Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
54


__ADS_3

Di taman kini Kiana dan Zean sudah sampai di sana. Keduanya diam tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, “Emm,, nona kita belum kenalan. Saya Zean!” ucap Zean mengulurkan tangannya.


Kiana menatap Zean sekilas lalu menatap uluran tangan itu, “Kiana. Panggil saja Kia atau Kiana. Maaf saya--” ucap Kiana sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


Zean pun mengangguk mengerti dia menarik tangannya, “Maaf yaa. Kau mungkin kaget dengan ucapan saya tadi di dalam sana. Kau juga mungkin tidak percaya dengan apa yang sudah saya katakan di dalam tadi tapi percayalah itu semua memang benar terjadi. Jika saja aku bisa membuktikannya dengan membelah dadaku maka aku rela membelah dadaku untuk membuktikannya padamu tapi sayang rasa itu tidak bisa di buktikan dengan cara itu hanya bisa di rasakan saja.” ucap Zean.


Kiana tersenyum, “Anda benar tuan Zean, saya memang tidak percaya dengan apa yang anda katakan. Saya masih belum percaya dengan perasaan itu yang bisa muncul tiba-tiba walau sudah melihat buktinya antara kak Reya dan kakak ipar Vino. Kak Vino juga jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kak Reya tapi keadaan kakak dan kakak ipar berbeda dengan kita. Saya takut perasaan anda itu hanya rasa kasihan kepada saya tadi karena melihat dan mendengar apa yang terjadi pada saya. Maaf anda harus mendengar sesuatu yang tidak pantas tadi.” Ucap Kiana lembut.


Zean yang mendengar itu entah kenapa dia sedih, dia tahu dalam kalimat Kiana itu tersimpan kerapuhan. Ingin rasanya dia mendekap gadis itu dalam pelukannya dan memberinya kekuatan dan perlindungan tapi sayang dia harus menahannya karena dia tahu itu tak bisa dia lakukan karena terhalang tembok bukan mahram, “Saya tidak kasihan kepadamu. Kenapa saya harus kasihan kepada seorang gadis yang bahkan kakinya terluka dan berdarah dia bisa menahannya dan segera dengan cepat ke rumah sakit begitu mendengar papanya drop. Kenapa saya harus kasihan kepada gadis yang tidak segera mengobati lukanya dan justru duduk menunggu di depan ruang UGD dengan menunduk. Kenapa saya harus kasihan kepada seorang gadis yang bisa menyimpan masalahnya sendiri alih-alih membaginya dengan orang lain. Kenapa saya harus kasihan dengan seorang gadis yang hanya peduli dengan pekerjaan dan mengabaikan kesenangan sendiri. Saya katakan sekali lagi saya tidak kasihan padamu karena kau tidak pantas di kasihani. Kau itu layak di cintai. Aku mencintaimu Kiana. Aku tahu ini aneh tapi itulah kenyataannya. Jadi tidak bisakah kau menerimaku menjadi suamimu? Aku akan sangat senang jika kau menerimaku walau itu kau lakukan hanya untuk memenuhi permintaan papamu. Aku rela melakukannya. Perlu kau tahu aku itu paling gak suka melakukan perjalanan bisnis apalagi perjalanan bisnis beda Negara. Biasanya aku hanya mengirim perwakilanku untuk mewakiliku tapi entah kenapa saat perjalanan bisnis kali ini hatiku mendorongku untuk pergi sendiri dan di sinilah aku berada di negaramu. Aku menganggap perjalananku kali ini bukan karena bisnis tapi ternyata perjalananku ini adalah perjalananku menemukan jodohku.” Ucap Zean.


Kiana yang mendengar itu pun hanya diam sambil berpikir apa yang harus dia lakukan, “Kenapa harus saya? Bisa saja perjalanan anda ini mungkin memang perjalanan ketemu jodoh dan itu mungkin bukan saya. Anda baru satu hari ini di sini jadi bisa saja jodoh anda orang lain. Jadi jangan terburu-buru mengambil keputusan.” Ucap Kiana.


