Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
53


__ADS_3

“Maaf semuanya sudah ikut campur dalam masalah kalian. Jika kalian setuju saya bersedia menikahinya.”


Semua orang yang mendengar itu segera menatap ke arah pemilik suara itu, “Apa maksudmu mengatakan itu?” tanya Freya menatap laki-laki yang tadinya di kenalkan suaminya sebagai kliennya.


Zean segera mendekat ke arah Freya yang masih memeluk Kiana, “Kalian semua gak salah dengar apa yang saya katakan tadi itu benar. Saya juga yakin anda semua tahu dengan pasti apa maksud perkataan saya tanpa saya jelaskan lebih lanjut. Saya ingin menikahi adik anda nyonya Freya.” Ucap Zean yakin. Erlan saja yang tadi masih tidak percaya mendengar ucapan tuannya itu kini hanya bisa melongo begitu mendengar kalian tegas tuannya itu.


“Kamu pikir pernikahan hanya bisa dilakukan seperti itu? Hanya karena kau bersedia menikahinya? Apa kamu pikir saya akan setuju dengan semudah itu? Jangan kau menganggap karena kau klien suami saya maka saya akan menerima ini dengan mudah. Bagi saya urusan pribadi dan urusan pekerjaan itu berbeda dan pernikahan adikku bukanlah bisnis. Dia akan menikah jika dia ingin bukan karena sesuatu yang di paksakan.” Ucap Freya tegas.


Kiana masih berada dalam pelukan Freya karena saat ini jujur saja dia semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Kini sudah ada pria yang bersedia menikahinya entah karena apa. Pasalnya dia dan pria itu baru bertemu sejam yang lalu bahkan mereka tidak saling mengetahui nama satu sama lain. Lalu bagaimana mungkin dia harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak di kenalnya. Itu satu hal yang tidak mungkin tapi di sisi lain dia juga ingin mewujudkan permintaan papanya yang kini terbaring sakit. Kiana pun hanya bisa berpasrah kepada Allah karena dia bingung harus melakukan apa.


Alvino yang mendengar itu dan melihat tatapan yakin di mata Zean dia mendekati pria yang enam tahun lebih muda darinya itu, “Apa kau yakin dengan yang kau ucapkan Zean? Aku ingin tahu alasanmu melakukan itu.” ucap Alvino hingga Freya pun menatap suaminya itu.

__ADS_1


Zean menghela nafasnya dalam, “Tuan Vino--”


“Jangan panggil aku seperti itu Zean. Masalah yang kita bahas bukan tentang pekerjaan tapi masalah yang lain jadi jangan memanggilku begitu.” Potong Alvino tegas.


Zean pun mengangguk mengerti, “Baiklah, maaf kak. Kalian pasti kaget dengan apa yang aku lakukan yang tiba-tiba menawarkan untuk menikahinya.” Ucap Zean menatap lembut Kiana yang masih dalam pelukan Freya.


“Tapi sungguh aku tidak memiliki niat lain selain keinginan hatiku yang besar yang memintaku melakukan itu. Jujur saja tadi saat aku menolongnya dan mengantarnya kesini ada sesuatu yang berbeda yang aku rasakan. Aku yang biasanya tidak peduli dengan sekelilingku melihatnya yang duduk di trotoar jalan sambil meniup luka di kakinya dengan sepeda motor yang terbanting di hadapannya membuatku merasa tertarik dan sungguh untuk pertama kalinya aku memiliki rasa ingin menolong. Aku memutuskan menolongnya padahal aku tahu ada rapat yang menungguku tapi aku sungguh tidak bisa mengendalikan rasa itu. Aku tertarik padanya. Aku tahu rasaku ini akan aneh jika aku mengatakan ini cinta karena tidak mungkin seseorang bisa dengan cepat mencintai seseorang namun sungguh itulah yang aku rasakan. Terserah kalian mau percaya atau tidak tapi aku memang menyukainya. Aku dan dia bahkan belum saling berkenalan tadi dan aku tidak mengenal namanya tapi aku pastikan bahwa aku menyukainya. Aku sudah menyimpan wajahnya di hatiku, perasaan ini tidak perlu nama. Jujur aku mengatakan ingin menikahinya bukan karena kasihan akan keadaannya tapi itu semua aku lakukan karena keinginan hatiku. Mungkin hari walau tanpa keadaan ini aku mungkin tetap akan menikahinya suatu saat nanti. Jadi tidak bisakah aku menikahinya saat ini? Aku tahu kalian tidak percaya dengan perasaanku ini tapi sungguh ini adalah keinginan hatiku.” Ucap Zean panjang lebar hingga membuar Erlan sang asisten kini semakin melongo tidak percaya. Pasalnya ini adalah kalimat panjang dan manis yang pertama kali dia dengar yang keluar dari mulut tuannya itu. Biasanya Zean hanya akan bicara lumayan panjang jika dia sedang marah tapi tidak sepanjang ini juga.


