Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
167


__ADS_3

“Sayang, kita mau kemana ini? Ini bukan jalan pulang.”


Kiana tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu, “Kita mau kemana sayang?” tanya Zean menatap istrinya itu dengan lembut.


“Aku lapar boo. Aku ingin makan.” Ujar Kiana bertepatan dengan mobil mereka tiba di restoran.


Zean yang mendengar jawaban istrinya itu pun tersenyum, “Ouh jadi istriku ini lapar yaa. Ya sudah ayo kita turun dan makan. Berhubung juga aku lapar.” Ujar Zean lalu dia segera turun dan membukakan pintu untuk istrinya itu. Keduanya segera bergandengan masuk ke restoran itu.


Begitu tiba di dalam mereka langsung di arahkan ke ruangan VIP yang sudah di booking oleh Kiana. Zean yang begitu tiba di ruangan yang sudah di hias dengan nuansa romantis itu pun tersenyum, “Apa ini dinner? Kita sedang kencan?” tanya Zean.


Kiana pun tersenyum lalu mengangguk, “Aku rindu dengan suamiku dan ingin kencan di tempat ini. Boo, gak keberatan kan?” tanya Kiana.


Zean menggeleng, “Untuk apa keberatan. Aku justru sangat menyukainya karena istriku memberiku kejutan seperti ini.” jawab Zean lalu mereka segera duduk di kursi yang sudah di sediakan dan saling berhadapan dan menatap satu sama lain.


Tidak lama pesanan mereka datang dan mereka menikmati dinner itu dengan bahagia dan penuh cinta di dalamnya. Mereka saling melepas rindu satu sama lain dengan melakukan dinner.


Sekitar 30 menit mereka menikmati dinner romantis itu lalu tiba-tiba datang pelayan yang membawakan kotak dan dia meletakkannya di hadapan mereka. Zean tersenyum menatap Kiana yang juga tersenyum misterius, “Apa ini sayang?” tanya Zean.


“Ini adalah hadiah untuk suamiku. Bukankah dinner biasanya di lengkapi dengan bertukar hadiah satu sama lain.” Ucap Kiana.


“Tapi aku gak bawa hadiah sayang.” ucap Zean panic.


“Hum, gak apa-apa. Boo bisa memberikanku nanti. Tapi untuk sekarang aku yang memberikan hadiah untukmu dulu. Bukalah!” ucap Kiana.


Zean pun tersenyum lalu menggeser kotak itu ke hadapannya. Dia mulai membukanya dan tersenyum melihat kotak kecil di dalam kotak besar itu. Zean pun mengeluarkan kotak di dalamnya itu dan tersenyum melihat Kiana yang juga tersenyum. Zean pun kembali membuka kota kedua dan dia tersenyum mendapati kotak lagi dan tulisan, “Daddy!” ucap Zean membaca tulisan itu.


Kiana tersenyum lalu mengangguk, “Ayo buka lagi.” Ujar Kiana.


Zean pun mengangguk walaupun dia penasaran apa maksud dengan tulisan itu dan sudah menduga sedikit apa yang di maksud kertas itu, “Kamu tidak sedang mengerjaiku kan dear?” tanya Zean sebelum membuka kotak ketiga itu.


Kiana menggeleng, “Untuk apa coba aku mengerjaimu boo. Kau itu suamiku dan aku mana berani mengerjaimu. Ayolah buka dong kotak ketiganya.” Ucap Kiana.


Zean pun mengangguk lalu menurut membuka kotak ketiga itu dan dia tersenyum melihat sebuah foto di sana, “Kamu hamil?” tanya Zean memegang hasil USG di tangannya.


Kiana mengangguk. Zean segera mendekati istrinya itu lalu memeluknya, “Terima kasih! Aku sudah menduganya.” Ucap Zean.


Kini Kiana yang terkejut mendengar ucapan suaminya itu, “Aku mengalami mual dan muntah di pagi hari saat di Negara S sejak seminggu lalu. Aku pergi ke dokter dan dokter mengatakan aku mengalami sindrom couvade. Apa kau tidak ingat seminggu lalu aku bertanya apa kau merasakan sesuatu yang aneh dan kau menjawab kau tidak merasakan apapun. Aku pun mulai melupakan bahwa kemungkinan kau hamil itu benar. Tapi ternyata benar kau sedang hamil sayang.” ucap Zean lalu mengusap perut rata istrinya itu.


