
Tidak terasa pernikahan Rezky dan Friska tinggal dua minggu lagi dan mereka belum mengambil foto prawedding sama sekali. Rezky dan Friska mereka masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Rezky sibuk dengan perusahaannya begitu juga denga Friska yang sibuk di klinik. Keduanya belum mengajukan cuti.
Kini Friska baru saja selesai memeriksa pasiennya dan berhubung itu juga sudah waktunya istirahat. Dia pun segera kembali ke ruangannya. Tapi belum juga dia masuk ke ruangannya ada perawat yang menagatakan bahwa Freya memanggil dirinya ke ruangannya.
Friska pun menghela nafasnya. Sedikit tidaknya dia bisa menebak alasan kakaknya itu menyuruhnya ke ruangannya. Friska pun hanya masuk sebentar ke ruangannya untuk mengambil botol airnya lalu kembali ke luar dan segera menuju ruangan kakaknya. Dia tidak ingin kena omel dua kali jika lama-lama menemui kakaknya itu.
Tok tok tok
Friska mengetuk pintu, tidak lupa juga mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum!” salamnya.
“Wa’alaikumsalam. Masuk!” ucap Freya dari dalam.
Friska pun membuka pintu ruangan kakaknya itu perlahan sambil mempersiapkan mental untuk menghadapi kakaknya yang mungkin akan menceramahinya panjang lebar.
Freya menatap adiknya itu sekilas, “Duduk!” tunjuk Freya pada sofa yang ada di ruangannya.
Friska pun mengangguk sambil menelan ludah kasar karena nada suara kakaknya itu membuatnya takut. Freya segera menutup dokumen yang dia periksa dan segera berjalan mendekati sofa lalu ikut duduk di hadapan adiknya itu.
“Makanlah!” ucap Freya lagi-lagi hanya satu kata sehingga terkesan mencekam.
Friska pun mengangguk lalu segera mengambil bekal yang memang biasa kakaknya siapkan itu untuknya. Friska segera makan begitu melihat kakaknya itu sudah makan lebih dulu.
Lima belas menit suasana makan siang yang biasanya di penuhi dengan canda tawa atau saling curhat itu kali ini terasa sangat mencekam karena tidak ada pembicaraan sama sekali. Friska ingin bicara tapi dia takut memulainya.
“Apa kamu tahu alasan kakak memanggilmu hari ini?” tanya Freya berdiri hendak mengambil airnya.
Friska yang hendak minum air menundanya lalu dia mengangguk, “Iya kak!” ujar Friska begitu menyadari bahwa kakaknya itu membelakanginya sehingga tidak bisa melihat anggukannya.
Freya pun segera berbalik setelah selesai minum airnya dan kembali mendekati adiknya itu, “Lalu menurutmu kakak harus apa?” tanya Freya lagi.
Friska menunduk, “Minum airnya dulu!” ujar Freya yang tahu bahwa adiknya itu belum minum air. Friska pun segera minum air.
Freya menatap adiknya itu tajam, “Kak, jangan menatapku begitu. Aku jadi takut. Kau bisa memarahimu. Aku akan menerimanya. Tapi jangan menatapku begitu.” Ucap Friska.
“Kenapa kakak harus memarahimu? Apa kamu membuat salah?” tanya Freya.
Friska menghela nafasnya lalu dia meletakkan botol air minumnya di meja. Setelah itu dia meraih jemari Freya dan menggenggamnya.
“Aku tahu kak aku telah berbuat salah dan membuatmu marah karena sampai saat ini belum juga mengajukan cuti. Sementara pernikahanku tinggal dua minggu lagi dan kami juga belum melakukan fitting, belum membeli cincin dan bahkan belum merencanakan foto prawedding sama sekali. Kau berhak marah padaku. Tapi kak kami memiliki alasan kami sendiri. Kenapa kami belum mengajukan cuti? Yah karena kami masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting. Kami janji akan segera mengajukan cuti.” Ucap Friska.
