Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
178


__ADS_3

“Sayang, kenalkan ini sekretaris baruku. Jemi!” ucap Alvino memperkenalkan laki-laki di samping Fazar yang dari tadi melirik ke arah Frisya.


“Jemi, kenalkan ini istriku Freya dan ini adik iparku Frisya.” Ucap Alvino memperkenalkan dua wanita yang duduk di sofa itu.


Jemi pun mengangguk penuh hormat dan kini dia tahu bahwa gadis yang hampir selalu saja menabraknya adalah adik ipar dari bosnya. Sungguh kebetulan yang sangat luar biasa mereka di pertemukan di tempat ini. Apakah ini takdir?


Setelah di kenalkan oleh Alvino, Jemi dan Fazar segera keluar dari ruangan itu meninggalkan tiga orang di sana, “Ada apa sayang sampai kamu dan adikmu ini datang? Bahkan sampai datang tanpa pemberitahuan lagi.” Ujar Alvino.


“Ya sebenarnya hanya ingin datang saja. Tidak ada tujuan sama sekali. Aku hanya ingin mengunjungi suamiku saja.” ucap Freya.


Alvino pun mengangguk, “Ya sudah jika memang begitu. Tapi aku masih ada urusan sayang. Kamu lebih baik pulang saja dulu bareng adikmu itu.” ucap Alvino.


“Apa hubby mengusirku. Sesibuk apa sih sehingga tidak punya waktu untukku?” ucap Freya mendekati suaminya itu.


Alvino pun tersenyum, “Sayang, jangan menggodaku begitu. Ada adikmu. Bisa-bisa dia protes nanti karena kita mengumbar kemesraan di hadapannya.” Ucap Alvino melirik Frisya.


Frisya pun segera berdiri, “Emm,, kakak, kakak ipar, aku keluar saja melihat kantormu ini. Aku tidak ingin jadi saksi kemesraan kalian.” ucap Frisya lalu dia segera berlalu keluar dari ruangan itu meninggalkan sepasang suami istri di dalam ruangan kerja Alvino itu.


“Nona Frisya!” sapa Jemi begitu Frisya keluar.


“Kak Jemi, bisa kebetulan banget yaa kita bertemu lagi di sini. Tidak usah memanggilku dengan nona kak. Aku bukan majikanmu.” Ucap Frisya tersenyum.


Jemi pun mengangguk, “Ahh baiklah dek.” ucap Jemi.


“Risya, kenapa keluar?” tanya Fazar tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka.


“Ahh itu aku tidak ingin menjadi pengganggu.” Balas Frisya. Fazar pun mengangguk mengerti.


“Ohiya, apa kamu mau pulang?” tanya Fazar.


Frisya menggeleng, “Hum, aku mau jalan-jalan aja sebentar kak.” Ujar Frisya.


“Gimana kalau kamu bantuin aku kerja. Aku ada beberapa dokumen yang harus aku periksa. Mau gak?” tawar Fazar.


Frisya pun terdiam, “Hum, baiklah. Sepertinya itu menarik dari pada jalan-jalan juga gak penting. Aku sudah tahu seluk beluk gedung ini. Ya sudah ayo. Kak Jemi kami tinggal dulu ya.” Ucap Frisya lalu segera berlalu.


“Maaf sekretaris Jemi. Dia adalah milikku.” Ucap Fazar sebelum dia pergi menyusul Frisya ke ruangannya. Sebenarnya Fazar melihat Frisya keluar dan bicara dengan Jemi sehingga dia pun dengan cepat datang. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.


Jemi yang melihat kepergian Fazar dan Frisya pun seketika hatinya sakit, “Apa itu namanya aku tidak punya harapan lagi? Baru saja keinginanmu untuk bertemu dengannya terkabul tapi kini aku harus merelakan dia. Hum, jangan menyerah Jemi. Mereka belum menikah. Jadi gadis itu masih milik bersama.” Gumam Jemi lalu dia duduk dan mengerjakan tugasnya.


Kini Frisya dan Fazar sudah ada di ruangan Fazar itu dan Frisya duduk di tempat dulu seminggu bekerja di sini, “Kenapa tempat ini masih di sini? Kenapa tidak di pindahkan kembali kak?” tanya Frisya menunjuk meja dan kursi kerja yang dia duduki itu.


