
Resepsi pernikahan Friska dan Rezky itu berjalan dengan sangat lancar. Di pelaminan sana Rezky dan Friska sudah berganti pakaian mereka untuk yang kedua tapi para tamu undangan yang memberikan selamat kepada mereka belum juga selesai. Masih saja ada yang belum memberikan selamat.
Jujur saja Friska sudah merasa pegal pada kakinya karena lama berdiri di tambah dengan dia memakai high heels yang lumayan tinggi sehingga membuat kakinya pegal dua kali lipat. Selain kaki dia juga merasa bahwa dia mungkin bisa tidak akan senyum untuk sebulan ke depan karena senyumnya pada malam ini dia sudah sering senyum. Bahkan menurutnya dia sudah tidak bisa bersikap cuek.
“Apa pegal?” tanya Rezky menyadari istrinya itu yang sudah mulai kelelahan.
Friska pun mengangguk. Dia tidak ingin membohongi keadaannya hanya karena gengsinya. “Ya sudah kalau begitu lepas dulu high heels nya sayang.” ucap Rezky berbisik.
“Terus aku nyeker gitu kak?” tanya Friska kembali berbisik.
Rezky tersenyum lalu memberi kode kepada asistennya yang hadir di sana. Robi yang mengerti dengan kode yang di berikan oleh bosnya itu pun segera mendekati pelaminan dan mendekati Rezky dan Friska lalu memberikan paper back kepada Rezky, “Terima kasih!” ucap Rezky yang di balas dengan anggukan oleh Robi. Lalu dia pun segera turun dari pelaminan meninggalkan kedua mempelai itu di sana.
“Lepas sayang!” bisik Rezky lalu dia segera berlutut dan membantu Friska untuk mengganti high heels nya dengan sepatu yang sudah dia siapkan sebelumnya.
“Terima kasih suamiku.” ucap Friska setelah Rezky selesai memakaikan sepatu kepadanya.
Akhirnya Friska pun sedikit merasa nyaman tidak merasa pegal nanti, “Kak, jika Riska tahu akan lama menyalami para tamu. Riska tidak memakai high heels dan memakai sepatu saja. Huft dasar.” Ucap Friska.
Rezky yang mendengar istrinya itu mengeluh pun tersenyum, “Tidak apa-apa sayang. Yang penting sekarang sudah nyaman kan?” tanya Rezky. Friska pun mengangguk.
Di bawah sana Irma tersenyum karena larut dalam romansa yang di ciptakan oleh Friska dan Rezky itu, “Ahh sweetnya kak Ris dan suaminya.” Ucap Irma.
Kenzo yang mendengarnya pun tersenyum, “Tenang saja. Aku pun akan melakukan hal yang sama padamu nanti.” Ucap Kenzo.
“Ck, kak aku itu sedang serius. Tidak bercanda. Jangan menganggap perkataanku itu lelucon.” Ujar Irma kesal padahal di hatinya dia sangat senang dengan hal itu.
Kenzo kembali tersenyum, “Emang kamu gak mau di gituan juga?” tanya Kenzo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Irma.
“Ish, kakak menyebalkan deh. Mana ada gadis yang gak mau di perlakukan seromantis se sweet itu.” ujar Irma lirih di akhir kalimatnya.
Kenzo yang mendengar ucapan lirih calon istrinya itu pun tersenyum, “Kalau begitu kau tenang saja. Calon suamimu ini akan berubah jadi sosok yang romantis.” Ucap Kenzo.
Irma pun terkekeh, “Hehehh, kaakk kau menggodaku. Sudah lah jangan menggangguku lagi. Aku ingin fokus menikmati acara ini dengan baik.” ucap Irma.
“Baiklah nyonya. Aku tidak akan mengganggu. Aku akan menutup mulutku ini dengan baik. Tidak akan mengganggu.” Ucap Kenzo tersenyum.
Irma yang melihat ekspresi lucu calon suaminya itu pun akhirnya tertawa, “Ck, kakak menyebalkan.” Ucap Irma.
