Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
191


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan sangat cepat, kini Fazar sedang berada di kediaman Freya dan Alvino dengan wajah lesunya. Dia memang yang dalam dua hari terakhir ini terus mencari Frisya tapi tak kunjung dia temukan akhirnya tidak sempat lagi mengurus dirinya hingga membuat penampilannya itu sedikit urakan. Bagaimana dia bisa menemukannya jika Freya dan Alvino yang berada di balik itu semua.


“Fazar, perbaiki penampilanmu. Aku tidak suka melihat adik iparku seperti ini berpenampilan tidak rapi.” Ucap Freya sambil mengumpati adiknya yang tidak kunjung pulang juga justru dia berpindah ke destinasi pantai lain. Memang benar masih sehari lagi waktu perjanjian yang dia buat dengan adiknya itu tapi dia jadi kesal sendiri dengan rencananya itu yang justru di nikmati oleh adiknya dengan healing sebelum menikah hingga harus membuat Fazar stress dan berpenampilan aneh.


“Nyonya, tidak bisakah anda memintanya pulang saja. Aku sangat merindukannya nyonya.” Ucap Fazar jujur karena memang dia sangat merindukan calon istrinya itu.


Freya pun menarik nafas panjang, “Aku ingin melakukan itu Fazar tapi dia menolak. Dia masih ingin menikmati waktunya sendiri dengan alasan ingin membuatmu rindu dan ingin menikmati waktunya sebelum nanti berganti status menjadi istrimu.” Ucap Freya.


Freya memang tidak menghalangi dan membatalkan pernikahan Fazar dan Frisya itu karena pada dasarnya dia lah sutradara untuk apa yang terjadi pada Fazar dan Frisya itu. Tapi sayang sedikit melenceng karena Frisya yang menikmati waktu liburannya dengan baik dengan memaafkan rencana yang dia buat padahal sudah tahu dengan jelas bahwa Fazar itu tidak bersalah.


Fazar memang sudah menjelaskan semuanya kepada Freya dan Alvino dua hari lalu. Dia bahkan sampai datang menemui mama Najwa dan papa Khabir untuk meminta maaf untuk semuanya. Padahal itu bukan salahnya tapi karena rancangan Freya yang sebenarnya sudah di ketahui oleh mama Najwa dan papa Khabir sehingga mama Najwa dan papa Khabir pun tentu dengan mudah memaafkan calon menantu mereka itu.


“Fazar, tunggu lah beberapa saat lagi. Dia pasti akan kembali.” Ucap Alvino kasihan. Yah, dia kasihan melihat asistennya itu. Dia seperti melihat dirinya sendiri saat melihat Fazar. Tapi bedanya dia seperti itu karena memang sedih karena Freya yang sakit.


“Nyonya, bisa kah menelponnya? Saya mohon nyonya, hubungi dia karena jika saya yang menghubungi tidak bisa sepertinya saya di blokir olehnya. Selain itu juga nyonya sudah melarang saya untuk menghubunginya. Jadi saya mohon hubungi dia. Saya hanya ingin mendengar suara saja. Itu sudah cukup nyonya.” Ucap Fazar.


Freya pun menghela nafasnya, “Baiklah. Aku akan menghubunginya untukmu. Aku kasihan melihatmu.” Ucap Freya lalu meraih ponselnya.


Tuut tuut tuut


“Halo, Assalamu’alaikum kak. Kenapa menghubungiku. Aku masih punya beberapa jam lagi kak dari perjanjian aku pulang.” Ucap Frisya dari seberang.


“Hum, kau benar tapi kakak sepertinya berubah pikiran. Kau sekarang pulang lah. Temui lah calon suamimu itu. Dia terlihat mengenaskan dan penampilannya sudah urakan karena terlalu merindukanmu.” Ucap Freya.


“Ck, kakak katakan padanya aku masih ingin membuatnya rindu padaku dalam beberapa jam ke depan. Aku janji akan pulang nanti dan menikah dengannya. Aku tidak akan membatalkan pernikahanku dengan nya karena dia adalah calon suami idamanku. Tapi aku masih ingin berlibur sebentar lagi kak. Jangan ganggu aku.” Ucap Frisya.


“Dasar keras kepala. Kau ini yaa.” Ucap Freya kesal.


“Ayo lah. Kau harus menepati janjimu. Aku masih punya beberapa jam lagi.” Ucap Frisya.