Zean tersenyum mendengar perkataan Kiana. Dia menyadari bahwa Kiana keras kepala sama dengannya tapi sungguh dia sudah tertarik dengan gadis itu, “Kau mungkin benar tapi sudah saya pastikan bahwa kaulah orang itu. Jodohku! Jadi katakan apa keputusanmu sekarang?” tanya Zean.


“Apa anda yakin? Saya tidak ingin anda menyesal nantinya melakukan ini?” ucap Kiana.

__ADS_1


“Aku tidak akan menyesal karena kau adalah wanita yang aku pilih dan aku tidak akan menyesali pilihanku.” Ucap Zean yakin.


Kiana pun mengangguk, “Kalau memang itu sudah menjadi keputusan anda maka sekarang dengarkan keputusan saya. Saya Kiana menerima ini. Saya bersedia menikah dengan anda. Tapi bagaimana dengan orang tua anda?” tanya Kiana kemudian.


Zean tersenyum, “Akan saya pastikan mereka setuju dengan pernikahan ini.” ucap Zean yakin.


Kiana terkekeh mendengar itu, “Anda sangat percaya diri tuan. Anda seperti sudah memahami saja orang tua anda. Bisa saja mereka menolak memiliki menantu miskin seperti saya.” ucap Kiana.


Zean segera menatap Kiana dalam, “Akan saya hubungi orang tua saya. Akan saya kenalkan kau dengan mereka. Saya juga tidak ingin menikah tanpa restu mereka. Jadi jangan pernah mengatakan kau miskin atau tidak pantas untuk saya. Kita memiliki kekurangan kita masing-masing dan tidak semua orang kaya memiliki sifat yang sama.” Ucap Zean.


Zean pun mengangguk mengerti, “Saya paham. Yaa sudah ayo kita kembali.” Ucap Zean. Kiana pun mengangguk lalu keduanya kembali masuk ke dalam.


Freya dan Alvino yang memang masih menunggu di luar menatap dua orang yang kini berjalan mendekati mereka. Mama Najwa dan Papa Khabir sudah masuk ke dalam ruangan perawatan untuk melihat keadaan papa Vian.


“Bagaimana keputusan kalian? Apa sudah ada keputusannya?” tanya Alvino.

__ADS_1


Zean menatap Kiana di sampingnya, “Kia, apa keputusanmu?” tanya Freya.


Kiana menatap kakaknya itu, “Kiana menerimanya. Kia bersedia menikah kak.” Ucap Kiana.


Freya dan Alvino pun tersenyum mendengar itu, “Baiklah jika begitu kita akan mempersiapkan pernikahannya hari ini. Kia, Zean kalian tidak keberatan kan?” tanya Freya menatap dua orang di hadapannya itu.


Kiana dan Zean menggeleng, “Kami tidak keberatan nyonya.” Ucap Zean.


“Panggil aku kakak Zean. Jangan memanggilku nyonya karena sebentar lagi kau akan menjadi adik iparku tapi sebelum itu aku ingin memastikan satu hal. Aku tidak ingin pernikahan adikku tidak mendapat restu orang tuamu.” Ucap Freya.


Zean tersenyum, “Saya akan menghubungi mereka. Jika masih sempat maka mereka akan saya minta untuk ke sini.” Ucap Zean.


“Gak harus datang Zean karena kami paham jaraknya jauh tapi yang terpenting restu mereka.” ucap Freya.


“Kak Reya gak perlu khawatir akan saya pastikan pernikahan ini akan di restui mereka.” ucap Zean.

__ADS_1


Alvino tertawa mendengar ucapan Zean itu, “Aku tahu maksudmu Zean. Di umurmu ini pasti sudah banyak drama perjodohan yang di lakukan bukan. Aku paham para orang tua itu sangatlah mengkhawatirkan jika anak mereka menjadi bujak lapuk.” Ucap Alvino tertawa. Zean pun hanya tertawa karena memang apa yang di katakan Alvino itu terjadi padanya. Setelah itu mereka memutuskan masuk dan mengenalkan Zean kepada papa Vian sebelum Kiana di kenalkan ke orang tua Zean walau mungkin hanya melalui sambungan telepon.


__ADS_2