“Sudah berapa minggu?” tanya Zean.


“Enam minggu.” Jawab Kiana.


Zean pun tersenyum terharu lalu memeluk kembali istrinya itu dan mengecup seluruh wajah Kiana dengan penuh kasih, “Aku mencintaimu dan calon anak kita.” Ucap Zean kembali mengusap perut rata istrinya itu.


“Aku juga mencintaimu boo.” Balas Kiana.


“Terima kasih atas kejutan dan hadiahnya sayang. Aku sangat bahagia. Aku akan memiliki anak. Kita akan punya anak.” ucap Zean lalu mengecup kening Kiana dengan lembut.


“Apa kejutanku gagal?” tanya Kiana menatap suaminya itu.


Zean pun tersenyum, “Tidak gagal dan tidak juga sukses. Fifty fifty.” Ujar Zean.


Kiana pun tertawa, “Aku baru mengetahuinya hari ini. Itu pun kak Reya yang membawaku ke rumah sakit karena tiba-tiba saja hari ini aku malas bangun dan sedikit merasa mual.” Ucap Kiana.


Zean tiba-tiba mengecup bibir istrinya itu dengan kecupan lembut. Kiana pun menyambut kecupan suaminya itu dengan lembut. Kecupan itu pun berubah jadi ciuman lembut. Keduanya menikmati ciuman kerinduan itu dengan penuh cinta dan kebahagiaan di sana. Tidak ada nafsu hanya ada cinta dalam ciuman itu.

__ADS_1


Zean melepas ciuman mereka dan mengusap sisa saliva di bibir istrinya itu, “Kita akan memeriksanya kembali. Ayo!” ajak Zean.


“Sekarang?” tanya Kiana terkejut.


Zean pun mengangguk tanpa rasa bersalah, “Suamiku. Lihatlah itu sudah pukul berapa. Besok saja. Kita malam ini menginap di rumah kak Reya lalu besok pagi kita ke rumah sakit sebelum pulang ke kediaman mama Najwa.” Ucap Kiana.


Zean pun mengangguk menurut, “Baiklah. Ya sudah ayo kita pulang.” Ajak Zean menggandeng istrinya itu dan keduanya segera keluar dari restoran itu.


Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Zean mengusap perut rata istrinya itu saking bahagianya dia karena mereka cepat di berikan kepercayaan untuk menjadi orang tua secepat ini. Dia sangat bahagia. Sungguh sangat bahagia. Dia awalnya sempat kecewa begitu bertanya kepada istrinya itu dan Kiana mengatakan tidak merasakan apa-apa. Tapi akhirnya kini dia akan menjadi daddy dalam delapan bulan mendatang.


***


Keesokkan harinya, kini di kediaman mama Najwa dan papa Imran sibuk mengurus pernikahan yang akan di laksanakan lusa nanti.


Friska berada di kamarnya saling chat dengan Rezky yang mengatakan merindukannya. Ingin bertemu dengannya dan sekali lagi laki-laki itu masih menyalahkan adat yang melarang mereka untuk saling melihat muka satu sama lain.


“Apa itu Rezky?” tanya Kiana yang baru saja tiba dan langsung masuk ke kamar Friska itu.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk dan meletakkan ponselnya, “Kak Kia. Kapan datang?” tanya Friska.


“Baru saja sampai.” Jawab Kiana tersenyum.


Friska pun tersenyum lalu mengecek nadi Kiana dan dia tersenyum, “Kak Kia hamil?” tanya Friska.


Kiana pun tersenyum, “Menurutmu bagaimana?” tanya Kiana balik.


Friska mengangguk, “Kak Kia Hamil.” Jawab Friska.


“Hum, enam minggu.” Ucap Kiana.


Friska pun tersenyum lalu memeluk Kiana itu, “Selamat kak. Apa kakak ipar sudah tahu?” tanya Friska.


“Aku ikut bahagia atas kehamilanmu kak. Selamat untukmu. Akhirnya Azwa akan punya adik kecil.” Ucap Friska.


