
Bisa kan?" lanjutnya.
Alvino yang mendengar hal itu langsung menatap Freya untuk meminta persetujuan karena bagaimana pun dia ingin mendekatkan Fazar dengan Frisya jika sang istri tidak menyetujuinya maka dia tidak akan melakukannya. Freya yang di tatap suaminya hanya mengangkat kedua bahunya tanda bahwa dia menyerahkan keputusan kepada suaminya.
Alvino segera beralih menatap Frisya dan menghela nafas, "Baiklah karena kau memaksa adik ipar kakak hanya bisa menyetujuinya. Baiklah kau akan bekerja di perusahaan kakak selama seminggu untuk membantu pekerjaan Fazar. Fazar aku serahkan adik iparku padamu selama seminggu, jaga baik-baik jangan sampai lecet sedikit pun jika tidak maka kau akan berhadapan denganku dan istriku." ujar Alvino.
Frisya yang mendengar itu hanya mendelik kesal kepada kakak iparnya, "Gak usah begitu juga kakak ipar, aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku juga percaya kak Fazar gak akan berbuat yang tidak-tidak padaku." balas Frisya.
"Ingat, jangan terlalu percaya pada seseorang karena kita gak tahu apa yang ada di hatinya." timpal Freya tanpa menatap adiknya.
Frisya tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu, "Aku tahu kak. Aku ingat semua pesanmu." balas Frisya.
"Ohiya kakak ipar tapi aku akan masuk kerja nanti setelah aku praktik yaa. Tenang aja aku gak minta di gaji kok yang penting aku bisa belajar hal baru." lanjut Frisya memandang kakak iparnya.
Alvino hanya mengangguk, "Terserah padamu saja karena bosmu bukan aku tapi Fazar. Aku serahkan semua keputusan pada Fazar." ucap Alvino.
Frisya mengangguk lalu memandang Fazar yang dari tadi hanya menunduk, "Kak Fazar apa lehermu gak pegal apa dari tadi menunduk terus. Tenang saja kakak dan kakak ipar itu tidak akan memarahimu. Sekarang katakan apa aku bisa masuk kerja setelah dari aku praktik? Karena sekarang kau bosku dan aku akan mulai bekerja minggu depan." ucap Frisya.
Fazar mengangkat kepalanya dan menatap Frisya sekilas karena dia memang tidak kuat jika memandang gadis itu lama, dia selalu memandang gadis itu hanya dari jauh saja, "Terserah padamu saja dek." jawab Fazar lirih yang nyaris tidak terdengar oleh Alvino dan Freya.
"Okay, kalau begitu deal. Aku akan masuk kerja mulai minggu depan membantumu. Aku harap kau tidak keberatan mengajariku kak." ujar Frisya tersenyum manis hingga membuat hati Fazar berantakan tidak karuan.
"Fazar!" panggil Freya menatap asisten suaminya itu.
__ADS_1
Fazar segera menatap Freya, "Iya nyonya." jawab Fazar.
"Jaga adikku dengan baik selama seminggu dia bekerja denganmu. Aku percaya padamu, aku juga yakin kau tidak akan berbuat yang tidak-tidak pada adikku. Aku menyayanginya Fazar. Dia adikku yang paling kecil dan paling unik di antara kami bertiga. Semoga kau tidak bosan bekerja dengannya selama seminggu." ucap Freya.
"Tentu nyonya. Saya akan menjaganya dengan baik nyonya. Terima kasih sudah mempercayai saya." Balas Fazar tulus.
Sementara Frisya yang terharu dengan perkataan kakaknya segera mendekati kakaknya itu, memeluk Freya, "Aku juga menyayangimu kak." ujar Frisya memeluk Freya erat. Freya hanya tersenyum membalasnya sambil menepuk bahu adik kecilnya itu.
"Sudah, sana ajak Fazar makan. Kalian pasti lapar kan. Terima kasih sudah membantu kakak." ucap Freya melerai pelukan adiknya.
Frisya pun mengangguk lalu segera menyerahkan tangannya untuk meminta uang pada kakaknya itu. Freya tersenyum lalu segera mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada adiknya. Frisya tersenyum menerimanya lalu segera melenggang pergi keluar ruangan itu, "Ayo kak Fazad let's go kita makan." ucapnya sebelum keluar.
