
Kenzo sudah tiba di perusahaan yang sudah dua tahun ini dia pimpin, para pegawai menghormatinya karena selain mereka ketahui bahwa dia adalah adik sepupu dari nyonya bos mereka. Mereka juga menghormati Kenzo karena sikap disiplin dan ketegasan yang dia miliki serta kemampuan yang dia miliki yang bisa menaikkan harga saham cabang perusahaan ini.
Kenzo segera menuju ruangannya yang berada di lantai lima, sekretarisnya segera masuk dan memberikan jadwalnya pagi ini, “Jadi apa mereka sudah tiba?” tanya Kenzo setelah mendengar bahwa jadwal pertamanya yaitu menyambut para mahasiswa itu magang.
Sekretaris wanita itu yang kira-kira memiliki usia 35 tahun itu hanya mengangguk, “Mereka sudah menunggu di lantai dua tuan.” Jawabnya panggil saja dia Grey. Grey sudah memiliki suami yang juga karyawan di sini yang bekerja di bagian HRD sehingga tidak ada hubungan atau kisah yang akan terjadi dengan sekretarisnya itu yang akan menjadi sebuah judul novel.
“Baik saya akan kesana.” Ucap Kenzo setelah sedikit melihat laporan yang harus dia periksa hari ini. Kenzo segera keluar dan segera menuju lantai dua dengan sekretaris mengikutinya. Kenzo segera masuk ke ruangan di mana ada sekitar 8 orang mahasiswa di sana menunggunya yang terdiri dari 5 orang perempuan dan 3 orang laki-laki.
“Duduklah!” perintah Deren kepada para mahasiswa itu setelah dia duduk.
Ke delapan mahasiswa itu pun segera duduk sambil ada seorang wanita yang bergumam, “Wah, aku tidak menyangka direktur utama perusahaan ini masih muda dan sepertinya aku pernah melihatnya di kampus.” Batin seorang wanita yang berambut pirang sebahu.
“Kalian mungkin sudah tahu siapa saya karena sepertinya pak Andi sudah menjelaskan kepada kalian siapa saya. Kalian tidak perlu takut kepada saya karena saya tidak akan memakan kalian selama kalian belajar dengan baik. Saya juga pernah menjadi mahasiswa seperti kalian jadi saya tahu apa yang akan kalian lakukan. Satu pesan saya kalian datang ke sini untuk belajar bukan untuk pamer atau cari perhatian untuk itulah belajarlah dengan baik dan luluslah tepat waktu agar kalian bisa membahagiakan orang yang kalian sayangi karena tidak semua orang bisa memiliki kesempatan yang sama seperti kalian yang bisa meraih mimpi. Banyak anak diluaran sana yang mungkin menangis ingin kuliah tapi karena ada satu dan lain hal dia harus mengubur mimpinya. Jadi jangan sia-siakan waktu yang kalian miliki untuk belajar. Akhir kata dari saya, saya menyambut kalian di perusahaan ini dengan tangan terbuka selama tiga bulan ke depan dengan harapan kalian setelah keluar dari sini bisa memperoleh ilmu yang bisa berguna untuk kalian. Ohiya jika ada pertanyaan maka kalian tanyakan saja pada pak Andi karena dia yang akan menjadi penanggung jawab kalian, dia yang akan mengatur tempat kalian. Saya rasa cukup, sekian.” Ucap Kenzo lalu dia segera berdiri kembali lalu segera keluar dari sana dengan di ikuti oleh Grey di belakangnya.
“Wah, ganteng sih tapi kulkas 7 pintu.” Ujar salah satu mahasiswa wanita.
__ADS_1
“Iss yang dingin begitu menarik tahu.” Timpal mahasiswa rambut pirang.
“Sudah-sudah jangan ribut kalian jangan bicara sembarangan terkait pak dirut karena jika dia tahu kalian akan kena sanksi. Sudah ikut saya ke tempat kalian mulai bekerja. Saya menempatkan kalian di tempat yang sesuai dengan permintaan kalian di identitas yang sudah kalian isi.” Ucap pak Andi lalu mengajak ke delapan mahasiswa itu menuju meja kerja mereka selama di sini.
“Okay, ini meja kerja kalian tapi ini hanya akan menjadi meja kerja kalian saat menerima tugas yang akan kalian pelajari. Kalian akan saya bagi.” Ucap pak Andi mulai membagi mereka dua orang laki-laki dan 2 orang perempuan berada di divisi keuangan. Lalu wanita berambut pirang dengan wanita satunya yang sepertinya bestienya itu di tempatkan di divisi sumber daya. Lalu yang satu orang laki-laki dia di bagian administrasi.
“Irma Widya Putry kau memilih sekretaris di identitasmu maka kamu akan saya tempatkan bersama ibu Grey yang tadi sekretaris pak Dirut. Dia akan mengajarimu nanti. Kalian sudah boleh kesana ke tempat kerja kalian masing-masing.” Ucap pak Andi mengakhiri pembagiannya.
“Terima kasih pak.” Jawab mereka semua. Pak Andi pun segera berlalu meninggalkan mereka di ruangan itu.
“Ingat yaa itu gadis penyakitan.” Timpal si bestie Jeni panggil saja dia Lena.
“Kalian apa-apaan sih baru hari pertama magang sudah membully orang lain. Apa kalian gak takut nanti jika pak Dirut tahu sikap kalian.” Ucap salah satu laki-laki sebut sana dia Jefri.
Jeni dan Lena hanya menatap sinis Jefry dan justru berlalu meninggalkan ruangan itu menuju divisi mereka.
__ADS_1
“Irma gak usah dengarin kata mereka.” ucap Jefry.
Irma hanya tersenyum, “Gak apa-apa kok, aku sudah terbiasa dengan hal itu karena bukan pertama kalinya aku mendengar ucapan seperti itu. Tenang saja aku baik-baik saja, ohiya terima kasih yaa sudah mengkhawatirkan aku dan sudah membelaku di hadapan mereka.” Ucap Irma lalu dia segera membawa tas dan catatan menuju ruang sekretaris pak Dirut.
Kelima mahasiswa lain pun membubarkan diri menuju divisi mereka masing-masing.
Irma segera naik lift menuju lantai lima dan tidak lama dia keluar sambil melihat-lihat ruangan di lantai itu yang sepertinya hanya terdiri dari ruang rapat, ruang Dirut dan manager.
“Selamat pagi nona Grey, saya Irma yang akan belajar dari anda.” Ucap Irma memperkenalkan dirinya di hadapan sekretaris direktur utama itu.
Grey menatap gadis muda di hadapannya itu dengan tersenyum, “Duduklah dek, saya sudah membaca biodatamu kok. Ohiya saya ingin bertanya kenapa kamu memilih menjadi sekretaris?” tanya Grey.
“Jujur yaa nona saya sebenarnya memiliki kekurangan akan sesuatu hal dari kecil tapi saya ingin membuktikan diri saya walau saya memiliki kekurangan saya tetap bisa menjadi sekretaris dan meraih cita-cita itu.” jawab Irma.
Grey tersenyum dia bisa melihat semangat besar itu ada di sana, “Saya percaya padamu, saya senang bisa bekerja denganmu, ohiya jangan panggil saya nona, nyonya atau ibu itu membuat saya terlihat tua. Panggil saja kak Grey, bisa kan? Saya gak terlalu tua-tua amat kan?” ucap Grey.
__ADS_1
Irma tersenyum, “Baik kak Grey.” Balasnya. Grey dan Irma pun tersenyum dan mereka menjadi akrab seketika sehingga baik Grey maupun Irma tidak memiliki kecanggungan.