“Kenapa kami? Kakak tidak butuh janji kalian tapi janjimu. Kau ini. Apa hanya kau bidan yang bekerja di klinik ini sehingga kau tidak bisa menyerahkan tanggung jawabmu kepada mereka. Pokoknya kamu hari ini segera buat permohonan cuti. Jangan banyak alasan lagi. Kakak tahu mungkin kalian berpikir waktu dua minggu itu lama tapi percayalah itu cepat dan banyak persiapan yang harus kalian siapkan. Memang kalian tidak mengurus vendor tapi setidaknya lakukan apa yang harus kalian lakukan.” Ucap Freya kesal dengan tingkah adiknya ini.
Friska pun mengangguk, “Baiklah kak. Aku akan mengurus cutiku hari ini. Aku akan segera melakukannya. Maafkan aku yang berpikir begitu. Aku mengaku salah. Tapi aku mohon jangan marah kak.” Ucap Freya.
Freya pun menarik nafas dalam, “Kakak tidak marah padamu dek. Kakak hanya mencoba untuk mengingatkanmu. Waktu dua minggu mungkin dalam pemikiran kalian itu cukup untuk melakukan fitting, prawedding dan lain sebagainya. Memang cukup. Tapi pasti menguras tenaga. Apa kau ingin nanti saat pernikahanmu kau punya kantung mata yang tebal karena kurang istirahat. Kakak ingin seminggu sebelum kau menikah kau sudah istirahat mempersiapkan dirimu untuk hari H pernikahan nanti agar bisa tampil fresh. Tapi jika begini kakak tidak bisa menjamin semuanya bisa sesuai. Makanya dari itu kakak ingin kau segera melakukan cuti.” Ujar Freya.
Friska mengangguk lalu dia segera berdiri dan duduk di samping kakaknya itu lalu memeluk Freya, “Maaf kak. Aku ceroboh! Jangan marah lagi. Aku menyayangimu.” Ucap Friska dalam pelukan kakaknya itu.
Freya pun membalas pelukan adiknya, “Kakak juga menyayangimu dek. Maafkan kakak jika kakak hari ini keras padamu. Kakak hanya ingin kebaikanmu.” Ucap Freya.
Friska melepas pelukannya dari Freya dan menatap kakaknya itu, “Jangan minta maaf kak. Kakak gak salah kok. Terima kasih sudah mengingatkan aku.” Ucap Friska.
“Itu sudah kewajiban kakak untuk mengingatkanmu.” Ucap Freya.
Tidak lama setelah itu setelah cukup berbincang dengan kakaknya Friska segera kembali ke ruangannya dan segera mengurus permohonan cutinya.
***
__ADS_1
Di sisi lain, di perusahaan Rezky dia baru saja selesai melakukan rapat terkait proyek yang dia tangani kini bermasalah.
Rezky duduk di kursi kebesarannya seraya memijat kepalanya, “Tuan, anda jangan khawatir. Masalah ini pasti akan segera di tangani. Saya yakin kita akan mengetahui kenapa sampai bermasalah padahal pada awalnya itu baik-baik saja.” ucap Robi.
Rezky menatap asistennya itu lalu menghela nafas, “Aku tahu itu Robi. Kita bisa menemukannya tapi berapa lama waktunya agar masalah ini teratasi. Sementara pernikahanku tinggal dua minggu lagi. Mami dan papi sudah mewanti wanti aku untuk segera melakukan cuti tapi aku menundanya. Karena aku ingin saat aku mengajukan cuti nanti semua masalah perusahaan yang harus aku tangani sudah selesai dan tidak ada yang menggangguku. Tapi hal ini justru terjadi. Entah apa yang harus aku lakukan.“ ujar Rezky.
“Tolong hubungi Hiro. Tanyakan padanya apa dia sudah menemukan penyebab masalahnya atau belum. Aku masalah ini cepat selesai. Aku tidak ingin hal ini akan mempengaruhi pernikahanku. Setelah kau dapat info darinya segera beritahu aku.” Ucap Rezky.
Robi pun segera mengangguk dan melaksanakan tugas yang di berikan oleh bosnya itu.
Drt, drt, drt,
Rezky yang menutup matanya segera melihat ponselnya dan dia tersenyum begitu melihat siapa yang menelponnya. Rezky pun segera memperbaiki posisi duduknya dan segera menekan ikon hijau pada ponselnya untuk menjawab panggilan dari calon istrinya itu.