Kiana yang melihat interaksi adik dan calon adik iparnya itu pun tersenyum bahagia. Akhirnya mereka akan menemukan kebahagiaannya masing-masing. Sungguh Allah maha baik kepada mereka. Mereka yang sejak kecil sudah di tinggal oleh seorang ibu kini tetap bisa merasakan pelukan dan kasih seorang ibu dari mama Najwa yang menganggap mereka sebagai anaknya. Selain mama Najwa ada juga Freya yang bukan hanya berperan sebagai kakak bagi mereka tapi juga seorang ibu yang sangat perhatian ini itu kepada mereka adik-adiknya. Sungguh takdir itu akan indah pada waktunya.
__ADS_1
Kiana menatap suaminya lalu dia tersenyum bahagia karena kini dia mendapatkan suami dan mertua yang sangat baik seperti impiannya selama ini. Terus sebenatr lagi juga dia akan menjadi seorang ibu. Lengkap lah sudah kebahagiaanya. “Ada apa?” tanya Zean tanpa menatap istrinya itu tapi dia tahu Kiana menatapnya.
Kiana menggeleng, “Gak ada. Kia hanya ingin memandang suami Kia saja.” ucap Kiana tersenyum.
“Papa, mama aku sudah bahagia dengan suamiku. Aku sebentar lagi akan jadi seorang ibu. Aku tahu walau kalian tidak di sini bersamaku. Tapi aku yakin kalian pasti bisa melihat kebahagiaan yang aku dapatkan dari atas sana. Kalian beristirahatlah dengan tenang. Kenzo juga tidak perlu kalian khawatirkan. Dia sudah bahagia. Dia akan melangsungkan pernikahan dengan gadis pilihannya. Gadis yang baik yang menerima Kenzo apa adanya. Aku menyukai gadis itu. Kenzo sudah menemukan kebahagiaannya juga. Tidak perlu khawatir kepada kami lagi.” Batin Kiana tersenyum.
Akhirnya tamu undangan yang memberikan selamat kepada Friska dan Rezky sudah tidak ada lagi. Sehingga acara pun di lanjutkan dengan pengambilan foto keluarga lagi. Semua keluarga mengabadikan momen mereka masing-masing tanpa ada yang terlewati karena ini adalah momen yang tidak akan mungkin bisa di ulang lagi.
Setelah berbagai acara demi acara yang tanpa istirahat sejak pagi tadi dan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat sedikit akhirnya acara resepsi pernikahan itu selesai. Sesi foto juga selesai dan kini pasangan raja dan ratu semalam itu sudah menuju kamar meninggalkan para keluarga dan kerabat yang masih di aula gedung itu. Ada juga yang sudah pada pulang masing-masing.
“Risya, kamu pulang kemana?” tanya Fazar melirik Frisya.
“Hum, sepertinya ke rumah kak Reya. Kami akan menginap di sana. Gak mungkin juga aku ke apartemen.” Ucap Frisya.
“Baiklah , ya sudah ayo saya antar.” Ucap Fazar.
“Tunggu sebentar kak. Kita pulang bareng kak Reya dan juga mama dan papaku.” Ucap Frisya.
Fazar pun mengangguk mengiayakan. Apa yang tidak sih untuk Frisya. Dia selalu menuruti permintaan gadis itu selama dia bisa.
***
Tok … tok … tok …
“Masuk!” ucap Friska dari dalam.
Freya pun segera masuk dengan Alvino yang mengikutinya dari belakang, “Sudah bertukar pakaian kan. Ini kamar hotel yang sudah kami sediakan untuk kalian.” ucap Freya memberikan kartu kamar hotel untuk adiknya itu.
“Apa maksudnya ini kak?” tanya Friska polos.
Freya pun tersenyum, “Kenapa bertanya begitu adikku. Masa iya kau tidak mengerti. Ini adalah malam pertama pernikahan kalian. Jadi tentu saja mendapatkan hadiah kamar hotel bukan sesuatu yang aneh kan. Kenapa kau bertanya?” ucap Freya.
Seketika wajah Friska memerah begitu otaknya sudah sinkron dengan apa yang apa yang di maksud oleh kakaknya itu, “Adik ipar, apa kau sudah paham?” goda Alvino.
“Kakak ipar, jangan menggoda istriku lagi. Dia sudah memerah malu.” Ucap Rezky tersenyum.