“Aku yang meminta untuk tidak mengembalikannya karena aku yakin suatu saat nanti kau akan datang kesini dan terbukti kau datang kesini dan saat ini sedang duduk di kursi itu.” ucap Fazar.


Frisya pun mengangguk mengerti, “Ahh baiklah. Ya sudah mana berkas yang harus aku bantu periksa?” tanya Frisya.


Fazar tersenyum, “Gak ada. Kamu duduk saja. Kamu pasti sudah lelah memikirkan laporanmu itu. Jadi sekarang kamu diam saja tanpa bekerja apapun. Istirahatkan otakmu itu. Lagian juga memang tidak ada pekerjaan untukmu. Itu hanya alasan yang ku buat saja agar kau tidak bicara dengan--” ujar Fazar terhenti karena dia tersadar akan ucapannya yang sudah keceplosan.


Sementara Frisya jangan tanya lagi bahwa dia sedang tersenyum, “Jadi kak Fazar cemburu dengan kak Jemi?” tanya Frisya menggoda.


“Jangan memanggilnya begitu. Aku tidak mengizinkanmu.” Ujar Fazar.


“He’eeh terus Risya harus memanggilnya apa? Apa sayang, mas atau--”


“Diam Risya. Awas saja jika kau memanggilnya begitu akan saya pastikan untuk menikahimu hari itu juga.” Ucap Fazar tajam.


Frisya yang mendengar itu bukannya takut. Dia justru tertawa, “Haahahh, kau sangat lucu kak saat sedang cemburu begitu. Jika memang kau ingin melarangku maka nikahi saja aku kak. Aku sebentar lagi lulus.” Ujar Frisya.


“Kau yakin? Kau tidak sedang bercanda bukan?” tanya Fazar memastikan.


Frisya mengangkat bahunya, “Entalah. Aku juga gak tahu. Aku plin plan ya kak?” tanya Frisya.


Fazar menggeleng, “Gak kok. Saya tahu kau hanya ingin menyelesaikan dulu kuliahmu.” Ucap Fazar lembut.


“Hum, baiklah.” Ucap Frisya tersenyum.

__ADS_1


“Saya akan melamarmu. Aku tidak akan mau jika kau di ambil orang lain. Walaupun tembok antara kau dan sekretaris Jemi sangat tinggi tapi aku tahu bagaimana jika seorang pria sudah bertekad maka apapun akan bisa dia lakukan.” Batin Fazar menatap Frisya.


“Sudah ahh kak ayo mana berkas yang harus aku bantu. Aku bosan tidak ada yang aku kerjakan.” Pinta Frisya.


Fazar pun mengangguk lalu memberikan berkas yang sebenarnya sudah selesai itu untuk di periksa oleh Frisya. Dia mana mungkin menyulitkan wanita yang dia cintai.


Sementara di sisi Freya dan Alvino kini mereka berada di ruang pribadi milik Alvino di ruang kerjanya itu, “By, apa kau tahu Fazar dan orang tuanya ingin datang semalam ke rumah?” tanya Freya menatap suaminya itu.


Alvino yang mendengar perkataan istrinya pun terkejut pasalnya memang Fazar tidak mengatakan apapun kepadanya, “Kamu tahu dari mana sayang?” tanya Alvino.


“Mama tadi menelponku. Dia mengatakan bahwa Fazar dan kedua orang tuanya datang semalam untuk bersilahturahmi bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kau pasti mengerti makna tersirat dari silahturahmi kan.” Ucap Freya.


Alvino mengangguk, “Aku tahu sayang. Aku sangat mengerti. Bukankah aku juga melakukan itu saat melamarmu. Jadi aku sangat tahu. Tapi kenapa Fazar tidak mengatakan apapun padaku.” Ujar Alvino.


“Mungkin kau sudah tidak di anggap lagi sebagai mak comblangnya by. Mereka juga kan sudah saling mencintai. Jadi kau sudah tidak di anggap.” Ucap Freya tertawa.


Alvino pun ikut tertawa dan membawa istrinya itu pun kembali tertawa dan mengecup bibir istrinya sekilas, “Sayang, aku ingin bertanya apa kau menyadari sesuatu dari tatapan sekretarisku tadi?” tanya Alvino.


