
Sementara Kenzo dan Irma mereka baru saja selesai dari makam mama Bella dan saat ini menuju rumah mama Najwa dan papa Khabir. Tidak lama mereka tiba dan keduanya pun segera mengucap salam.
“Wah, mah lihat siapa yang datang.” sambut mama Najwa menatap Kenzo dan Irma.
Nenek Ayesha yang ada di kursi roda di dorong oleh Deyana pun tersenyum, “Kenzo ajak dia masuk nak.” ucap nenek Ayesha.
Kenzo pun tersenyum lalu mengajak Irma masuk. Keduanya segera menyalami semua keluarga yang berkumpul di rumah itu seperti baru selesai membahas sesuatu.
Kini Irma dan Kenzo sedang duduk di ruang keluarga beserta keluarga yang lain, “Kakakmu sudah mengatakan kepada kami semua nak. Dia juga sudah menceritakan bahwa menyerahkan keputusan lamaran kepada kalian. Jadi apa keputusan kalian?” tanya mama Najwa menatap Kenzo dan Irma.
Kenzo tersenyum mendapat pertanyaan dari kakak dari ibu kandungnya itu yang sudah dia anggap sebagai mama keduanya, “Ternyata kakak itu sangat gercep yaa. Kami sudah memutuskan bahwa lamarannya akan tetap akan di laksanakan lusa seperti rencana sebelumnya.” Ujar Kenzo.
“Apa kamu juga setuju begitu nak? Kenzo tidak memaksamu kan?” tanya mama Najwa menatap Irma.
“Tidak kak Reya tidak mama Naj sama saja suka menuduhku. Aku ini bukan pemaksa.” Ucap Kenzo pura-pura cemberut.
Mama Najwa pun tersenyum, “Itu biasa terjadi kepada setiap pria yang sudah tidak sabar menikah. Makanya mama bertanya kepada calon menantu kami ini. Jangan sampai kan kau memaksanya.” Ucap mama Najwa.
“Mah, sudah jangan berdebat. Lihatlah dia jadi gugup karena melihat kalian berdebat.” Ujar papa Khabir tersenyum.
“Nak, sini ayo duduk di samping nenek.” Pinta nenek Ayesha. Irma pun menatap Kenzo dan begitu Kenzo mengizinkannya dia pun berpindah tempat dekat dengan nenek Ayesha.
“Apa kau sungguh tidak di paksa olehnya? Apa kau sudah yakin mengadakan lamaran lusa nak?” ulang nenek Ayesha.
“Jangan takut menjawabnya. Kami tidak akan memaksamu dan akan menerima semua keputusanmu.” Sambung nenek Ayesha kemudian.
__ADS_1
Irma pun tersenyum dan menatap seluruh keluarga Kenzo itu, “Irma sudah setuju dan yakin nek. Irma tidak di paksa oleh kak Kenzo sedikit pun. Dia juga sudah mengatakan bahwa semua keputusan terserah kepada Irma. Dan keputusan Irma sudah bulat untuk mengadakan lamaran lusa.” Ucap Irma.
Semua keluarga pun tersenyum mendengar jawaban yang di berikan Irma itu, “Baiklah jika memang begitu nak. Syukurlah karena kalian sudah memutuskannya. Kalau begitu lusa adalah lamaran kalian. Kami sudah mengatakan ini juga kepada orang tuamu.” Ucap mama Najwa tersenyum.
“Mami dan papi sudah tahu?” tanya Irma kaget.
“Kenapa kau kaget nak. Apa menurutmu kami merencanakan lamaran untukmu tanpa orang tuamu tahu atau tanpa persetujuan mereka.” ucap nenek Ayesha tersenyum.
“Bukan begitu nek. Irma hanya gak tahu bahwa semuanya sudah terencana.” Ujar Irma.
“Kakak kalian Freya yang mengurus semuanya nak. Jika ingin berterima kasih. Berterima kasihlah kepadanya. Jika Freya sudah turun tangan maka semua masalah selesai.” Ucap nenek Ayesha.
“Nak, sini ulurkan tanganmu.” Pinta nenek Ayesha.
