
“Kak, kau kenapa?”
Frisya yang melihat kakaknya sepertinya kurang sehat segera masuk ke kamar kakak keduanya itu, “Apa kau sakit?” tanya Frisya sambil menyentuh dahi Friska yang ternyata sangat panas.
Frisya segera memapah kembali Friska ke ranjangnya dan mulai memeriksa tanda vital kakak keduanya itu, “Astaga kak, suhu tubuhmu sangat tinggi. Kita ke rumah sakit yaa atau ke klinik kakak saja.” ucap Frisya kaget begitu melihat suhu tubuh Friska di thermometer yang menunjukkan 39 derajat.
Friska menggeleng, “Minta kakak saja segera kesini. Aku gak mau ke dokter dek.” Ujar Friska lemah.
Frisya pun mengangguk lalu segera meraih ponsel Friska dan menelponnya kakak sulung mereka.
Tuut tuut tuut
“Halo, assalamu’alaikum mami.” ucap Azwa dari seberang. Rupanya keponakan kecilnya yang mengangkat panggilan.
“Wa’alaikumsalam. Sayang, di mana bunda. Bisa gak antarkan ponselnya ke bunda. Mami mau bicara dengan bunda.” Ucap Frisya lembut.
Di sana Azwa mengangguk padahal anggukan tidak bisa di lihat oleh Frisya. Dia segera turun dari ranjang dan berlari keluar karena bundanya itu sudah turun ke lantai bawah untuk memasak, “Tunggu sebentar yah mih. Bunda ada di dapur. Ini Azwa sedang turun tangga.” Ucap Azwa dari seberang.
“Hati-hati sayang turun tangganya jangan lari pelan-pelan saja mami bisa menunggu kok.” ucap Frisya yang mengkhawatirkan keponakan kecilnya itu. Walau dia tahu keponakannya itu sangat cerdas namun tetap saja dia masih anak-anak yang bisa saja ceroboh.
Di sana lagi-lagi Azwa mengangguk mendengarkan ucapan Frisya itu. Tidak lama dia tiba di lantai bawah dan segera berlari menuju dapur, “Bun, bunda mami mau bicara.” Ucap Azwa segera mendekati Freya yang sedang membuka lemari es.
Freya segera menatap putri kecilnya itu dan menerima ponselnya dari tangan sang putri. Dia melihat siapa yang menelpon yang ternyata adik keduanya, “Halo, iya Riska ada apa dek?” tanya Freya lembut sambil memegang wortel di tangannya.
__ADS_1
“Kak, ini aku Frisya. Kak Ris sedang sakit kak, wajahnya pucat dan suhu tubuhnya tinggi 39 derajat namun dia gak mau ke rumah sakit atau klinik dan justru memintaku menghubungimu kak.” Jelas Frisya.
Freya yang mendengar itu tidak sadar wortel di tangannya terjatuh, “Baik dek kakak kesana. Kau tunggu yaa.” Ucap Freya lalu langsung menutup sambungan telepon.
“Bi kalian memasak saja dulu. Saya harus ke apartemen sebentar.” Pamit Freya lalu segera berlari ke lantai dua untuk mengambil peralatan kesehatan yang memang ada di rumahnya itu dan juga mengambil kunci mobilnya.
“Sayang kamu mau kemana?” tanya Alvino yang baru saja dari ruang olahraga melihat istrinya yang terburu-buru.
“Aku mau ke apartemen. Friska sakit. Aku pamit yaa suamiku.” Ucap Freya segera menyalami suaminya dan mengecup pipi suaminya itu sekilas.
Alvino menahan tangan istrinya lalu mengambil kunci dan alat kesehatan dari tangan istrinya, “Biar aku mengantarmu sayang.” ucap Alvino.
Freya pun mengangguk lalu pasangan suami istri itu pun segera turun, “Bi kami titip anak-anak dulu yaa.” Ucap Alvino kepada asisten rumah tangga mereka itu.
Mami Sinta yang memang ingin menemui menantunya itu kini bingung melihat menantu dan putranya pergi dengan terburu-buru menggunakan mobil sepagi ini. Dia pun segera masuk ke dalam rumah putra dan menantunya itu segera menuju dapur dan mendapati cucu kecilnya ada di sana sedang bicara dengan Wina, "Bi, kemana putra dan menantuku itu pergi?" tanya mami Sinta.