“Halo, Assalamu’alaikum kak!” salam Friska dari seberang dengan lembut.
“Wa’alaikumsalam!” jawab Rezky tenang.
“Kak, kita bisa pulang bareng hari ini? Ada yang ingin Riska bicarakan dengan kakak penting.” ucap Friska.
Rezky diam sebentar, “Kak, kau masih di sana kan?” tanya Friska.
“Ehh iya dek. Masih kok. Pulang bareng yaa. Okay nanti kakak yang akan menjemputmu.” Ucap Rezky.
“Kak, ada apa dengan dirimu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Friska khawatir.
“Hehehh, tenang saja kok. Kakak baik-baik saja. Nanti kita ketemu nanti sore. Tunggu kakak di sana.” Ucap Rezky tidak ingin Friska khawatir akan keadaannya.
“Kak, kau beneran baik-baik saja? Apa ada masalah di perusahaan?” tanya Friska lagi.
“Wa’alaikumsalam!” jawab Friska lalu sambungan telepon pun segera terputus.
Rezky menatap ponselnya dan menatap nama kontak Friska itu, “Maaf dek. Aku tidak ingin membuatmu khawatir dan kepikiran. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Aku akan pastikan masalah ini tidak akan mempengaruhi pernikahan kita.” Gumam Rezky lalu dia kembali mempelajari dokumen proyek yang bermasalah itu.
Sementara Friska di seberang sana yang baru saja menyerahkan permohonan cutinya dan baru saja menelpon calon suaminya itu menatap ponselnya dengan tatapan heran, “Ada apa dengannya? Aku yakin ada yang dia sembunyikan dariku? Apa ada masalah? Tapi apa? Kenapa dia harus menutupinya dariku?” tanya Friska pada dirinya sendiri namun dia tidak mendapatkan jawabannya. Sampai dia tiba di ruangannya dia juga belum kunjung mendapatkan jawabannya.
“Sudahlah. Nanti tanyakan saja padanya sebentar.” Ucap Friska pasrah lalu dia merapikan semua dokumen yang harus dia titipkan kepada bidan lain.
***
Kembali lagi kepada Rezky yang saat ini sedang bicara dengan asistennya, “Apa tidak ada solusi lain?” tanya Rezky.
Robi dan Hiro menggeleng. Hiro ke perusahaannya setelah tahu penyebab masalah pada proyek yang di tangani oleh perusahaan Rezky itu.
“Tapi kalian kan tahu pernikahanku tinggal dua minggu. Sementara aku belum melakukan fitting, beli cincin atau hal lainnya. Jika aku pergi kesana untuk menangani masalah ini. Aku khawatir waktu persiapan pernikahanku tidak akan cukup.” Ucap Rezky.
“Kami tahu ini berat. Tapi pimpinan mereka hanya ingin bertemu denganmu. Kami juga memikirkan pernikahanmu tapi hanya ini solusi yang bisa kita ambil untuk mengatasi masalah ini.” ucap Hiro.
Rezky pun menghela nafas berat, “Ya sudah jika memang begitu. Aku akan memikirkannya dulu.” Ucap Rezky.
“Saran kami lebih baik anda mengatakan ini kepada nona Friska. Saya yakin dia akan paham.” Ucap Robi.
Rezky menatap asistennya itu, “Aku tidak ingin membuatnya khawatir dan kepikiran. Biar aku atasi ini dulu. Aku akan mengusahakan untuk aku tidak harus terbang kesana menemuinya. Tapi jika aku tetap harus terbang kesana. Maka aku akan memikirkan saran kalian.” ucap Rezky.
“Tapi menurut kami dia wajib tahu tuan. Lebih baik anda cerita padanya. Mungkin saja dia bisa memberikan solusinya.” Ujar Hiro.
Rezky menghela nafasnya, “Baiklah. Aku akan memikirkannya dulu. Kalian kembalilah ke ruang kerja kalian. Jika kalian menemukan solusi yang lain segera beritahu aku. Usahakan aku tidak harus terbang kesana.” Ucap Rezky.