"Pergilah Fazar." ucap Alvino.
Setelah Fazar dan Frisya pergi, Alvino segera menatap sang istri, "Kenapa kau menatapku begitu by? Apa ada yang salah denganku?" tanya Freya.
Alvino menggeleng lalu mendekati istrinya dan memeluk Freya dari belakang, "Terima kasih telah memberikan kesempatan kepada asistenku mendekati adikmu." ucap Alvino.
"Kata siapa aku memberinya kesempatan?" tanya Freya.
"Aku tahu semua tentangmu sayang. Seperti dirimu yang tahu tentangku maka aku juga sama. Jadi kau tidak bisa menipuku." balas Alvino.
"Aku hanya mendukung keputusanmu saja by. Tapi tetap saja jika nanti dia ingin memiliki adikku maka pasti harus melewati tes dariku." ucapnya. Alvino tidak menjawab dan hanya memeluk Freya erat.
__ADS_1
***
Hari terus berlalu hingga tidak terasa kini telah tiba di weekend lagi dan seperti biasa kegiatan yang dilakukan kedua adik Freya setiap weekend. Mereka kini sudah bersiap menuju tempat masing-masing.
"Ris, kakak duluan yaa." pamit Friska segera melakukan mobilnya begitu mendapat anggukan a m dari sang adik. Setelah itu Frisya segera meluncur menuju Freya Resto.
Tidak lama Friska segera tiba di stasiun Radio dan memulai program yang biasa dia bawa. Seperti biasa dia membukanya dengan sebuah lagu dan malam ini tema-nya yaitu kau yang kurindu. Seperti biasa program weekend itu memang selalu di tunggu-tunggu jadi baru saja di mulai sudah banyak yang mengirim pesan.
Di sisi lain, "Robi, hidupkan radio!" ucap Rezky meminta asistennya itu menghidupkan radio karena saat ini mereka masih dalam perjalanan pulang.
Robi pun segera menghidupkan radio dan langsung saja terdengar suara seorang gadis yang melakukan siaran. Rezky tersenyum mendengar suara itu walau dia tidak tahu siapa sebenarnya pemilik suara itu tapi tentu saja dia merasa bahwa suara itu tidak asing dan dia pernah mendengarnya di suatu tempat. Dia merasa dekat dengan suara itu.
Sementara Robi yang memang mengetahui bosnya itu salah satu peminat program weekend itu hanya bersikap biasa walau tidak menutup kemungkinan dia sebenarnya penasaran kenapa tuannya itu mendengar siaran radio di dunia modern saat ini.
Tidak lama mobil itu sampai di rumah dan dia segera turun lalu berlari masuk tanpa menghiraukan asistennya karena dia tidak ingin ketinggalan siaran itu yang entahlah itu sudah menjadi hobinya, "Kebiasaan!" ujar Robi melihat tuannya yang sudah meninggalkan dan menghilang di balik pintu.
Sesampainya di kamar Rezky segera menghidupkan radionya dan sudah otomatis masuk ke stasiun siaran itu karena memang dia hanya mendengar siaran itu saja dari radionya. Rezky membersihkan dan mengganti pakaiannya sambil mendengar siaran itu hanya volumenya saja di perbesar hingga memenuhi seluruh ruangan kamarnya. Untung saja kamarnya itu kedap suara jika tidak maka di pastikan volume radio itu akan sampai hingga lantai bawah.
Setelah dia selesai mengganti pakaiannya dia segera berbaring di ranjang dan mendengarkan siaran itu dengan baik, "Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku merasa mengenalnya?" tanya Rezky pada dirinya.
"Baiklah sepertinya waktu satu jam kita sudah hampir selesai tinggal tersisa 5 menit lagi dan seperti biasa, saya 3F pamit undur diri dan sampai jumpa di weekend selanjutnya. Semoga kita selalu di beri kesehatan dan di mudahkan urusan kita dan di berikan kesempatan agar bisa selalu bersama orang yang kita cintai. Saya 3F pamit undur diri dan ini lagu terakhir untuk kalian. Selamat menikmati. Happy enjoy!" tutup suara siaran itu.
Rezky yang mendengarnya hal itu kaget karena nada bicara itu sama dengan seseorang, "Jangan katakan bahwa itu dia?"
__ADS_1