
Di kantor Alvino dia saat jam makan siang saling bertelponan dengan kedua putranya, “Kalian sudah memberikannya kepada calon paman kalian itu?” tanya Alvino.
“Sudah Yah. Kami sudah memberikannya semoga saja calon papi kami itu bisa menggunakannya dengan baik.” jawab Anand.
“Ayah yakin calon paman kalian itu akan menggunakan hasil kerja kalian dengan baik dan mulai saat ini kalian harus bersiap untuk kehilangan aunty kalian itu karena jika dia sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri maka pasti akan jarang ketemu kalian. Terutama Azlen yang sangat dengan dengan mamimu itu.” ucap Alvino menggodak putra es-nya.
“Jangan menggodaku yah. Aku sudah mengetahui hal itu dan aku sudah bersiap tepat sebelum aku memutuskan memberikan rekaman CCTV itu kepada calon papi. Jika saja aku tidak ingin kehilangan mami maka aku pasti tidak akan membantu memulihkan CCTV itu. Tapi aku menyayangi mami dan aku ingin dia bahagia.” Jawab Azlen lumayan panjang hingga membuat Alvino tersenyum mendengar hal itu. Kadang dia dan Freya khawatir dengan Azlen yang irit bicara itu, mereka khawatir dia memiliki kelainan karena tidak suka bicara tapi sepertinya tidak hanya kepribadiannya saja yang begitu.
“Wah, ayah hari ini sangat senang banget mendengarmu bicara panjang nak. Ayah seolah mendapat jackpot mendengar kau bicara panjang. Kau itu harus begitu nak, jangan terlalu dingin dengan orang lain terlebih kami sebagai ayah dan bundamu.“ ucap Alvino tersenyum.
“Tuh kan. Hal ini yang membuatku malas dengan ngomong sama ayah karena pada akhirnya ayah menggodaku.” Ujar Azlen dari seberang.
“Ohiya ayah. Kami itu tidak dingin karena kami sering bicara dengan bunda. Memang sama ayah saja jarang karena ayah itu cenderung dekat dengan saudara perempuan kami. Tapi tidak masalah kami juga malas ngomong sama ayah, sama bunda lebih asik.” Timpal Anand. Yah seperti apa yang lumrah terjadi bahwa anak lelaki pasti lebih dekat dengan bundanya maka itulah yang terjadi dalam keluarga Freya dan Alvino. Ketiga putra mereka lebih dekat dengan Freya dan dua putri mereka lebih dekat dengan Alvino.
Alvino yang mendengar protes dari kedua putranya tertawa, “Hahahahh, maaf nak. Tapi kalian tahu kan kenapa ayah sangat menjaga saudara perempuan kalian. Mereka itu pertama ayah yang harus ayah jaga. Selain itu juga hanya saat kecil saja ayah bisa dekat dengan mereka karena jika mereka sudah dewasa nanti maka mereka akan ikut dengan suami mereka. Jadi selama ayah masih bisa dekat dan memanjakan mereka maka ayah akan terus melakukan itu sampai mereka bosan. Bukankan kalian juga begitu dalam menjaga Anind dan Azwa. Ayah tahu kalian juga sangat posesif seperti ayah dalam menjaga mereka.” ucap Alvino.
__ADS_1
Anand Azlen pun ikut tertawa mendengar ucapan Alvino itu karena memang benar mereka sangat menjaga Anind dan Azwa dengan keposesifan mungkin melebihi ayah mereka itu. Tidak ada rasa iri sedikit pun di hati mereka terhadap dua saudara perempuan mereka itu yang lebih dekat dengan sang ayah karena menurut mereka itu hal wajar sama seperti mereka yang lebih dekat dengan sang bunda.
“Ayah benar. Kami akan memastikan kakak dan juga adik terlindungi.” Ujar Azlen.
“Ayah juga tahu itu. Ohiya, apa bunda tahu apa yang kalian lakukan ini? Apa dia tahu kalian sudah mengantar rekaman CCTV itu kepada calon paman kalian?” tanya Alvino kemudian.
