Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
49


__ADS_3

Papa Vian yang mendengar perkataan putrinya tersenyum, “Nak, papa kan baik-baik aja. Tidak akan ada yang terjadi. Ayo sana pergilah. Kau akan semakin terlambat nanti.” Ucap papa Vian sambil mengelus kepala putrinya itu lembut.


Kiana pun melepas pelukannya dan menatap sang papa, “Baiklah Kia akan pergi tapi papa harus baik-baik aja di sini. Papa juga harus menelponku jika ada sesuatu.” ucap Kiana lalu menciumi tangan papanya itu.


“Iya nak, papa akan menelpon. Kamu pergilah bekerja. Hati-hati di jalan.” Pesan papa Vian.


Kiana yang mendengar itu mengangguk lalu dia segera melangkah keluar rumah mengeluarkan sepeda motornya dan menghidupkannya lalu segera meninggalkan rumahnya itu dengan berat hati.


Papa Vian yang mendengar bunyi sepeda motor putrinya pergi meninggalkan rumah tersenyum lalu dia mengambil sebuah foto, “Kau selalu datang ke mimpiku, aku tahu alasannya kenapa kau melakukan itu. Aku sudah siap menyusulmu kesana tapi setidaknya beri aku waktu untuk menjadi wali nikah putri kita. Jika setelah putri kita menikah aku janji aku akan menyusulmu kesana. Kau lihat kan bagaimana dia enggan meninggalkanku hari ini dan mengatakan bahwa perasaannya tidak tenang sepertinya dia telah mendapat firasat bahwa aku akan pergi menemui kalian di sana. Aku hanya minta bersabarlah sedikit sampai putri kita menikah. Aku merasa bahwa jodoh putri kita akan segera tiba, aku yakin dia sudah di sini.” Ucap papa Vian sambil memandangi foto cantik istrinya Bella mamanya Kiana dan Kenzo.


Sementara di sini Kiana, dia yang masih tidak tenang meninggalkan papanya menjadi tidak fokus mengendara dan pada akhirnya sepeda motornya melewati batas jalan dan dia terjatuh, “Aws! Sakit!” ucap Kiana lalu segera keluar dari motornya yang sudah terbanting dan mengecek lukanya, dia duduk di trotoar mengecek lukanya. Setelah mengecek lukanya dia berdiri mencoba mendirikan sepeda motornya tapi ternyata kakinya masih gemetar hingga dia tidak bisa mendirikan sepeda motornya itu dan memutuskan untuk membiarkannya saja apalagi lukanya sudah terasa perih.


Di sebuah mobil ada seseorang yang sedang membaca tabletnya, “Berapa lama lagi kita tiba di perusahaan tuan Vino?” tanyanya kepada asistennya yang juga saat ini sedang menyupirinya.


“Kita akan tiba sebentar lagi” jawab sang asisten.


Pria itu pun mengangguk lalu tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya menuju keluar jendela dan bertepatan dengan itu dia melihat seorang gadis yang mencoba duduk sambil melihat lukanya dan di depannya ada sebuah sepeda motor yang terbanting, “Berhenti.” Ucapnya


Asistennya itu pun segera mengerem mendadak dan menatap tuannya, “Ada apa tuan?” tanya sang asisten.

__ADS_1


Pria itu menunjuk ke arah seberang jalan, “Kita lihat dia dulu.” Ucapnya.


Sang asisten segera melihat ke arah yang di tunjuk tuannya lalu dia segera membelokkan mobil menuju seberang di mana di sana ada seorang gadis yang menunduk mengobati lukanya. Sang bos di belakang begitu sang asisten menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu dengan cepat segera turun bahkan sang asisten sampai kaget dengan apa yang di lakukan bosnya itu karena tidak biasanya tuannya itu peduli dengan orang lain apalagi ini bukan di negaranya tapi entah kenapa hari ini tuannya itu bersikap aneh, “Nona, apa anda baik-baik saja.” ucapnya.


Gadis yang ternyata Kiana itu segera mengangkat kepalanya begitu mendengar suara berat di depannya, “Sa-saya baik-baik saja tuan.” Ucap Kiana lembut lalu menunduk kembali karena tidak berani menatap pria di depannya itu yang entah kenapa menggetarkan hatinya.