“Baiklah. Kami tidak akan menggoda kalian lagi. Kami akan pamit pulang. Tidak akan menunda waktu kalian lagi.” Ucap Freya segera mengajak Alvino keluar.
“Ohiya, Robi dan Hiro yang akan mengantar kalian ke hotel. Tenang saja lima menit saja tiba.” Ucap Alvino lalu dia segera mengikuti Freya keluar.
__ADS_1
Setelah kepergian Alvino dan Freya bergantilah mama Najwa dan mami Jasmin untuk berpamitan juga pada mereka sebelum pulang, “Kakak kalian sudah menyediakan hotel untuk kalian. Jangan sia-siakan.” Ucap mami Jasmin di angguki oleh mama Fara.
“Ahh mama dan mami sama saja dengan kak Reya dan kakak ipar. Datang ke sini hanya untuk menggoda kami. Huft!” ujar Friska mengerucutkan bibirnya.
“Rezky jaga menantu mami ini dengan baik. Boleh mengeksekusinya tapi lakukan dengan hati-hati.” Ujar mami Jasmin yang di angguki oleh Rezky dengan tersenyum
Friska pun tersenyum malu, “Mami!” ucap Friska memeluk mertuanya itu.
“Nak, kau cantik sekali.” Puji mami Jasmin. Friska yang mendengar itu pun tersenyum.
Setelah itu mama Najwa dan mami Jasmin pun segera pamit pulang. Mereka memang harus kembali ke rumah masing-masing.
Kini di ruangan itu, tinggalah mereka berdua lagi. Seketika mereka menjadi canggung.
“Ayo kita pergi.” ucap Rezky lalu meraih kopernya dan juga koper sang istri.
Friska pun mengangguk lalu meraih tas kecilnya dan memastikan bahwa tidak ada barang mereka yang tertinggal di sana lagi.
Rezky dan Friska keluar dari gedung resepsi pernikahan mereka itu sambil bergandengan tangan satu sama lain dan segera menuju mobil di mana kedua asisten Rezky itu sudah menunggu mereka.
Rezky segera membukakan pintu mobil untuk istrinya itu lalu tidak lama setelah itu mobil pun melaju menuju hotel yang di maksud. Seperti apa yang sudah di katakan oleh Alvino tadi bahwa hotel itu hanya dekat memang benar. Bahkan tidak sampai lima menit mereka sudah tiba.
Rezky dan Friska pun segera turun dan keduanya segera masuk ke hotel itu yang langsung di sambut oleh pegawai hotel dengan memberikan buket bunga kepada Friska lalu mereka segera di arahkan ke kamar yang sudah di pesan oleh Alvino sebelumnya, “Terima kasih!” ujar Friska.
Tangan Friska semakin dingin setelah berada di depan kamar mereka itu. Rezky yang menggenggam jemari tangan istrinya itu pun tersenyum.
“Tenang saja. Jangan gugup.” Bisik Rezky.
Friska pun hanya tersenyum meringis, “Silahkan tuan nona.” Ucap pegawai hotel yang mengantar Friska dan Rezky itu.
“Terima kasih!” ucap Rezky dan Friska kepada pegawai hotel yang mengantar mereka itu. Pegawai hotel itu mengangguk lalu segera meninggalkan Rezky dan Friska di sana.
Friska menarik nafasnya panjang membaca tulisan yang ada di depan kamar hotel itu.
“Kita masuk!” ucap Rezky.
Friska mengangguk perlahan, “Hey, ayo tatap aku sayang. Tenang saja aku tidak akan melakukannya jika kau tidak siap. Kita hanya akan istirahat saja di sini. Malam pertama itu tidak selamanya identik dengan hal itu kan. Jadi tenang.” Ucap Rezky tersenyum. Tentu saja dia tidak mungkin memaksa istrinya itu jika istrinya itu menolak. Walaupun dia ingin tetap saja tidak bisa memaksa. Lagian juga mereka sudah lelah dengan prosesi pernikahan mereka seharian ini. Dia hanya ingin istirahat saja.
Friska pun tersenyum lalu menatap suaminya itu dan dia menggenggam yakin tangan suaminya, “Ayo kita masuk!” ajak Friska. Jujur saja dia juga ingin segera beristirahat.
__ADS_1