
“Lalu rapat hari ini bagaimana?”
Zean tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh istrinya itu. Kiana selalu saja merasa tidak enak jika hanya karena dirinya Zean harus menunda pekerjaannya. Kiana tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya sama sekali. Padahal bagi Zean sendiri istrinya itu yang paling penting dan paling utama. Kiana adalah segalanya baginya.
“Sayang, kenapa selalu merasa tidak enak padaku? Aku ini adalah suamimu dan sudah pantas aku melakukan apapun untukmu. Lagian juga rapatnya pagi ini sayang. Kita bisa berangkat ke Negara N sore nanti atau mungkin malam. Jarak Negara ini dan Negara N itu dekat sayang. Kenapa harus memikirkan sesuatu yang tidak menjadi masalah. Jangan terlalu berpikir. Kita akan datang ke lamaran Kenzo.” ucap Zean.
Kiana tersenyum, “Aku hanya gak mau kau akan lelah nanti karena menunda pekerjaan.” Ucap Kiana.
“Kenapa aku harus lelah karena itu? Kau saja tidak lelah melayaniku. Memang benar dalam suatu hubungan itu harus ada hubungan timbal balik satu sama lain. Tapi kenapa kita tidak mencoba untuk berkorban satu sama lain agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Kau adalah istriku sayang. Jangan pernah merasa seperti itu lagi. Aku akan sedih nanti.” Ujar Zean.
Kiana pun mengangguk lalu dia memeluk suaminya itu dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, “Kak, lalu bagaimana dengan mommy dan daddy. Apa mereka akan mengizinkan kita pergi?” tanya Kiana.
Zean tersenyum lagi mendengar hal itu, “Emm, sepertinya kita akan di izinkan. Tapi kenapa tidak kau yang minta izin sendiri sayang. Kau itu adalah putri mereka. Aku melihat mereka lebih menyayangimu dari pada aku. Tapi itu tidak masalah untukku. Aku justru senang istriku bisa akrab dengan orang tuaku.” Ucap Zean.
“Kak tetap saja aku takut minta izin. Kakak harus membantuku.” Ucap Kiana.
Zean pun mengangguk, “Baiklah ratuku. Ayo kita turun dan meminta izin kepada mereka.” ucap Zean.
“Nanti aja kak. Setelah kita sarapan nanti. Aku saja yang turun lebih dulu mau menyiapkan sarapan dulu. Kamu siap-siaplah kak. Cup.” Ucap Kiana segera melepas pelukan suaminya itu dan berlari keluar kamar setelah memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya itu.
__ADS_1
Zean pun tersenyum melihat tingkah istrinya itu dan dia segera menyentuh bibirnya yang di kecup oleh istrinya itu, “Aku beruntung bertemu dengannya. Aku beruntung bisa memiliki istri seperti dirinya. Ahh aku ingin seorang putri seperti dirinya.” Ucap Zean lalu dia segera menuju kamar mandi untuk mandi bersiap ke kantor menghadiri rapat pagi ini.
Sementara di bawah, Kiana segera menuju dapur di mana di sana sudah ada ART yang mulai bekerja. Kiana pun segera membuat sarapan yang ingin dia buat hari ini dengan di bantu oleh ART yang bertugas memasak. Tidak lama mommy Vania juga datang ke kamar dan dia tersenyum melihat menantunya itu sudah di dapur. Selalu saja begitu setiap dia bangun pasti Kiana sudah berada di dapur.
“Apakah mommy yang bangun kesiangan atau kamu yang bangun kepagian nak?” tanya mommy Vania berjalan mendekati Kiana.
Kiana tersenyum melihat mertuanya itu, “Mom bisa aja.” Ucap Kiana mengecup pipi ibu mertuanya itu.
“Beneran sayang. Kamu itu walaupun mommy bangun cepat atau telat selalu saja kamu sudah di sini.” Ujar mommy Vania.
