
"Terima kasih nak sudah menyelamatkan istri saya." ucap seorang laki-laki suami dari wanita yang baru saja dia selamatkan.
"Bapak gak usah berterimah kasih karena ini memang sudah kewajiban kami. Ohiya, istri dan anak anda akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap Friska lalu setelah itu dia segera pamit menuju ruangannya tapi tentu saja setelah melakukan sterilisasi pada tubuhnya.
"Minum!" ucap Freya yang baru saja masuk untuk melihat sang adik yang baru saja membantu memberikan kebahagiaan untuk pasangan suami istri itu.
Friska yang menutup matanya karena lelah di tambah rasa takutnya tadi walau dia di dalam sana bersikap profesional tapi tetap saja dia adalah manusia yang memiliki rasa takut jika tidak bisa menolong ibu itu, "Terima kasih kak!" ucap Friska menerima air yang di bawa oleh kakaknya.
"Kakak tahu kau merasa takut kan tidak bisa menyelamatkannya tapi kakak bangga padamu karena tetap bisa bersikap profesional walau rasa takut menghantuimu." Ucap Freya.
"Kak, aku hanya tidak tega jika melihat bayi kecil itu akan kehilangan ibunya. Aku yakin aku pasti akan menjadi orang yang paling bersalah terhadap anak itu." Ucap Friska.
"Kakak mengerti tapi sekarang kau bisa tenang karena kau sudah menyelamatkannya dan membuat bayi kecil itu tetap memiliki ibunya. Kakak sudah dari sana kondisinya sudah stabil. Bayi kecil itu juga sangat normal." ucap Freya.
"Sudah kau tidak perlu lagi memikirkannya karena apa yang kau takutkan tidak terjadi. Sekarang lebih baik kau makan atau mungkin tenangkan dirimu sebelum nanti akan ada pasien yang datang kesini. Hari ini kau harus menangani mereka karena dokter Silva gak ada. Jadi poli kandungan menjadi tanggung jawabmu beserta bidan yang lain." Lanjut Freya.
Friska pun mengangguk saja lalu dia segera memenjamkan matanya kembali untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak seperti permintaan kakaknya.
Sementara Freya begitu keluar dari sana segera menemui bidan dan perawat lain yang membantu proses persalinan itu untuk mengapresiasi mereka karena menurut Freya kesuksesan kliniknya bukan karena kerja kerasnya tapi kerja keras semua orang yang bekerja di klinik ini. Baginya Freya Klinik tidak akan berjalan jika tanpa mereka karena tidak mungkin hanya dirinya sendiri yang melakukannya. Untuk itulah Freya selalu menghargai para pekerja yang bekerja untuknya sedang para pekerjanya pun tetap menghormati Freya dengan loyal, benar-benar hubungan timbal balik yang terjalin baik.
***
__ADS_1
Siang harinya, seperti perjanjian sebelumnya Rezky dengan di temani sang asisten segera meluncur menuju Freya Klinik untuk melakukan meeting dengan pemilik perusahaan nomor satu di negara ini yang memiliki berbagai macam industri. Walau Rezky juga bertanya-tanya kenapa pemilik perusahaan itu melakukan meeting di klinik istrinya dan bukan di kantornya tapi sepertinya seperti berita yang beredar bahwa pemilik Aryawiguna Group itu adalah sosok yang bucin terhadap istrinya dan mungkin hal ini juga sama.
Sekitar 30 menit akhirnya mobil Rezky sudah tiba di parkiran klinik yang memang terkenal dengan pelayanannya itu dan sepertinya klinik itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah rumah sakit karena bangunannya yang setiap tiga bulannya selalu di tambah.
"Di mana kita akan melakukan meeting?" tanya Rezky kepada asistennya. Robi melihat sekeliling dan segera melihat Fazar yang berjalan ke arah mereka.
"Tuan Rezky tuan sudah menunggu di dalam. Mari ikut saya." ucap Fazar menyambut tamu tuannya itu lalu menunjukkan jalan menuju ruang rapat klinik itu yang memang di gunakan Freya sebagai tempat pertemuan.
