Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
140


__ADS_3

Keesokkan paginya kini di kediaman Freya dan Alvino semua orang sibuk dengan persiapan lamaran yang akan di laksanakan pukul sepuluh nanti. Seluruh keluarga pihak Freya sudah ada di kediaman itu dan menempati kamar masing-masing untuk bersiap.


Freya yang sudah siap segera membantu suaminya untuk memakai dasinya, “Terima kasih sayang.” ucap Alvino lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya itu. Hal itu memang biasa Alvino lakukan saat Freya membantunya memakai dasi. Alvino memang semenjak punya istri tidak lagi memakai dasinya itu sendiri selalu Freya yang membantunya. Dia sudah bergantung kepada Freya begitu juga dengan pakaian yang akan dia pakai.


Freya mengangguk, “Sudah kan? Hubby gak butuh bantuan lagi kan?” tanya Freya.


Alvino pun mengangguk, “Kalau begitu, aku harus melihat anak-anakku dulu. Apa mereka sudah siap atau belum.” Ujar Freya lalu segera menuju kamar putra dan putrinya.


Freya tersenyum melihat Anind yang sedang membantu Azwa mengikat rambutnya itu, “Sini bunda bantuin.” Ucap Freya.


Anind dan Azwa pun segera mendekati bunda mereka itu dan bergantian untuk di tata rambut mereka lalu di pakaikan hijab. Saat Freya sedang membantu kedua putrinya ketiga putranya masuk ke kamar Anind dan Azwa itu dengan membawa das dan jas mereka di tangan masing-masing.


“Bunda, bantuin kami juga.” Ucap Anand.


Freya pun mengangguk, “Sebentar ya bang. Bunda bantuin kakak dan adik dulu.” Ucap Freya.


Ketiga putranya pun mengangguk dengan kompak lalu duduk di ranjang milik saudari mereka itu sambil memeriksa hijab para saudari mereka yang terletak di ranjang, “Jangan di sentuh Azlan. Awas aja jika kusut.” Ucap Anind melarang adiknya yang hendak menyentuh hijabnya dan Azwa.


“Ish belum juga di sentuh sudah di larang.” Ucap Azlan lalu segera duduk di sofa di kamar itu dari pada kena marah dari kakak perempuannya itu.


“Makanya jangan coba-coba menyentuh hijab mereka Az.” Ujar Anand.


“Aku hanya mau duduk aja bang.“ balas Azlan membela diri.


“Kan masih ada tempat duduk lain.” Timpal Azlen.


“Ish aku kan mau ikut kalian. Kalian menggunakan ranjang untuk tempat duduk maka aku juga mau duduk di sana. Tapi juga belum duduk sudah mendapat larangan.” Ucap Azlan menghela nafas pasrah.


“Hahahh, kasihan abang Azlan.” Ujar Azwa tertawa.


Freya yang mendengar itu hanya ikut tertawa saja lalu segera memakaikan hijab untuk putri sulungnya itu yang masih dalam mode dinginnya. Tidak lama setelah itu dia segera membantu Azwa memakaikan hijabnya lalu segera membantu ketiga putranya.


“Terima kasih bunda.” Ucap kelima anaknya itu bersamaan.

__ADS_1


Freya pun tersenyum lalu mengangguk, “Ahh kalian menggemaskan.” Ucap Freya.


“Hmm, sudah semuanya kan? Apa masih ada yang butuh bantuan bunda?” tanya Freya menatap kelima anaknya itu.


Mereka semua dengan kompak menggeleng karena sudah siap semuanya, “Baiklah jika sudah siap. Bunda mau memeriksa yang lain dulu apa sudah siap atau belum.” Ucap Freya lalu segera keluar dari kamar kedua putrinya itu.


“Bunda!” panggil Anind yang mengikuti Freya dari belakang.


Freya pun menatap putrinya itu, “Ada apa sayang? Apa yang putri bunda butuhkan?” tanya Freya.


“Anind mau pinjam tas punya bunda. Bisa gak?” tanya Anind menatap Freya.


“Tas bunda yang mana sayang?” tanya Freya.


“Yang kecil bun. Punya Anind ada tapi Anind ingin punya bunda agar senada dengan pakaian Anind.” Ujar Anind.


Freya pun tersenyum, “Ya sudah sana ambil di kamar bunda sama ayah. Ajak juga Azwa. Ambil saja yang kalian suka.” Ucap Freya.


