
Kini Rezky dan Friska sudah tiba di toko perhiasan langganan Freya. Kedua nya langsung di sambut dengan ramah oleh pegawai toko itu. Selain mereka mengenal Rezky sebagai pengusaha. Mereka juga tahu bahwa di hadapan mereka ini adalah adik dari Freya yang beberapa jam lalu sempat menjadi perbincangan publik.
"Mau cincin yang seperti apa tuan?" Tanya manajer toko itu yang memang langsung melayani tamu spesial nya ini.
Rezky yang mendengar ucapan dari manajer toko itu pun segera menatap ke arah Friska yang justru mengangkat bahunya tanda bahwa dia juga tidak tahu harus memilih cincin yang seperti apa, "Ambilkan saja cincin pernikahan terbaik yang ada di toko kalian. Kalau perlu yag limited edition." Pinta Rezky pada manajer toko itu.
Manajer toko itu pun mengangguk mengerti dan segera meminta pegawainya untuk mengambil beberapa koleksi cincin yang seperti di maksud oleh Rezky.
Tidak lama kemudian empat orang pegawai membawa masing-masing sepasang cincin dan segera meletakkannya di hadapan mereka.
Rezky dan Friska pun mengamati ke empat cincin itu, "Yang ini hanya ada dua pasang di dunia tuan. Sangat limited edition." ucap manajer toko itu sambil menunjuk sepasang cincin berlian berwarna pink. Sangat cantik.
Rezky segera memandang Friska, "Bagaimana sayang? Kita ambil yang ini? Sangat cantik." ujar Rezky.
Friska pun memandangi cincin itu dan tersenyum lalu menggeleng, "Aku ingin yang ini." Tunjuk Friska pada sepasang cincin berlian berwarna biru. Sangat cantik dan elegan serta berliannya tidak terlalu besar dan berwarna biru warna kesukaannya.
"Kenapa gak ambil yang ini sayang? Ini berliannya lebih besar dari itu dan cantik." ucap Rezky menunjuk cincin berlian berwarna pink itu.
Friska kembali memandangi cincin berlian berwarna pink itu lalu dia pun kembali menggeleng, "Cincin ini memang sangat cantik dan pastinya memiliki harga yang wow. Tapi aku lebih menyukai cincin berlian berwarna biru ini karena selain bentuknya yang elegan jika di pakai serta berlian nya pun tidak terlalu besar sehingga nyaman di pakai sehari-hari. Bukankah cincin pernikahan akan di pakai terus menerus. Jadi tidak mungkin kita memakai cincin dengan berlian sebesar ini." Jelas Friska atas cincin pilihannya.
Rezky yang mendengar itu pun tersenyum begitu juga dengan manajer toko itu yang tidak menyangka bahwa ada yang gadis kaya yang berpikiran seperti itu. Berpikiran dari segi kegunaannya bukan berpikir untuk di pamerkan.
"Pak, tolong. Kami ambil keduanya." ujar Rezky.
Friska yang mendengar ucapan calon suaminya itu terkejut, "Kok dua?" tanya Friska.
Rezky hanya tersenyum menanggapi pertanyaan calon istri nya itu dan segera meminta manajer toko itu untuk segera menyiapkan barangnya dan tidak lupa juga dia menyerahkan black card miliknya kepada manajer toko perhiasan itu untuk membayar dua pasang cincin dengan harga fantastic itu.
"Kok dua?" ulang Friska begitu Rezky selesai memberikan kartu black card miliknya.
Rezky tersenyum lalu memandang Friska, "Ya dua. Cincin dengan berlian pink itu pilihan kakak dan kakak menyukainya. Itu juga sangat cocok untukmu. Lalu cincin dengan berlian biru itu akan jadi cincin pernikahan kita yang akan kita pakai sehari-hari seperti apa yang kamu inginkan. Cincin satunya juga anggap saja itu hadiah untukmu dari calon suamimu ini. Kau harus menerimanya tidak boleh menolak." Ujar Rezky.
