
Singkat cerita, kini Friska sudah selesai melakukan siarannya. Rezky yang dari tadi menemani calon istrinya itu dan menjadi pendengar juga tersenyum lalu segera mendekati Friska.
Friska pun tersenyum menatap calon suaminya itu, “Kita pulang?” tanya Friska.
“Emm, kita ke rooftop studio dulu. Aku punya kejutan untukmu.” Ucap Rezky.
“Kejutan?” tanya Friska tertawa menatap Rezky.
Rezky mengangguk dengan serius, “Jadi beneran ada kejutan?” Tanya Friska ulang karena dia pikir Rezky hanya berbohong dengan mengatakan kejutan.
“Tentu saja benar sayang. Aku gak suka berbohong.” Ujar Rezky.
Friska lagi-lagi tertawa mendengar kata terakhir calon suaminya itu, “Yah, memang tidak suka berbohong hanya saja suka membuat salah paham.” Timpal Friska menyindir.
Rezky pun tertawa mendengar sindiran Friska, “Sudah jangan di ingat lagi. Mau gak ke rooftop?” tanya Rezky.
Friska pun mengangguk, “Tentu saja mau. Kan kasihan jika memang ada kejutan terus Riska gak ikut. Rugi yang sudah susah susah mempersiapkannya.” Ucap Friska lalu hendak meraih tasnya tapi Rezky yang lebih dulu mengambil tas milik Friska itu dan segera membawanya.
Friska yang melihat itu pun membiarkannya saja. Lalu keduanya segera menuju lift untuk ke rooftop studio itu. Jujur saja Friska baru tahu bahwa studio tempat dia bekerja setiap weekend itu memiliki rooftop.
__ADS_1
Studio itu terdiri dari tiga lantai dan tempat siaran Friska tadi berada di lantai dua sehingga Rezky dan Friska pun hanya cepat berada di lift lalu kini terbukanlah pintu lift itu dan keduanya langsung di sambut dengan lilin yang berbaris rapi di kedua sisi menyambut keduanya.
Friska dan menatap calon suaminya itu dengan tersenyum lalu keduanya segera melangkah keluar lift, “Siapa yang menyiapkan ini?” tanya Friska menatap area rooftop itu yang di hias cantik oleh lilin sehingga menimbulkan suasana yang romantis di tambah lagi di tengah-tengah sana ada meja dengan dua kursi yang berhadapan.
“Tentu saja bawahanku. Aku gak mungkin membuatnya sendiri. Tapi ini atas permintaanku. Sudah ahh ayo kita kesana.” Ajak Rezky menuju tengah-tengah rooftop itu di mana ada meja dan kursi yang sudah di sediakan untuk keduanya.
Friska pun mengangguk saja lalu keduanya berjalan menuju tengah rooftop dan Friska tersenyum menatap buket bunga yang terletak di meja itu dengan sebuah kalimat yang romantis.
“Kakak bisa romantis juga yaa.” Ucap Friska menatap bunga di hadapannya itu.
Rezky tersenyum lalu meletakkan tas Friska yang dia bawah ke meja. Setelah itu dia mengambil buket bunga itu dan segera berlutut di hadapan Friska sambil membuka cincin juga di tangannya yang lain yang tidak memegang buket bunga, “Friska Nur Sakila Abraham sekali lagi aku Rezky Zakaria Pratama ingin mengajakmu menikah. Kita memang sudah melakukan lamaran resmi di hadapan kedua keluarga kita dan juga para tamu tapi untuk lamaran kali ini aku ingin melamarmu hanya ada kita berdua. Friska Nur Sakila Abraham menikahlah denganku. Aku janji akan menyayangi dan mencintaimu seumur hidupku dan hanya akan menjadikanmu istri satu-satunya untukku dan ibu dari anak-anak kita kelak.” Ucap Rezky dalam posisi berlutut.
Friska yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh calon suaminya itu menjadi sangat terharu dengan apa yang Rezky lakukan saat ini, “Berdirilah kak. Seperti yang yang tidak mengajukan pertanyaan untukku dan hanya menyatakan. Maka aku Friska Nur Sakila Abraham akan menikahi denganmu Rezky Zakaria Pratama.” Ucap Friska lembut.