__ADS_1
Robi dan Hiro pun mengangguk paham lalu kedua asisten sekaligus teman Rezky itu pun segera keluar dari ruangan Rezky. Mereka kembali ke ruangan mereka dan memikirkan solusi lain. Mereka juga paham Rezky tidak mungkin terbang kesana menghampiri pimpinan perusahaan mereka itu.
***
Kini sudah waktunya jam pulang. Friska segera bersiap untuk menunggu Rezky. Dia pun merapikan ruangannya itu karena dalam sebulan kedepan dia tidak akan kesini.
Friska segera keluar dan menunggu di luar, “Dek, apa kamu menunggu Rezky?” tanya Freya yang baru saja keluar dan melihat adiknya itu.
Friska mengangguk, “Iya kak.” Jawab Friska.
Freya pun mengangguk mengerti, “Baiklah. Jika memang begitu. Kakak duluan yaa. Ohiya apa Rezky sudah kamu hubungi?” tanya Freya sebelum dia melangkah menuju mobilnya.
Friska kembali mengangguk, “Sudah kak. Aku sudah menghubunginya. Dia sudah dalam perjalanan kok.” jawab Friska.
“Baiklah. Kalian hati-hati.” Ucap Freya.
“Kakak juga hati-hati.” Balas Friska yang di jawab anggukan oleh Freya. Freya pun segera naik mobilnya dan tidak lama mobil itu melaju meninggalkan klinik.
Sekitar 15 menit menunggu akhirnya mobil Rezky terlihat memasuki klinik. Friska yang langsung mengenali mobil calon suaminya itu pun tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya.
Rezky segera memarkirkan mobilnya dan turun mendekati Friska, “Apa sudah lama menunggunya? Kenapa menunggu di sini?” tanya Rezky.
Friska tersenyum, “Gak kok. Riska baru saja keluar dan mobil kakak masuk.” Jawab Friska.
“Kan bisa menunggu di dalam sayang. Kenapa harus di luar coba.” Ucap Rezky.
“Gak apa-apa kak.” Balas Friska.
Rezky pun menghela nafasnya, “Ya sudah. Ayo pulang.” Ucap Rezky lalu segera mengambil tas milik Friska dan membawanya.
Rezky segera membukakan pintu mobil untuk Friska. Friska pun tersenyum lalu segera masuk, “Terima kasih!” ucap Friska.
Rezky tersenyum lalu dia segera menuju pintu sebelah dan masuk. Setelah itu tidak lama mobil pun melaju meninggalkan klinik itu.
“Kita makan dulu yaa.” Ucap Rezky.
Friska pun mengangguk, “Okay. Riska juga ada yang harus di bicarakan dengan kakak. Jadi kita cari restoran aja dulu.” Ucap Friska.
“Ya sudah kamu yang putuskan kita mau makan di mana.” Ucap Rezky.
Friska pun kembali mengangguk, “Bagaimana restoran Italia?” tanya Friska.
“Baiklah. Let’s go.” Ujar Rezky.
Friska pun tertawa melihat itu lalu tidak lama Rezky segera membelokkan mobilnya menuju restoran Italia.
Rezky turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Friska lalu keduanya segera masuk dan mencari tempat duduk.
Mereka segera memesan makanan, “Kak, apa kau punya masalah? Aku lihat kau seperti sedang bingung.” Ucap Friska begitu mereka selesai memesan.
Rezky tersenyum, “Gak kok. Kita bicara setelah makan saja yaa. Kita makan dulu baru bicara.” Ucap Rezky.
Friska pun menurut, “Kak, aku melihat beberapa koleksi kebaya dan gaun di butik milik kak Salwa. Coba kakak lihat yaa. Mana kira-kira yang cocok. Aku sudah menghubungi kak Salwa dan kita di minta kesana. Lalu dia sudah mengirimkan beberapa foto. Jadi tolong beri aku pendapat.” Ucap Friska lalu meraih ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto yang dikirimkan Salwa untuk koleksi gaun dan kebaya pengantin.
Rezky pun mengangguk, “Ya sudah mana kakak lihat.” Pinta Rezky lalu segera melihat beberapa foto itu.
“Hum, sepertinya untuk kebaya nomor 2 cocok untukmu dan untuk gaun kakak sukanya nomor 3 dan 5. Cantik dan mewah.” Ucap Rezky
__ADS_1