Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
202


__ADS_3

Alendra segera menoleh ke sumber suara dan mendapati ada seorang pria yang garis wajah nya sangat mirip dengan gadis yang terbaring di dalam ruangan di depan nya itu.


Alendra pun menunduk penuh hormat, “Om!” sapa nya.


Pria itu pun tersenyum memandangi Alendra yang memakai seragam dinas nya, “Kau tidak ingin masuk?” tawar Jauzan, ayah Clemira.


“Eeh saya di luar saja om. Lagi pula dia belum sadar.” Tolak Alendra karena dia tidak ingin mengganggu pertemuan putri dan ayah kandung nya.


“Kamu masuk saja. Bukan kah kamu harus mempertanggung jawabkan alasan sampai kenapa kini putri saya itu terbaring di sini.” Ucap ayah Jauzan yang segera masuk ke ruangan di mana putri nya itu berbaring.


Alendra yang mendengar itu pun akhirnya menurut saja dan segera ikut masuk ke dalam ruangan perawatan itu. Dia memandangi Clemira yang pucat dan rasa bersalah nya pun semakin bertambah.


***


Singkat cerita, kini Clemira telah di izinkan pulang karena memang dia sudah dinyatakan sembuh walaupun tetap harus meminum obat tepat waktu.


“Ayah … apa ibu gak akan ke sini?” tanya Clemira. Dia sudah dari kemarin di rawat di sini dan ibu nya tidak juga terlihat. Begitu dia bangun hanya ayah nya saja yang sudah berada di sisi ranjang nya. Dia pikir begitu dia bangun akan melihat kedua orang tua nya itu ada di sisi nya tapi ternyata tidak. Kenyataan nya ibu nya itu tidak pernah peduli akan keadaan nya.


“Ibumu pasti akan datang nak. Dia hanya sedikit sibuk saja.” jawab ayah Jauzan.


Clemira pun memilih diam dan tidak banyak mengajukan pertanyaan lagi karena dia tahu hal itu justru akan membuat ayah nya sedih. Dia tahu ayah nya adalah orang yang paling terluka akan hal ini. Dia tidak akan menambah luka itu. Biarlah kesedihan itu dia sendiri yang menyimpan nya.


“Hey, dek! Apa kau sudah sembuh?” ucap Freya yang masuk ke ruangan itu bersama Friska dan Frisya di belakang nya.


Clemira pun tersenyum kepada ketiga kakak nya itu, “Kak Reya ayo sini mendekat lah. Aku ingin memelukmu. Aku butuh pelukan.” Ucap Clemira manja.


Freya pun segera mendekati adik nya itu dan segera memeluk nya. Freya sangat paham hal apa yang membuat adik nya itu terlihat sedih. Mereka sudah berusaha untuk membuat Clemira nyaman dan tidak sedih tapi siapa juga yang tidak akan sedih ketika rindu pada ibu nya. Itu adalah hal yang wajar dan semua anak pasti akan merasakan nya.


“Kaak, bisa tidak aku menikah saja. Aku bosan!” ucap Clemira melepas pelukan nya dan menatap Freya.


“Apa kamu yakin?” tanya Freya.

__ADS_1


“Ah kakak aku hanya bercanda kenapa kau menganggap nya serius. Mana mungkin aku menikah saat aku saja belum lulus kuliah. Lagipula seperti nya aku tidak akan pernah me--”


“Jangan katakan itu. Tidak boleh mengatakan sesuatu yang buruk dan belum terjadi.” Potong Freya cepat saat sudah bisa menduga apa yang akan di katakan oleh adik nya itu.


“Hahahah, aku tahu kak. Aku tidak akan berdoa meminta hal buruk. Sudah cukup apa yang ku alami.” Balas nya.


“Hey, kamu gak boleh sedih dong dek. Kamu itu adalah adik kami yang sangat ceria. Kami butuh tawamu bukan sedihmu.” Ucap Friska mendekati Clemira dan memberikan pelukan kepada adik nya itu. Hal yang sama di lakukan oleh Frisya juga.


“Ayah … maafkan aku yang sudah menanyakan pertanyaan seperti itu. Aku harap ayah tidak sedih karena pertanyaan yang ku ajukan.” Ucap Clemira menatap ayah nya yang kini sibuk merapikan barang nya.