Kiana pun tertawa, “Perkataanmu itu terasa dejavu bagiku. Kak Reya juga mengatakannya kemarin.” Ucap Friska. Friska tidak bertanya lagi bagaimana Freya bisa tahu kehamilan Kiana. Dia yakin kakaknya itu walaupun bukan seorang bidan tapi dia pasti bisa tahu karena pengalamannya yang sudah pernah hamil 4 kali.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Frisya tiba-tiba masuk ke kamar itu.


“Coba tebak.” Ucap Friska.


“Ahh kak Ris. Ayolah. Apa yang kalian bicarakan kayaknya asik banget.” Ucap Frisya.


Kiana pun tersenyum melihat Frisya yang kadang manja itu, “Kita akan punya keponakan.” Ucap Friska.


“Keponakan? Kak Kia hamil?” tanya Frisya menatap Kiana.


Kiana pun mengangguk, “Ahh selamat kak. Aku akan menjadi aunty lagi.” Ucap Frisya memeluk Kiana.


“Hum, setelah itu kak Ris akan menikah dan semoga saja bisa cepat hamil juga. Aku akan banyak ponakan nanti.” Ucap Frisya menghitung keponakannya dengan jarinya.


Friska dan Kiana pun hanya saling memandang satu sama lain melihat apa yang di lakukan oleh Frisya itu, “Jangan hanya menghitung keponakan kami saja. Tapi kau juga segera perkenalkan Fazar kepada mama dan papa. Masa iya kamu sudah di perkenalkan dengan orang tuanya secara langsung. Tapi kamu tidak melakukan sebaliknya.” Ucap Kiana tersenyum menggoda Frisya.


“Jangan menggodaku kak. Aku sudah kebal dengan hal itu. Lagian juga percuma aku memperkenalkan kak Fazar kepada mama dan papa. Mereka itu sudah saling kenal. Jadi untuk apa di perkenalkan lagi yang ada buang-buang waktu saja.” ucap Frisya lalu segera menarik bangku lemari rias milik Friska itu dan dia duduk di sana.


“Friska berikan penjelasan kepada adikmu ini. Aku pusing mendengar ucapannya.” Ucap Kiana.

__ADS_1


Friska pun tertawa, “Frisya maksud kak Kia itu memperkenalkan kak Fazar sebagai calon suamimu. Memang benar mama dan papa sudah kenal dengan kak Fazar tapi itu hanya sebagai asisten kakak ipar. Jadi tentu berbeda dengan perkenalan sebagai calon suami bukan.” Ucap Friska.


“Dia belum calon suamiku kak. Aku dan kak Fazar memang dekat tapi kami belum bisa di sebut sebagai calon istri atau pun calon suami.” Ucap Frisya.


“Yah kami tahu. Tapi kau juga tahu kan bahwa Fazar itu menyukaimu ahh bukan dia mencintaimu. Kau ini pura-pura tidak tahu atau bagaimana.” Ucap Kiana.


“Aku tahu kak Kia. Tapi aku ingin kalian menikah dulu. Lusa adalah pernikahan kak Ris dan dua minggu lagi pernikahan kak Kenzo. Aku juga masih ingin lulus dulu baru memikirkan menikah.” Ucap Frisya.


“Ya terserah padamu saja. Setidaknya kami sudah mengatakan dan menyarankan padamu untuk memperkenalkan Fazar dulu.” Ucap Kiana.


“Aku akan memikirkan itu kak. Jangan kesal begitu dong. Aku tidak mau calon keponakanku ini ikut-ikutan kesal padaku.” Ucap Frisya.


Kiana pun tertawa akhirnya. Mereka bertiga pun saling berbagi cerita satu sama lain sebelum Kiana memutuskan untuk istirahat dan pergi ke kediaman Freya dan Alvino yang ada di sini. Yah, selain kediaman yang berada tepat di samping kediaman mertuanya. Freya juga membangun kediaman yang dekat dengan kediaman orang tuanya. Kediaman itu memang tidak sebesar kediamannya yang dekat kediaman mertuanya tapi tetap saja kediamannya di sini sudah yang paling mewah dan besar.


Kiana dan Zean memutuskan menginap di sana karena memang Freya dan Alvino sudah mengatakan itu sebelumnya.


