
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang rapat yang di sulap menjadi pelaminan dadakan. Semuanya berkumpul di sana untuk menyaksikan akad pernikahan Kiana dan Zean berlangsung kecuali Friska dan Frisya yang menemani Kiana di ruangannya yang tidak ada di tempat itu.
Zean sudah ada duduk di meja tempat akad akan dilakukan dengan papa Vian yang ada di hadapannya serta pihak dari kantor agama dan dua orang saksi di mana di sana papa Khabir sebagai saksi dari pihak Kiana dan Alvino sebagai saksi pihak Zean. Papa Vian duduk di kursi rodanya dengan Kenzo yang menjaga di belakang.
“Apa ijab qabul-nya sudah bisa di mulai?” tanya pihak dari kantor agama.
“Silahkan pak di mulai.” Ucap papa Khabir dan di angguki yang lain.
“Kalau begitu nak Zean silahkan menjabat tangan pak Vian.”
Zean pun mengangguk lalu dia segera menjabat tangan papa Vian yang terpasang infus itu. Papa Vian tersenyum menatap laki-laki di hadapannya itu yang sebentar laki akan menjadi menantunya, dia masih tidak menyangka di akhir hidupnya bisa melihat dan menjadi wali nikah putrinya, “Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Zean Gavin Andreas bin Rafael Andreas dengan anak kandung perempuan saya Kiana Rarendra binti Alvian Rarendra dengan mas kawin 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Kiana Rarendra binti Alvian Rarendra dengan mas kawin 1 set perhiasan berlian di bayar tunai” ucap Zean dalam satu tarikan nafas. Papa Vian yang melihat pria di hadapannya itu mengujab ijab qabul dengan lantang tersenyum.
__ADS_1
Pihak kantor urusan agama langsung menanyakan kepada saksi apakah sah pernikahan mereka dan langsung di jawab sah oleh Alvino dan Papa Khabir serta semua keluarga yang hadir di sana. Lalu pak KUA itu segera memanjaatkan doa untuk pernikahan keduanya.
Daddy Rafael dan Mommy Vania yang melihat dan menyaksikan bagaimana putra tunggal mereka mengucap ijab qabul dengan lantang dan lancar terharu akhirnya ada saatnya juga mereka melihat putra mereka itu walau pernikahannya dilakukan di rumah sakit namun tidak masalah. Mereka berjanji akan membuatkan pesta megah untuk putra mereka itu dan tentu saja untuk menantu cantik mereka.
Sementara Freya juga tidak kalah terharu dengan akad yang berjalan hikmat dan lancar tanpa kendala itu. Freya memeluk mama Najwa dan mami Sinta bergantian, dia memang duduk di tengah keduanya ibunya, “Mah, Mih aku senang melihat Kiana akhirnya menikah. Semoga adikku itu akan berbahagia, semoga setelah ini dia akan bahagia. Sudah cukup dia menderita.” Ucap Freya lirih.
Mama Najwa dan Mami Sinta yang mendengar ucapan Freya pun tersenyum lalu kedua wanita itu mengelus kepala Freya bersamaan, “Aamiin. Kamu sudah berhasil mengantarkan adikmu menuju pintu kebahagiaannya nak. Setelah itu kau tinggal memiliki tugas lain lagi mengantarkan adikmu yang lain.” Ucap Mama Najwa.
“Kita akan berdoa untuk kebahagiaannya tapi tetap saja setiap rumah tangga akan memiliki masalahnya masing-masing semoga mereka bisa mengarungi bahtera rumah tangga mereka dan pada akhirnya akan berakhir dengan hubungan yang kokoh yang bahkan badai apapun tidak akan mampu merobohkan bahtera rumah tangga keduanya.” Ucap mami Sinta.
Freya pun mengangguk lalu dia segera berdiri keluar untuk menjemput sang adik yang sebenarnya sedang dalam perjalanan ke ruangan ini dengan di apit oleh Friska dan Frisya. Freya tersenyum melihat Kiana yang berjalan menuju ruangan itu. Friska dan Frisya pun menyerahkan Kiana ke tangan kakaknya dan mereka berjalan di belakang Kiana dan Freya yang kini berjalan masuk mendekat ke arah di mana Zean berada.