“Tentu saja bunda sudah tahu ayah. Kami memberitahu bunda dulu sebelum memberitahu ayah. Jika saja rencana ini tidak mendapat acc dari bunda maka mungkin ayah gak akan tahu.” Ucap Anand tertawa.
Alvino pun tersenyum mendengar tawa putra sulungnya itu, “Ya ya. Maaf ayah lupa jika ayah ini hanya nomor dua untuk kalian. tapi tidak masalah karena kalian memang harus berbakti kepada bunda kalian. Dia yang memberi kalian kehidupan selama ini dengan kasih sayangnya. Berkat dia kalian bisa hadir dan saat ini bicara dengan ayah. Ayah menyayangi dan bangga pada kalian putraku.” Ucap Alvino. Orang tua siapa yang gak akan bangga memiliki anak-anak yang sholeh sholehah serta memiliki kecerdasan di atas tingkat rata-rata, saling menyayangi satu sama lain serta saling menjaga.
Setelah cukup lama bicara dengan putranya itu Alvino akhirnya mengakhirinya dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sepertinya bicara dengan anak-anaknya bisa menjadi mood booster sendiri bagi Alvino.
Keesokkan paginya, Friska sudah di izinkan oleh Freya untuk masuk kerja kembali tapi masih tetap kedua adiknya itu menginap di rumahnya. Friska segera menuju ruangannya yang beberapa hari ini dia tinggalkan. Dia segera masuk ke sana dan menatap seluruh penjuru ruangannya yang tidak berubah sama sekali itu terkecuali tumpukkan dokumen di mejanya yang sepertinya di pindahkan ke bidan lain sehingga sudah tidak ada di sana.
“Ahh aku rindu tempat ini.” ucap Friska menghirup udara ruangannya itu.
__ADS_1
Friska pun segera memulai aktivitasnya pagi ini di klinik dengan berdoa lalu mulai dengan menanyakan apa saja yang sudah dia lewati selama beberapa hari ini dia tidak masuk kerja ke teman-teman bidan yang lain.
Singkat cerita, tidak terasa sudah siang hari saja dan sudah saatnya waktu istirahat. Friska hari ini dia pergi menuju kantin klinik karena memang tidak membawa bekal. Freya juga sama dia juga ikut dengan adiknya itu ke kantin. Begitu tiba di kantin kedua kakak beradik itu segera memesan makanan, “Dek, kakak tinggal dulu yaa. Kakak mau ke toilet sebentar.” Ucap Freya segera menuju toilet di kantin itu.
Friska pun hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan kakaknya lalu dia sambil menunggu pesanan datang dia bermain ponselnya hingga tidak menyadari bahwa kini di depannya sudah ada seseorang yang duduk, “Bisa saya duduk di sini?” tanya orang itu sudah duduk lebih dulu.
Friska yang fokus dengan ponselnya kini menatap siapa yang sudah duduk di hadapannya begitu menyadari suara yang sangat dia kenal, “Kau kenapa kesini?” tanya Friska menatap orang di hadapannya itu.
“Saya ingin melihatmu.” Jawab Rezky tersenyum. Yah, orang itu adalah Rezky.
Friska yang mendengar ucapan Rezky memandang ke arah lain, “Jangan memperlakukan aku seperti ini Riska. Aku mohon maafkan segala kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku mohon dengan sangat. Aku tidak akan pergi dari sini sampai kau memaafkanku.” Ucap Rezky.
“Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan anda?” tanya Friska tajam.
“Aku akan membuktikan letak yang menjadi kesalahpahaman kita selama ini. Aku sudah memiliki buktinya.” Jawab Rezky.
__ADS_1
Friska pun mengangguk, “Baiklah. Jika begitu. Aku beri satu kesempatan. Semoga saja tidak mengecewakan. Sekarang saya mau makan dulu bersama kakak. Anda sudah boleh pergi dari sini.” Usir Friska.
“Saya tidak akan pergi dari sini karena kakakmu sudah ada di ruangannya.” Ujar Rezky segera meminum pesanan yang sudah di antarkan itu tanpa rasa bersalah.