Friska pun tersenyum mendengar hal itu lalu dia segera mengambil cincin itu dan memakainya di jari yang sama yang memang sudah tersemat cincin lamaran sebelumnya, “Apa cantik?” tanya Friska menunjukkan jari manisnya yang terpasang dua cincin lamaran sekaligus. Cincin lamaran yang dia pakai keduanya berasal dari pria itu.
“Cantik, jarimu sangat cantik sehingga memakai apapun akan terlihat cantik.” Ucap Rezky.
Friska pun tersenyum, “Apa bunga itu bukan untukku?” tunjuk Friska ke arah bunga yang masih di pegang oleh calon suaminya itu.
__ADS_1
Rezky yang mendengar ucapan Friska pun terkekeh, “Ini untukmu sayang.” ucap Rezky lalu memberikan buket bunga itu untuk Friska yang langsung di terima oleh Friska dengan senyum bahagia karena bunga itu adalah bunga mawar kesukaannya. Seperti Freya yang sangat menyukai semua jenis tulip bahkan sampai menyambangi Negara tempat bunga tulip berasal saat bulan madu. Begitu juga dengan Friska yang sangat menyukai bunga mawar apapun jenisnya dan warnanya.
“Ayo duduk sayang.” ucap Rezky yang melihat Friska sibuk menatap buket mawar di tangannya itu.
Friska pun mengangguk lalu duduk di kursi dengan di bantu oleh Rezky. Setelah itu Rezky pun segera duduk di kursi yang ada di hadapan Friska.
Tidak lama dari pintu lift keluarlah pelayan dengan membawa makanan di tangan mereka lalu segera menghidangkannya di meja. Friska pun menatap Rezky untuk kesekian kalinya. Sepertinya ini memang sudah di rencanakan dengan sangat baik. Pantas saja laki-laki itu ikut dengannya. Bahkan dengan alasan ingin memeriksa perkembangan studio radio itu. Padahal bisa saja laporan itu di kirimkan kepada Rezky. Ternyata alasannya adalah ini ingin memberikan kejutan untuknya.
“Wah, rencana kakak sangat lengkap yaa. Bahkan sampai dinner pun di lakukan dengan sangat baik dan rapi.” Ucap Friska setelah mereka kembali berdua.
Rezky tersenyum mendengarnya lalu dia fokus memotong steak. Setelah selesai dia menukarnya dengan milik Friska yang belum terpotong, “Terima kasih!” ucap Friska menerima steak yang sudah di potong rapi itu. Yah, Friska dan Friska berbeda dengan Freya yang tidak pemakan daging sapi. Friska dan Frisya mereka pemakan daging sapi sehingga steak pun menjadi salah satu makanan kesukaan mereka.
Friska dan Rezky menikmati dinner pertama mereka itu dengan sangat baik dan juga suasana hati yang gembira. Keduanya berbahagia dengan kesalahpahaman yang sudah terurai di antara keduanya. Mereka saling berbagi cerita satu sama lain. Bahkan kadang keduanya sudah mulai membicarakan hal-hal yang akan mereka lakukan di masa depan nanti sebagai pasangan suami istri kelak.
“Kak, aku tidak bisa memasak.” Ujar Friska.
Rezky yang mendengar itu tersenyum, “Kamu bohong. Saya sudah mencicipi nasi goreng buatanmu waktu itu.” ujar Rezky.
Friska pun mengingat lalu kemudian dia pun tersenyum, “Iya selain itu Riska gak bisa. Apalagi makanan yang bumbunya sudah kompleks. Kakak kan tahu Riska hanya mempelajari bagaimana seorang ibu hamil bisa melahirkan dengan selamat. Jadi maklum saja jika nanti Riska tidak bisa memasak.” Ucap Friska.
__ADS_1
“Gak masalah. Saya juga tidak menikahimu untuk membuatmu jadi babu. Saya mencari istri bukan koki. Saya ingin membangun rumah tangga bukan rumah makan.” Ucap Rezky.
Friska pun tersenyum mendengarnya lalu keduanya mulai membahas hal lain sampai dinner itu berakhir dan mereka pulang.