Freya mengangguk, “Yah, sekretarismu itu sepertinya tertarik pada adikku.” Ucap Freya.


“Dia jadi rebutan sayang.” ucap Alvino.


Freya pun kembali mengangguk, “Sama saja dengan Friska.” Ujar Freya.


“Masa sih? Emang siapa selain Rezky?” tanya Alvino.


“Ada deh.” Ucap Freya.


“Hum, begitu ya kamu mau menyembunyikan sesuatu dari suamimu ini.” ucap Alvino menggelitik istrinya.


“By, stop.” Ucap Freya tidak tahan di gelitik. Alvino pun menghentikannya dan tersenyum.


“Kau sangat cantik sayang.” ucap Alvino lalu mengecup bibir istrinya itu yang sejak dulu menjadi candunya. Freya pun tersenyum saja.


***


Frisya yang mendapat pertanyaan dari kakaknya itu pun terdiam lalu berpikir, “Apa maksud dari pertanyaan kakak?” tanya Frisya balik.


“Kakak yang lebih dulu bertanya dek. Jadi kamu harus menjawab pertanyaan kakak dulu baru pertanyaanmu itu akan kakak jawab.” Ujar Freya.


Frisya pun menggeleng, “Aku gak mengatakan apapun kepada kak Fazar. Emang kenapa kak?” tanya Frisya penasaran.


“Beneran? Kamu tidak mengatakan apapun?” tanya Freya memastikan.


Frisya mengangguk perlahan dengan ragu, “Kamu ragu dek. Kakak yakin kau pasti sudah memberikan kode kepadanya.” Ujar Freya.


“Apa dia datang ke rumah kak?” tanya Frisya yang sudah bisa terkoneksi dengan maksud ucapan kakaknya itu.


“Jadi benar kamu memberinya kode?” tanya Freya balik mengabaikan pertanyaan adiknya itu.


Frisya pun mengangguk, “Hum, kemarin subuh kak. Aku dan dia melakukan video call. Tapi itu hanya seperti candaan saja kak. Jadi apa yang sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?” tanya Frisya.


“Dia dan orang tuanya datang semalam ke rumah mama dan papa melamarmu. Jadi apa kamu sudah siap untuk menikah? Jika memang iya kita akan segera melakukan lamaran resminya?” ujar Freya.


Frisya pun terdiam, “Kenapa kak Fazar tidak mengatakan apapun kepadaku tadi?” ujar Frisya pada dirinya sendiri.


“Bagaimana? Kamu yang sudah memberinya kode untuk datang maka sudah tentu kau harus bertanggung jawab untuk itu bukan?” tanya Freya mengabaikan ucapan adiknya itu yang kebingungan sendiri.


“Emang bisa kak?” tanya Frisya ragu.


Freya yang mendengar itu pun tersenyum, “Kenapa kau jadi ragu begitu? Bukankah kau yang sudah memutuskannya? Apa kau belum siap untuk menikah?” tanya Freya.


Frisya menggeleng, “Bukan begitu kak. Aku sudah siap untuk membina rumah tangga tapi pernikahan kak Kenzo dan Irma saja belum selesai lalu aku juga akan melakukan lamaran. Jadi apa itu bisa?” tanya Frisya.


Freya tertawa mendengar ucapan adiknya itu, “Jadi itu yang ada dalam pikiranmu? Itu masalah gampang. Selama kau setuju dan sudah siap maka tidak akan ada masalah. Kakak juga senang kau sudah ada yang menjagamu.” Ujar Freya.

__ADS_1


“Kakak!” ucap Frisya manja.


“Hey, kakak bukan mengusirmu atau bosan denganmu ya dek. Tapi kaka tahu kau sudah dewasa dan pernikahanmu itu satu hal yang harus terjadi. Kakak ikhlas selama kau bahagia. Apalagi pria itu adalah Fazar. Dia pria baik yang mencintaimu.” Ucap Freya.


Frisya pun tersenyum, “Jadi bagaimana keputusanmu?” tanya Freya.


