
Friska hanya melihat sekilas ke ponsel Rezky itu lalu kembali menatap bunga di hadapannya, “Aku sudah tahu!” ucap Friska tersenyum.
Rezky yang mendengar ucapan Friska kaget dan menatap gadis di sampingnya itu, “Apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti?” ucap Rezky.
Friska tetap memandang bunga di hadapannya dan tersenyum, “Aku tahu. Aku sudah melihat rekaman CCTV itu. Aku sudah tahu.” Jawab Friska tersenyum lalu menatap Rezky.
Rezky yang mendengar itu tidak percaya, “Kok bisa? Darimana kau tahu? Ahh jangan katakan kau tahu--” ucap Rezky terjeda
Friska mengangguk, “Keponakanku itu yang memperlihatkannya. Bukankah mereka yang memberikan rekaman itu kepada kalian. Aku sudah melihatnya.” Jawab Friska tersenyum.
Rezky pun hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya, “Jadi apakah aku sekarang terlihat bodoh? Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman yang sudah kau ketahui. Wah sepertinya keponakanmu itu sangat jenius bahkan mereka mendahuluiku memberi tahumu. Aku akan menuntut ini kepada mereka, mereka sudah mengancamku kemarin untuk segera menyelesaikan kesalahpahaman ini denganmu. Tidak tahunya mereka yang menghianatiku. Ahh aku jadi terlihat seperti orang bodoh kan?” ucap Rezky frustasi karena kini dia lagi-lagi gagal dengan anak kecil itu.
Friska pun hanya tertawa melihat Rezky yang frustasi, “Kau memang sudah kalah dengan keponakanku itu. Bahkan mereka juga kan yang mengizinkan akses agar temanmu itu tahu apa pekerjaanku yang lain. Akui saja, bukankah kau sudah mereka restui?” ucap Friska kembali menatap bunga di hadapannya.
Rezky yang mendengar kalimat akhir dari Friska kini menyunggingkan senyum, “Apa itu berarti aku sudah di maafkan? Apa aku--”
“Dasar bawel. Sudah ahh Riska mau pulang. Ohiya Riska tunggu di rumah mama dan papa.” Ucap Friska segera berlari dari taman itu menuju mobil.
Rezky yang melihat dan mendengar apa yang di katakan oleh Friska kini tersenyum gembira, sungguh dia sangat bahagia saat ini, “Ahh aku tidak akan melepaskanmu lagi sayang. Aku akan segera melamarmu.” Ujar Rezky lalu segera menyusul Friska.
***
Kini Friska dan Rezky sedang dalam perjalanan. Mereka tersenyum bahagia masing-masing, “Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Aku akan segera datang ke rumah orang tuamu untuk melamarmu.” Ujar Rezky menatap sekilas ke arah Friska lalu kembali menatap jalanan.
__ADS_1
“Siapa yang mau di lamar tuh?” tanya Friska.
Rezky segera menepikan mobilnya lalu menatap Friska dalam, “Sayang, aku tentu saja mau melamarmu. Apa aku belum juga di maafkan? Katakan saja aku harus melakukan apa agar bisa di maafkan dan di terima?” tanya Rezky serius.
Friska pun tersenyum menatap laki-laki di hadapannya itu. Seorang pria yang pernah menjadi guru dan dosen yang menyebalkan untuknya tapi justru karena itu timbul perasaan di hati keduanya lalu terjadi kesalahpahaman yang membuatnya membenci pria itu, “Riska sudah memaafkan anda pak dosen.” Jawab Friska.
Rezky pun tersenyum, “Sungguh? Benar sudah di maafkan kan?” tanya Rezky memastikan.
“Gak tahu.” Jawab Friska mengangkat bahunya sambil terkekeh.
“Sayang!” panggil Rezky.
“Siapa tuh sih sayang. Ingat yaa pak dosen nama saya itu Riska jadi jangan mengubahnya.” Ujar Friska.
“Tapi saya suka manggilnya begitu yaa terserah saya dong. Ini kan mulut saya.” balas Rezky.
Rezky menatap Friska dalam, “Sakila, saya sungguh bertanya dengan serius kamu memang sudah memaafkan kan saya kan? Gak ada masalah lagi kan?” tanya Rezky.