“Mungkin kebetulan saja mom.” Balas Kiana.
Kiana pun tersenyum lalu segera menjelaskan menu apa yang dia pilih untuk sarapan pagi ini, “Enak yaa punya menantu lulusan kesehatan. Semua menu untuk seminggu sudah tertata dengan baik dan kita tidak perlu meragukan gizinya karena itu menjadi satu hal yang nomor satu di perhatikan.” Ucap mommy Vania memuji Kiana.
“Benar nyonya.” Balas para ART itu.
Kiana hanya tersenyum menanggapinya. Mommy Vania dan daddy Rafael memang sering memujinya tidak sekalipun mereka mencelanya dan jika pun dia membuat kesalahan pasti di perbaiki dan di beri tahu dengan cara baik-baik. Kiana di perlakukan layak putri mereka tidak di bedakan dari Zean. Hal itu lah yang di katakan Zean bahwa istrinya itu lebih dekat dengan kedua orang tuanya di banding dirinya karena memang pada kenyataannya begitu. Sejak Zean memiliki istri dan menikahi Kiana orang tuanya itu tidak lagi mempedulikannya dan justru mempedulikan Kiana. Tapi seperti apa yang sudah di katakan Zean tadi dia tidak akan iri karena Kiana adalah istrinya dan dia senang Kiana bisa akrab dengan kedua orang tuanya.
***
__ADS_1
Singkat cerita, kini semua makanan untuk sarapan pada pagi itu sudah siap di atas meja. Zean dan daddy Rafael pun segera menuju meja makan tanpa di panggil karena bau makanan itu sudah menggoda keduanya, “Wah, menu apa nih yang di buat oleh menantu kita hari ini? Kenapa selalu saja ada menu baru dan seperti biasa selalu menggoda selera. Sepertinya kita akan jadi gendut mom jika tidak diet karena makanan buatan menantu kita itu sudah jangan di ragukan lagi soal rasanya sudah pasti enak.” Ucap daddy Rafael menatap menu sarapan pagi itu.
“Dad bisa aja. Sudah ayo duduk dad.” Ujar Kiana.
“Sayang, apa hanya dad yang kau minta untuk duduk? Ahh aku kesel.” Ucap Zean pura-pura merajuk dengan menatap arah lain.
Mommy Vania, Daddy Rafael dan Kiana yang melihat itu pun tersenyum, “Maaf suamiku. Ayo duduk!” ucap Kiana lalu segera meminta suaminya itu untuk duduk.
“Aku sedang merajuk padamu sayang.” ucap Zean.
“Dasar bayi besar.” Ucap mommy Vania meledek sang putra yang bersikap manja kepada istrinya itu. Hal itu memang sudah menjadi pemandangan yang mereka lihat hampir tiap hari. Putra mereka itu sangat manja kepada menantu mereka. Kiana juga tidak keberatan akan hal itu.
“Mommy biarkan saja dia senang bermanja kepada istrinya mom. Lebih baik kita habiskan semua menu ini agar dia tidak kebagian. Salah sendiri pakai acara merajuk segala.” Ujar daddy Rafael.
“Daddy!” ucap Zean.
Daddy Rafael pun tertawa mendapat tatapan tajam dari putranya itu, “Makanya jangan ngambek. Masih pagi itu nak. Sudah ayo duduk dan sarapan jika memang kau ingin kebagian makanan karena sejujurnya mommy dan daddy sangat menyukai menu buatan istrimu ini.” ucap mommy Vania.
“Ayo kak. Jangan ngambek. Ayo kita sarapan.” Bisik Kiana.
__ADS_1
Zean pun tersenyum lalu mengangguk. Dia pun segera duduk, “Ini semua adalah milikku.” Ucap Zean layak anak kecil saja sehingga mengundang tawa yang lain. Setelah itu acara sarapan pagi itu pun di mulai dan berjalan lancar.