“Emm, setelah nikah kak Kenzo aja deh kak. Lagian juga jika di lakukan dalam beberapa hari ini sepertinya tidak akan maksimal lamarannya. Sedang kak Ris dan kakak ipar Rezky juga sedang berbulan madu.” Ucap Frisya.


Freya pun mengangguk, “Baiklah. Jika memang itu keputusanmu. Kau bisa menghubungi mama dan katakan keputusanmu itu. Ini adalah hidupmu.” Ucap Freya.


Frisya pun tersenyum, “Terima kasih kak.” Ucap Frisya memeluk kakaknya itu karena berhubung juga mereka sudah tiba di kediaman Freya.


“Cie adik bungsu kakak akan menikah juga. Si kecil sekarang akan jadi seorang istri.” Ujar Freya menggoda adiknya itu sebelum turun dari mobil.


“Kakak!” ucap Frisya manja bercampur malu.


***


Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, hari ini Kenzo dan Irma akan melakukan pra wedding untuk pernikahan mereka. Untuk urusan pakaian yang akan mereka gunakan nanti semua itu sudah selesai. Mereka sudah mengurusnya dua hari yang lalu.


Kini Irma sedang sarapan bersama orang tuanya itu di kediamannya, “Pih, putri kita sepertinya sedang bahagia.” Ucap mami Calista menggoda putrinya yang terlihat bahagia itu. Papi Baskara hanya tersenyum menatap putrinya. Dia bahagia putrinya itu bahagia akan menikah dengan pria pilihannya dan juga pilihan mereka.


Irma yang di goda oleh kedua orang tuanya itu pun tersenyum, “Mami, jangan menggodaku. Aku jadi malu kan.” Ucap Irma.


“Hahahahh, papi lihatlah pipinya memerah pih.” Goda mami Calista.


“Mami..” ucap Irma manja.


“Assalamu’alaikum!” tiba-tiba ada yang mengucap salam.


“Tuh yang di bicara-in datang juga.” Goda papi Baskara.


Irma pun tersenyum lalu dia berlari menuju pintu untuk menyambut Kenzo, “Pih dia terlihat senang dan bahagia.” Ucap mami Calista melihat putrinya itu. Papi Baskara hanya mengangguk menyetujui.


“Nak Kenzo ayo ikut sarapan nak.” ajak mami Calista.


“Emm, Kenzo sudah sarapan mih di rumah kak Kia.” Ucap Kenzo lembut.


“Ouh ayolah nak ikutlah sarapan.” Ucap papi Baskara.


“Ayo kak ikut aja.” Ajak Irma.


Kenzo pun akhirnya mengangguk dan ikut sarapan. Irma mengambilkan makanan untuk calon suaminya itu. Mami Calista dan papi Baskara yang melihat tindakan putrinya itu hanya saling memandang dan tersenyum.


Sekitar 20 menit kemudian akhirnya mereka selesai sarapan dan kini Kenzo sedang duduk di ruang keluarga bersama papi Baskara, “Apa kalian akan mengambil foto nak?” tanya papi Baskara.


Kenzo mengangguk, “Benar pih.” Jawab Kenzo. Setelah itu mereka membicarakan masalah bisnis sambil menunggu Irma bersiap.


Sekitar kurang lebih setengah jam kemudian, Irma turun dari lantai atas dengan pakaian casualnya berjalan mendekati Kenzo dan papinya itu, “Pih, kami pergi.” ucap Irma.


Papi Baskara pun mengangguk tersenyum lalu Kenzo dan Irma pun segera berpamitan pergi kepada kedua orang tua Irma itu.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju studio foto. Mereka memilih tema indoor juga untuk foto pra wedding keduanya.


“Kak, apa kau kekenyangan?” tanya Irma.


Kenzo pun mengangguk, “Sepertinya sampai besok aku tidak makan pun masih tetap tidak akan lapar. Aku sudah sarapan di rumah kak Kia dan sarapan di rumahmu juga.” Ucap Kenzo.


“Itu rezeki kak tidak boleh di tolak.” Ujar Irma.


“Iya rezeki tapi kamu mengambilkan banyak untuk kakak sarapannya dek.” ucap Kenzo.


Irma yang mendengar itu pun tertawa, “Sengaja aku kak.” Ucap Irma.


“Nakal.” Ucap Kenzo. Lalu keduanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2