
Sekitar kurang lebih 30 menit dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di bandara. Rezky dan Friska pun segera turun dan mendekati Robi dan Hiro yang sudah menunggu di sana. Robi dan Hiro segera mengambil alih koper kecil yang di bawa oleh Rezky.
“Kita berangkat?” Tanya Hiro.
Rezky mengangguk lalu dia segera menatap Friska. Friska tersenyum lalu dia mendekati Rezky dan memperbaiki das calon suaminya itu, “Hati-hati di sana dan cepat kembali.” Ucap Friska setelah merapikan das Rezky.
Rezky pun mengangguk. Ingin rasanya dia memeluk Friska dan memberikan kecupan di kening calon istrinya itu. Tapi sayang mereka belum halal, “Ahh, aku harus mempercepat pernikahanku.” Batin Rezky.
“Kamu juga hati-hati pulangnya. Robi aku titip calon istriku juga perusahaan padamu.” Ucap Rezky.
“Aku bisa menjaga diriku kak.” Ujar Friska.
Rezky pun kembali mengangguk. Lalu setelah itu Rezky dan Hiro segera pergi. Friska melambaikan tangan kepada calon suaminya itu. Friska menunggu di sana sampai pesawat berlogo keluarga Rezky itu lepas landas. Barulah setelah itu dia keluar dan menuju mobilnya dengan perasaan yang tidak menentu. Entah kenapa hatinya mendadak tidak tenang. Namun dia mencoba berpikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Nona, kenapa belum berangkat?” Tanya Robi mengetuk jendela mobil Friska.
Friska pun menurunkan kaca mobilnya untuk menjawab pertanyaan asisten calon suaminya itu. Hiro ikut pergi dengan Rezky.
“Gak apa-apa. Duluan saja kau. Saya akan menyusul.” Ucap Friska.
“Hum, kita berangkat sama-sama saja nona. Saya akan mengikuti anda dari belakang.” Ucap Robi.
Friska pun mengangguk, “Baiklah. Jika begitu.” Balas Friska.
Robi pun segera menuju mobil yang dia pakai. Sementara Friska segera menghidupkan mobilnya dan tidak lama mobilnya pun melaju meninggalkan bandara.
__ADS_1
Friska memutuskan untuk ke rumah kakaknya saja dari pada pulang ke apartemen yang nanti dia hanya sendiri tidak ada teman bicara. Menghubungi Rezky gak bisa karena penerbangan calon suaminya itu ke Negara J membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Jadi dari pada dia bosan sendiri di apartemen dia lebih baik ke rumah kakaknya. Di sana dia bisa menunggu keponakannya pulang dari sekolah mereka dan bermain dengan mereka. Di sana juga dia bisa mengajak para asisten rumah tangga kakaknya itu untuk ngerumpi bareng.
Kurang lebih 20 menit saja dari bandara dia tiba di kediaman kakaknya. Robi juga ikut mengantarnya sampai ke sana. Barulah dia memastikan mobil calon istrinya tuan mudanya itu masuk dengan aman ke rumah Freya dan Alvino dia segera berputar balik menuju perusahaan.
Friska segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah kakaknya, “Bi!” panggil Friska heboh segera menuju dapur.
“Non Riska di sini? Nyonya Freya ada di klinik.” Ucap bi Susi.
“Riska tahu. Riska kesini bukan ingin menemui kakak tapi ingin bertemu dengan para keponakanku. Namun berhubung mereka masih di sekolah. Para bibi tolong temani Riska ngerumpi yaa. Riska bosan soalnya tidak punya teman ngerumpi. Ke apartemen sendiri, Risya di tempat praktiknya. Jadi kesini deh.” Ucap Friska segera duduk di kursi yang ada di dapur itu.
Para ART Freya itu pun saling menatap bingung. Mereka bisa melihat bahwa ada yang mengganggu adik nyonya mereka ini.
“Emang non Riska ingin bicara tentang apa?” Tanya bi Wati.
