
Papi Baskara dan Kenzo keduanya kembali duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Keheningan sempat melanda keduanya, mereka larut dalam pikiran masing-masing, “Nak Kenzo!” ujar papi Baskara.
Kenzo pun menatap laki-laki di hadapannya itu yang seumuran dengan papanya jika masih hidup, “Iya om.” Jawab Kenzo.
“Nak saya mau mengatakan yang sejujurnya kepadamu tentang putri ka--” ucapan papi Baskara terhenti karena melihat sang istri yang turun dari lantai atas sendiri. Papi Baskara dan Kenzo sudah bisa menduga bahwa mami Calista menyetujui permintaan Irma yang tidak ingin menemui Kenzo.
Mami Calista segera duduk bergabung dengan suaminya dan juga Kenzo itu, “Mana Irma? Kenapa dia belum turun?” tanya papi Baskara pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Mami Calista hanya menggeleng, “Maaf ya nak. Irma sedang istirahat. Dia--”
__ADS_1
“Tante bisakah Kenzo sendiri yang menemuinya?” izin Kenzo memotong ucapan mami Calista itu.
Mami Calista pun melirik papi Baskara seolah meminta pendapat apa Kenzo di izinkan atau tidak, “Nak, sebelum kamu menemuinya. Kami mau mengatakan sesuatu dan setelah tahu nanti terserah apa pun keputusan yang akan kau ambil nanti. Kami akan menerimanya.” Ucap papi Baskara sambil menatap sang istri.
Mami Calista yang mengerti apa yang akan di katakan suaminya itu pun hanya mengangguk menyetujui, “Nak, jujur saja kami sudah menyelidikimu saat kami tahu Irma akan magang di sebuah perusahaan. Sebenarnya kami sudah memintanya untuk magang di perusahaan kami tapi dia menolak dengan alasan dia ingin mencari pengalaman di perusahaan orang lain tanpa bayang-bayang kami. Itu adalah penolakan pertama yang dia lakukan pada keputusan kami. Kami yang tidak ingin dia kenapa-kenapa dan sangat menjaganya karena dia anak satu-satunya yang kami miliki pun akhirnya menyelidiki perusahaan tempat dia magang yang ternyata di perusahaan yang kau pimpin. Kami juga menyelidikimu untuk memastikan semuanya bahwa putri kami akan bekerja di sana. Setelah melewati beberapa waktu kami yang bahagia melihatnya yang bersemangat ikut magang pun menjadi lebih tertarik untuk tahu tentangmu.” Ucap papi Baskara tersenyum lalu menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.
Mami Calista yang mendengar penuturan sang suami hanya bisa menepuk bahu suaminya itu sambil berusaha menahan air matanya, “Kenzo sudah tahu om, tante. Kenzo sudah tahu dia memiliki penyakit itu. Kami tidak sengaja bertemu ahh bukan saya yang tidak sengaja melihatnya di rumah sakit saat dia mengambil obat. Seperti kalian yang sudah menyelidiki saya dan menginginkan saya jadi pendamping putri kalian yang berharga itu sama seperti itu lah yang sudah saya lakukan. Saya sudak menyelidikinya dan juga berharap bisa menjadi pendampingnya. Jujur saja saya sebenarnya yang tidak merasa pantas untuk jadi pendampingnya karena dia adalah seorang putri tunggal dari keluarga kaya. Jika di bandingkan dengan saya tentu sangat jauh berbeda seperti langit dan bumi. Irma memiliki orang tua yang utuh dan juga kaya sementara saya adalah anak yatim piatu yang di beri kepercayaan oleh kakak ipar untuk mengelola perusahaannya. Saya tidak bisa di bandingkan dengan Irma. Jadi sebenarnya bukan saya yang berhak memutuskan tapi om dan tante. Apa kalian sudi menerima saya sebagai pendamping putri kalian? Putri kesayangan kalian?” ucap Kenzo tulus.
Papi Baskara dan Mami Calista bisa melihat ketulusan dan kejujuran dari ucapan dan tatapan pria muda di hadapan mereka itu. Pria yang mereka harapkan untuk jadi menantu mereka, “Tentu saja kami menerimamu nak. Tapi sekali lagi apa kau yakin akan menerima putri kami?” tanya papi Baskara.
__ADS_1
“Saya mencintainya om dan mungkin om dan tante meragukan cinta saya ini karena kami yang baru saja dekat. Tapi sungguh saya mencintainya dan hanya dia gadis yang saya pilih untuk jadi istri saya. Jadi tentu saja jika om dan tante merestui maka saya akan meminta mama Najwa dan papa Khabir untuk datang melamarnya.” Ucap Kenzo.
Papi Baskara meneteskan air matanya lalu mendekati Kenzo dan memeluknya, “Terima kasih nak. Kami menunggu kedatangan kalian. Terima kasih sudah mencintai putri kami dan menerima segala kekurangannya.” Ucap papi Baskara. Mami Calista yang melihat itu terharu dan segera menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
Di atas sana ternyata Irma melihat dan mendengar semua yang terjadi di ruang tamu. Dia meneteskan air matanya dan terharu dengan apa yang di katakan Kenzo. Kenzo yang di peluk papi Baskara dan begitu pelukan itu terlepas dia melihat ke lantai atas dan matanya beradu dengan mata Irma. Irma yang menyadari itu pun segera berbalik, “Om, saya bisa menemuinya?” tunjuk Kenzo yang melihat Irma berlari menuju kamarnya.
Papi Baskara dan mami Calista melihat ke arah yang di tunjuk Kenzo lalu setelah itu keduanya segera mengangguk mengizinkan. Kenzo yang sudah mendapat izin pun segera beranjak dari sofa dan berlari menuju lantai atas. Kenzo melompati tangga dengan cepat dan tiba tepat waktu saat Irma hendak menutup pintu kamarnya.
Kenzo segera menarik tangan Irma dan menariknya ke pelukannya, “Kenapa lari?”
__ADS_1