Irma pun dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya, “Deyana!” ucap nenek Ayesha.
“Nek, apa itu memang milik mama?” tanya Kenzo. Pasalnya dia tidak pernah tahu hal itu. Arabella meninggalkannya saat dia berusia satu tahun lalu dia di rawat oleh mendiang nenek dari pihak papanya sehingga dia tidak begitu mengenal mamanya itu dan hanya melihatnya dari foto.
Nenek Ayesha tersenyum, “Itu memang kalung miliknya nak. Nenek yang menyimpannya. Saat sebelum dia meninggal dia sangat mengkhawatirkanmu karena kau yang masih kecil saat itu. Dia berpesan kepada nenek untuk menyimpan kalungnya dan memberikan itu kepada calon menantunya di masa depan yang berarti itu adalah milik Irma karena dia adalah calon istrimu.” Jelas nenek Ayesha.
“Lalu untuk kak Kia apa?” tanya Kenzo.
“Kamu jangan khawatirkan untuk Kiana. Apa kau pernah melihat cincin dan gelang yang sering kakakmu pakai jika ada acara? Itu adalah peninggalan mamamu untuk dirinya.” Ucap mama Najwa.
Kenzo pun mengangguk mengerti, “Pantas saja sewaktu cincin itu tidak sengaja dia lupa simpan di mana kakak sangat panic.” Ucap Kenzo yang kini mengerti saat kejadian kakaknya mencari cincin.
__ADS_1
“Jadi sekaranga apa masih ada yang ingin kau tanyakan lagi?” tanya nenek Ayesha.
Kenzo menggeleng, “Apa itu berarti nenek bisa memberikan kalung itu kepada calon istrimu?” tanya nenek Ayesha lagi.
“Pertanyaan macam apa itu nek. Jika dari awal itu memang di peruntukkan untuk calon istriku kelak lalu kenapa masih menanyakan persetujuanku.” Ujar Kenzo.
“Nenek hanya bertanya loh.” Ucap nenek Ayesha tersenyum.
“Nak, kalung itu kini menjadi milikmu dan nenek harap kau bisa menjaganya dengan baik.” ucap nenek Ayesha.
Irma mengangguk tersenyum, “Terima kasih nek. Aku akan menjaga kalung ini dengan baik. Terima kasih sudah mempercayaiku.” Ucap Irma.
Nenek Ayesha tersenyum, “Kami sudah tentu mempercayaimu nak. Kau gadis istimewa.” Ucap nenek Ayesha mengusap kepala calon cucu menantunya itu.
***
Singkat cerita, setelah selesai membahas semua terkait lamaran dan juga ikut makan malam bersama. Kini Kenzo dan Irma dalam perjalanan pulang. Irma menggenggam erat kotak perhiasan itu. Kenzo tersenyum melihatnya.
“Terima kasih sudah menerima kalung itu.” ujar Kenzo.
“Jangan berterima kasih kak. Aku beruntung mendapatkan kalung ini karena di dalam kalung ini ada restu ibumu. Aku akan menjaganya dengan baik.” ucap Irma.
Kenzo pun tersenyum mengangguk, “Kak, apa kau tidak mengenal wajah ibumu?” tanya Irma.
“Aku tidak ingat karena mama pergi saat aku berusia setahun. Aku tidak hafal wajahnya. Tapi aku sudah melihat fotonya. Mama sangat cantik tidak jauh berbeda dengan mama Najwa. Mereka memiliki garis wajah yang sama. Kadang ketika aku merindukannya dia akan datang dalam mimpiku seolah-olah dia menjagaku.” Ucap Kenzo.
__ADS_1
Irma pun tersenyum, “Kakak dan kak Kiana hebat bisa menjalani kehidupan yang berat ini. Kalian adalah anak yang terpilih.” Ucap Irma.
“Kau juga terpilih dek. Kau hebat bisa menjalani kehidupanmu yang sudah di diagnosa sakit sejak kecil. Aku bangga akan memiliki istri yang kuat sepertimu.” Ucap Kenzo. Irma pun tersenyum mendengar hal itu.