"Silahkan masuk tuan sudah menunggu di dalam." Ucap Fazar ramah.
Rezky pun hanya mengangguk lalu dia segera masuk ke ruangan itu yang ternyata tidak kalah mewah dengan ruangan rapat di kantornya, "Selamat datang tuan Rezky. Silahkan duduk. Maaf meminta anda bertemu di sini dan saya juga tidak perlu menjelaskan alasan kenapa saya ingin melakukan meeting di sini daripada di kantor karena saya yakin anda sudah bisa menduga nya." Ucap Alvino tersenyum.
"Hahahahh,, aku menyukai pembawaanmu. Sudahlah ayo kita lakukan meeting ini dengan baik karena mungkin anda setelah ini ingin berkeliling untuk melihat klinik ini. Siapa tahu saja kan ketemu jodoh di sini. Saya tahu di umurmu sekarang pasti mami dan papimu itu memaksa untuk pernikahan sampai-sampai mamimu ingin menjodohkanmu dengan istri saya." ujar Alvino yang masih menyimpan cemburunya itu.
"Maafkan mami saya tuan. Dia memang terkadang bertindak lebih tapi saya sungguh saya benar-benar gak tahu akan di jodohkan dengan istri anda. Saya benar-benar minta maaf akan hal itu." Ucap Rezky merasa bersalah. Padahal kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.
"Hahahhh,, santai saja saya berusaha melupakan hal itu tapi tetap saja masih ada sedikit kecemburuan. Ahh topik apa ini, sudah kita fokus dengan kerja sama kita." ucap Alvino yang sudah sadar bahwa topik meeting mereka sudah melenceng.
Sementara Fazar dan Robi yang dari tadi hanya menjadi pendengar akhirnya tersenyum karena akhirnya mereka sadar akan hal yang mereka perdebatkan sebelum kedua asisten itu mengingatkan.
Sekitar 30 menit akhirnya meeting itu selesai karena mereka memang hanya membahas terkait kelanjutan kerja sama yang sudah terjalin jadi tidak memakan waktu lama.
__ADS_1
"Senang bisa berbisnis dengan anda tuan Rezky." ujar Alvino sambil menjabat tangan pria yang terpaut usia 7 tahun dengannya itu.
"Terima kasih tuan. Semoga kerja sama kita ini akan terus berlanjut." balas Rezky.
"Tentu saja. Saya senang bisa bekerja sama denganmu karena kau pemuda yang hebat selain pengusaha kau juga seorang dosen." puji Alvino.
"Ahh anda terlalu memuji tuan. Anda adalah inspirasi saya." Balas Rezky.
"Ya aku memang seniormu. Jadi sebagai senior dan junior yang baik jika di luar pekerjaan jangan memanggilku tuan." ucap Alvino.
"Kalau begitu saya akan memanggil anda kak Vino." Ujar Rezky.
"Itu lebih baik. Ohiya sebagai seniormu ada satu saran untukmu, turutilah keinginan orang tuamu untuk menikah. Aku akan berbagi suka dukaku sebagai senior anak tunggal yang juga mendapat pertanyaan kapan menikah tapi setelah aku menemukannya semua hilang orang tuaku pun sangat bahagia. Jadi segeralah menikah." ucap Alvino.
"Terima kasih atas sarannya. Sebenarnya saya juga ingin segera menikah tapi sayang belum menemukan yang cocok." Jawab Rezky.
"Mau ku jodohkan? Tapi seperti apa tipemu? Emm,, jangan menyebut tipemu seperti istriku karena di dunia ini hanya satu macam istriku. Jadi jangan coba-coba menyebutnya." ucap Alvino.
"Sebenarnya tipe saya memang seperti istri anda tapi tenang saja kak saya tidak ingin menjadi pebinor. Saya akan menemukannya sendiri seperti anda yang menemukan jodoh anda sendiri maka saya yakin saya pun bisa menemukannya sendiri." Ujar Rezky yakin.
Alvino pun menepuk bahu pria di hadapannya itu, "Saya yakin kau akan menemukannya." ucap Alvino.
__ADS_1