"Tapi kenapa harus dua coba? Kan rugi kak. Aku juga belum tentu memakainya. Aku tidak begitu suka perhiasan. Iss batalkan saja kak. Beli satu saja. Harga untuk cincin pilihanku saja sudah mahal apalagi cincin dengan berlian sebesar itu. Kembalikan saja kak. Aku tidak butuh hadiah apapun." ujar Friska.
Rezky menggeleng dan tersenyum, "Aku sudah membelinya sayang. Tidak bisa di kembalikan atau di batalkan. Kamu juga tidak bisa menolaknya seperti yang sudah aku katakan tadi. Kamu di larang menolak. Lagian aku juga gak rugi sayang. Memang benar harganya mahal tapi kita gak rugi." ucap Rezky.
"Gak rugi bagaimana? Aku tidak akan memakainya. Jadi untuk apa membelinya." Ujaar Friska.
"Makanya asal gak rugi kamu harus memakainya sayang. Kamu cantik pasti saat memakainya." ujar Rezky.
"Tapi kakak rugi. Itu sangat mahal." ujar Friska masih tetap memikirkan harga dua pasang cincin itu.
"Gak rugi sayang. Sudah kakak katakan gak rugi. Perhiasan itu dari tahun ke tahun naik harganya. Anggap saja kita sedang berinvestasi untuk masa depan. Lagian kakak gak merasa rugi sama sekali karena kakak membelikan itu untuk gadis yang kakak cintai. Gadis sebaik dirimu. Gadis yang sebentar lagi akan jadi istri kakak. Gadis yang sebentar lagi akan jadi ibu dari anak-anak kakak kelak. Jadi jangan membicarakan untung dan rugi lagi karena kakak tidak merasa rugi sama sekali. Cukup pembahasan tentang ini. Kakak tidak merasa rugi sama sekali." ucap Rezky.
__ADS_1
Friska yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Jika Rezky sudah memutuskannya maka dia pun harus menerimanya. Hitung-hitung belajar mentaati suami.
Tidak lama dua kotak cincin pun segera di bawakan dan di serahkan kepada mereka. Setelah itu, Rezky dan Friska segera berlalu meninggalkan toko perhiasan itu dan mereka segera menuju restoran Italia untuk mengisi perut mereka yang sudah memanggil minta di isi. Jadi mereka segera mendahulukan kebutuhan makan itu karena tidak ingin ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi di kemudian hari.
Setelah dari makan mereka menuju studio foto untuk membicarakan pengambilan foto pra wedding mereka. Sekalian juga mereka memilih ingin tema pra wedding yang seperti apa.
***
Kita tinggalkan pasangan yang sedang mempersiapkan hubungan mereka yang menuju halal sebentar lagi. Kita menuju ke pasangan yang juga sebentar lagi akan ikut menyusul juga menuju halal.
Kenzo segera keluar dan mengajak Irma calon istrinya untuk ikut makan siang dengannya di ruangannya. Makan siang bersama yang sudah menjadi ritual kebiasaan mereka selama beberapa hari terakhir ini.
"Sayang, ayo istirahat dulu. Kita makan siang. Kak Grey kau juga makanlah dengan suamimu." Ujar Kenzo.
Grey pun tersenyum lalu mengangguk, "Irma sana pergilah." usir Grey.
Irma pun tersenyum malu lalu dia segera mendekati Kenzo dan keduanya segera masuk ke dalam ruangan Kenzo di mana di sana sudah tersedia makanan.
Sementara Grey yang melihat itu tersenyum. Dia bahagia melihat Kenzo dan Irma bahagia. Dia tidak iri sama sekali karena menurutnya Irma adalah pasangan yang cocok untuk Kenzo. Yah tentu saja pendapatnya ini memang murni bukan karena Irma adalah putri dari pengusaha juga. Tapi memang pendapatnya sejak awal. Dia sudah menduganya bahwa Irma akan jadi istri bosnya itu. Dia menyadari hal itu karena bosnya itu memperlakukan Irma dengan baik.