Friska yang mendengar nama yang dua tahun ini tidak dia dengar tersenyum. Memang hanya Rezky yang memanggilnya dengan nama tengahnya itu dari masih menjadi gurunya sampai menjadi dosennya. Rezky memang lebih nyaman memanggil Friska dengan nama tengahnya itu. Friska menatap balik Rezky lalu dia mengangguk, “Jika saya belum memaafkan anda pak dosen gak mungkin tadi saya mengizinkan anda ikut makan siang bersama dan saya juga gak mungkin ikut dan bersama anda saat ini.” jawab Friska.
Rezky tersenyum bahagia lalu dia menatap ke depan karena dia tidak sanggup saling bertatapan dengan gadis yang sudah membuatnya terpesona itu, “Saya akan segera melamarmu dengan cepat. Saya akan datang ke rumah orang tuamu.” Ujar Rezky yakin.
Friska pun hanya mengangguk saja, “Terserah. Saya akan menunggu anda di sana pak dosen. Semoga saja anda menepati perkataan anda itu.” ucap Friska juga ikut menatap ke depan.
__ADS_1
“Saya akan memastikannya. Saya akan menepatinya.” Balas Rezky lalu segera mengemudikan mobilnya.
“Eehh kita mau kemana? Ini bukan jalan ke klinik juga bukan jalan ke apartemen ataupun rumah kak Reya? Pak dosen kita mau kemana? Anda mau membawa saya kemana? Awas saja jika anda mau menculik saya.” ucap Friska mengambil ponselnya.
Rezky tersenyum lalu merebut ponsel Friska itu, “Kembalikan pak dosen? Sini-in saya mau meminta pertolongan.” Ucap Friska berusaha merebut ponselnya itu.
“Sakila, duduk dengan baik dan jauhkan pikiran burukmu itu. Saya tidak akan menculikmu dan jika memang saya pun ingin menculikmu maka saya akan menuculikmu dari dulu bukan saat ini. Sana duduk dengan baik dan diam di tempatmu.” Ujar Rezky.
Friska pun menurut walau kesal, “Tenanglah saya bukan calon suami yang akan berbuat jahat kepada calon istrinya. Saya hanya mau mengajakmu ke rumah saja.” ucap Rezky.
“Ouh rumah. Makanya bilang dari tadi agar gak membuat orang panik. Eeh tapi tunggu rumah siapa?” tanya Friska begitu menyadari sesuatu.
“Tentu saja rumah saya eeh maksud saya rumah orang tua saya karena saya masih tinggal dengan mereka belum punya rumah sendiri.” jawab Rezky enteng tidak menyadari kepanikan di wajah Friska.
“Pak dosen balik. Aku belum siap ketemu dengan mami. Cepat balik pak dosen. Aku mau siap-siap dulu.” Ujar Friska panic.
Rezky yang melihat kepanikan itu di wajah Friska pun tersenyum karena dia tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat berani bahkan bisa mendebatnya itu bisa panic juga, “Pak dosen cepat balik kenapa masih belum balik. Balik sekarang atau saya akan marah.” Ucap Friska.
Rezky pun tersenyum, “Tenang mami dan papi pasti akan menerimamu. Mereka itu sangat menyukaimu. Jadi tenanglah. Saya hanya ingin membawamu sebagai bukti bahwa saya sudah mendapatkan maaf dari calon menantu mereka ini.” ucap Rezky.
Friska menggeleng, “Tetap saja kak, aku butuh persiapan. Aku bahkan gak bawa apa-apa.” Ujar Friska.
Rezky pun tersenyum kembali, “Mereka gak butuh apapun darimu. Kamu sudah datang dan memaafkan putra mereka saja itu sudah lebih dari cukup. Jadi jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Lagian juga kau sudah pernah ketemu bahkan bicara dengan mereka kan saat ulang tahu mami. Jadi apa yang kau takutkan?” ucap Rezky.
__ADS_1
“Iss itu beda kak. Saat itu aku datang sebagai tamu undangan tapi sekarang datang sebagai---” ucap Friska terjeda karena malu melanjutkan perkataannya.
“Sebagai apa?” goda Rezky tersenyum.