Deg


Entah kenapa dia merasa sangat tenang mendengar ucapan gadis cantik berhijab di depannya itu, “Baik-baik saja gimana, itu kau terluka. Kita ke rumah sakit saja sekarang. Saya akan mengantarmu.” Ucap pria itu.


Kiana kembali mengangkat wajahnya setelah mendengar itu dia menatap dua pria di hadapannya yang dia duga mereka adalah bos dan asistennya karena mereka terlihat seperti pengusaha dengan setelan kantornya, “Tidak usah tuan, saya--” ucap Kiana terhenti karena tiba-tiba ponselnya berdering.


“…”


Kiana yang mendengar itu langsung secara refleks berdiri bahkan kakinya yang masih sakit karena terluka sudah tidak terasa, “Apa? Tolong tante segera bawa papa ke rumah sakit. Kia akan segera kesana.” Ucap Kiana sudah meneteskan air matanya sepertinya semua firasatnya tadi adalah ini, sang papa tiba-tiba drop lagi.


Sambungan telepon pun terputus, Kiana hampir saja terjatuh tapi untung saja dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik, “Nona, anda baik-baik saja?” tanyanya memastikan padahal dia sudah mendengar gadis di depannya itu mengatakan rumah sakit jadi sudah pasti itu bukan kabar baik terlebih dia melihat rauh wajah kesedihan di wajah gadis itu.


“Saya baik-baik saja tuan.” Jawab Kiana dan hendak memanggil taxi.

__ADS_1


“Sudah ikut saya saja, kamu biar saya antar.” Ucap pria itu.


“Gak usah tuan, anda pasti akan terlambat nanti.” Balas Kiana.


“Tidak akan, itu biar jadi urusan belakangan.” Ucapnya hingga sang asistennya pun kaget mendengar itu karena rapat dengan perusahaan tuan Alvino tinggal 10 menit lagi.


Kiana pun memandang pria di samping pria yang menawarinya yang sudah dia duga itu adalah asisten pria yang menawarinya, “Er, segera bangunkan sepeda motor itu.” Ucapnya. Sang asisten pun segera melakukan tugasnya untuk membangun sepeda motor gadis yang di tolong tuannya itu. Sepertinya dia sudah bisa menduga bahwa tuannya itu tidak akan pergi menuju rapat kali ini.


“Ayo nona silahkan masuk.” Ucap Zean.


Kiana pun mau tak mau masuk ke bangku belakang mobil di depannya itu lalu pria yang menawarinya pun masuk ke bangku di samping kemudi sementara sang asisten juga segera masuk ke bangku di depan kemudia setelah memarkirkan sepeda motor Kiana, “Nona, kunci motor anda.” Ucap Erlan memberikan kunci sepeda motor Kiana. Kiana pun menerimanya tidak lupa mengucap terima kasih.


Erland segera menghidupkan mobilnya dan mulai melajukannya setelah mengetahui kemana tujuannya yang akan di tuju. Kiana memberi tahu jalan menuju rumah sakit F. Zean memandangi gadis di belakangnya itu khawatir karena dia tahu gadis itu sangat mengkhawatirkan seseorang yang di bawa ke rumah sakit. Zean bahkan menduga orang itu pasti orang yang berharga untuk gadis itu.


Sekitar 20 menit kemudian akhirnya mereka tiba di rumah sakit F, Kiana segera turun dan mengucapkan terima kasih. Dia segera berlari masuk menuju ruang UGD di mana di sana ada tante Diana tetangga mereka menunggu, “Tante bagaimana keadaan papa?” tanya Kiana.


“Masih di periksa dokter nak. Kau tenanglah papamu pasti akan baik-baik saja. Ohiya nak tante harus pergi karena ada urusan, kamu gak apa-apa kan tante tinggal sendiri?” ucap tante Diana.


Kiana mengangguk, “Terima kasih sudah menolong papa lagi tante.” Ucap Kiana. Tante Diana hanya mengangguk lalu dia segera berlalu dari sana meninggalkan Kiana yang menunggu di UGD.

__ADS_1


__ADS_2