Semua orang di perusahaan itu tahu bahwa Irma adalah putri pengusaha. Mereka juga tahu bahwa Irma dan Kenzo adalah tunangan yang sebentar lagi akan menikah. Teman-teman magang Irma pun jadi tahu bahwa Irma bukan orang sembarangan dan mereka bersyukur karena mereka tidak ikut-ikutan membully Irma. Jika mereka melakukannya mereka tidak bisa membayangkan hukuman apa yang mereka dapatkan. Jeny saja yang seorang putri donatur di jurusan mereka tidak lepas dari hukuman apalagi mereka yang hanya tumpukkan rempeyek. Entah akan jadi apa nanti.
Irma masih tetap melanjutkan magangnya sebagai sekretaris. Tapi tentu saja dengan status barunya sebagai calon istri Kenzo dan juga sebagai putri pengusaha. Banyak pro dan kontra yang terjadi pada hubungan Kenzo dan Irma. Tapi mereka tidak mempedulikannya. Selama itu tidak mengganggu hubungan mereka semua tidak masalah.
"Kenapa? Apa pedas?" tanya Kenzo khawatir melihat Irma yang meringis.
Irma menggeleng, "Gak kok kak. Baik-baik saja. Hanya menggigit cabai yang masih belum di tumbuk halus." Ujar Irma tersenyum.
Kenzo pun tersenyum lalu mengangguk, "Makanya hati-hati sayang." ujar Kenzo.
Irma pun mengangguk, "Itu sudah hati-hati kak. Tapi memang dianya saja yang sudah di takdirkan tergigit." ucap Irma.
Kenzo pun terkekeh mendengar ucapan Irma yang di nilainya lucu itu karena calon istrinya itu mengatakannya dengan ekspresi menggemaskan.
"Kakak baru dengar cabai di takdir kan." ujar Kenzo tertawa.
Irma pun ikut tertawa, "Ish, semua itu sudah di takdirkan kak. Seperti--" Ucap Irma menghentikan ucapannya.
Kenzo tersenyum mendengar ucapan Irma yang tidak di lanjutkan itu, "Seperti? Seperti apa sayang? Lanjutkan. Aku ingin mendengarnya." Ujar Kenzo tersenyum menggoda.
Irma pun menatap sinis ke arah Kenzo, "Ck, jangan di lanjutkan. Sudah lupakan dan makan lah." ucap Irma cepat karena tahu calon suaminya itu sedang menggodanya.
Kenzo yang melihat dan mendengar ucapan calon istrinya itu pun tertawa, "Hahahah, apa calon istriku ini sedang malu? Sudahlah jangan malu sayang. Lanjutkan saja perkataannya. Gak apa-apa. Gak usah sungkan. Aku tidak akan mempermasalahkannya." ucap Kenzo masih tertawa.
__ADS_1
Irma yang melihat itu pun cemberut sambil mengerucutkan bibirnya sebal, "Ish, kakak menyebalkan." ucap Irma merajuk.
"Hahahah, maaf sayang. Maaf. Kamu sangat lucu ketika malu begitu. Jadi kakak tidak tahan menggodamu." Ujar Kenzo masih saja tertawa.
"Ish, kaaakk! Hentikan. Aku ini sedang malu. Kakak justru memanfaatkannya. Menyebalkan." ujar Irma
"Hehehehh, maaf sayang. Sudah kakak tidak akan tertawa dan menggodamu lagi untuk hari ini. Tapi kakak tetap penasaran apa lanjutan perkataanmu itu sayang. Ayo lanjutkan kakak ingin mendengarnya." ujar Kenzo.
"Ck, kakak sudah janji tidak akan menggodaku lagi tapi kenapa masih membahasnya." Ucap Irma.
"Kakak ingin mendengarnya dek. Ayo lanjutkan perkataannya." pinta Kenzo.
"Bukankah kakak tahu lanjutannya? Kenapa masih memintaku melanjutkannya." ujar Irma.
"Kau benar kakak tahu apa lanjutannya tapi tetap saja tidak sama dengan kamu yang mengatakannya. Kakak ingin mendengarnya dari bibirmu sendiri." ujar Kenzo tidak mau kalah dengan keinginannya itu.
"Dasar pemaksa. Seperti kita. Puas?" ujar Irma sinis.