***


Tidak terasa kini sudah hari pernikahan Rezky dan Friska. Akad pernikahan akan di laksanakan di kediaman mama Najwa dan papa Khabir lalu di lanjutkan dengan resepsi pernikahan di gedung yang sama dengan gedung pernikahan Freya dan Alvino. Sungguh mama Najwa dan papa Khabir tidak ingin membedakan anak-anak mereka itu walaupun Freya tidak keberatan sedikit pun.


Friska selepas sholat subuh langsung di rias oleh MUA yang sudah di pilih oleh Friska sendiri. Akad pernikahan akan di laksanakan pukul 09.00 nanti sehingga semua orang di kediaman mama Najwa dan papa Khabir itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Semua memastikan bahwa semua sudah siap.


Freya masuk ke kamar adiknya itu tepat pukul delapan di mana Friska sudah cantik dengan pakaian akadnya sambil berkomat kamit membaca istiqfar untuk mengendalikan kegugupan yang melandanya.


Freya menggenggam tangan adiknya itu. Friska pun segera membuka matanya dan melihat siapa yang datang, “Gugup?” tanya Freya.


Friska mengangguk, “Sedikit.” Jawab Friska.


“Itu normal kok untuk semua gadis yang akan menikah. Kakak pun saat menikah merasakan hal yang sama bahkan mungkin lebih dari yang kau rasakan.” Ucap Freya menenangkan adiknya itu.


Friska tersenyum lalu mengangguk, “Apa kalian saling kontak satu sama lain?” tanya Freya mengambil ponsel milik adiknya itu.


Friska kembali mengangguk, “Terakhir semalam.” Jawab Friska.


“Tapi kami tidak saling mengirim foto atau video call kok kak. Bahkan menelpon biasa pun tidak.” Lanjut Friska.


Freya tersenyum, “Hey, kakak tidak masalah apapun. Kau tidak perlu menjelaskannya se detail itu sayang. Kalian saling menelpon dan video call atau pun saling mengirim foto pun tidak masalah bagi kakak.” Ucap Freya.


“Tapi itu melanggar kak.” Ucap Friska terdengar mengeluh.


Freya pun tersenyum, “Apa menurutmu kakak percaya hal seperti itu.” ucap Freya.


Friska pun tersenyum, “Kakak apa kau menggodaku.” Ujar Friska.


Freya menggeleng, “Kakak tidak sedang menggodamu sayang. Tapi adat istiadat itu di buat agar pasangan yang akan menikah bisa saling merindukan satu sama lain. Namun jika kita terlalu taat pada aturan itu maka apa gunanya aturan itu.” ucap Freya.


“Ahh kakak. Peraturan di buat untuk di langgar. Apa begitu?” ucap Friska.


Freya pun tersenyum lalu mengangguk, “Itu kau tahu.” Ujar Freya.


“Sudah terlanjur kak. Aku sudah terlanjut menaatinya. Kau juga baru mengatakannya sekarang setelah semuanya terlambat. Akad nikahku akan di laksanakan kurang dari sejam lagi.” Ujar Friska melihat jam.


Freya pun tersenyum, “Dek, kakak tidak ingin berpesan banyak untukmu karena kakak tahu kau pasti sudah paham dengan semuanya. Tapi satu yang harus tetap kakak sampaikan. Kakak tahu kau pasti sudah tahu dan sudah sangat hafal bahkan mungkin sudah bosan mendengarnya tapi kakak tetap akan mengatakannya.”


“Jika nanti kalian bertengkar atau berdebat satu sama lain karena perbedaan pendapat atau karena masalah. Ingatlah untuk tidak memperlihatkannya di depan orang. Bisa bertengkar dan berdebat tapi berdua saja. Percayalah saat kita bertengar dan berdebat berdua maka bukan hanya masalah yang bisa selesai tapi itu akan terasa lucu juga. Sementara sebaliknya jika kita bertengkar di depan banyak orang maka hal itu justru akan membuat semuanya runyam karena akan ada yang jadi kompor. Kamu mengerti kan maksud kakak.” Ucap Freya serius menatap adiknya itu.

__ADS_1


Friska mengangguk, “Aku mengerti kak. Aku tahu apa yang kau maksud.” Ujar Friska.


Freya pun mengangguk tersenyum karena satu adiknya lagi akan menikah hari ini. Tanggung jawabnya satu persatu mulai berkurang.


__ADS_2