“Tuan dan nyonya sepertinya ke apartemen nyonya besar. Nona Friska sakit.” Ucap bi Susi.
Mami Sinta yang mendengar itu pun kaget lalu dia segera mengangguk mengerti. Dia segera kembali menuju rumahnya karena sepertinya masalah ini harus di ketahui oleh seseorang.
***
Di sisi lain, Frisya sedang mengompres kakak keduanya itu dengan es batu untuk meredakan demam, “Kak Reya sudah dalam perjalanan ke sini kak.” Ucap Frisya sambil mengganti kompres dingin Friska jika handuk itu sudah terasa panas.
__ADS_1
Tidak lama Freya dan Alvino tiba, mereka langsung saja masuk karena memang tahu sandi apartemen yang memang masih tanggal pertemuan pertamanya dengan sang suami. Apartemen ini memang milik Freya dan Alvino sehingga sandinya pun tetap sama tidak berubah. Bukan Friska dan Frisya tidak mau mengubahnya hanya saja mereka senang dengan sandi itu. Mereka bisa ingat pertemuan pertama kakak mereka dengan suaminya hanya dengan mengetikkan sandi apartemen itu.
Freya masuk segera menuju kamar Friska yang memang dia tahu sementara Alvino menunggu di luar saja, “Kau sudah mengompresnya?” tanya Freya yang melihat adik bungsunya itu.
Frisya mengangguk dan segera menjelaskan tanda vital Friska yang kini sedam memejamkan matanya. Freya pun kembali memeriksa adik keduanya itu dan mulai memasang infus untuk adiknya, “Dek, kau belilah obat ini di apotik.” Ucap Freya menuliskan obat untuk Frisya padahal hanya dengan mengatakannya saja Frisya pasti tahu karena dia memang ahlinya namun sepertinya dia paham kakak pertamanya itu panit hingga lupa bahwa adiknya itu kuliah jurusan farmasi.
Frisya segera keluar, “Mau kemana dek?” tanya Alvino.
“Mau membeli obat kakak ipar. Ohiya kakak ipar jika kau ingin sarapan makanlah daripada makanannya terlanjur dingin.” Ucap Frisya yang tahu pasti kakak dan kakak iparnya itu belum sarapan karena ini memang masih terlalu pagi.
Alvino pun mengangguk saja ucapan adik iparnya itu. Frisya segera keluar dan menuju apotik di klinik kakaknya yang memang buka 24 jam sebab jika di apotik lain masih belum buka jam segini apalagi ini adalah weekend.
Di apartemen, Freya setelah memasang infus di tubuh adiknya dan mengompres adiknya kini dia keluar setelah memastikan suhu tubuh adiknya itu mulai turun, “Bagaimana? Dia baik-baik aja kan?” tanya Alvino.
Freya mengangguk, “Dia hanya demam saja.” ucap Freya.
“By, ayo kita cari sarapan dulu. Kau pasti sudah lapar.” Ucap Freya kemudian.
Alvino tersenyum dan memeluk istrinya dengan lembut. Dia tahu istrinya itu masih khawatir akan keadaan adiknya namun tetap memperhatikannya, “Kenapa harus mencari sarapan jika adikmu sudah membuat sarapan. Frisya sudah memintaku untuk sarapan tapi aku menunggu istriku ini.” ucap Alvino.Freya pun tersenyum lalu keduanya segera menuju meja makan dan sarapan dengan makanan yang di buat oleh Frisya.
Tidak lama Frisya kembali dan segera menyerahkan obat kepada Freya, “Dek, kau juga sarapanlah.” Ucap Freya. Frisya pun mengangguk lalu dia segera menuju meja makan dan sarapan.
Sementara Freya segera menuju kamar Friska untuk mengecek keadaan adiknya itu, “Dek, bagaimana perasaanmu?” tanya Freya melihat adiknya itu sudah bangun.
__ADS_1
Friska hanya menggeleng, “Kau harus minum obatmu tapi kau harus makan dulu. Kakak akan membuatkanmu bubur.” Ucap Freya. Friska pun hanya menurut saja.