“Terima kasih bunda.” Ucap Anind dan Azwa yang ternyata putri bungsunya itu bersembunyi di baik tirai pintu.


Setelah itu Freya pun segera menuju kamar Kenzo yang ternyata sudah siap di bantu oleh Kiana dan Zean, “Ingat dek. Kamu harus hafal semuanya. Awas saja jika ada yang di lupakan.” Ujar Kiana.


“Iya kak. Tenang saja aku sudah menghafalnya dengan baik. Aku tidak mungkin lupa. Tanpa kertas itu pun aku tahu apa yang harus aku katakan untuk melamar gadisku.” Ucap Kenzo.


“Huh, kakak ini hanya mengkhawatirkanmu dek. Bagaimana jika kau gugup nanti dan blank. Kakak kan hanya ingin kau itu tidak malu nanti.” Ucap Kiana.


“Yah, aku tahu kak niat baikmu. Tapi jangan juga di ulang-ulang kak. Aku bisa lupa nanti.” Ucap Kenzo.


“Huh, baiklah terserah padamu saja.” ucap Kiana lalu segera duduk di ranjang.


“Sudah Kia. Aku yakin Kenzo tidak akan melakukan kesalahan. Irma adalah gadis yang dia cintai dan dia pilih sendiri. Jadi tidak mungkin dia salah.” Ucap Freya.


“Semoga saja. Aku masih sebal kak. Moodku hari ini masih kurang baik. Maaf dek kau menjadi pelampiasannya.” Ujar Kiana yang memang entah kenapa merasa moodnya itu kurang baik.

__ADS_1


Zean yang mendengar itu pun segera mendekati Kiana, “Ada apa? Apa ada yang membuatmu sampai kesal begitu? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Zean.


“Ish kak, aku gak marah padamu hanya saja moodku entahlah buruk hari ini.” ucap Kiana.


Kenzo yang mendengar itu pun menatap Freya lalu Freya juga menatap adik sepupunya itu, “Sudah, kakak yakin kau bisa melakukannya.” Ucap Freya menepuk bahu adiknya itu.


“Terima kasih kak!” balas Kenzo.


“Terima kasih juga untuk kak.” Ujar Kenzo kepada Kiana.


Kiana pun mengangguk dan tersenyum, “Kakak akan berdoa semoga semuanya berjalan lancar.” Ujar Kiana lalu merapikan jas adiknya itu.


Kenzo pun tersenyum, “Aku menyayangimu kak. Jangan sebal lagi. Aku akan menghafalnya dengan baik.” ujar Kenzo. Kiana pun mengangguk tersenyum.


Freya yang melihat itu pun akhirnya ikut tersenyum lalu setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Dia kembali ke kamarnya dan begitu dia tiba di sana dia tertawa melihat kelima anaknya yang membuat suaminya sibuk.


“Sayang, bantu aku. Kelima anakmu ini merepotkanku.” Ucap Alvino mengadu.


“Ayah kami ini juga anakmu.” Ucap Azlen datar.


“Yah memang anak ayah tapi jangan jadikan ayah gini juga dong.” Ujar Alvino.


“Sayang, bantu aku. Aku pusing membantu mereka memilih.” Lanjut Alvino.


Freya pun akhirnya mendekati suami dan kelima anak mereka itu, “Ayo sini kalian mau apa sebenarnya?” tanya Freya.


“Kami ingin meminjam jam tangan milik ayah bun.” Ucap Anand mewakili kedua adik kembarnya.


“Ya sudah ambil aja nak.” ucap Freya.


“Sudah bun tapi kami bingung mau pilih yang mana. Jadi ayo bunda tolong pilihkan untuk kami.” pinta Azlan.


Freya pun segera melihat seluruh koleksi jam tangan mahal milik suaminya itu dan segera memilihkan untuk ketiga putranya dan memakaikannya, “Terima kasih bunda.” Ucap ketiganya senang karena yang di pilihkan Freya sangat sesuai dengan selera mereka.

__ADS_1


Freya hanya mengangguk lalu segera membantu kedua putrinya juga memakai jam tangan miliknya dan juga mengambilkan dua tas miliknya dan segera memakaikannya kepada kedua putrinya yang langsung di terima dan di pakai dengan baik. Setelah itu kelima anak mereka pun segera keluar setelah mendapatkan apa yang mereka mau.


“Huh, kenapa mereka menyukai pilihanmu sayang sedangkan aku justru di pusingkan.” Ujar Alvino. Freya hanya tersenyum.


__ADS_2