Kenzo pun tersenyum lalu mengangguk senang, "Terima kasih sayang. Aku senang mendengarnya darimu langsung. Aku senang kita di pertemukan oleh takdir sampai akhirnya kita saat ini tinggal menunggu tanggal pernikahan. Aku senang dengan takdir yang menyatukan kita sebagai pasangan. Aku pikir aku akan hidup sendiri sedekah kematian papaku. Tapi ternyata Allah begitu baik mendekatkan dirimu kepadaku dan menghadirkan perasaan cinta ini untukmu. Dia juga memperlancar jalan untuk menyatukan takdir kita. Aku mencintaimu sayang. I Love You. Wo Ai Ni. Saranghae." ucap Kenzo dengan ungkapan cinta menggunakan empat bahasa sekaligus.
Irma yang mendengarnya terharu. Ingin rasanya dia memeluk prianya itu. Pria yang begitu dingin awalnya. Pria yang dia kira sangat sombong. Tapi ternyata pria itu sangat lemah dan menyembunyikan perasaannya di balik sikap yang dia tunjukkan. Pria yang sangat hangat. Pria yang dia pilih menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya kelak.
"Aku juga mencintaimu kak. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih sudah memilihku jadi pasanganmu dan jadi istri di masa depanmu. Terima kasih sudah memilih aku di antara wanita yang menginginkanmu." balas Irma menatap Kenzo dengan penuh cinta.
Kenzo pun tersenyum mendengar ucapan calon istrinya itu, "Hum, sudah cukup melonya. Kita harus menghentikannya. Kasihan makanan yang terlanjur dingin karena kita mengabaikan mereka dan justru bicara. Ayo kita habiskan makanan ini." ucap Kenzo mencoba mencairkan suasana yang mendadak melo itu.
Irma pun mengangguk setuju lalu keduanya segera fokus menghabiskan makanan di hadapan mereka.
Sekitar kurang lebih setengah jam akhirnya mereka selesai makan dan kini bekas makan mereka itu pun sudah di bersihkan.
Kini Kenzo dan Irma sedang duduk di sofa sambil menatap satu sama lain, "Kak, kak Ris dan tuan Rezky bagaimana persiapan pernikahan mereka?" tanya Irma.
"Kak Ris? Dari yang ku dengar dari kak Reya dia sudah mengajukan cuti tapi tidak tahu dengan tuan Rezky ini. Apa dia sudah mengajukan cuti atau belum. Tapi yang pasti tuan Rezky masih ke negara J untuk mengurus masalah proyeknya. Sepertinya baru dari sana mereka akan bersikap untuk pernikahan mereka dan tuan Rezky akan mengajukan cuti." ujar Kenzo.
"Dari yang ku dengar tuan Rezky sudah pulang kak. Semalam. Kak Ris sampai menyusulnya ke bandara." Ujar Irma.
"Kamu dengar dari mana?" tanya Kenzo.
Irma pun tersenyum, "Tadi aku menghubungi kak Risya saat subuh untuk menanyakan sesuatu. Tapi ternyata dia baru bangun dan sangat bersyukur karena aku menelponnya dia jadi terbangun dan tidak terlambat. Lalu aku bertanya kenapa sampai tidak terbangun. Nah kak Risya pun menjelaskan bahwa semalam ada kejadian itu. Heheheh." jelas Irma di akhiri dengan kekehan.
"Berarti tuan Rezky sudah kembali. Syukurlah jika begitu. Mereka sudah bisa mempersiapkan pernikahan mereka. Masih banyak yang harus mereka siapkan. Mereka bahkan belum mengambil foto pra wedding satu pun." Ujar Kenzo.
"Eehh ngomong-ngomong pra wedding. Kita juga belum merencanakan pra wedding kita. Kamu pra wedding seperti apa sayang. Kita juga harus merencanakannya mulai dari sekarang agar tidak kepepet waktu nanti. Pernikahan kita juga tinggal dekat. Kurang empat minggu. Kamu ingin pra wedding seperti apa?" Tanya Kenzo menatap calon istrinya itu.
__ADS_1
Irma pun diam dan berpikir, "Hum, bagaimana jika kita melakukan pra wedding bersama dengan kak Ris dan tuan Rezky?"