“Ayah gak sedih kok sayang.” jawab ayah Jauzan.


Freya yang mendengar jawaban yang di berikan oleh paman nya itu pun tersenyum. Dia tahu paman nya itu mencoba tegar demi Clemira. Sungguh kisah paman nya itu menyedihkan jika harus di bicarakan. Dialah satu-satu nya saudara mama Najwa yang memiliki kisah cinta yang rumit.


***


Kini Clemira dan ayah Jauzan sudah ada di parkiran klinik. Ayah Jauzan segera memasukkan barang mereka ke mobil hingga seseorang datang dengan pakaian santai nya.


Clemira pun hanya menunduk hormat, “Ayah … aku masuk duluan ke mobil.” Pamit nya.


“Maafkan dia nak. Dia memang seperti itu jika menyangkut orang yang tidak dia senangi. Dia tidak pernah bisa berpura-pura baik.” ucap ayah Jauzan.


“Tidak masalah om. Saya juga paham kok dengan hal itu.” balas Alendra. Yah, pria itu adalah Alendra yang kini memang tidak sedang dinas.


“Kamu di sini mau apa nak?” tanya ayah Jauzan.


“Saya mau menebus obat untuk ibu saya om. Lalu sekaligus juga mau melihat nya.” jawab Alendra tersenyum menatap Clemira yang justru menatap nya datar dari dalam mobil sana.


“Ouh begitu. Ya sudah jika memang begitu kamu tebus obat untuk ibumu. Om pamit.” Ucap ayah Jauzan.


“Baik silahkan om. Hati-hati!” balas Alendre.

__ADS_1


Tidak lama mobil ayah Jauzan pun segera meninggalkan parkiran klinik itu. Alendra memandangi mobil itu sampai menghilang dari pandangan nya dan dia baru masuk ke dalam klinik setelah memastikan hal itu.


***


“Ayah … kenal polisi itu?” tanya Clemira saat di dalam mobil. Dia penasaran kenapa ayah nya dan Alendra bisa saling mengenal.


“Polisi? Siapa nak maksudmu?” tanya Ayah Jauzan pura-pura.


“Ish itu loh ayah … pemuda tadi di parkiran klinik. Tidak usah pura-pura begitu ayah karena hanya dia saja yang bicara dengan ayah.” ujar Clemira.


“Ouh jadi dia polisi ya? Kok ayah gak tahu.” Ucap ayah Jauzan.


“Ish malas ah ngomong sama ayah.” ucap Clemira cemberut.


Ayah Jauzan pun hanya tersenyum melihat putri nya yang tengah kesal itu. Dia memang suka menggoda putri nya itu.


“Dia tampan kan nak?” tanya ayah Jauzan kemudian.


“Siapa?” tanya Clemira balik.


“Itu polisi tadi.” Jawab ayah Jauzan


“Ouh dia … eh kenapa ayah bertanya begitu?” tanya Clemira lagi.


“Gak ayah hanya penasaran saja dengan pendapatmu. Menurut ayah dia tampan sama seperti ayah saat masih muda seumuran dia. Selain itu juga dia terlihat seperti anak yang baik.” ucap ayah Jauzan.


“Kenapa ayah jadi begini? Ayah tidak senang mencarikan jodoh untukku bukan? Ingat ayah aku katakan aku akan mencari sendiri jodohku. Selain itu aku juga tidak mau di jodohkan dengan orang seperti dia. Tampan sih tampan tapi ya begitulah. Pokoknya Clemira gak mau di jodohkan. Satu lagi jangan suka menilai orang dari covernya saja ayah. Kita bisa salah nanti.” Ucap Clemira menggebu-gebu.


Ayah Jauzan pun hanya tersenyum mendengar ucapan putri nya itu. Dia tahu putri nya itu saat ini memang sedang berada di fase kesal. Semoga saja ke depan nya akan berjalan lancar semua nya.


Alendra. Pria itu sudah dia tandai sebagai calon menantunya. Bukan karena pangkat nya tapi karena nilai plus yang sudah dijelaskan oleh Alvino kepadanya. Dia ingin putri yang satu-satu nya yang dia miliki itu bahagia dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang terjadi padanya.

__ADS_1


__ADS_2