Zean memandangi Kiana tidak bergedip, lagi-lagi dia terpesona dengan gadis itu ah bukan istrinya itu. Istrinya itu sangat cantik dengan gaunnya dan dengan riasannya yang sangat cocok dengan warna kulitnya, “Berkedip boy.” Bisik Alvino menggoda.
__ADS_1
Zean yang mendengar bisikkan Alvino pun seketika tersadar lalu tersenyum malu membuat semua yang hadir di dalam ruangan itu terkekeh, “Dad, dia terpesona dengan menantu kita.” Ucap mommy Vania tertawa melihat putranya. Daddy Rafael pun menanggapinya dengan senyum. Mommy Vania dan Daddy Rafael tidak menyangka akan melihat sikap malu-malu putra mereka itu ternyata memang benar putra mereka itu langsung jatuh hati pada pandangan pertama kepada menantu mereka itu.
Freya langsung menyerahkan tangan Kiana yang tadinya dia pegang kepada Zean. Zean menerimanya dengan gugup hingga membuat orang-orang terkekeh kembali. Kiana yang tahu suaminya sedang gugup pun sedikit tersenyum lalu dia segera menyalami tangan suaminya penuh hormat dan menciumnya hingga membuat Zean meneteskan air matanya saking terharu bahwa dia memiliki istri yang sangat menghormatinya. Hilanglah semua kegugupannya lalu dia mendekati istrinya itu dan melabuhkan kecupan lembut di kening Kiana gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
Kiana yang baru pertama kali di kecup oleh lelaki selain papa dan adiknya pun kembali merasa gugup padahal tadi saat dia di genggam oleh Freya kegugupannya langsung hilang makanya dia berani segera menyalami tangan suaminya tapi begitu suaminya melabuhkan kecupan yang sangat lembut itu di keningnya dia kembali merasa gugup, “Silahkan saling bertukar cincin nikah.”
Kiana dan Zean pun segera bertukar cincin nikah lalu segera menandatangani berkas pernikahan mereka dan kini keduanya sedang memegang buku nikah di tangan masing-masing. Tidak lupa pernikahan itu di abadikan oleh fotografer handal kepercayaan keluarga Alvino yang memang sudah sering mengambil foto untuk mereka. Setelah menandatangani semua berkas dan mengabadikan akad pernikahan itu dalam bentuk foto kini Zean dan Kiana melakukan sungkem ke orang tua mereka. Ritual itu berjalan hikmat dan lancar tanpa kendala. Kiana dan Zean pun melakukan sungkem kepada Freya dan Alvino tapi begitu Kiana berlutut Freya langsung memeluk adiknya, “Selalu bahagia sayang. Doa kakak selalu menyertaimu.” Ucap Freya berbisik.
Kiana yang di peluk oleh Freya pun segera membalas pelukan kakaknya itu erat, “Terima kasih kak. Aku menyayangimu. Aku tidak akan pernah melupakanmu.” Ucap Kiana.
Setelah proses sungkem itu selesai, Zean dan Kiana duduk di pelaminan yang sudah di sediakan dan mengabadikan foto bersama seluruh keluarga yang hadir.
Mommy Vania dan Daddy Rafael begitu selesai acara foto bersama kembali mendekati menantu dan putra mereka, “Mom, punya sesuatu untukmu sayang.” ucap mommy Vania melepas gelangnya dan segera memakaikannya di tangan Kiana.
__ADS_1
Kiana hendak menolak tapi langsung di tutup bibirnya oleh tangan mommy Vania, “Jangan menolaknya nak, gelang itu adalah restu kami. Gelang itu adalah warisan keluarga kami. Dulu itu diberikan kepada mommy saat menikah dengan daddy oleh nenek Zean dan kini gelang itu sudah harus di wariskan kepadamu sebagai istri Zean. Jadi kau harus menerima restu dari kami semua nak.” ucap mommy Vania lembut. Zean yang melihat kedua orang tuanya sangat menyayangi istrinya tersenyum senang karena tidak menyangka orang tuanya akan merestui pernikahannya dengan mudah.