__ADS_1


“Baiklah. Nikmati waktumu dengan baik. Setelah kau kembali nanti maka pernikahanmu akan di adakan lebih cepat agar kau tidak bisa lari lagi.” Ucap Freya.


“Ouh No. Jangan lakukan itu kak. Aku masih ingin mengambil sesi foto pra wedding sekali lagi. Jangan lakukan itu.” ucap Frisya.


“Makanya cepat lah kembali.” Ucap Freya.


“Iya tapi masih sekitar 14 jam lagi.” Balas Frisya.


“Ya sudah terserah padamu saja.” ucap Freya lalu sambungan telepon itu pun segera terputus.


“Bagaimana? Apa itu cukup?” tanya Freya menatap Fazar.


Fazar pun mengangguk dan tersenyum, “Terima kasih nyonya.” Ucap Fazar.


“Kakak ipar. Panggil lah aku seperti itu. Jangan memanggil nyonya lagi baik di kantor maupun di rumah. Aku adalah kakak iparmu.” Ucap Freya.


“Mandi lah di kamar mandi di kamar itu Fazar. Itu kamar yang sering di tempati Frisya.” Ucap Freya.


Fazar pun mengangguk, “Baik nyo ehh kakak ipar.” Ucap Fazar yang belum terbiasa memanggil Freya dengan sebutan barunya.


Fazar pun segera masuk ke kamar yang di tunjuk oleh Freya itu sementara Freya segera meminta ART nya untuk menyiapkan pakaian untuk Fazar yang memang sudah di siapkan sebelumnya.


Fazar yang berada di kamar yang di tempati oleh calon istrinya itu pun tersenyum melihat isi kamar itu, “Hum, wangi parfum nya masih ada di sini.” Ucap Fazar tersenyum.


Fazar melihat meja di sana dan dia tersenyum membaca tulisan motivasi milik Frisya itu hingga ada yang mengetuk pintu, “Tuan, saya mau mengantarkan pakaian ganti untuk anda.” Ucap bi Ani.


Fazar pun segera membuka pintu dan menerima pakaian ganti itu, “Terima kasih bi.” Ucap Fazar.


Setelah itu Fazar pun segera mandi dan mengganti pakaiannya di sana. Setelah itu mengganti pakaiannya dia pun memperbaiki penampilannya itu.

__ADS_1


Begitu selesai merapikan penampilannya, Fazar pun segera keluar menemui Freya dan Alvino yang masih berada di ruang keluarga, “Duduklah.” Ucap Freya.


“Begitu dong Fazar. Itu baru asistenku.” Puji Alvino.


“Fazar, ini hadiah kecil dari kami. Semoga kau menyukainya.” ucap Freya memberikan sebuah amplop untuk Fazar.


“Apa ini kakak ipar?” tanya Fazar setelah menerima amplop putih itu.


“Jika kau penasaran apa isinya maka bukalah.” Ucap Alvino.


“Apa bisa saya membukanya?” izin Fazar.


Freya dan Alvino pun tersenyum lalu mengangguk, “Bukalah.” Ucap Freya.


Fazar pun dengan hati-hati membuka amplop itu lalu dia seketika terharu dengan apa isinya, “Ini--”


“Terima kasih kakak ipar.” Ucap Fazar.


“Pergi lah. Jemput dia. Bawa pulang dan segera nikahi.” Ucap Freya.


Fazar pun mengangguk dan terharu, “Tentu kakak ipar. Saya akan menjemputnya dan membawanya pulang.” Ucap Fazar masih menatap kertas bertuliskan nama sebuah tempat wisata itu.


“Ohiya, sebelum kau pergi menjemputnya ini ada hadiah dariku untukmu.” Ucap Fazar memberikan satu buah amplop lagi yang berwarna coklat.


Fazar pun menerimanya lalu dia segera membuka isi amplop itu setelah mendapat izin dari Alvino. Lagi-lagi dia terkejut dengan isinya, “Tuan, ini … saya tidak bisa menerimanya tuan.” Ucap Fazar.


“Kamu harus menerimanya. Tidak boleh menolaknya.” Ucap Alvino di angguki oleh Freya.


“Terima kasih tuan, nyonya!” ucap Fazar bersyukur atas kebaikan Freya dan Alvino itu.

__ADS_1


__ADS_2