Friska menghela nafas kasar, “Aku bingung dan khawatir bi. Aku ini baru saja kembali dari bandara. Dari mengantar kak Rezky berangkat ke Negara J. Aku mengizinkannya pergi karena proyek yang dia tangani bermasalah dan dia kesana untuk menyelesaikan itu. Tapi entah kenapa setelah pesawatnya lepas landas perasaan Riska jadi tidak tenang. Mendadak khawatir. Itu bukan firasat buruk kan?” Tanya Friska.
Friska pun mengangguk, “Riska sudah berdoa bi. Tapi masih saja khawatir.” Ucap Friska.
“Apa yang membuatmu khawatir dek. Jangan terlalu berpikiran terlalu parno. Doakan saja Rezky selamat dalam perjalanannya. Yakinlah dia akan kembali.” Ucap Freya tiba-tiba.
Friska dan para ART itu pun kaget dan saling menatap, “Kak, aku mengagetkan kami. Kenapa tidak ada suara sama sekali tiba-tiba saja bicara.” Ujar Friska.
Freya pun hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada adiknya itu dan Friska pun segera menciumnya, “Janagn terlalu khawatir.” Ucap Freya.
Friska pun mengangguk, “Kak, kenapa kok jam segini kau sudah pulang?” Tanya Friska.
__ADS_1
“Kakak memang harus pulang karena mau menemani mami pergi ke acara arisannya hari ini bersama teman-temannya. Mereka semua membawa menantu mereka. Jadi kakak hari ini pun harus ikut.” Ucap Freya.
Friska pun mengangguk, “Oh begitu.” Ucap Friska.
“Kamu juga ikut. Mami Jasmin lupa memberitahumu tadi. Dia baru ingat ada acara arisan setelah mami Sinta menelponnya. Jadi tunggu saja dia akan menghubungimu.” Ujar Freya.
“Emang aku harus ikut yaa. Bukan tadi kakak mengatakan hanya menantu saja yang ikut. Aku kan belum resmi jadi menantu mami Jasmin baru calon menantu.” Ucap Friska.
“Sama saja nak. Pertemuan kami ini memang di adakan untuk saling memperkenalkan menantu ataupun calon menantu kami kepada teman kami.” Ucap mami Sinta yang tiba-tiba datang.
Freya pun segera menyalami ibu mertuanya itu di ikuti oleh Friska, “Oh gitu yaa. Apa bisa Friska gak ikut?” Tanya Friska layak orang bodoh.
“Ikut saja dek. Dari pada kamu memikirkan Rezky yang tidak-tidak lebih baik kamu ikut arisan.” Ujar Freya di angguki mami Sinta.
Friska pun mengangguk, “Tapi Riska gak bawa pakaian ganti. Terus gimana dong. Masa iya pakai ini.” Ucap Friska menunjuk pakaiannya.
“Tenang saja terkait pakaian. Salwa akan mengirimkannya untuk kita.” Ucap mami Sinta.
Friska pun mengangguk saja, “Baiklah jika begitu.” Ujar Friska.
Mami Sinta dan Freya pun tersenyum lalu ibu dan menantu itu segera naik ke lantai dua bersama. Freya dan mertuanya memang sangat dekat layak ibu dan putrinya, “Kok, mami gak bilang memesan pakaian sama kak Salwa.” Ucap Freya.
“Mami juga baru memesannya nak. Jadi belum sempat mengatakan padamu.” Ujar mami Sinta.
Freya pun mengangguk mengerti, “Ohiya mih. Apa mami Santi juga akan ikut?” Tanya Freya.
__ADS_1
“Yah dia akan ikut. Sepertinya Salwa yang akan menemaninya. Dia kan hanya memiliki Salwa saja dan menantunya adalah laki-laki. Satu hal yang tidak mungkin Devano yang akan dia ajak. Ini kan arisan para wanita.” Ucap mami Sinta tertawa. Freya pun ikut tertawa mendengarkan ucapan ibu mertuanya itu.
Sementara di bawah Friska seperti dugaan Freya, mami Jasmin menghubungi Friska dan meminta untuk di temani ke acara arisan. Friska pun mau tak mau ikut dan menurut saja.