Sementara Kiana dia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan pria itu. Bagaimana mungkin ada perasaan seperti itu. Kalau Freya dia sudah paham karena dia juga tahu bagaimana suaminya itu menyukainya di pandangan pertama. Mungkin terdengar aneh dan mustahil tapi itulah yang terjadi, “Kiana bagaimana pendapatmu setelah mendengar pengakuan itu?” tanya Freya menatap adiknya yang kini sudah duduk.


Kiana menatap Freya, mama Najwa, papa Khabir dan adiknya Kenzo, mereka semua seperti menanti jawabannya, “Menurut kakak aku harus bagaimana?” tanya Kiana balik.

__ADS_1


Freya tersenyum mendengar itu lalu dia menatap Zean, “Zean, itu tugasmu untuk meyakinkannya. Jika adikku setuju menikah denganmu maka hari ini pernikahan itu akan dilaksanakan di tempat ini. Aku harap kau bisa menerima keputusan ini. Kau tahu kan kenapa pernikahan ini dilakukan dengan cepat, aku harap kau mengerti. Aku memberimu waktu setengah jam untuk meyakinkan adikku.” Ucap Freya.


Zean yang mendengar perkataan Freya tersenyum, dia tidak menyangka Freya akan memberinya kesempatan, “Baik saya mengerti nyonya. Saya akan mencoba meyakinkannya.” Ucap Zean.


“Kia, bicaralah di taman. Kakak akan menerima semua keputusanmu. Kakak tidak akan memaksamu sedikit pun. Ayo sana bicaralah.” Ucap Freya menatap Kiana.


Kiana pun menatap Freya balik. Sepertinya dia memang harus melakukan apa yang kakaknya katakan itu. Dia memang harus bicara dengan lelaki itu. Kiana mengangguk lalu keduanya segera pergi menuju taman, “Kenzo, Erlan awasi mereka dari jauh.” Ucap Alvino.


Kedua laki-laki itu pun mengangguk lalu segera menyusul ke taman, “Nak, apa kau yakin memberikan kesempatan ini untuknya?” tanya mama Najwa menatap Freya. Dia tahu putrinya itu tidak akan mengambil keputusan yang salah untuk adik-adiknya. Hal itulah yang membuat semua adik-adiknya patuh kepada Freya.


“Mah, aku hanya memberi kesempatan saja. Semua keputusan ada di tangan Kia. Selain itu juga aku yakin suamiku tidak akan mungkin membiarkan adikku terjerumus dengan menikah dengan kliennya. Aku juga bisa melihat cinta itu tulus dari mata Zean untuk Kia. Jika Kia setuju untuk menikah dan mereka akan menikah hari ini mungkin Kia belum memiliki perasaan apa-apa tapi aku yakin cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Jadi aku hanya memberi kesempatan, semua keputusan ada pada mereka.” Ucap Freya.

__ADS_1


Alvino tersenyum mendengar ucapan istrinya dia mendekati Freya dan merangkulnya, “Aku bangga padamu sayang. Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja.” ucap Alvino.


__ADS_2