ruang bersalin dan di sana sudah ada bidan juga dan dokter yang mulai memeriksa pembukaan yang ternyata sudah pembukaan sembilan.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam akhirnya proses persalinan itu di mulai dengan di bantu dokter kandungan yang memang bertugas di sana. Dua jam kemudian akhirnya Friska keluar dari ruangan bersalin itu dan menuju ruangannya. Proses persalinan kali ini berjalan normal walau tadi sempat ada masalah karena tali pusat melinggar di leher bayi tapi untunglah bisa segera di ambil tindakan hingga tidak membahayakan janin dan ibunya.
Friska segera duduk di kursinya dan menutup matanya lelah hingga tiba-tiba ada yang mengetuk pintu yang sepertinya sudah bisa dia duga itu pasti sang kakak karena Freya selalu saja datang setiap dia selesai membantu persalinan. Kakaknya itu seolah-olah tahu dia butuh sandaran, yah walau sudah puluhan kali dia membantu persalinan tetap saja takut itu ada tapi dia mencoba bersikap professional dengan melawan rasa takutnya, “Minumlah!” ucap Freya menatap sang adik yang memang sudah dia ketahui baru selesai membantu persalinan.
Friska menerimanya dengan tersenyum, “Terima kasih kak!” ucap Friska langsung minum air mineral itu.
“Takut?” tanya Freya.
Friska mengangguk, “Sedikit karena ada dokter Fiona jadi takutnya gak terlalu.” Balas Friska.
“Wajar takut karena kakak saja merasakan itu. Ohiya makan siang ikut kakak di ruangan kakak. Tadi kakak membawa bekal.” Ucap Freya mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin adiknya itu mengingat ketakutannya. Seorang pelayan kesehatan juga bisa takut dan itu wajar karena mereka juga manusia yang memiliki rasa takut. Rasa takut itu muncul karena merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan mereka pasien yang membutuhkan pertolongan padahal mereka juga hanya bisa berusaha semua tergantung takdir yang maha kuasa.
Friska mengangguk, “Nanti Riska ke sana.” Ucap Friska.
__ADS_1
“Baiklah jika begitu, kakak tunggu di sana. Ohiya apa kaki Risya sudah benar-benar sembuh?” tanya Freya.
“Sepertinya iya kak karena dia sudah berjalan dengan baik. Apa dia meminta untuk mengendarai motornya lagi?” tanya Friska yang sepertinya sudah bisa menebak permintaan adiknya itu.
Freya mengangguk, “Ya tadi dia menelpon kakak untuk meminta izin tapi kakak tidak mengizinkannya karena masih khawatir dan memintanya naik taxi saja sebab Fazar tidak bisa mengantarnya harus menemani suami kakak untuk rapat penting.” Ucap Freya.
“Sudahlah kakak jangan khawatirkan tentang dia, aku akan menjaganya dengan baik. Bila perlu aku akan mengantar dan menjemputnya. Aku juga masih khawatir jika dia harus menyetir sendiri.” Ucap Friska.
Freya mengangguk, “Baiklah, kakak serahkan dia padamu karena kakak pusing dengan kelima keponakan kalian itu sekarang. Azlen baru saja meminta kepada ayahnya untuk di belikan alat lab lagi dan yang membuat kakak kesal ayahnya menurut aja. Huft, kakak kesal.” Curhat Freya.
“Sudahlah kakak pergi saja, kau jangan lupa datang ke ruangan kakak. Kakak masih harus menemui yang lain dulu.” Ucap Freya segera keluar dari ruangan adiknya.
***
Siang harinya waktu makan siang Friska segera menuju ruangan kakaknya untuk makan siang bersama. Dia segera masuk ke ruangan kakaknya, “Duduklah dan ini kotak makan siang untukmu.” Ucap Freya segera memberikan kotak makan siang untuk adiknya.
Friska menerimanya lalu mulai membuka kotak makan siang itu dan kini bau harum dan menggugah selera makanan itu langsung memenuhi indra penciumannya hingga membuat indra pengecapnya tidak tahan untuk mencicipi makanan buatan sang kakak yang sama lezatnya dengan makanan buatan Mama Najwa. Friska dan Freya menikmati makan siang itu dengan damai.
__ADS_1
Setelah makan siang bersama Friska hendak keluar tapi di tahan oleh Freya, “Dek, ini kakak punya sesuatu untukmu.” Ucap Freya menyerahkan sebuah gaun untuk adiknya.
Friska melihat gaun cantik warna wardah itu lalu dia menatap kakaknya, “Dalam rangka apa kakak memberiku gaun ini?” tanya Friska menyelidik.
Freya tertawa melihat tatapan adiknya, “Apa seorang kakak harus punya alasan memberikan sesuatu kepada adiknya? Bukankah kakak selalu memberikan sesuatu kepada kalian tanpa alasan? Kenapa hari ini bertanya? Lagian kakak juga membelikan sesuatu untuk Frisya juga bahkan Kiana dan Clemira juga. Kakak kemarin sempat pergi ke mall untuk membeli pakaian Anind dan Azwa lalu melihat pakaian cantik yang sepertinya cocok untuk kalian. Jadi kakak beli sekalian aja. Jadi apa kamu gak mau menerimanya?” tanya Freya.
“Bukan begitu kak, aku pikir--” ucap Friska tidak melanjutkan perkataannya.
“Aku pikir kenapa?” tanya Freya menyelidik.
“Ahh gak apa-apa kok kak, sudahlah aku menerima gaun ini. Terima kasih yaa kak.” Ucap Friska lalu segera menerima gaun itu lalu segera keluar dari ruangan Freya.
Freya tersenyum melihat sang adik yang sudah ngacir keluar, “Kakak harap kakak tidak melakukan kesalahan dengan mendukung rencana mami. Tenang saja kakak akan tetap menyerahkan semua keputusan padamu. Ahh entah apa yang terjadi kepada mami dan suamiku hingga ingin menjadi mak comblang untuk kalian.” Gumam Freya tersenyum mengingat itu.
Dia masih tidak percaya bahwa mertua dan suaminya melakukan itu apalagi sang mertua yang sepertinya tidak main-main dengan rencananya. Dia juga masih tidak percaya bahwa laki-laki yang dulunya hampir saja menjadi suami keduanya karena sang mami yang ingin mengerjai temannya kini sedang di jodohkan dengan adiknya secara diam-diam.
Freya hanya bisa menyetujuinya saja karena sepertinya itu hal yang baik walaupun agak sedikit ekstrim karena keduanya sama-sama tidak mengetahuinya. Freya hanya berjanji akan memberikan gaun itu kepada adiknya, gaun yang sudah di kirimkan oleh mami Jasmin, gaun yang sama yang di tolak adiknya kemarin tapi kini sudah berada di tangan adiknya karena dia. Untung saja adiknya itu tidak melihat gaun itu kemarin dan langsung memberikannya tapi tetap saja masih di curigai, sepertinya adiknya tengah waspada sekarang. Untung saja dia sudah memprediksikan hal ini hingga semalam langsung meminta butik langganannya untuk mengantarkan tiga gaun ke rumahnya untuk dia berikan kepada tiga adiknya yang lain agar tidak di curigai. Sepertinya dia sudah berubah jadi kakak yang licik sekarang, tidak apalah jika memang demi kebahagiaan adik-adiknya.
__ADS_1